Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.
Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi
Nenek Merlin menatap Naomi lama. Tatapannya lembut, tapi penuh kegelisahan.
“Apa maksudmu tadi, nak?” tanyanya perlahan. “Memangnya … kau tidur di mana selama ini?”
Naomi tersenyum pahit. Senyum yang tidak sampai ke matanya. “Tanyakan saja pada kepala pelayan, Nek.”
Alis Nenek Merlin langsung berkerut. Ia menoleh ke sudut ruang tamu, tempat kepala pelayan berdiri kaku sejak tadi.
“Kau! Ke sini.”
Mendengar ia dipanggil, kepala pelayan berusia sekitar lima puluh tahun itu tersentak. Wajahnya pucat saat ia melangkah maju dengan langkah berat.
“Jawab aku,” kata Nenek Merlin tegas. “Di mana kamar Naomi?”
Kepala pelayan menunduk. Bibirnya bergetar, namun tak satu kata pun keluar.
“Jawab!” bentak Kakek Jack keras.
Tubuh kepala pelayan itu tersentak. Dengan suara gemetar, ia akhirnya berkata,
“N–nona Naomi … tidur di gudang belakang, Nyonya.”
Suasana berubah hening. Ruangan seakan kehilangan udara.
Mata Nenek Merlin membelalak. Wajah Kakek Jack menegang, rahangnya mengeras.
“Gudang?” suara Nenek Merlin nyaris tak terdengar.
Mereka benar-benar tidak tahu. Selama ini mereka tinggal di vila, jauh dari mansion utama keluarga Elios, memilih hidup tenang tanpa menyangka cucu mereka diperlakukan seperti itu.
Tanpa peringatan, nenek Merlin menghampiri putranya.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Tuan Leon.
“Tega kau!” suara Nenek Merlin bergetar marah. “Putrimu sendiri kau perlakukan seperti ini, Leon?!”
Leon terkejut. Ia refleks membela diri. “A–aku tidak tahu apa-apa, Bu! Semua urusan rumah dipegang oleh kepala pelayan!”
Kakek Jack langsung menoleh tajam ke arah kepala pelayan. “Siapa yang menyuruhmu menempatkan Naomi di gudang?”
Kepala pelayan itu menelan ludah. Matanya melirik sekilas ke arah Viviane, sangat singkat, yapi cukup jelas.
“Jawab!” bentak Jack lagi.
“Itu … itu perintah Nona Viviane,” jawabnya akhirnya.
Tubuh Viviane langsung gemetar hebat.
Nenek Merlin melangkah cepat menghampirinya.
Plak!
Tamparan kedua mendarat.
“Ini gadis yang kalian besarkan?!” bentaknya murka. “Berani memperlakukan darah dagingku seperti ini?!”
Viviane langsung menangis tersedu-sedu. “A–aku minta maaf, Nek … Aku hanya takut … takut Mami dan Papi tidak menyayangiku lagi sejak Kak Naomi datang …”
Tangisnya memilukan. Membuat siapa pun yang melihatnya merasa iba.
Namun mata Nenek Merlin dingin. “Memangnya kenapa, hah?! Memang seharusnya begitu! Naomi itu anak kandung! Bukan sepertimu anak angkat!”
Nenek Merlin menekankan kata-kata itu. Tangis Viviane makin keras.
Nyonya Ruby dan Tuan Leon langsung melindunginya.
“Ibu!” seru Ruby. “Viviane orang tuanya sudah meninggal. Dia sebatang kara. Wajar jika dia takut dibuang!”
Nenek Merlin menatap Ruby dan Leon bergantian. “Dan demi rasa takut itu,” katanya tajam,.“kalian membuang putri kandung kalian sendiri?”
“Itu tidak seperti itu, Bu. Kami—” Leon mencoba membela diri.
Nenek Merlin hanya menggeleng pelan. Mengangkat tangannya. “Semoga suatu hari nanti,” ucapnya dingin, “kalian tidak menyesali pilihan kalian.”
Ia lalu menoleh ke arah Nina dan tiga pelayan lainnya..“Mulai hari ini, kalian dipecat. Kalian tidak pantas bekerja di keluarga ini.”
“Tidak, Nyonya! Tolong!”
“Kami mohon!”
Para pelayan itu langsung bersujud, menangis memohon ampun.
Namun Max sudah kehilangan kesabaran. Ia muak melihat drama keluarga ini yamg tak ada habisnya ini.
“Tuan Elios,” katanya datar. “Saya dan Naomi ke sini hanya untuk mengambil barang-barangnya. Sekalian pamit.”
Nenek Merlin menoleh terkejut. “Pamit? Pamit ke mana? Ini rumahmu, Naomi.”
Naomi menggeleng pelan. “Bukan, Nek,” katanya lirih..“Ini bukan rumahku. Ini neraka. Aku memilih pergi.”
Mata Nenek Merlin langsung berkaca-kaca. Tubuhnya limbung, hampir jatuh jika tidak segera ditopang Kakek Jack.
