NovelToon NovelToon
Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Romantis / Cinta Terlarang / Romansa / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memahami Interaksi

Kamar Kos Ferdy, Pukul 06.30

Matahari pagi menyelinap lebih hangat dari biasanya, seperti juga perasaan di dada Ferdy. Dia membuka mata, meregangkan badan, dan rasa nyaman yang menyeluruh itu masih melekat.

Tidak ada sisa kegelisahan malam, hanya kejernihan pikiran dan badan yang terasa ringan. Dia memandang kamarnya yang berantakan, tapi pagi ini kekacauan itu terasa seperti bukti kehidupan, bukan kegagalan.

Duduk di tepi ranjang, dia tersenyum. "Thanks ya, buat kamu," ucapnya ke udara, suaranya masih serak namun penuh kehangatan.

"Kamu bikin semalam… jadi tenang banget."

Dia berjalan ke wastafel kecil, mencuci muka. Bayangannya di cermin kecil yang sudah buram terlihat lebih cerah.

"Gimana caranya aku bisa tau nama kamu?" tanyanya pada bayangan sendiri, seolah percakapan dengan makhluk tak kasatmata itu adalah hal yang paling normal.

"Dan… gimana caranya aku bisa melihat kamu?"

Dia diam sejenak, mengeringkan wajah.

"Hmm… sementara, karena wangimu kaya melati murni, aku panggil kamu Melati aja ya? Atau… Mbak Melati?" Dia terkekeh sendiri.

"Aku ngomong sendiri lagi. Tapi nggak apa-apa, udah biasa."

Di sebelahnya, berdiri di depan cermin yang sama namun tak memantulkan bayangan apapun, Dasima tersenyum bahagia. Matanya yang seperti madu memancarkan cahaya keemasan lembut.

"Namaku Dasima, Raden. Dan melihatku… itu tak mudah, dan mungkin tak perlu untuk sekarang. Tapi panggil saja aku apa pun yang membuatmu nyaman. Melati pun tak apa. Karena itu adalah wangiku untukmu."

Tentu saja, Ferdy tidak mendengar. Tapi entah mengapa, perasaan lega dan penerimaan mengalir di udara. Dia mengangguk, seolah menerima jawaban yang tak terdengar. "Oke, Melati. Kita jalanin dulu aja gini."

---

Kampus UI, Ruang Baca Perpustakaan, Pukul 09.15

Pertemuan membahas skripsi berlangsung intens. Ferdy, Reza, Siska, dan Bowo duduk melingkar di meja dengan buku-buku berserakan dan laptop yang penuh tab terbuka. Kali ini, fokus Ferdy tajam. Dia bisa menangkap poin-poin kritis dari saran dosen dan merumuskan argumen balik dengan lebih jelas.

"Menurut gue, kita bisa pakai teori Barthes soal 'punctum' buat analisis foto-foto bencana itu," ujar Ferdy, jarinya menunjuk ke catatannya. "Bukan cuma 'studium' atau informasi umumnya, tapi elemen yang nyelonong nusuk perasaan, yang bikin foto itu nempel di memori."

"Wih, Ferdy hari ini tajam banget," puji Siska.

"Kayak ada yang nge-charge baterai otak lo."

Ferdy hanya tersenyum, tanpa menyadari bahwa di balik kursinya, Dasima duduk dengan bangga, matanya mengikuti setiap kata yang keluar. "Kau memang cerdas, Raden. Kau hanya perlu ketenangan untuk mengaturnya."

---

Kantin Kampus, Pukul 12.45

Setelah makan siang dengan teman-teman skripsi, mereka bertiga—Ferdy, Andika, Roni—menggelar meeting kecil di pojok kantin yang relatif sepi. Mereka membahas progress pameran. File sudah dikirim sesuai spesifikasi Kirana, konfirmasi cetak sudah diterima galeri.

"Kirana tadi pagi video call singkat," kata Andika sambil menunjukkan rekaman chat.

"Cuma confirm aja soal layout akhir dan nama di katalog. Cepet dan profesional banget kerjanya."

