NovelToon NovelToon
Immortal Emperor: Dao Abadi

Immortal Emperor: Dao Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:17.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.

Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.

Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.

Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21: Hujan Iblis

Langit di atas Puncak Pedang Api runtuh.

Pecahan kubah pelindung energi jatuh seperti hujan kaca raksasa, menghantam bangunan-bangunan asrama dan paviliun latihan. Bersamaan dengan itu, awan merah yang menggantung rendah memuntahkan isinya.

Ribuan makhluk mimpi buruk turun.

Ada Kelelawar Iblis Darah yang bersayap kulit, Kelelawar Mayat yang memekik, dan ratusan kultivator Sekte Darah yang menunggangi burung bangkai.

"Bunuh semuanya! Jangan sisakan satu nyawa pun!"

Teriakan perang menggema.

Di Area Terlarang Belakang, Li Wei baru saja menghancurkan kepala Diaken Wang. Namun, ia tidak punya waktu untuk bernapas.

Tiga ekor Kelelawar Iblis Darah (Setara Qi Condensation Lapis 4) mendarat di sekelilingnya, cakar mereka menggores tanah batu, mata mereka lapar menatap Li Wei.

"Makanan..." desis salah satu monster itu.

Li Wei tidak bicara. Ia memutar Tongkat Penembus Langit di tangannya.

"Enyah."

Li Wei melangkah maju. Kelelawar Iblis itu menerjang.

BUAGH!

Ayunan tongkat horizontal. Sederhana, brutal.

Kepala Kelelawar Iblis pertama meledak seperti semangka busuk. Tubuhnya terlempar menabrak dua temannya.

Li Wei tidak berhenti. Ia melompat ke tengah kekacauan, tongkat besinya menjadi kincir angin kematian. Setiap hantaman menghasilkan suara krak tulang yang patah. Tanpa teknik Qi, tanpa kilatan cahaya, hanya fisik murni 500 jin besi dikali kecepatan ayunan.

Dalam lima napas, ketiga monster itu menjadi tumpukan daging.

Li Wei berlari keluar dari area terlarang menuju area utama Puncak Pedang Api.

Pemandangan di sana jauh lebih mengerikan daripada invasi monster.

Asrama murid sedang terbakar. Namun, yang membakarnya bukan Sekte Darah.

Li Wei melihat sekelompok murid elit berbaju merah-emas seragam khusus Klan Wang sedang membantai murid-murid biasa Puncak Api yang tidak bermarga Wang.

"Saudara Liu! Apa yang kau lakukan?! Kita satu guru!" teriak seorang murid muda yang tangannya putus ditebas.

"Maaf, Junior," jawab murid Klan Wang itu dingin, pedangnya meneteskan darah. "Perintah Tetua Wang mutlak. Sekte Langit Biru sudah tamat. Kami membersihkan 'beban' sebelum tuan baru datang."

Sreeek!

Kepala murid muda itu terpenggal.

Di seluruh puncak, pemandangan serupa terjadi. Ini bukan perang. Ini pembersihan etnis. Klan Wang membunuh siapa saja yang bukan keluarga mereka untuk membuktikan loyalitas pada Sekte Darah.

Darah Li Wei mendidih. Ia bukan orang suci, tapi pengkhianatan serendah ini membuatnya muak.

Seorang murid Klan Wang melihat Li Wei.

"Itu Li Wei!" teriaknya. "Tetua Wang menjanjikan 1000 Batu Roh untuk kepalanya!"

Sepuluh murid pengkhianat (Lapis 5 dan 6) segera berbalik, meninggalkan pembantaian warga sipil untuk mengepung Li Wei.

"Target utama, ya?" Li Wei berhenti lari. Ia menancapkan tongkatnya ke tanah batu hingga retak.

Ia menatap sepuluh pengkhianat itu.

"Kalian membunuh saudara seperguruan demi janji musuh?" suara Li Wei rendah, bergetar oleh amarah yang ditekan. "Kalian bahkan lebih rendah dari binatang buas di hutan."

"Persetan dengan moral!" teriak pemimpin mereka. "Sejarah ditulis oleh pemenang! Matilah!"

Mereka menyerang serentak. Sepuluh pedang api menebas dari segala arah.

Li Wei tidak menghindar.

[Tubuh Lima Elemen: Aktivasi Penuh!]

Kulit Li Wei berubah menjadi warna perunggu gelap.

TRANG! TRANG! TRANG!

Pedang-pedang itu menghantam tubuhnya. Baju jubahnya robek total, tapi kulitnya hanya tergores putih. Tidak ada darah.

Mata para pengkhianat itu melotot. "Tubuhnya... sekeras Artefak Dharma?!"

"Giliranku."

Li Wei mencabut tongkatnya.

WUSH!

Satu sapuan lebar.

Tiga murid terdekat pinggangnya hancur seketika. Mereka terlempar menabrak bangunan yang terbakar.

Li Wei maju. Ia tidak menggunakan teknik bela diri. Ia menggunakan tongkat itu seperti palu raksasa.

DUM! Satu kepala pecah. DUM! Satu dada remuk.

