NovelToon NovelToon
SISTEM DIMENSI RIMBA

SISTEM DIMENSI RIMBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khatix Pattierre

“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."

Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.

Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: TITIK BALIK DAN TULANG GIOK ZAMRUD

Waktu di dalam Dimensi Independen mengalir seperti sungai yang tenang namun menghanyutkan. Bagi Rimba Dipa Johanson, tidak ada kata istirahat dalam kamusnya. Ambisi untuk menjadi kuat bukan lagi sekadar keinginan, melainkan sebuah kebutuhan yang mendesak. Setelah keberhasilannya menembus tingkat dua, ia tidak membiarkan otot-ototnya mendingin. Ia terus memompa tubuhnya dengan latihan gravitasi yang semakin gila.

Meskipun ia baru saja menginjakkan kaki di Tingkat 2: Aliran Atma (Rendah), kekuatan internal Rimba telah mencapai angka yang tidak masuk akal, yakni 625G. Di dunia luar, seorang kultivator tingkat dua biasanya hanya mampu menahan beban beberapa belas kali gravitasi bumi. Kekuatan Rimba saat ini sudah melampaui rata-rata kultivator Tingkat 3: Pondasi Bumi (Menengah). Namun, bagi Rimba, angka-angka itu hanyalah statistik. Ia tidak tahu seberapa mengerikan potensinya dibandingkan orang lain; yang ia tahu hanyalah ia harus terus bergerak maju.

Sambil menunggu lelang batu gioknya yang dikelola secara otomatis oleh Aether, Rimba menenggelamkan diri dalam perpustakaan mentalnya. Dengan kemampuan 16 pembelahan pikiran yang telah ia kuasai sebelumnya, ia mulai mempelajari ilmu baru yang ia temukan di sudut terjauh memori warisannya: Ilmu Pedang Pembelah Surgawi. Ilmu ini memiliki sembilan tingkat kerumitan, dan Rimba mempelajarinya selangkah demi selangkah dengan ketelitian seorang programmer yang sedang membedah kode sumber yang kompleks. Ia melakukan semuanya tanpa target yang muluk-muluk, hanya sebuah dedikasi murni karena ia merasa tanggung jawab besar telah diletakkan di pundaknya.

---

Satu minggu waktu dunia nyata berlalu dalam kedipan mata bagi orang awam, namun bagi Rimba, itu adalah tahun-tahun penuh keringat di dimensi. Tiba-tiba, fenomena alam yang mengguncang kembali terjadi di puncak gunung yang berbeda dari minggu lalu. Langit yang semula cerah seketika berubah menjadi kuali hitam yang mendidih. Petir menyambar dengan suara yang lebih menggelegar, membuat tanah di bawah kaki para penduduk bergetar hebat.

Para kultivator yang berada di sekitar wilayah tersebut berkumpul dengan wajah penuh ketidakpercayaan. Gosip mulai menyebar di kalangan mereka. Ada yang beranggapan bahwa sebuah sekte rahasia yang baru muncul sedang melatih murid-murid jenius mereka dengan metode ekstrem. Sebagian lagi berpikir bahwa orang yang naik tingkat minggu lalu adalah orang yang sama dengan yang sekarang, namun mereka segera menepis pikiran gila itu.

"Mana mungkin seseorang naik tingkat dalam waktu seminggu?" bisik seorang kultivator tua dengan tangan gemetar. "Butuh waktu bertahun-tahun, bahkan dekade, untuk melakukan itu!"

Hipotesis yang paling masuk akal bagi mereka adalah adanya seorang pendekar kuno yang mati dan bereinkarnasi, yang kini sedang menarik kembali puncak kekuatannya dengan kecepatan yang melampaui logika manusia.

Di puncak gunung, awan gelap terbelah, menampakkan kilat surgawi yang kali ini berwarna perak kebiruan. Petir itu menyambar tiga kali dengan bobot yang jauh lebih berat dari sebelumnya, menghantam sosok Rimba yang berdiri tegak menantang langit. Ledakan demi ledakan menciptakan kawah raksasa di puncak gunung tersebut. Namun, saat gejolak mereda dan para kultivator melesat ke puncak untuk menyelidiki, mereka hanya menemukan lubang kosong yang berasap. Aura sang pendekar menghilang tanpa jejak, meninggalkan mereka dalam kekecewaan yang mendalam.

