NovelToon NovelToon
One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / One Piece / Fantasi Isekai
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.

Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)

untuk mengubah sejarah Grand Line.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA MINGGU MENUJU NERAKA

Jam tiga pagi, Yamamoto membangunkan kami dengan cara yang lebih brutal dari biasanya—menuang air es sambil berteriak keras.

"BANGUN! Kalian punya dua minggu untuk jadi cukup kuat hadapi Rear Admiral! Setiap detik berharga!"

Kami melompat dari kasur dengan tubuh menggigil kedingan. Bahkan setelah bertahun-tahun latihan brutal, cara bangun ini tetap menyiksa.

"Ganti baju! Lima menit! Kalau terlambat, tidak ada sarapan sampai siang!"

Kami ganti baju dengan kecepatan rekor. Keluar dengan napas terlihat karena udara pagi yang dingin.

Di luar, Yamamoto sudah berdiri dengan dua ransel raksasa—jauh lebih besar dari yang biasa kami pakai.

"Ini beban baru kalian. Masing-masing dua ratus kilogram. Kalian akan pakai ini untuk semua aktivitas selama dua minggu—lari, latihan, bahkan tidur."

"DUA RATUS KILOGRAM?!" Sabo berteriak shock. "Itu dua kali lipat dari beban terberat yang pernah kami pakai!"

"Rear Admiral punya kekuatan fisik setara monster. Kalau kalian mau bertahan melawan pukulan atau kick mereka, tubuh kalian harus jadi sekeras baja. Maka beban ditambah."

Tidak ada ruang untuk argumen. Kami pakai ransel—dan langsung hampir jatuh karena beratnya gila.

"Sekarang lari keliling pulau. Satu putaran penuh. Jangan berhenti sampai selesai."

Keliling pulau? Itu jarak hampir tiga puluh kilometer!

"Waktu kalian dimulai... SEKARANG!"

Kami terpaksa mulai berlari—atau lebih tepatnya jogging lambat karena beban di punggung terlalu berat untuk lari cepat.

Sepuluh menit pertama masih bisa bertahan. Tapi setelah itu, punggung mulai terasa mau patah. Kaki gemetar setiap langkah. Napas terengah-engah berat.

"Sabo... aku tidak yakin... bisa selesai..." aku terengah-engah di kilometer kelima.

"Harus... bisa... kalau tidak... kita mati... saat Rear Admiral datang..." Sabo juga terengah-engah parah.

Motivasi suram tapi efektif.

Kami terus berlari. Setiap meter terasa seperti satu kilometer. Setiap langkah adalah perjuangan melawan gravitasi dan kelelahan.

Tiga jam kemudian—TIGA JAM—kami akhirnya menyelesaikan satu putaran penuh. Kolaps di depan gubuk dengan napas hampir berhenti.

"Tiga jam lima belas menit. Terlalu lambat. Besok target dua jam setengah," Yamamoto berkomentar sambil catat di buku kecil.

"Mustahil..." kami bergumam lemah.

"Tidak ada yang mustahil kalau kalian cukup termotivasi. Sekarang istirahat sepuluh menit. Lalu latihan berikutnya."

Sepuluh menit istirahat terasa seperti sepuluh detik.

"Latihan berikutnya—sparring melawan aku. Full contact. Aku akan gunakan Haki penuh. Kalian juga harus gunakan semua yang kalian punya—senjata baru, Devil Fruit, Haki, strategi kotor, apapun. Tujuan: bertahan tiga puluh menit tanpa pingsan."

"Bertahan tiga puluh menit sudah susah. Apalagi dengan tubuh yang sudah lelah dari lari tadi," Sabo mengeluh.

"Di pertempuran sungguhan, musuh tidak akan tunggu sampai kalian segar dan siap. Mereka serang saat kalian paling lemah. Maka kalian harus bisa bertarung bahkan dalam kondisi terburuk."

Logika kejam tapi benar.

Kami bangkit dengan susah payah—tubuh masih sakit semua tapi tidak ada pilihan.

Yamamoto mengambil stance dengan pedang terhunus. Aura Haki mengalir dari tubuhnya—sangat pekat sampai terlihat seperti kabut hitam tipis.

"Mulai!"

Dia langsung menyerang dengan kecepatan yang hampir tidak terlihat. Slash horizontal ke arah kami berdua sekaligus.

Aku block dengan Hinokami yang dilapisi Armament Haki. Sabo parry dengan Ryuseikon.

CLANG! CLANG!

Getaran luar biasa. Tangan hampir lepas pegangan.

"Terlalu lemah! Kalian harus lebih kuat dari itu!"

Dia menyerang lagi—kombinasi slash dan kick yang tidak kasih waktu bernapas.

Kami bergerak terpisah—strategi mengapit yang sudah sering kami pakai. Aku serang dari kanan dengan slash berapi. Sabo dari kiri dengan thrust cepat.

Yamamoto block kedua serangan dengan mudah—lalu counter dengan kick berputar yang kena kami berdua.

WHAM! WHAM!

