Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Janitor room
Ada gedebag--gedebug dari dalam. Namun itu tak berlangsung lama, sebab hening kemudian. Kedua asisten itu hanya bisa berdiri menanti di depan pintu seukuran satu orang itu tanpa kepastian, bahkan Desti sudah menempelkan kupingnya di pintu demi bisa menguping.
Sementara di dalam, Anye sudah tak lagi melempar Ganesha dengan barang-barang, sebab sepasang sepatunya sudah tergeletak di dekat Ganesha, beberapa peralatan dan persabunan yang ada disana juga sudah berantakan Anye lempar ke arah Ganesha yang menyalakan lampu di dalam ruang berukuran sesak itu.
"Jangan macem-macem kamu bang!" kini ancamnya menodongkan sapu ke arah Ganesha dengan mata sengitnya.
"Oke kita bicara." Ganesha menghela nafas, menarik kembali kewarasannya setelah beberapa waktu ini ia kehilangan itu karena seorang perempuan, mantan istrinya, Anyelir. Ia meminta Anye menurunkan gagang sapu.
Anyelir, melumpuhkan wanita ini...mengajaknya bicara serius dan tidak banyak melawan memang harus dengan cara begini, memaksanya, memojokannya agar ego bossy-nya itu redam sejenak.
Tak dipungkiri, sifat seorang Alfa dan mandiri melekat kuat di sosok seorang Anyelir, memang tak diragukan lagi ia seorang pimpinan terbiasa dihormati dan disegani. Namun sungguh...saking Alfa-nya sikap itu terbawa pada kepribadiannya di rumah dan dalam hubungan.
Wajah Anye masih sengit, ia merapat di sisi terdalam ruang janitor, tepatnya menempel di rak, mendekap kedua tangannya di dada sampai Ganesha kembali bicara.
"Kamu punya masalah dengan saya?"
Anye setia membuang mukanya, "engga. Abang kali yang punya masalah, pacar Abang yang tantrum, imbasnya ke aku!" jawabnya melawan.
Ganesha membuka jasnya yang dirasa mulai terasa gerah di dalam sini, "terus kenapa kamu meminta pertemuan Imaginary hanya bisa dengan presdir Jilo? Wajar kan saya berpikir kamu punya masalah dengan saya?"
Anye mendengus, "lah, bukannya memang itu tugas Presdir kan atau justru cuma jadi urusan divisi pemasaran aja, ngga perlu sampai melibatkan seorang CEO? Dimana letak salahnya?"
Rahang Ganesha mengeras sesaat, tapi kemudian ia menghela nafasnya lagi, mencoba menurunkan egonya sedikit kali ini, "kamu sedang menghindari saya, Anye...benar kan?"
Anye memang tak pandai berbohong, alisnya berkedut memberikan respon meskipun ia berkata, "engga juga. Ngapain mesti menghindar..."
Hening terjadi beberapa detik setelah itu.
Kemudian, pada akhirnya Anye ingat dengan niatnya yang ingin menegaskan hubungannya dengan Ganesha itu, Anye menunduk memainkan kuku-kuku jarinya, lalu----"oke. Begini...karena kita terlanjur ada di obrolan ini, jadi sekalian aja. Bang, aku cuma mau memastikan, antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi, betul?" tanya Anye pada Ganesha yang kini gantian mendekap kedua tangannya di dada, alisnya naik sebelah.
"Sejak putusan hakim di pengadilan agama, kita benar-benar sudah tidak terikat hubungan, kontrak atau perjanjian apapun. Dan yaap!" Anye mengangguk menyetujui ucapannya sendiri, "aku sedang berusaha memberikan jarak untuk kita. Aku ngga mau, interaksi kita ini, kaya sekarang, kemarin dan kemarinnya lagi itu menjadi duri buat hubungan kita ke depannya. Aku sudah berusaha menerima mas Ibas, dan aku denger juga kemarin Abang sama Fiqah..." jeda Anye menatap Ganesha yang khusyuk menyimak.
"Aku sama Fiqah kenapa?" tembak Ganesha penasaran. Anye menatapnya asam, ingin rasanya ia menyiram mata Ganesha dengan karbol, ia lantas menggeleng, merasa---come on! Masa hal begini saja harus dibicarakan dan ia yang bicara. Kesannya seperti dirinya keberatan atau----
"Abang sama Fiqah keliatannya sudah lebih serius." Ucapan dengan nada pasrah itu lolos dari mulut Anye, membuat Ganesha begitu menajamkan pendengarannya.
"Kamu cemburu?" tanya Ganesha memancing Anye membeliakan matanya, "hey! Aduhhh...yang bener aja." Dengusnya sumbang. Meski kemudian wajahnya itu mendadak memerah dan Anye kembali membuang muka dari Ganesha. Ia tak pandai mengontrol air mukanya itu.