---

Di sisi lain, Rimba sudah kembali ke Dimensi Independen. Ia terendam di dalam Telaga Penyelarasan, membiarkan air suci tersebut mengobati luka-lukanya. Rasa gatal yang menyiksa kembali datang saat tulang Baja Karbon miliknya mulai mengelupas, hancur menjadi debu putih di dalam air. Di baliknya, muncul struktur tulang yang berkilau seperti air raksa yang membeku—Tulang Perak Merkuri.

Regenerasi selnya bekerja dengan kecepatan mencengangkan, memperbaiki setiap serat otot yang sobek akibat hantaman petir. Ketika ia muncul ke permukaan, ia telah resmi menjadi Tingkat 3: Pondasi Bumi (Rendah). Namun, daya tahan fisiknya kini melonjak drastis ke angka 390.625G. Sebuah angka yang akan membuat ahli mana pun jatuh pingsan karena ketakutan jika mereka mengetahuinya.

Rimba tidak membuang waktu untuk merayakan kemenangannya. Setelah istirahat sejenak, ia kembali meningkatkan pembelahan pikirannya hingga mencapai 256 pikiran. Kini, otaknya bekerja seperti superkomputer paralel, mempelajari ribuan teknik bela diri, teori pengobatan, dan strategi perang secara bersamaan dalam satu detik.

---

Suatu hari, saat Rimba sedang melakukan latihan beban yang membuat lantai dimensi bergetar, suara Lara memecah konsentrasinya. "Rimba, ada orang yang sedang mencarimu di dunia luar."

Rimba menoleh ke arah layar monitor besar yang terhubung dengan kamera pengawas di rumah kakeknya. Terlihat seorang pria tua yang nampak gelisah sedang mengetuk pintu rumahnya berkali-kali. Rimba segera mengenali sosok itu sebagai adik tiri kakeknya, yang ia panggil Kakek Amir.

Dengan sekali genggam pada liontin giok, Rimba berpindah tempat ke ruang tamu rumah kakeknya. Ia membuka pintu dengan tenang. "Eh, Kakek Amir. Silakan masuk, Kek," sapa Rimba dengan nada sopan namun datar.

Kakek Amir nampak tersentak melihat penampilan Rimba. Pemuda yang dulu nampak lusuh dan kurus itu kini berdiri setinggi 193 cm, dengan tubuh yang begitu proporsional dan penuh otot liat. Rambutnya agak panjang, telinganya dihiasi anting hitam, dan tato srigala perang dan gadis cantik yang terkesan hidup melingkar di lengan kanannya. Rimba tidak lagi terlihat seperti anak kampung, melainkan sepert seorang pangeran dari dunia lain yang sedang menyamar.

"Duduklah, Kek. Biar aku ambilkan minum dulu," kata Rimba.

"Oh, tidak usah repot-repot, Rimba," jawab Kakek Amir sambil memperbaiki posisi duduknya, matanya terus melirik ke arah tato dan anting Rimba. "Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Ini soal rumah ini."

Rimba duduk di seberangnya, sudah bisa menebak arah pembicaraan ini. "Ada yang bisa aku bantu, Kek?"

"Begini... kakekmu sudah tidak ada. Rumah ini sebenarnya adalah warisan keluarga besar. Aku juga punya hak di sini. Saat ini, aku sedang butuh uang mendesak untuk biaya hidup. Jadi, aku usul agar rumah ini dijual saja, lalu hasilnya kita bagi dua. Atau, kalau kamu mau tetap tinggal di sini, kamu bisa bayar bagianku secara tunai, dan rumah ini jadi milikmu seratus persen," terang Kakek Amir panjang lebar.

Rimba menarik napas dalam-dalam. Ia ingat orang tua ini sering datang saat kakeknya masih hidup, selalu meributkan soal harta. "Kalau uang tunai, aku tidak punya, Kek. Jadi pilihan kedua tidak mungkin. Tapi kalau untuk menjual rumah, aku setuju saja. Hanya saja, tolong tunggu sampai bulan depan."

"Kenapa harus menunggu bulan depan?" tanya Kakek Amir dengan nada tidak sabar.

