NovelToon NovelToon
Doa Bersama Cahaya

Doa Bersama Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga / Mantan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.

Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.

Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari ke-37

🕊

Alea kembali pada rutinitas yang sederhana—rutinitas yang dulu sempat ia anggap sepele, tapi kini terasa seperti pijakan awal untuk menata ulang hidupnya.

Pagi itu rumah masih setengah sunyi. Suara televisi dari ruang tengah belum dinyalakan, dapur juga belum ramai. Alea berdiri di ruang tamu dengan sapu di tangan, rambutnya sudah tertutup jilbab rumahan yang asal-asalan. Ia menyapu lantai dengan gerakan pelan, tidak terburu-buru.

“Nyapu aja dulu,” gumamnya. “Ngepel sekalian.”

Ia tahu batasannya. Dapur? Jangan dulu. Bukan karena tak mampu, tapi karena malas mental. Masuk dapur berarti siap-siap dengan komentar ibu tirinya.

“Baru sekarang pegang dapur?”

“Biasanya juga nggak betah.”

“Tumben rajin.”

Alea mendengus kecil sambil mendorong debu ke sudut. “Capek amat hidup kalau tiap gerak dikomentarin,” katanya pada dirinya sendiri. Setelah selesai menyapu, ia mengambil pel, menuang air, dan mulai mengepel lantai. Bau cairan pembersih menyebar, cukup menyenangkan. Gerakan tangannya otomatis, pikirannya melayang ke kalender di ponselnya.

Hari ke-37.

Tiga puluh tujuh hari sejak ia resign dari restoran. Tidak terlalu lama, tapi juga tidak singkat. Cukup untuk membuat orang-orang mulai bertanya—secara halus atau terang-terangan.

Selesai beres-beres, Alea masuk ke kamar. Hari ini bukan hari biasa. Hari ini ia kembali mencari kerja. Bukan sekadar scroll lowongan, tapi benar-benar akan datang langsung. Ia membuka lemari, mengeluarkan pakaian yang sudah dia siapkan sejak malam.

Celana bahan hitam. Kemeja putih—disetrika rapi. Blazer hitam. Jilbab hitam yang sederhana tapi tegas. Alea berdiri di depan cermin full body, mulai mengenakan satu per satu. Gerakannya rapi, penuh perhatian. Ada keseriusan di wajahnya—bukan tegang, tapi siap.

Setelah semuanya terpasang, ia melangkah lebih dekat ke cermin. Menatap pantulan dirinya sendiri. Beberapa detik ia diam.

Lalu sudut bibirnya terangkat. “Ck… Alea,” katanya sambil mengangguk kecil. “Lo cantik banget hari ini.”

Ia menyipitkan mata sedikit, menilai wajahnya sendiri dengan gaya sok kritis. “Nggak pernah berubah sih. Wajah lo emang cantik. Selalu cantik.” Ia tertawa kecil, senyum nakalnya muncul, disusul senyum manis yang lebih lembut.

Dan tepat saat itu— “Geli bat gua liatnya.” Alea tersentak kecil lalu menoleh cepat. Di ambang pintu kamarnya, Dika berdiri sambil menyandarkan bahu ke kusen. Ekspresinya datar, sedikit jijik, khas adik laki-laki yang malu melihat kakaknya terlalu percaya diri.

Alea menatapnya sinis. “Heh,” Katanya. “Iri kan lo? Gue cakep, lo mah… biasa aja.” Dika mendecak. “Pede banget sih.”

“Biarin,” Alea melipat tangan di dada. “Modal hidup gue ini.”  Dika melangkah masuk sedikit. “Mau ke mana?”

“Interview,” jawab Alea singkat. “Restoran pizza. Yang lagi viral itu.” Dika mengangguk pelan. Lalu, entah kenapa, Alea menatap adiknya lebih lama dari biasanya. “Lo gimana?” tanyanya. “Sebentar lagi lulus. Lanjut kerja atau kuliah?” Dika menggaruk belakang leher. “Kayaknya kerja dulu. Udah kirim CV juga ke beberapa tempat.”

“Terus?”

“Belum ada yang nyangkut.” Alea mengangguk pelan. Ia paham betul perasaan itu. Penantian yang menggantung, ketidakpastian yang bikin dada sesak. “Semangat,” katanya tulus. “Lo udah berusaha. Tinggal jawabannya aja yang belum kelihatan.”

Dika menatap kakaknya sebentar. “Lo juga, Kak.” Alea tersenyum kecil. “Iya.” Ia mengambil tasnya, merapikan jilbab sekali lagi, lalu melangkah keluar kamar. “Sukses ya,” kata Dika sambil menyingkir memberi jalan. “Doain aja,” balas Alea.

Ia berjalan keluar rumah dengan langkah mantap. Tujuannya jelas—restoran pizza panas yang sedang ramai dibicarakan orang. Entah hasilnya nanti bagaimana, Alea tahu satu hal: hari ini ia tidak diam. Dan itu sudah cukup untuk memulai lagi.

