Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7# Mata Di Balik Kabut
Api unggun di tengah camp Saka memercikkan bunga api ke langit-langit tebing yang gelap. Namun, kehangatan itu tidak mampu mencairkan suasana beku di antara mereka. Rayden duduk meringkuk di sudut terjauh, tubuhnya masih bergetar hebat. Ia mengenakan celana kain gombrang milik Harry karena celananya sendiri sedang dijemur setelah kejadian memalukan di hutan tadi. Lira duduk di sampingnya, berusaha menenangkan Rayden, meski Lira sendiri terus-menerus melirik ke arah Dokter Luz dengan tatapan penuh kecurigaan.
Dokter Luz duduk membelakangi mereka. Ia sedang membersihkan sisa-sisa cairan cryogenic dari jas putihnya dengan gerakan yang sangat kaku. Sesekali, ia melirik ke arah pergelangan tangan Arlo, menatap gelang perak itu dengan tatapan yang sangat tajam hampir seperti seorang pemburu yang menatap mangsanya.
"Kau terlalu banyak diam, Dokter," suara Harry menggelegar, memecah kesunyian. Ia berdiri tegak, memegang pisaunya dengan posisi siap menyerang. "Sembilan tahun aku di sini, melihat teman-temanku hancur. Dan sekarang kau bangun, membawa monster-monster itu ke depan pintu rumahku, lalu bertingkah seolah kau adalah korban? Katakan padaku, apa tujuanmu sebenarnya?"
Dokter Luz menoleh perlahan. Senyumnya tipis, namun terasa dingin dan sinis. "Korban? Di dunia ini tidak ada yang benar-benar korban, Harry. Yang ada hanyalah mereka yang cukup kuat untuk bertahan, dan mereka yang berakhir menjadi pupuk di bawah Sleeping Trees."
"Kau bajingan," geram Zephyr, tangannya mengepal kuat. "Rayden hampir mati karena kau menyeret kami keluar tadi!"
Luz berdiri, ia mengabaikan Zephyr dan berjalan mendekati Arlo. Langkah kakinya terdengar sangat teratur di atas rumput perak. Naya dan Finn segera memasang posisi waspada di depan Arlo, namun Luz berhenti tepat satu meter di depan mereka.
"Kau ingin tahu apa yang terjadi, Arlo?" tanya Luz. Suaranya rendah, penuh rahasia. "Ayahmu... dia adalah seorang jenius. Dia menciptakan proyek ini, menciptakan kalian, dan menciptakan makhluk-makhluk itu untuk menjadi pelindung dunia yang sedang sekarat di luar sana. Tapi, kepercayaan adalah kelemahan manusia yang paling fatal."
Luz memutar tubuhnya, menatap Menara merah di kejauhan. "Sahabat ayahmu orang yang paling dipercayainya mengkhianati semuanya. Dia menyuntikkan kode virus ke dalam sistem pusat, membalikkan logika para Phenix Omega dari pelindung menjadi predator. Dalam satu malam, laboratorium ini menjadi rumah jagal."
"Lalu kenapa kau ada di dalam kapsul itu?" tanya Naya dengan nada menginterogasi. "Jika kau orang baik, kenapa kau bersembunyi di dalam es sementara kerusuhan terjadi?"
Luz tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat pahit dan licik. "Karena aku diperintahkan oleh ayahmu untuk memperbaiki kerusakan itu sebelum dia ditangkap. Tapi aku tidak sepintar yang dia kira. Aku ketahuan. Aku terpojok di laboratorium bawah tanah itu dengan luka parah di perutku. Satu-satunya caraku untuk tidak mati saat itu adalah masuk ke dalam kapsul pembeku dan berdoa agar sistemnya tidak mati selama aku tertidur."
