Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 - Hal-Hal yang Terlambat
Raka Mahardika tidak pernah belajar bagaimana mengejar.
Selama ini, orang-orang yang datang ke hidupnya selalu menyesuaikan diri. Jadwalnya, ambisinya, diamnya. Dia tidak perlu meminta mereka bertahan sendiri.
Termasuk Nadira.
Itulah sebabnya, ketika dia akhirnya berdiri di depan layar ponsel dengan satu nama yang tidak lagi aktif di hidupnya, Raka memilih cara yang paling dia pahami... menekan.
[Kita perlu bicara.]
Pesan itu terkirim pukul 22.41.
Tidak ada sapaan. Tidak ada pertanyaan. Bukan apa kabar, bukan bolehkah.
Dia menunggu. Lima menit. Sepuluh.
Tidak ada balasan.
Raka menghembuskan napas kasar. Dadanya terasa sesak, tapi pikirannya masih meyakinkan satu hal...
Nadira pasti membaca. Dia selalu membaca. Nadira memang membaca.
Nadira sedang duduk di lantai kamar kos barunya. Ruangan kecil, tapi bersih, dengan jendela yang menghadap gang sempit. Laptop terbuka, kertas-kertas wawancara tersusun rapi.
Nama Raka muncul di layar. Nadira menatapnya sebentar. Lalu meletakkan ponsel terbalik.
Dia kembali ke catatan.
Tidak ada getaran emosional yang dulu selalu muncul. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada dorongan untuk menjelaskan.
Yang ada hanya kesadaran sederhana... Ini bukan lagi prioritas.
Raka tidak tahu itu. Yang dia tahu hanyalah ketidaknyamanan karena tidak direspons.
Malamnya, dia tidak tidur.
Pagi harinya, Raka muncul di kampus lebih awal dari biasanya. Duduk di bangku dekat perpustakaan lantai tiga, tempat yang belakangan sering Nadira datangi.
Dia menunggu.
Jam delapan. Tidak ada.
Jam sembilan. Tidak ada.
Raka mulai gelisah.
"Dia pasti sengaja." Gumamnya.
Dan kalimat itu terdengar seperti tuduhan, bukan fakta.
Nadira sedang berada di ruang dosen.
Wawancara magang riset berjalan lebih lama dari jadwal. Panelis bertanya kritis, menantang argumennya. Nadira menjawab tanpa terburu-buru, tanpa menunduk.
"Apa motivasi terbesar Anda?" Tanya salah satu panelis.
Nadira terdiam sejenak. Lalu berkata jujur, "Saya ingin bekerja tanpa harus mengecilkan diri sendiri."
Tidak ada drama. Tidak ada cerita masa lalu. Hanya pernyataan yang mantap.
Panelis saling pandang.
Raka kehilangan kesabaran menjelang siang. Dia mengirim pesan kedua.
[Aku lihat kamu di kampus. Jangan pura-pura nggak ada.]
Kali ini nadanya berubah. Lebih tajam. Lebih personal. Dan di situlah kesalahannya dimulai.
Nadira membaca pesan itu setelah wawancara selesai.
Dia berdiri di lorong fakultas, membaca layar ponsel dengan wajah datar.
Salsa yang menemaninya mengerutkan kening. "Raka?"
Nadira mengangguk.
"Kamu mau jawab?"
Nadira memasukkan ponsel ke tas. "Tidak."
"Kenapa?"
Karena dia akhirnya paham satu hal... menjawab sekarang hanya akan mengulang pola lama. Menjelaskan, melunakkan, mengalah. Nadira tidak ingin kembali ke sana.
Raka melihat Nadira dari kejauhan sore itu. Dia berdiri di depan gedung fakultas, tertawa kecil bersama seorang dosen, Dr. Arvin. Gestur mereka santai. Tidak canggung.
Raka merasakan sesuatu yang asing menjalar di dadanya. Cemburu...
Bukan karena kehilangan cinta. Tapi karena kehilangan posisi. Dia melangkah mendekat.
"Nadira." Suaranya terdengar lebih keras dari yang dia maksudkan.
Nadira menoleh. Wajahnya tenang. Tidak terkejut. "Raka."
Tidak ada senyum. Tidak ada dingin berlebihan. Hanya netral...
"Kita perlu bicara." Kata Raka cepat.
Nadira mengangguk kecil. "Sekarang tidak."
"Kapan?"
"Nanti."
