Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian di Pulau Dewata
Untuk semakin meyakinkan Baron bahwa Odelyn telah "pindah ke lain hati," Odelyn menerima ajakan Hediva untuk melakukan private date di sebuah vila mewah di Uluwatu, Bali.
Di sana, mereka sengaja membiarkan beberapa foto "paparazzi" bocor ke media sosial, memperlihatkan Odelyn dan Hediva yang tampak menikmati senja di tepi tebing.
Dunia melihat Odelyn sebagai wanita yang paling bahagia, namun realitanya jauh dari itu. Di dalam vila yang megah, Odelyn tetap tidak pernah melepaskan laptopnya.
"Lyn, makanlah sedikit. Sejak kita sampai di Bali, kamu hampir tidak menyentuh makananmu," Hediva mendekati Odelyn yang sedang duduk di kursi malas sambil menatap layar monitor yang masih menunjukkan titik Gavin yang statis di London.
Odelyn hanya menggeleng pelan. Aroma ikan bakar yang disajikan di meja justru membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
"Saya hanya lelah, Hediva. Suasana di sini terlalu menyengat."
Minggu kedua berlalu tanpa ada satu pun sinyal suara dari Gavin. Hanya ada titik biru yang diam membeku. Ketakutan mulai merayap di hati Odelyn. Apakah Gavin tertangkap? Apakah dia dibunuh secara diam-diam oleh Baron? Atau apakah dia benar-benar percaya pada berita perselingkuhan Odelyn dengan Hediva?
Pikiran-pikiran negatif itu mulai menyerang mental Odelyn. Dia mulai sering melamun dan terbangun di tengah malam dengan keringat dingin. Di saat yang sama, tubuhnya mulai memberikan sinyal-sinyal yang tidak biasa.
Pagi itu di Bali, saat Odelyn mencoba berdiri dari tempat tidur, dunia di sekelilingnya tiba-tiba berputar.
Brukk!!!!
Odelyn jatuh pingsan di lantai kamar. Hediva yang mendengar suara jatuh segera berlari masuk dan menemukan Odelyn sudah tak sadarkan diri.
Setelah sadar, Odelyn menolak dibawa ke rumah sakit. Ia bersikeras bahwa itu hanya karena dia kurang tidur dan terlalu banyak memikirkan Gavin. Namun, gejala itu tidak berhenti.
Siang harinya, saat sedang berdiskusi soal proyek dengan Hediva, Odelyn tiba-tiba menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi. Dia mual hebat, tapi tidak ada makanan yang keluar. Tubuhnya terasa sangat lemas, dan wajahnya pucat pasi.
"Odelyn, ini bukan cuma kelelahan," Hediva berdiri di depan pintu kamar mandi dengan rahang mengeras.
"Kamu sudah pingsan dua kali dalam tiga hari. Kamu mual setiap melihat makanan. Apa kamu..."
Odelyn menatap bayangannya di cermin.
Jantungnya berdegup kencang. Ingatannya kembali ke malam terakhir di Singapura, malam di mana dia dan Gavin menumpahkan segala kerinduan dan luka sebelum perpisahan itu.
Mungkinkah...?
Odelyn segera menyuruh asisten pribadinya untuk membelikan sesuatu secara rahasia. Dengan tangan gemetar, ia melakukan tes itu di dalam kamar mandi.
Dua garis merah.
Odelyn terduduk di lantai kamar mandi, air mata mengalir deras. Dia hamil. Di tengah misinya menghancurkan Baron, di tengah rencananya mengirim Gavin ke medan maut, Tuhan memberikan kembali apa yang dulu pernah dirampas darinya.
Kondisi ini justru membuat mental Odelyn semakin hancur. Dia merasa menjadi ibu yang paling buruk di dunia. Gimana kalau Gavin mati di sana? Gimana kalau anak ini harus tumbuh tanpa ayah lagi?
Odelyn mulai sering menangis sendirian di pojok kamar. Dia mematikan semua lampu, hanya ditemani cahaya redup dari monitor yang menunjukkan titik Gavin.
"Gavin... tolong balik," isak Odelyn sambil memegangi perutnya yang masih rata.
"Lo harus balik, Vin. Kali ini ada alasan yang lebih besar. Jangan biarkan sejarah terulang lagi..."
Hediva yang melihat kondisi Odelyn dari balik pintu hanya bisa terdiam. Dia merasa perih karena tahu, sebanyak apa pun harta yang dia miliki, dia tidak akan pernah bisa mengisi kekosongan yang dirasakan Odelyn.
Odelyn berdiri di depan cermin vila yang beruap, tangannya gemetar hebat memegang testpack itu. Dua garis merah. Dunia seolah berhenti berputar.
Di tengah misi berbahaya yang ia rancang sendiri, di tengah sandiwara cintanya dengan Hediva, takdir memberikannya kesempatan kedua untuk menjadi seorang ibu.