"Karena bulan depan aku berangkat kuliah ke kota provinsi. Aku butuh tempat tinggal sampai hari keberangkatan itu tiba," jelas Rimba. Melihat Kakek Amir nampak berpikir keras, Rimba menambahkan sesuatu yang membuat mata orang tua itu berbinar serakah. "Dan jika kakek setuju menunggu sampai bulan depan, aku tidak akan meminta bagian sepeser pun. Semua hasil penjualan rumah ini silakan ambil untuk Kakek."

"Benarkah? Oke! Bulan depan!" jawab Kakek Amir dengan semangat yang meledak-ledak.

Rimba masuk ke kamar dan keluar membawa sebuah bundel kertas dokumen asli kepemilikan rumah. Ia meletakkannya di depan Kakek Amir. "Ini surat-suratnya. Kakek pegang saja sekarang sebagai jaminan. Bulan depan, Kakek datang lagi ambil kunci. Kalau aku sudah berangkat, kuncinya akan aku titipkan ke Pak RT."

Tanpa basa-basi lagi, Kakek Amir menyambar dokumen itu seolah takut Rimba akan berubah pikiran. Ia pamit dengan terburu-buru, meninggalkan Rimba yang hanya bisa menatap punggungnya dengan tatapan dingin.

---

Rimba kembali ke dimensi. Lara menyambutnya di ruang tengah. "Sudah beres dengan orang tua serakah tadi?"

"Sudah. Aku berikan semua padanya," jawab Rimba santai sambil berjalan menuju ruang latihan.

"Kenapa begitu? Bukankah itu warisan satu-satunya dari kakekmu?" tanya Lara heran.

"Ra, kita akan pindah ke kota. Entah kapan kita akan kembali ke desa ini. Lagipula, kita punya harta yang jauh lebih besar di sini, bukan? Biarkan dia bahagia dengan rumah tua itu, aku tidak butuh sisa-sisa masa lalu yang penuh pertikaian," ucap Rimba sambil tersenyum tulus. Lara tertegun melihat kedewasaan pemuda itu, lalu ia ikut tersenyum.

---

Seminggu lagi berlalu di dunia nyata. Dan sekali lagi, gunung yang berbeda mengalami kiamat lokal. Langit bergejolak lebih hebat dari sebelumnya. Petir surgawi menyambar empat kali dengan dentuman yang memekakkan telinga, masing-masing sambaran membawa beban energi yang sanggup melelehkan batu gunung.

Para kultivator semakin bingung. Jarak waktu kenaikan tingkat ini benar-benar menghancurkan akal sehat mereka. Lebih banyak bayangan yang melesat menuju puncak gunung kali ini, namun hasilnya tetap sama: nihil. Tidak ada jenazah, tidak ada aura, hanya kawah yang mengepulkan asap.

Sementara itu, di dalam Telaga Penyelarasan, Rimba sedang berteriak tertahan. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya hijau yang intens. Tulang peraknya mengelupas untuk ketiga kalinya, digantikan oleh struktur yang nampak seperti batu permata yang paling keras di alam semesta: Tulang Giok Zamrud.

Saat ia keluar dari telaga, Rimba telah mencapai Tingkat 4: Gejolak Elemen (Rendah). Kekuatannya kini benar-benar berada di luar grafik, telah mencapai di angka 2.44E8G namun dan stabilitas energi yang tentu saja jauh lebih padat.

Rimba berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia menatap dirinya sendiri. Sebagai seorang yang masih awam dengan dunia kultivasi, ia tidak tahu bahwa apa yang ia capai dalam tiga minggu biasanya membutuhkan waktu tiga ratus tahun bagi manusia normal. Di dalam kepalanya, ia hanya punya satu target: Tingkat 12.

"Aku masih di tingkat empat," gumam Rimba sambil mengepalkan tangannya, menciptakan ledakan udara kecil di sekitarnya. "Masih jauh untuk bisa menguasai dunia. Aku harus lebih giat lagi."

Ia tidak menyadari bahwa di tingkat empat ini saja, ia sudah merupakan bencana berjalan bagi siapa pun yang berani meremehkannya. Dengan tekad yang semakin membaja, Rimba kembali ke tengah gravitasi ekstrim, melanjutkan perjalanannya menuju puncak tertinggi kekuatan dewa.

1
G.Lo
Semoga nggak putus saja update nya...cerita ok sekali...👍👍
D'ken Nicko
up dobel thor
D'ken Nicko
mantap poll ,up yg banyak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!