Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aditya yang Bertindak
Jam dua pagi, Ditya masih melek di apartemennya yang gelap. Cuma ada cahaya dari layar ponsel yang nyalain wajahnya yang kusut.
Ditya bangkit dari kasur, jalan ke jendela sambil ngusap muka kasar. Dia ngeliatin Yogyakarta malem yang sepi. Lampu lampu kota yang berkelip redup. Jalanan yang kosong.
Dan dia merasakan sesuatu, yang udah lama dia pendem. Takut kehilangan Fira, bukan takut yang biasa. Bukan takut yang bisa dia rasionalisasi atau dia hindari.
Tapi takut yang bikin dadanya kosong. Yang bikin nafas nya sesak. Yang bikin dia ngerasa kalau Fira pergi, sebagian dari dirinya bakal ikut pergi juga.
Ditya mengambil ponsel, membuka galeri. Scroll ke foto dia sama Fira.
Foto di Alun-Alun Kidul. Fira senyum lebar sambil pegang es krim, Ditya di sebelahnya dengan tangan megang pinggang Fira.
Foto di kafe. Fira lagi ketawa sambil tutup muka, Ditya lagi ngeliatin dia dengan tatapan yang, kalau Ditya jujur sama diri sendiri, itu tatapan orang yang jatuh cinta.
Foto selfie di taman. Jarak wajah deket banget, pipi Fira nempel ke pipi Ditya, mata mereka sama sama berbinar.
Ditya ngeliatin foto foto itu satu per satu sambil sesuatu di dadanya mulai jelas. Dia jatuh cinta sama Fira, beneran jatuh cinta.
Bukan cuma sayang, bukan cuma nyaman dan butuh. Tapi cinta yang bikin dia pengen bangun tiap pagi cuma buat ngucapin 'Selamat Pagi'.
Cinta yang bikin dia rela nyetir satu jam, cuma buat jemput Fira pulang kerja. Cinta yang bikin dia mengingat hal-hal kecil kayak Fira suka bakpia coklat keju, suka teh hangat pas sore, suka dengerin lagu lagu melow sambil ngeliatin jendela.
Cinta yang selama ini dia takuti, Dia hindari, dan dia pendem dengan alasan belum siap. Padahal kenyataannya, dia udah jatuh cinta dari dulu. Cuma terlalu takut untuk mengakuinya.
Ditya duduk di lantai apartemen, sambil menggenggam ponselnya erat. Air mata turun lagi, tapi kali ini bukan air mata sedih. Tapi air mata yang antara menyesal, takut, dan sesuatu yang lebih kuat.
"Aku nggak mau kehilangan dia," gumamnya pelan ke ruangan kosong. "Aku nggak mau, jika harus kehilangan Fira untuk selamanya."
Dia ambil nafas dalem dalem, ngeluarin pelan pelan. Jarinya gemetar pas buka kontak Dimas, lalu mulai mengetik pesan.
...💌...
Ditya: Dim, aku kerumah kamu sekarang ya, ada hal yang mau aku ceritain sama kamu.
Pesan mulai terkirim, dan beberapa menit kemudian Dimas membalasnya.
^^^Dimas: Ya, udah. Dateng aja, aku juga nggak berniat untuk pergi keluar.^^^
Ditya senyum tipis saat membaca pesan itu. Dia mulai mengetik lagi.
Ditya: Tapi aku takut, Dim. Takut kalo Fira balik lagi sama masa lalunya.
^^^Dimas: Kalo Fira udah sayang sama kamu, mau yang dateng itu masa lalu atau orang baru, dia bakal tetep pilih kamu.^^^
Ditya merenungkan kata-kata Dimas, apa yang di katakan Dimas memang benar. Kalau Fira beneran sayang, dia pasti akan tetap memilih dirinya.
Ditya berdiri, jalan ke kamar mandi, nyalain air wastafel, cuci muka berkali kali sampe air dinginnya bikin dia sedikit lebih jernih.
Dia ngeliatin pantulan dirinya di cermin, mata sembab, rambut berantakan, wajah yang lelah. Tapi di mata itu, ada sesuatu yang baru, yaitu sebuah tekad.
Dia keluar kamar mandi, langsung ambil ponselnya lagi. Lalu memuka chat Fira. Jarinya mengetik pesan, dengan penuh hati-hati.
...💌...
Ditya: Fira, aku tahu kalo Anggara kembali lagi dalam kehidupan kamu. Tapi aku yakin dan percaya sama kamu, bahwa kamu nggak akan mengecewakan aku.
Dia stare pesan itu lama, baca ulang berkali kali, mencoba untyk yakin ini kalimat yang tepat.
Setelah pesan itu terkirim, Ditya menaruh ponselnya di meja, rebahan di kasur sambil ngeliatin langit-langit.
***
Pagi jam lima, Ditya belum tidur sama sekali. Mata nya masih melek sambil ngeliatin ponsel. Pesan Fira masih centang dua biru. Dibaca jam tiga pagi tadi.
Tapi nggak dibales, Ditya mencoba telpon. Nada tunggu panjang, tapi nggak diangkat.
Ditya coba chat lagi.
...💌...
Ditya: Fira, tolong balas pesan aku. Aku takut kalo kamu udah kembali lagi sama dia, dan kamu nggak bilang apa-apa.
Setelah pesan terkirim, lima menit kemudian ada balasan.
^^^Fira: Ditya, kamu tau aku udah sayang sama kamu, meskipun dia. cinta pertama aku, tapi aku nggak akan kembali lagi sama dia. Nanti sore kita ketemu di tugu ya.^^^
Tugu adalah tempat yang sama, di mana Anggara ninggalin Fira. Tempat yang sama di mana, kemarin Anggara kembali dengan membawa sebuah cincin. Dan sekarang, Fira ingin mereka bertemu di tempat yang sama.
Ditya bales cepet.
Ditya: Oke. Aku bakal kesana, makasih Fira. Makasih udah mau ketemu.
Fira sudah membaca pesan itu, tapi dia nggak membalasnya lagi. Ditya menaruh ponselnya, lalu menutup mata sambil tarik nafas panjang.
Tinggal menunggu waktu untuk Ditya bisa bertemu dengan Fira, bertemu dengan pacar sendiri adalah salah satu hal yang paling menyenangkan.
Ditya menatap langit-langit kamarnya, pikirannya tiba-tiba tertuju pada traumanya yang ia alami sejak kecil.
Siksaan yang ibunya berikan saat kecil, hingga saat ini selalu membekas di kepalanya.
bab ini kita full karokean...😅😅😅😅
bener gak sih nadanya gini....😅😅😅