NovelToon NovelToon
ENIGMA

ENIGMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Manusia Serigala / Dokter Genius / CEO Amnesia / Cinta pada Pandangan Pertama / Transformasi Hewan Peliharaan / Pengasuh
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Malam Purnama

Tiga bulan telah berlalu sejak kedatangan AL di pondok lereng bukit itu. Kehidupan mereka telah mencapai titik di mana kebohongan Esme terasa seperti kebenaran yang paling manis. AL bukan lagi sekadar subjek eksperimen yang bingung; dia adalah pria yang bisa memasak sup sederhana, pria yang bisa merayu Esme dengan kata-kata manis hasil didikan Bang Togar, dan pria yang selalu memastikan Esme tidur dalam keadaan hangat.

Namun, takdir sebagai Enigma—predator puncak yang diciptakan dalam tabung reaksi—memiliki siklusnya sendiri yang tidak bisa dihapus oleh kasih sayang manusia.

Malam itu, bulan purnama naik dengan megahnya di langit tanpa awan. Cahayanya yang perak menyinari setiap sudut pondok kayu tersebut. Di ruang tengah, suasana seharusnya sangat romantis. Esme sedang duduk bersandar pada dada AL di atas karpet bulu, sementara AL sedang membacakan sebuah buku cerita dengan suara baritonnya yang kini jauh lebih lancar.

"Dan pangeran itu akhirnya... akhirnya..." Kalimat AL terhenti.

Esme mendongak, merasakan detak jantung AL yang tiba-tiba berpacu dengan kecepatan yang tidak normal. "Aleksander? Kau kenapa?"

Tangan AL yang memegang buku mulai gemetar hebat. Esme bisa merasakan suhu tubuh AL meningkat drastis, jauh lebih panas dari ramuan Madu Hutan Merah mana pun. Napas AL menjadi pendek dan berat, terdengar seperti suara mesin yang kelebihan beban.

"Moa... pergi," desis AL. Suaranya berubah, terdengar serak dan dalam, seolah-olah ada sesuatu yang sedang merangkak keluar dari tenggorokannya.

"Pergi ke mana? Ada apa denganmu?" Esme panik, ia menyentuh wajah AL, namun tangannya segera ditepis.

AL terjatuh dari sofa, berlutut di lantai sambil memegangi kepalanya yang terasa seolah sedang dibelah. Di bawah cahaya purnama yang masuk melalui jendela, Esme melihat perubahan yang mengerikan. Pupil mata AL yang tadinya bulat, kini menyempit menjadi garis vertikal yang berpendar kuning tajam—jauh lebih terang dan liar daripada sebelumnya.

Pembuluh darah di leher dan lengan AL menonjol keluar, berwarna keunguan gelap. Tulang-tulangnya terdengar berderak, seolah-olah sedang menata ulang posisinya di bawah kulit.

"Aleksander! Lihat aku! Tarik napas!" teriak Esme dengan air mata yang mulai menggenang.

AL mendongak, dan kali ini, tidak ada lagi sorot mata penuh cinta dari suaminya. Yang ada hanyalah tatapan lapar seorang predator puncak. AL menggeram, suara yang membuat seluruh fondasi pondok terasa bergetar. Dia menerjang ke arah Esme, menjatuhkannya ke lantai. Kuku-kukunya yang hitam dan tajam menancap di lantai kayu tepat di samping kepala Esme.

Sesaat, wajah AL hanya berjarak beberapa senti dari leher Esme. Taringnya memanjang, air liurnya menetes. Insting membunuhnya berteriak untuk merobek apa pun yang ada di depannya.

"A-Aleksander..." isak Esme, menutup matanya erat, siap menerima kematian dari tangan makhluk yang paling ia cintai.

Namun, tepat sebelum taring itu menyentuh kulit Esme, tubuh AL tersentak hebat. Di dalam kegelapan kesadarannya yang mulai hilang, sisa-sisa memori tentang elusan tangan Esme dan kata "Aku mencintaimu" menahan dorongan liar tersebut. Tangan AL yang besar gemetar, ia mencoba menjauhkan dirinya sendiri dari Esme.

