NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.6k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 - Hal-Hal yang Terlambat

Raka Mahardika tidak pernah belajar bagaimana mengejar.

Selama ini, orang-orang yang datang ke hidupnya selalu menyesuaikan diri. Jadwalnya, ambisinya, diamnya. Dia tidak perlu meminta mereka bertahan sendiri.

Termasuk Nadira.

Itulah sebabnya, ketika dia akhirnya berdiri di depan layar ponsel dengan satu nama yang tidak lagi aktif di hidupnya, Raka memilih cara yang paling dia pahami... menekan.

[Kita perlu bicara.]

Pesan itu terkirim pukul 22.41.

Tidak ada sapaan. Tidak ada pertanyaan. Bukan apa kabar, bukan bolehkah.

Dia menunggu. Lima menit. Sepuluh.

Tidak ada balasan.

Raka menghembuskan napas kasar. Dadanya terasa sesak, tapi pikirannya masih meyakinkan satu hal...

Nadira pasti membaca. Dia selalu membaca. Nadira memang membaca.

Nadira sedang duduk di lantai kamar kos barunya. Ruangan kecil, tapi bersih, dengan jendela yang menghadap gang sempit. Laptop terbuka, kertas-kertas wawancara tersusun rapi.

Nama Raka muncul di layar. Nadira menatapnya sebentar. Lalu meletakkan ponsel terbalik.

Dia kembali ke catatan.

Tidak ada getaran emosional yang dulu selalu muncul. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada dorongan untuk menjelaskan.

Yang ada hanya kesadaran sederhana... Ini bukan lagi prioritas.

Raka tidak tahu itu. Yang dia tahu hanyalah ketidaknyamanan karena tidak direspons.

Malamnya, dia tidak tidur.

Pagi harinya, Raka muncul di kampus lebih awal dari biasanya. Duduk di bangku dekat perpustakaan lantai tiga, tempat yang belakangan sering Nadira datangi.

Dia menunggu.

Jam delapan. Tidak ada.

Jam sembilan. Tidak ada.

Raka mulai gelisah.

"Dia pasti sengaja." Gumamnya.

Dan kalimat itu terdengar seperti tuduhan, bukan fakta.

Nadira sedang berada di ruang dosen.

Wawancara magang riset berjalan lebih lama dari jadwal. Panelis bertanya kritis, menantang argumennya. Nadira menjawab tanpa terburu-buru, tanpa menunduk.

"Apa motivasi terbesar Anda?" Tanya salah satu panelis.

Nadira terdiam sejenak. Lalu berkata jujur, "Saya ingin bekerja tanpa harus mengecilkan diri sendiri."

Tidak ada drama. Tidak ada cerita masa lalu. Hanya pernyataan yang mantap.

Panelis saling pandang.

Raka kehilangan kesabaran menjelang siang. Dia mengirim pesan kedua.

[Aku lihat kamu di kampus. Jangan pura-pura nggak ada.]

Kali ini nadanya berubah. Lebih tajam. Lebih personal. Dan di situlah kesalahannya dimulai.

Nadira membaca pesan itu setelah wawancara selesai.

Dia berdiri di lorong fakultas, membaca layar ponsel dengan wajah datar.

Salsa yang menemaninya mengerutkan kening. "Raka?"

Nadira mengangguk.

"Kamu mau jawab?"

Nadira memasukkan ponsel ke tas. "Tidak."

"Kenapa?"

Karena dia akhirnya paham satu hal... menjawab sekarang hanya akan mengulang pola lama. Menjelaskan, melunakkan, mengalah. Nadira tidak ingin kembali ke sana.

Raka melihat Nadira dari kejauhan sore itu. Dia berdiri di depan gedung fakultas, tertawa kecil bersama seorang dosen, Dr. Arvin. Gestur mereka santai. Tidak canggung.

Raka merasakan sesuatu yang asing menjalar di dadanya. Cemburu...

Bukan karena kehilangan cinta. Tapi karena kehilangan posisi. Dia melangkah mendekat.

"Nadira." Suaranya terdengar lebih keras dari yang dia maksudkan.

Nadira menoleh. Wajahnya tenang. Tidak terkejut. "Raka."

Tidak ada senyum. Tidak ada dingin berlebihan. Hanya netral...

"Kita perlu bicara." Kata Raka cepat.

Nadira mengangguk kecil. "Sekarang tidak."

"Kapan?"

"Nanti."

"Nanti kapan?"

Nadira menatapnya. Untuk pertama kalinya, Raka merasa sedang dihadapkan pada seseorang yang tidak lagi bisa dia dorong.

"Aku akan menghubungimu kalau aku siap." Kalimat itu sederhana. Tapi posisinya jelas.

Raka tercekat. "Kamu berubah."

Nadira menjawab pelan, "Aku berhenti menunggu." Lalu dia pergi. Tanpa menoleh.

Aluna menyaksikan semuanya dari kejauhan. Tangannya mengepal.

Dia merasa kehilangan kendali atas Raka, atas situasi, atas narasi yang selama ini dia pegang. Nadira seharusnya menjauh dengan tenang, menghilang pelan-pelan. Bukan seperti ini.

Malam itu, Aluna membuat keputusan yang dia yakini akan "membereskan semuanya".