Ganesha mendekat, memperpendek jaraknya dan sukses membuat Anye semakin merapat ke pojok. Kembali, sentuhan itu tak terelakan, Ganesha selalu berhasil membuat Anye takluk. Love after war, begitu sepertinya definisi yang cocok menggambarkan kondisi keduanya setiap waktu.
Tantrum, menyusahkan orang, menggemparkan dunia, bersitegang, mempertahankan ego masing-masing dan bertengkar tapi setelahnya, love touching. Bentuk cinta yang sedang menjadi project si duda Leo dan janda Aries ini.
Seharusnya, memang sudah seharusnya mereka cukup pintar untuk tau jika satu sama lain saling merindukan, membutuhkan, tapi tembok gengsi, kompetitif dan kepala batu begitu tinggi menjulang. Tak ada yang mau mengawali kata meminta, dari keduanya.
Bahkan, alih-alih menyederhanakan masalah, keduanya justru semakin berlarut-larut berkompetisi, siapa yang lebih bisa membuat siapa menyerah daripada harus mengatakan--- i love you and i need you, marry me again...atau, aku yang salah, terlalu egois dan aku ingin kembali.
Ganesha menyeka garis bibir Anye dengan jempolnya, keduanya masih ada dalam jarak yang sangat dekat, sampai....
Ddrttt....
Ddrttt....
Ponsel Ganesha bergetar, ia mengeluarkan itu dari sakunya, Afiqah memanggil....
Anye dapat melihat itu, tapi apa yang terjadi...Ganesha justru menggeser panggilan ke tombol merah dan mematikan daya ponselnya. Sebuah kemajuan yang baru kali ini Anye dapatkan selama bersama Ganesha.
"Kita lanjutkan obrolan kita barusan.." Ganesha memasukan kembali ponselnya, tanpa menghiraukan resiko besar ketika ia mematikan daya ponselnya itu. Anye sangat tau, karena bisa saja kerugian didapatkan Jilo corp jika sampai CEO nya ini mematikan satu-satunya alat komunikasi dengan dunia luar. Tak ada yang tau kan, bisa jadi calon klien perusahaan raksasa sedang menghubunginya, atau pasar saham lagi bagus-bagusnya. Hanya demi bisa mengobrol di ruang janitor dengan Anyelir.
"Kamu serius dengan Ibas?" tanya nya lirih menatap Anye, semenit lalu, tanpa harus berpikir Anye akan mantap menjawab iya! Tentu saja! Baskoro sosok baik, humble, ramah lingkungan, dan tentu saja penurut. Namun percayalah, saat ini...hati Anye justru ragu kembali, keyakinan yang sudah ada di angka 90 persen berubah jadi 30 persen, drastis sekali. Berulang kali netra indah itu mondar mandir menatap bola mata kelam Ganesha.
"Ya...iya." Ia mengerjakan bulu mata cantiknya ragu tanpa mau menatap Ganesha selanjutnya. Dan Ganesha mendengus untuk itu.
"Gimana kalo Ibas tau, kalau beberapa waktu yang lalu kita----dan barusan? Apa dia masih mau?"
Telunjuk Anye mendorong dada Ganesha, "yang barusan itu ngga masuk hitungan aku menikmati. Itu kamu yang paksa aku!"
"Dan waktu lalu----" Anye membuang wajahnya lagi ke samping, "lupain aja. Yang itu lupain! Anggap aja karena pengaruh minuman sialan. Aku khilaf."
Meledaklah tawa Ganesha melihat ekspresi Anye mendengar jawaban wanita di depannya ini, "khilaf Nye?"
Anye mendesis layaknya ular, "terus mau abang apa? Aku bikin pengumuman di toa masjid kalo kita, janda---duda kegatelan? Yang begitu di belakang pasangan masing-masing?"
"Lagipula kenapa abang mesti ribetin ini sih, bukannya seharusnya abang lupain hal ini, soalnya abang sama Fiqah mau nikah?" ada hati yang teriris membicarakan hal itu untuk Anye.
Ganesha mundur, "kasih tau aku, kenapa kamu bisa seyakin ini kalau aku dan Fiqah seserius itu?"
Wajah Anye menatap Ganesha mencoba memahami mantan suaminya itu, "maksudnya?"
Ganesha kembali menghela nafasnya, "aku ngga seto lol itu membawa Afiqah serius, sementara aku masih cium kamu barusan."
Anye mematung menatap lelaki yang kini sudah menyeka keringat di dahi karena kepanasan itu. Apakah sarrafff otaknya baru saja connect mengartikan ucapan Ganesha barusan? Komunikasi mereka memang buruk, merasa pintar dengan selalu memakai bahasa kode dan isyarat nyatanya keduanya sama-sama bodoh dengan tak paham.
Ganesha memungut sepatu hak tinggi Anye, dengan gerakan cepat dan tanpa terduga memasangkan satu persatunya di kaki Anye, membuat si pemilik kaki itu terhenyak kaget Ganesha mau-maunya melakukan itu.
Kenapa setelah berpisah, abang jadi manis begini?
.
.
.
.
.
diam diam menenggelamkan ternyata