"Iblis! Dia iblis!" Murid yang tersisa ketakutan. Mereka mencoba lari.

Li Wei melempar tongkatnya.

JLEB!

Tongkat besar itu menembus punggung dua murid sekaligus, memaku mereka ke dinding batu.

Li Wei berjalan santai, mencabut tongkatnya dari mayat-mayat itu. Darah membasahi tubuhnya, membuatnya terlihat seperti Asura yang baru keluar dari neraka.

Tiba-tiba, dari balik reruntuhan, seorang murid yang sekarat menarik kaki celana Li Wei.

Itu adalah murid biasa, bukan Klan Wang. Perutnya robek parah.

"S-Saudara Li..." murid itu terbatuk darah. "Lari... Jembatan Rantai... mereka memutusnya... mereka ingin mengisolasi Puncak Pengobatan..."

Mata Li Wei menyipit. "Puncak Pengobatan? Kenapa?"

"Gudang Pil..." bisik murid itu. "Sekte Darah... butuh pil untuk... memulihkan tenaga... Mereka akan membantai semua alkemis setelah merampok..."

Napas murid itu berhenti.

Jantung Li Wei seakan berhenti berdetak.

Xiao Lan ada di Puncak Pengobatan. Dan para Alkemis yang sebagian besar lemah dalam pertempuran adalah sasaran empuk bagi para penjagal.

"Jembatan diputus?" Li Wei menatap ke arah lembah yang memisahkan Puncak Api dan Puncak Pengobatan.

Jaraknya sekitar 500 meter. Tanpa jembatan, murid Lapis Qi Condensation (yang belum bisa terbang leluasa) akan terjebak. Pedang terbang Li Wei hancur saat pendaratan tadi.

"Aku harus menyeberang," gumam Li Wei.

Ia berlari ke tepi tebing. Benar saja, Jembatan Rantai Raksasa yang menghubungkan kedua puncak telah dipotong. Rantainya menjuntai ke jurang yang tertutup kabut.

Di seberang sana, di Puncak Pengobatan, asap hitam mulai membubung. Kubah pelindung di sana masih bertahan, tapi berkedip lemah. Ratusan titik hitam (Iblis Darah) sedang mengerumuninya.

Li Wei melihat sebuah Rantai Penyangga yang masih tersisa, membentang tipis di antara dua tebing. Itu bukan jembatan, hanya satu rantai besi setebal lengan yang bergoyang ditiup angin kencang.

Di atas rantai itu, puluhan Iblis Kelelawar sedang bergelantungan, menjaga agar tidak ada yang lewat.

"Gila," batin Li Wei.

Menyeberangi rantai tipis di atas jurang maut, sambil diserang kelelawar, tanpa kemampuan terbang?

Li Wei mengikatkan tongkat besinya erat-erat ke punggungnya. Ia mundur sepuluh langkah.

"Xiao Lan, tunggu aku."

Li Wei berlari.

Di bibir tebing, ia menghentakkan kakinya sekuat tenaga. Batu tebing pecah.

Li Wei melompat ke udara, mendarat di atas rantai tipis itu dengan keseimbangan sempurna.

"Kiiiiek!"

Para Iblis Kelelawar melihatnya. Makanan datang! Mereka melepaskan pegangan dan terbang menerjang Li Wei.

Li Wei tidak berhenti lari. Ia berlari di atas rantai bergoyang itu seolah di tanah datar.

"Minggir!"

Setiap kali kelelawar mendekat, Li Wei meninju mereka dengan tangan kosong yang dilapisi Qi Logam. Atau ia menendang mereka jatuh ke jurang.

Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Seekor kelelawar berhasil menggigit bahunya, taringnya menembus kulit perunggu Li Wei.

"Argh!"

Li Wei mencengkeram leher kelelawar itu, meremasnya hingga hancur, dan melempar bangkainya ke depan untuk menjatuhkan kelelawar lain.

Darah menetes dari bahunya, membuat rantai menjadi licin.

Satu terpeleset, dia mati.

Tapi Li Wei terus berlari. Matanya terkunci pada gerbang Puncak Pengobatan di seberang.

Di sana, ia melihat pintu gerbang sedang didobrak oleh sesosok monster raksasa.

Golem Darah (Blood Golem).

Dan di balik gerbang itu, ia bisa melihat murid-murid Puncak Pengobatan yang ketakutan, dipimpin oleh seorang gadis berjubah hijau yang memegang pedang dengan tangan gemetar.

Xiao Lan.

"Bertahanlah!" teriak Li Wei, suaranya hilang ditelan angin jurang.

Ia mempercepat larinya, melompat dari satu Iblis Kelelawar ke Iblis Kelelawar lain sebagai pijakan, nekat menyeberangi neraka udara demi satu nyawa yang berharga.

1
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️💪🏻💪🏻💪🏻Ⓜ️
Tatmani Oniaka
👍👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍
MyOne
Ⓜ️👀👀👀Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😯😯😯Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️💥💥💥Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Sahrul Akbar
keren
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😵‍💫😵‍💫😵‍💫Ⓜ️
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very very very nice Thor
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!