"Nanti kapan?"
Nadira menatapnya. Untuk pertama kalinya, Raka merasa sedang dihadapkan pada seseorang yang tidak lagi bisa dia dorong.
"Aku akan menghubungimu kalau aku siap." Kalimat itu sederhana. Tapi posisinya jelas.
Raka tercekat. "Kamu berubah."
Nadira menjawab pelan, "Aku berhenti menunggu." Lalu dia pergi. Tanpa menoleh.
Aluna menyaksikan semuanya dari kejauhan. Tangannya mengepal.
Dia merasa kehilangan kendali atas Raka, atas situasi, atas narasi yang selama ini dia pegang. Nadira seharusnya menjauh dengan tenang, menghilang pelan-pelan. Bukan seperti ini.
Malam itu, Aluna membuat keputusan yang dia yakini akan "membereskan semuanya".
Dia membuka laptop. Mengakses folder lama. Email internal. Dokumen BEM yang pernah Nadira susun lengkap, rapi, dengan catatan pribadi.
Dia memilih satu dokumen. Mengedit. Menghapus nama. Mengubah konteks. Lalu mengirimkannya ke dosen pembina, dengan catatan singkat...
Perlu klarifikasi terkait keterlibatan Nadira Savitri dalam beberapa keputusan internal.
Dia menutup laptop dengan tangan sedikit gemetar. Ini hanya klarifikasi, katanya pada diri sendiri. Bukan serangan.
Keesokan harinya, Nadira dipanggil.
Bukan oleh BEM.
Bukan oleh Raka.
Oleh dosen pembina.
Nadira duduk tenang di kursi depan meja. Dia mendengarkan penjelasan, melihat dokumen, membaca email.
Dia mengenali suntingan itu. Dan dia tahu persis siapa yang melakukannya.
"Apakah ini benar?" Tanya dosen itu.
Nadira mengangkat wajah. Tatapannya jernih. "Tidak, Pak."
Dia membuka laptopnya. Menunjukkan versi asli... timestamp, arsip email, bukti kerja.
“Saya mundur resmi sebelum tanggal ini." Katanya tenang. "Dan saya tidak pernah membuat keputusan sepihak."
Ruangan itu sunyi.
Dosen itu mengangguk pelan. "Baik. Terima kasih atas klarifikasinya.'
Saat Nadira berdiri, tidak ada gemetar di kakinya. Dia keluar ruangan dengan satu kesadaran baru... Ini bukan lagi tentang bertahan. Ini tentang melindungi diri.
Kesalahan Aluna terbongkar lebih cepat dari yang dia kira. Email asli ditemukan. Riwayat edit terlihat. Sumbernya jelas.
Raka dipanggil sore itu.
"Apa kamu tahu soal ini?" Tanya dosen pembina, datar.
Raka membaca dokumen itu. Wajahnya memucat. "Tidak." Katanya jujur.
"Aluna mengirimnya."
Raka menutup mata. Untuk pertama kalinya, dia tidak membela.
Nadira duduk di halte sore itu, menunggu angkot. Ponselnya berbunyi. Email masuk.
[Kami dengan senang hati menginformasikan bahwa Anda diterima dalam program magang riset...]
Nadira membaca sampai selesai. Lalu menghembuskan napas panjang.
Dia tidak menangis. Tidak melonjak. Dia hanya... tersenyum.
Hidupnya terbuka ke arah yang baru. Kota baru. Ruang baru. Versi dirinya yang tidak selalu berada di posisi kedua.
Raka berdiri sendirian di ruang sekretariat yang mulai terasa asing.
Namanya masih ada di struktur. Tapi kepercayaan mulai retak. Aluna dipanggil, ditegur, dijauhkan sementara.
Dan Nadira? Dia bahkan tidak menoleh ke belakang.
Raka akhirnya mengirim satu pesan lagi.
[Aku minta maaf. Untuk semuanya.]
Pesan itu terkirim.
Tidak dibaca.
Malam itu, Nadira menutup koper kecilnya. Dia berdiri di depan cermin. Wajahnya lelah, tapi matanya terang.
Dia tidak menang. Dia hanya memilih untuk hidup.
Dan di kejauhan, Raka Mahardika akhirnya memahami satu hal yang terlalu lama dia abaikan...
Beberapa orang tidak pergi karena tidak cinta. Mereka pergi karena tidak lagi mau kehilangan diri sendiri.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...
kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