Terlempar lima meter. Jatuh dengan napas tercekat.

"Berdiri! Masih dua puluh delapan menit lagi!"

Ini akan jadi tiga puluh menit terpanjang dalam hidup kami.

Hari pertama berakhir dengan tubuh hancur total. Luka memar dimana-mana. Otot robek di beberapa tempat. Tapi Yamamoto tidak kasih ampun—langsung kasih jadwal untuk hari berikutnya yang bahkan lebih brutal.

Hari kedua, latihan dimulai dengan hal yang lebih gila—berenang ke pulau kecil pulang-pergi lima belas kali dengan beban tetap di punggung.

"Kalian gila! Kami akan tenggelam!" aku protes.

"Maka jangan tenggelam. Kontrol tubuh kalian. Gunakan Haki untuk bikin tubuh lebih ringan. Gunakan Devil Fruit untuk ciptakan dorongan. Gunakan otak!"

Tidak ada pilihan. Kami lompat ke laut dengan beban dua ratus kilogram.

Langsung tenggelam seperti batu.

Panik mencengkeram tapi aku paksa pikiran tetap jernih. Kontrol Mera Mera no Mi—ubah kaki jadi api dan semburkan ke bawah untuk ciptakan dorongan ke atas.

Tubuh naik kembali ke permukaan. Mulai berenang dengan susah payah.

Sabo juga berhasil naik—dia gunakan Armament Haki untuk kurangi efek beban dengan cara entah bagaimana.

Kami berenang dengan sangat lambat. Setiap gerakan adalah perjuangan melawan tenggelam.

Dua jam untuk satu kali pulang-pergi. Total tiga puluh jam untuk lima belas kali.

Tapi entah bagaimana—dengan kemauan keras atau karena takut mati—kami menyelesaikan dalam dua puluh delapan jam nonstop.

Saat sampai pantai terakhir kali, kami langsung pingsan di pasir. Tidak peduli dengan apapun lagi.

Terbangun enam jam kemudian karena Yamamoto siram air es lagi.

"Bagus! Kalian bertahan! Sekarang latihan berikutnya—"

"KASIH KAMI ISTIRAHAT SEHARI!" kami berteriak putus asa.

"Tidak ada istirahat. Rear Admiral tidak akan kasih istirahat saat menyerang."

Sadis. Benar-benar sadis.

Hari ketiga sampai hari ketujuh adalah blur total. Setiap hari adalah siksaan berbeda—memanjat tebing dengan satu tangan sambil tangan lain pegang pedang, sparring melawan Yamamoto dan lima anak buah Dadan sekaligus, latihan Haki dengan cara dipukuli sampai Armament aktif reflex, latihan Observation dengan cara dilempar batu dari semua arah dengan mata ditutup.

Tapi hasil mulai terlihat.

Tubuh kami tidak lagi gemetar dengan beban dua ratus kilogram. Malah mulai terasa ringan. Gerakan jadi lebih cepat meski dengan beban. Kekuatan fisik meningkat drastis.

Armament Haki-ku yang dulu cuma bisa bertahan sepuluh menit sekarang bisa dua puluh menit. Internal Destruction yang dulu tidak stabil sekarang bisa digunakan dalam pertarungan dengan akurat.

Future Sight Sabo berkembang dari tiga detik jadi lima detik. Dalam pertarungan, dia bisa prediksi hampir semua serangan sebelum terjadi.

Hari kedelapan, Yamamoto mengumpulkan kami dengan ekspresi serius.

"Kalian berkembang lebih cepat dari ekspektasi. Tapi masih belum cukup untuk hadapi Rear Admiral dengan aman."

Dia mengambil dua botol kecil berisi cairan merah.

"Ini ramuan khusus yang kubuat dari tanaman langka di hutan Dawn Island. Efeknya akan perkuat tubuh kalian secara permanen—otot lebih padat, tulang lebih keras, stamina lebih besar. Tapi prosesnya sangat menyakitkan. Kalian akan merasa tubuh terbakar dari dalam selama dua belas jam nonstop."

"Seberapa sakit?" aku bertanya hati-hati.

"Lebih sakit dari semua latihan yang sudah kalian jalani digabung. Beberapa orang bahkan pingsan karena tidak tahan sakitnya."

Kami saling menatap. Ini risiko besar. Tapi kalau bisa bikin kami lebih kuat secara permanen...

"Kami minum," aku memutuskan.

"Aku juga," Sabo mengangguk.

"Bagus. Tapi sebelum itu, ada satu hal lagi yang harus kalian tahu."

Yamamoto menatap kami dengan sangat serius.

"Ramuan ini akan unlock potensi tersembunyi di tubuh kalian. Tapi juga akan buka 'pintu' ke sesuatu yang berbahaya—Conqueror's Haki."

Jantungku berhenti sejenak.

Conqueror's Haki. Haoshoku Haki. Haki paling langka yang cuma dimiliki satu dari sejuta orang. Kemampuan untuk dominasi kehendak orang lain dengan tekanan spiritual murni.