"Vin... kenapa harus sekarang?" bisik Odelyn lirih. Air mata jatuh ke pipinya yang pucat.
Odelyn tahu dia tidak bisa lagi berdiam diri. Strategi "langkah lambat" ini terlalu menyiksa jiwanya. Dia tidak peduli lagi pada protokol keamanan.
Dia tidak peduli jika sinyal ini akan terlacak oleh Baron. Dia harus memberi tahu Gavin.
Malam itu, saat Hediva sedang keluar untuk mengurus logistik, Odelyn mengunci diri di kamar. Ia membuka enkripsi jalur komunikasi paling rahasia yang hanya terhubung ke perangkat Gavin.
Dengan suara yang bergetar karena tangis yang ditahan, Odelyn merekam sebuah pesan suara singkat.
"Gavin... dengerin gue. Gue nggak peduli lo lagi di mana atau lagi ngapain sekarang. Gue butuh lo balik. Gue nggak bisa lakuin ini sendirian lagi, Vin. Gue hamil... Anak kita balik, Gavin. Tolong jangan biarkan dia kehilangan ayahnya untuk kedua kali. Balik ke gue, hidup-hidup."
Odelyn menekan tombol send. Ia merasa seperti baru saja melemparkan jantungnya ke tengah lautan api.Dua jam kemudian, saat Odelyn sedang meringkuk di atas tempat tidur dengan perasaan mual yang hebat, ponsel rahasianya bergetar. Sebuah balasan masuk. Bukan pesan suara, melainkan teks panjang yang terasa sangat emosional.
Gavin: "Lyn... tangan gue gemeteran baca pesan lo. Demi Tuhan, gue nangis di tengah lorong gelap ini. Gue bersumpah, demi nyawa anak kita, gue bakal balik. Gue nggak akan biarin sejarah kelam itu terulang lagi. Gue bakal jadi pelindung kalian, meskipun itu hal terakhir yang gue lakuin di dunia ini."
Odelyn membaca pesan itu berkali-kali, mendekap ponselnya ke dada.
Namun, kalimat selanjutnya dari Gavin membuat jantung Odelyn mencelos.
Gavin: "Soal strategi, gue lagi fokus masuk ke ruang arsip bawah tanah Baron. Gue mutusin komunikasi selama 3 hari terakhir buat bener-bener 'ngilang' dari radar. Gue nggak denger kabar apa-apa soal dunia luar, termasuk soal lo dan Hediva. Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi di Singapura? Apa Hediva macem-macem sama lo?"
Odelyn tersentak.
Ternyata Gavin belum tahu soal berita Power Couple atau sandiwara mesranya dengan Hediva di Bali. Gavin benar-benar fokus pada misi bunuh diri itu demi Odelyn, tanpa tahu kalau "rumahnya" sedang berpura-pura menjadi milik orang lain.Odelyn terduduk lemas. Di satu sisi, dia lega karena Gavin tidak perlu merasakan sakit hati akibat sandiwara itu. Di sisi lain, dia takut. Kalau Gavin berhasil keluar dari ruang arsip dan melihat berita-berita itu tanpa penjelasan darinya, itu bisa menghancurkan mental Gavin di saat yang paling kritis.
Tiba-tiba, pintu kamar vila diketuk. Suara Hediva terdengar berat.
"Odelyn? Kamu di dalam? Saya baru dapet kabar dari London. Orang-orang Baron mulai bergerak ke arah Camden. Mereka curiga lokasi persembunyian Gavin terendus karena ada 'kebocoran sinyal' barusan."
Odelyn membelalakkan mata. Sinyal itu. Pesan putus asanya barusan telah memicu radar Baron.
"Oh, Tuhan... apa yang udah gue lakuin?" gumam Odelyn panik.Odelyn duduk di tepi ranjang, wajahnya tertutup kedua tangannya. Suara ombak yang menghantam tebing di luar vila terdengar seperti detak jantungnya yang tak beraturan. Hediva masih berdiri di ambang pintu, menunggu jawaban atas kegelisahan yang ia lihat.
"Hediva... masuk. Tutup pintunya," suara Odelyn pelan, hampir tidak terdengar.
Hediva masuk dan duduk di kursi kayu di seberang Odelyn.
"Ada apa, Lyn? Kamu kelihatan ketakutan. Itu bukan gaya kamu."
Odelyn mengangkat wajahnya, menatap Hediva dengan mata yang memerah. Ia menunjukkan testpack yang ia sembunyikan di balik selimut. Tangannya gemetar hebat.
"Saya hamil, Hediva. Anak Gavin," ucap Odelyn. "Dan pesan saya tadi... pesan putus asa saya ke dia... saya rasa itu yang memicu radar Baron. Saya baru saja membahayakan nyawa ayah dari anak saya."