Luz menatap Arlo lagi, kali ini dengan tatapan yang membuat Arlo merasa tidak nyaman. "Tujuh belas tahun aku membeku, menunggu seseorang yang memiliki darah yang sama dengan ayahmu untuk membangunkanku. Karena hanya kau, Arlo, yang bisa menembus enkripsi pengkhianat itu."
"Kau tahu banyak hal tentang ayahku," ucap Arlo, suaranya terdengar berat. "Tapi kenapa aku merasa kau sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih besar?"
Luz hanya mengedikkan bahu, lalu berjalan menuju sudut camp tempat Harry menyimpan bahan bakar. Ia mulai memeriksa botol-botol itu tanpa izin. "Percaya atau tidak, itu hak kalian. Tapi ingat ini: tanpa aku, kalian hanyalah tikus laboratorium yang menunggu giliran untuk diinjak oleh Phenix Omega. Aku adalah satu-satunya peta yang kalian punya."
Rayden mendongak sedikit dari balik pelukan Lira. "Dia... dia menyeramkan. Arlo, jangan percaya padanya. Dia menatap kita seolah kita ini hanya angka-angka di layar komputernya."
"Aku setuju dengan Rayden," bisik Finn. "Gerak-geriknya tidak seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang. Dia terlalu tenang. Terlalu... licik."
Harry mendekati Arlo, berbisik pelan agar Luz tidak mendengar. "Awasi dia, Arlo. Aku sudah melihat banyak pengkhianatan selama sembilan tahun di sini. Wanita ini... dia punya aroma yang sama dengan orang-orang yang mengirim kita ke sini. Dia mungkin mengenalku, tapi dia tidak mencintai kita."
Sepanjang malam, Dokter Luz tetap terjaga. Ia duduk di mulut lorong gua, menatap kegelapan hutan dengan pandangan yang kosong. Sesekali ia merogoh saku jasnya, menyentuh sebuah benda kecil yang ia sembunyikan dari yang lain. Gerakannya sangat mencurigakan, seolah ia sedang mengirimkan sinyal atau menunggu sesuatu datang dari balik kabut.
Lira yang mencoba memejamkan mata tidak bisa tidur. Ia merasakan aura dari Dokter Luz bukan aura kejahatan murni, tapi aura yang penuh dengan beban rahasia yang menyesakkan. Luz memang dikirim ayah Arlo untuk memperbaiki keadaan, tapi cara yang ia tempuh tujuh belas tahun lalu telah mengubahnya menjadi wanita yang dingin dan penuh tipu daya.
"Arlo," panggil Luz tiba-tiba tanpa menoleh.
Arlo yang sedang duduk di dekat perapian menoleh. "Apa?"
"Besok pagi, kita tidak akan lewat jalur biasa. Kita akan memotong jalur melalui The Weeping Swamp," ucap Luz dengan nada memerintah. "Itu jalur tercepat menuju Menara, meskipun kemungkinan besar setengah dari kalian tidak akan sampai ke sana."
"Kau mengancam kami?!" Zephyr berdiri, emosinya kembali memuncak.
Luz menoleh, matanya berkilat di bawah cahaya api. "Aku hanya jujur. Di dunia ini, kejujuran seringkali terdengar seperti ancaman bagi mereka yang lemah."
Ketegangan malam itu di Saka mencapai puncaknya. Mereka semua merasa bahwa wanita ini adalah bom waktu. Namun, mereka tidak punya pilihan. Tanpa Luz, mereka buta. Tanpa Arlo, mereka tidak punya kunci.
Arlo menatap teman-temannya yang masih trauma, terutama Rayden yang kini mulai tertidur karena kelelahan setelah menangis. Arlo tahu, perjalanan besok pagi bukan lagi tentang bertahan hidup, tapi tentang menghadapi sejarah yang sengaja dihapus dari ingatan mereka. Dan di tengah-tengah itu semua, Dokter Luz berdiri sebagai pemandu yang mungkin saja sedang menuntun mereka ke lubang kematian yang lain.