“Nak .…” suara neneknya gemetar.
Kakek Jack menatap Naomi penuh iba.. “Tinggallah. Kakek mohon.”
Naomi menggeleng lagi. “Aku sudah cukup.”
Leon mendengus kesal..“Kau tega menyakiti nenekmu hanya karena merajuk? Hanya karena perhiasan itu?.Aku bisa membelikan yang lebih mahal! Lagipula mereka sudah mengabdi bertahun-tahun. Pasti tidak sengaja!”
Naomi terkekeh pelan..“Lucu,” katanya..“Saat aku dituduh dan dihukum, kalian tidak bertanya apa pun. Tapi saat putri kesayangan kalian dan para pelayan itu ternyata bersalah, kalian bilang itu tidak disengaja?”
Ia menatap Leon tajam. “Benar-benar lucu, Tuan Leon.”
Leon hendak membalas, namun tatapan Kakek Jack membuatnya membeku.
Akhirnya, Nenek Merlin mengangguk pelan..“Pergilah,” katanya dengan suara bergetar..“Jaga dirimu.”
Naomi tersenyum tipis..“Aku akan mengunjungi Nenek dan Kakek.”
Naomi berjanji dalam hati, saat bunker itu telah siap. Ia akan membawa kakek dan neneknya berlindung.
Ia lalu menoleh ke arah orang tuanya untuk terakhir kali. “Oh ya,” ucapnya santai namun menusuk, “Kalian bilang para pelayan itu tidak sengaja, bukan? Coba periksa barang-barang kalian. Asli … atau palsu. Mereka sering menukarnya. Termasuk kepala pelayan itu.”
Tubuh kepala pelayan langsung menegang kaku. Wajah Kakek Jack mengeras penuh amarah.
Dan tanpa menoleh lagi Naomi pergi.
*
*
Di dalam mobil, suasana terasa sunyi menekan.
Mesin mobil mewah itu melaju mulus, namun hawa dingin menyelimuti kabin. Wajah Max kaku, rahangnya mengeras. Tatapannya lurus ke depan, tangannya mencengkeram setir sedikit lebih kuat dari biasanya.
Naomi meliriknya pelan. Ia mengerutkan kening, merasakan ada sesuatu yang berbeda.
“Kak,” panggilnya ragu. “Kenapa?”
Max tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata dengan suara tertahan, “Jadi selama ini kau tinggal menderita di rumah itu.”
Naomi terdiam.
“Kau diperlakukan seperti itu,” lanjut Max, nadanya makin dingin, “dan kau tidak mengatakan apa pun pada kami?”
Naomi menunduk. Jarinya saling menggenggam di pangkuan.
“Aku … tidak ingin merepotkan,” ucapnya pelan. “Aku pikir … aku bisa bertahan.”
Max tertawa singkat, tawa yang terdengar marah.
“Bertahan? Naomi, kau tidur di gudang,” katanya menahan emosi. “Kau dihina, dijadikan kambing hitam, dicuri barang-barangmu … dan kau menyebutnya bertahan?”
Naomi mengepalkan jemarinya. “Maaf, Kak.”
Kata itu membuat Max menghela napas panjang. Ia menutup mata sejenak, berusaha menekan amarah yang bergejolak di dadanya.
Dalam hatinya, ia ingin kembali. Ingin menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh adiknya. Namun bukan di depan Naomi, ia tak ingin memperlihatkan Naomi sisi iblis dirinya.
Dengan gerakan cepat, Max mengambil ponselnya, mengetik beberapa pesan singkat, lalu meletakkannya kembali seolah tidak terjadi apa-apa.
Naomi memperhatikannya, namun tidak bertanya.
Max menarik napas dalam-dalam, lalu berkata lebih tenang, “Dengarkan aku baik-baik.”
Naomi menoleh.
“Mulai sekarang,” lanjut Max, “jangan pernah berhubungan lagi dengan keluarga itu apapun yang terjadi. Kau masih punya keluarga yaitu kami, kami mencintai dan menyayangimu lebih dari apapun.”
Naomi terdiam sejenak lalu mengangguk. “Aku janji,” katanya tegas.
Max meliriknya sekilas, lalu kembali menatap jalan. “Itu janji yang harus kau pegang.”
Mobil melaju semakin jauh, meninggalkan mansion Elios
kedua orang tua dan Kaka Naomi suatu saat hancur dan akan menyesal telah memilih ular seperti Viviane itu
tp kek mana kira2 nnti reaksi max ya klo tau mobil yg baru di beli di rusak carlos hadeh apa g mikir tuh belakangnya naomi ada siapa 🙈🙈🙈
udh di bilang naomi bukan bodoh lagi ehhh masih cari gara2
batu nya sebesara pa ya 🤔🤔🤔
emng msti gtu kl ngsih pljran sm orng dungu....kl prlu,lmpar aja sklian sm orangnya....bkin ksel aja......
hiiiihhhhh.....pgn getok....