Dia membuka laptop. Mengakses folder lama. Email internal. Dokumen BEM yang pernah Nadira susun lengkap, rapi, dengan catatan pribadi.

Dia memilih satu dokumen. Mengedit. Menghapus nama. Mengubah konteks. Lalu mengirimkannya ke dosen pembina, dengan catatan singkat...

Perlu klarifikasi terkait keterlibatan Nadira Savitri dalam beberapa keputusan internal.

Dia menutup laptop dengan tangan sedikit gemetar. Ini hanya klarifikasi, katanya pada diri sendiri. Bukan serangan.

Keesokan harinya, Nadira dipanggil.

Bukan oleh BEM.

Bukan oleh Raka.

Oleh dosen pembina.

Nadira duduk tenang di kursi depan meja. Dia mendengarkan penjelasan, melihat dokumen, membaca email.

Dia mengenali suntingan itu. Dan dia tahu persis siapa yang melakukannya.

"Apakah ini benar?" Tanya dosen itu.

Nadira mengangkat wajah. Tatapannya jernih. "Tidak, Pak."

Dia membuka laptopnya. Menunjukkan versi asli... timestamp, arsip email, bukti kerja.

“Saya mundur resmi sebelum tanggal ini." Katanya tenang. "Dan saya tidak pernah membuat keputusan sepihak."

Ruangan itu sunyi.

Dosen itu mengangguk pelan. "Baik. Terima kasih atas klarifikasinya.'

Saat Nadira berdiri, tidak ada gemetar di kakinya. Dia keluar ruangan dengan satu kesadaran baru... Ini bukan lagi tentang bertahan. Ini tentang melindungi diri.

Kesalahan Aluna terbongkar lebih cepat dari yang dia kira. Email asli ditemukan. Riwayat edit terlihat. Sumbernya jelas.

Raka dipanggil sore itu.

"Apa kamu tahu soal ini?" Tanya dosen pembina, datar.

Raka membaca dokumen itu. Wajahnya memucat. "Tidak." Katanya jujur.

"Aluna mengirimnya."

Raka menutup mata. Untuk pertama kalinya, dia tidak membela.

Nadira duduk di halte sore itu, menunggu angkot. Ponselnya berbunyi. Email masuk.

[Kami dengan senang hati menginformasikan bahwa Anda diterima dalam program magang riset...]

Nadira membaca sampai selesai. Lalu menghembuskan napas panjang.

Dia tidak menangis. Tidak melonjak. Dia hanya... tersenyum.

Hidupnya terbuka ke arah yang baru. Kota baru. Ruang baru. Versi dirinya yang tidak selalu berada di posisi kedua.

Raka berdiri sendirian di ruang sekretariat yang mulai terasa asing.

Namanya masih ada di struktur. Tapi kepercayaan mulai retak. Aluna dipanggil, ditegur, dijauhkan sementara.

Dan Nadira? Dia bahkan tidak menoleh ke belakang.

Raka akhirnya mengirim satu pesan lagi.

[Aku minta maaf. Untuk semuanya.]

Pesan itu terkirim.

Tidak dibaca.

Malam itu, Nadira menutup koper kecilnya. Dia berdiri di depan cermin. Wajahnya lelah, tapi matanya terang.

Dia tidak menang. Dia hanya memilih untuk hidup.

Dan di kejauhan, Raka Mahardika akhirnya memahami satu hal yang terlalu lama dia abaikan...

Beberapa orang tidak pergi karena tidak cinta. Mereka pergi karena tidak lagi mau kehilangan diri sendiri.

1
sukensri hardiati
nadira.....jangan keras kepala...semua orang sayang kamu...tp kamu nggak sayang dirimu sendiri
mimief
jujur itu mahal..
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
mimief
walaupun terkesan kaku bahasa nya.
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
mimief
hmmm...
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
mimief
dan berhenti keras kepala untuk sesuatu yg dikira akan memberikan bahagia.ternyata hanya fatamorgana
💞DARRA💞💖
aq baca bab 1-2 udah sesek karna hampir sama dengan yg kujalani
Mamah Kaila
tahu ah dialognya terlalu membosankan, jadi hambar
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐩𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝟐 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐩𝐝𝐡𝐥 𝐩𝐫𝐜𝐦....


𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚

𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐤𝐰𝐞𝐧𝐬𝐢....

𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁

𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐛𝐫𝐬 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐮𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐨 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐢𝐧𝐭 𝐭𝐧𝐩 𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝟐 𝐭𝐧𝐩 𝐛𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮😁😁😁 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐚𝐥𝐥 𝐛𝐠𝐬 𝐬𝐢𝐡 😘😘😘
Hari Saktiawan
cerita tak masuk akal
bakpao
/Good/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐡𝐭 𝐩𝐝 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡, 𝐜𝐩𝐭 / 𝐥𝐦𝐛𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 😤😤😤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭, 𝐭𝐩 𝐲𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐩𝐞𝐧𝐨𝐤𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐮𝐫𝐚𝐝𝐮𝐥 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤 🤪🤪🤪😤😤😤
Muhammad Azri
certanya bertele tele muter2 d situ2 aja , gk jelas....
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐞𝐩𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐡𝐬 𝐈𝐧𝐠𝐠𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 " 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 " 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😊
Asyatun 1
keren thoor
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!