"Aku sudah curiga sejak lama—kalian berdua punya potensi Conqueror's. Aura kalian berbeda dari anak normal. Dan dengan ramuan ini, potensi itu akan terpaksa keluar."

"Tapi ada bahayanya. Conqueror's yang belum terkontrol bisa keluar tidak terkendali saat emosi tinggi. Bisa bikin orang di sekitar pingsan. Bisa bahkan bikin kru sendiri tidak sadarkan diri."

"Maka setelah minum ramuan ini, kalian harus belajar kontrol Conqueror's dalam sisa waktu yang ada. Kalau tidak, saat Rear Admiral datang dan kalian panik atau marah, Conqueror's bisa keluar dan bikin Luffy atau Dadan atau penduduk desa pingsan."

Risiko yang sangat besar. Tapi juga kesempatan yang tidak bisa dilewatkan.

"Kami tetap minum," aku berkata dengan tekad. "Kami akan belajar kontrol. Apapun yang terjadi."

"Aku juga," Sabo menegaskan.

Yamamoto mengangguk puas. "Baiklah. Minum sekarang. Dan bersiaplah untuk dua belas jam terburuk dalam hidup kalian."

Dia menyerahkan botol. Aku dan Sabo minum bersamaan.

Rasanya... tidak ada rasa. Seperti air biasa.

Lima detik pertama tidak terjadi apa-apa.

Lalu—

PANAS!

Panas luar biasa menyebar dari perut ke seluruh tubuh. Seperti ada lava mengalir dalam pembuluh darah. Seperti setiap sel terbakar sekaligus.

"GYAAAAHHHH!" aku berteriak tidak terkontrol sambil jatuh berlutut.

Sabo juga sama—berteriak sambil pegang dada dengan wajah meringis kesakitan.

"Bertahan! Jangan pingsan! Kalau pingsan, efek ramuan tidak maksimal!" Yamamoto berteriak.

Tapi sakit ini tidak seperti sakit fisik biasa. Ini sakit yang menembus sampai jiwa. Sakit yang bikin mau mati saja daripada rasakan ini.

Aku mencoba fokus. Pikiran tentang Luffy. Tentang Dadan. Tentang keluarga yang harus dilindungi.

Tidak boleh pingsan. Tidak boleh menyerah.

Bertahan. Terus bertahan.

Dua belas jam.

Hanya dua belas jam.

Aku bisa...

Entah bagaimana, aku bertahan selama dua belas jam penuh tanpa pingsan. Sabo juga sama.

Saat rasa sakit akhirnya mulai memudar, kami tergeletak di tanah dengan napas terengah-engah. Keringat bercucuran. Tubuh gemetar.

Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Aku bisa merasakan kekuatan baru mengalir dalam tubuh. Otot terasa lebih padat. Tulang terasa lebih keras. Energi spiritual jauh lebih besar dari sebelumnya.

Dan yang paling jelas—ada 'sesuatu' baru di dalam diri. Seperti kekuatan yang selama ini tertidur sekarang terbangun.

"Coba berdiri," Yamamoto memerintah.

Kami bangkit dengan susah payah. Tapi begitu berdiri penuh—

Aura meledak dari tubuh kami tanpa disadari.

WHOOOOSH!

Tekanan spiritual yang sangat kuat menyebar ke segala arah. Anak buah Dadan yang kebetulan lewat langsung pingsan. Bahkan Yamamoto harus aktifkan Haki-nya untuk tidak terpengaruh.

"Conqueror's Haki... kalian berdua benar-benar punya..." Yamamoto bergumam kagum.

Aku coba kontrol—tapi aura tidak mau berhenti. Terus memancar keluar tidak terkendali.

"Fokus! Bayangkan aura itu seperti api yang harus dikontrol! Tarik kembali ke dalam tubuh!"

Aku fokus keras. Bayangkan aura seperti api yang menyala liar—harus ditarik kembali, dikontrol, dijinakkan.

Perlahan, aura mulai berkurang. Tekanan menurun. Sampai akhirnya hilang total.

"Bagus. Tapi itu baru permulaan. Kalian harus latihan kontrol Conqueror's sampai bisa aktifkan dan deaktifkan sesuka hati. Sampai bisa atur intensitas—dari cukup untuk intimidasi sampai cukup untuk bikin orang pingsan massal."

"Berapa lama biasanya untuk bisa kontrol sempurna?" Sabo bertanya sambil mencoba kontrol aura sendiri.

"Normalnya? Bertahun-tahun. Tapi kalian punya satu minggu. Jadi latihan keras mulai sekarang."

Satu minggu untuk kuasai Conqueror's Haki.

Tantangan yang mustahil.

Tapi kami tidak punya pilihan.

Rear Admiral akan datang.

Dan kami harus siap.

Dengan semua kekuatan yang kami punya.

1
I'm Nao
kenapa si ace ama sabo ga belajar rokushiki? kan lumayan teknik nya bisa buat pertarungan di udara
I'm Nao
hmmm bukan nya itu mutlak ya? bagi user devil fruit
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku Ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!