Alea melangkah menuju stasiun dengan langkah yang ia paksa tetap ringan. Tas hitamnya menggantung rapi di bahu, map berisi CV dan berkas penting ia peluk di dada seperti benda rapuh yang tak boleh terlipat. Pagi belum terlalu siang, tapi Jakarta sudah terasa hidup—ramai, terburu-buru, dan tak pernah menunggu siapa pun.

Ia memilih naik kereta.

Bukan hanya karena lebih cepat, tapi karena ia ingin menghafal jalan. Mengerti rute. Mengerti jarak. Mengerti kemungkinan-kemungkinan jika suatu hari ia harus menempuh jalan yang sama setiap hari.

Di dalam kereta, Alea berdiri berpegangan pada besi atas. Wajahnya tenang, tapi pikirannya berisik. Ia menatap jendela, melihat bangunan-bangunan berganti cepat, seperti hidup yang terus bergerak meski ia sempat berhenti sejenak.

Dua jam lebih awal, batinnya mengingatkan diri sendiri.

Lebih baik nunggu daripada telat.

Turun dari stasiun, Alea melanjutkan perjalanan dengan satu kali angkutan umum. Ia duduk dekat jendela, mengamati jalan, menghafal belokan, papan nama toko, dan warna-warna gedung yang dilewati.

“Kalau keterima… ini bakal jadi jalan pulang-pergi gue,” gumamnya pelan. Saat akhirnya ia turun dan berjalan beberapa meter, restoran itu terlihat dari kejauhan.

Pizza Panas.

Logo merah menyala, kaca depan besar, dan… kerumunan orang. Alea berhenti sejenak. Bukan karena ragu, tapi karena ingin memastikan napasnya tidak tersendat. Di depan restoran itu, sudah banyak pelamar. Ada yang berdiri sambil memegang map, ada yang duduk di pinggir trotoar, ada juga yang mondar-mandir sambil menatap ponsel dengan wajah tegang.

“Wah,” gumam Alea lirih. Lalu ia menarik napas dalam-dalam. “Bismillah bisa.” Ia melangkah maju. Tubuhnya tegak, bahunya lurus. Tingginya membuatnya sedikit menonjol di antara kerumunan. Beberapa pasang mata meliriknya—entah menilai, entah sekadar refleks. Tapi Alea tidak peduli.

Ia tidak datang untuk dibandingkan.

Ia datang untuk mencoba.

Begitu masuk ke dalam restoran, suasana langsung terasa berbeda. Aroma roti dan saus tomat menyambut hidungnya. Di dekat pintu masuk, sebuah meja kecil dijadikan tempat penerimaan berkas. Seorang staf perempuan dengan clipboard berdiri di sana.

Alea, mendekat. “Selamat pagi,” sapa Alea dengan suara jelas dan sopan. “Saya mau menyerahkan berkas lamaran.” Staf itu menoleh, tersenyum profesional. “Silakan, Kak.”

Alea menyerahkan mapnya. Tangannya tenang, meski di dalam dadanya jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. “Nama?” tanya staf itu sambil mencatat. “Alea Senandika Kaluna.”

Staf itu mengangguk, memberi nomor kecil dari kertas. “Ini nomor urutannya ya. Silakan menunggu. Nanti dipanggil.”

“Terima kasih.” Alea mundur pelan, lalu mencari kursi kosong di area tunggu. Ia duduk, meluruskan punggung, meletakkan tas di sampingnya. Map berkas ia rapikan lagi, padahal sudah rapi. Tangannya mengambil ponsel.

Scroll sebentar.

Buka jam.

Menutup layar.

Membuka lagi.

Ia menatap sekeliling. Para pelamar lain terlihat sibuk dengan versinya masing-masing—ada yang berlatih menjawab pertanyaan wawancara dengan bibir bergerak tanpa suara, ada yang terus bercermin kecil, ada yang menelpon entah siapa dengan suara pelan.

“Aku juga kelihatan sibuk,” pikir Alea. “Padahal yang sibuk itu isi kepalaku.”

Ia merapikan blazer, menarik napas, lalu melatih senyum kecil di wajahnya. Senyum yang sopan, tidak berlebihan. Senyum yang sudah lama tidak digunakan karena dunia kerja terakhirnya lebih sering menuntut diam daripada ramah. “Jangan kaku,” bisiknya pada diri sendiri. “Ini cuma wawancara, Lea. Bukan pengadilan.” Ia kembali menatap sekitar.

Jakarta.

Orang-orang asing.

Kesempatan baru.

Alea duduk di sana—tenang di luar, berisik di dalam—menunggu namanya dipanggil, sambil menyadari satu hal kecil yang hangat di dadanya:

Ia masih berani melangkah.

Dan untuk hari itu, keberanian itu sudah cukup.

☀️☀️

1
mama Al
seperti lingkungan alea baik semua
Skngwr20: Terima kasih sudah berkunjung kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!