"AAAKKKHHHH!" AL mengerang kesakitan yang luar biasa. Dia memukul lantai hingga kayu itu hancur berkeping-keping.

Dengan sisa kesadaran manusianya yang terakhir, AL berbalik dan berlari secepat kilat. Dia menabrak pintu pondok hingga hancur dan melompat menuju kegelapan hutan di bawah cahaya purnama. Kecepatannya tidak masuk akal, ia menghilang di balik pepohonan dalam hitungan detik, meninggalkan suara geraman yang menggema di seluruh bukit.

Esme terduduk lemas di lantai yang hancur. Napasnya tersengal-sengal, tubuhnya gemetar hebat. "Aleksander... TIDAK! ALEKSANDER!"

Esme berlari ke pintu yang hancur, menatap ke arah hutan yang gelap dan rimbun. Ia ingin mengejar, ia ingin berteriak memanggil nama suaminya, namun kakinya terasa seperti lumpuh. Dia tahu apa yang sedang terjadi. Hormon Enigma dalam tubuh AL bereaksi dengan siklus lunar, membangkitkan gen predator yang seharusnya ditekan oleh obat-obatan laboratorium.

"Ini salahku..." tangis Esme pecah. Dia terduduk di ambang pintu, memeluk lututnya sendiri. "Seharusnya aku tidak membawanya keluar dari lab... seharusnya aku tidak memberinya kehidupan palsu ini..."

Esme menangis tersedu-sedu. Rasa takut menyelimuti hatinya. Bukan takut akan dibunuh oleh AL, tapi takut bahwa AL tidak akan pernah kembali. Takut bahwa pria yang ia cintai telah benar-benar lenyap ditelan oleh monster di dalam dirinya.

Ia ingin meminta tolong pada Paman Silas atau Bang Togar, namun ia segera mengurungkan niatnya. Jika orang desa melihat AL dalam kondisi seperti itu, mereka akan membunuhnya dengan senapan buru. Atau lebih buruk lagi, rahasia tentang eksperimen ilegal yang dilakukan Esme di masa lalu akan terbongkar. Dia akan kehilangan AL selamanya.

"Aku tidak bisa kehilangan dia..." bisik Esme di antara isak tangisnya.

Ocan, yang sejak tadi bersembunyi di bawah lemari dengan bulu berdiri tegak karena ketakutan, perlahan keluar. Kucing oranye itu mendekati Esme yang sedang terpuruk. Ocan tidak mengeong dengan angkuh seperti biasanya. Dia mengeluarkan eongan pelan yang terdengar sangat prihatin, lalu menggosokkan kepalanya yang berbulu tebal ke tangan Esme yang dingin.

Ocan seolah mengerti bahwa raksasa yang biasanya memberinya biskuit itu sedang dalam bahaya besar, dan pelayannya sedang hancur.

Esme menggendong Ocan, memeluk kucing itu erat sambil terus menatap ke arah kegelapan hutan. "Ocan... bagaimana jika dia tidak kembali? Bagaimana jika dia terluka?"

Malam itu terasa sangat panjang. Esme tidak berani masuk ke dalam rumah, dia hanya duduk di teras yang dingin, memegang sebuah botol penawar yang sebenarnya belum sempurna. Dia hanya bisa berdoa pada bulan purnama yang dingin itu, berharap agar insting kemanusiaan AL lebih kuat daripada genetik monsternya.

Di kejauhan, jauh di dalam jantung hutan, suara raungan serigala yang sangat keras dan tidak wajar membelah keheningan malam, membuat Esme semakin terisak dalam ketakutannya yang paling dalam.

Apa yang akan dilakukan Esme saat fajar tiba? Apakah dia akan memberanikan diri masuk ke hutan untuk mencari AL, atau apakah AL akan kembali dengan sendirinya namun tanpa ingatan apa pun tentang Esme?

-------

1
Ceye Paradise
🫶😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!