"Bener. Gue rasa kita salah sangka waktu pertama ketemu dia," timpal Roni. "Mungkin emang dia ceroboh, tapi niatnya baik."

Ferdy mengangguk, minum dari gelas tehnya.

"Iya, sejauh ini oke-oke aja. Tapi tetep aja…" Dia berhenti, tidak melanjutkan. Ada perasaan waspada yang tidak bisa sepenuhnya ia tepis, terutama setelah 'perasaan' yang ia terima malam sebelumnya.

Dasima, yang berdiri di dekat mereka, matanya menatap layar ponsel Andika yang masih menunjukkan foto Kirana dari profil chat. Wajah itu memang mirip. Tapi aura yang terpancar melalui layar pun masih terasa… normal. Bersih. Mungkin memang hanya kebetulan wajah, pikir Dasima, meski hatinya belum sepenuhnya yakin.

---

Kamar Kos, Pukul 18.00

Pulang dari kampus, Ferdy disapa oleh Ibu Kos yang sedang menyapu halaman kecil.

"Nak Ferdy, jarang-jarang nih keliatan cerah," sambut Ibu Kos dengan senyum.

"Hehe, iya Bu. Lagi semangat soalnya," jawab Ferdy, berhenti sebentar.

"Wangi bunga melati Ibu tanam di belakang lagi semerbak nih. Sering numpang lewat kamarmu ya?" tanya Ibu Kos sambil mengipas-ngipas diri.

Ferdy terkesiap. Jadi selama ini wangi itu… bisa jadi dari bunga sungguhan? Tapi tidak, wanginya berbeda. Lebih murni, lebih… personal.

"Mungkin iya, Bu. Wanginya enak," jawabnya diplomatis.

"Kalau ada kebutuhan apa-apa, bilang ya. Jangan dipendem sendiri," ujar Ibu Kos dengan nada keibuan sebelum kembali menyapu.

Pertemuan singkat itu menghangatkan hati Ferdy. Di tengah Jakarta yang individualis, masih ada yang peduli.

---

Kamar Kos, Pukul 20.30

Malam semakin larut setelah Ferdy menyelesaikan beberapa revisi skripsi. Rasa penasarannya tentang "Melati" memuncak. Dia duduk di depan laptop, membuka browser dalam mode private.

"Cara berinteraksi dengan makhluk halus baik."

"Bagaimana melihat penunggu rumah?"

"Komunikasi dengan dunia astral yang aman."

"Bedanya khodam dan jin."

Kata kunci demi kata kunci dia ketik. Hasilnya beragam: dari artikel blog yang terlalu esoteris, forum paranormal yang penuh cerita mengerikan, hingga situs-situs yang jelas-jelas menjual jasa pesugihan. Ferdy membaca dengan kritis, alisnya berkerut.

"Banyak banget hoax dan nipu-nipu," gumamnya, mengklik tutup tab yang menawarkan "pembukaan mata batin dalam 3 hari".

Dia menemukan satu artikel yang agak berbobot dari seorang peneliti budaya dan kepercayaan Nusantara.

Artikel itu membahas tentang konsep "penunggu" bukan sebagai hantu yang menakutkan, tetapi sebagai entitas yang terikat pada tempat, benda, atau bahkan orang karena ikatan emosional yang kuat. Disebutkan bahwa interaksi seringkali terjadi melalui tanda-tanda halus: perubahan suhu, aroma tertentu, perasaan ditemani, mimpi, atau intuisi yang tiba-tiba jernih. Penulis menekankan sikap hormat, niat baik, dan tidak memaksa.

"Jadi… mungkin nggak perlu dilihat," gumam Ferdy. "Cukup dirasakan aja. Dan selama ini dia baik."

Tapi keingintahuan tetap ada. Dia membuka sebuah forum tertutup tentang spiritualitas, dan membaca pengalaman seseorang yang mengklaim bisa "merasakan" dan akhirnya "mendengar" bimbingan dari entitas penjaga keluarganya setelah bertahun-tahun membangun hubungan saling percaya.

"Kuncinya adalah kepekaan dan niat tulus. Mereka berkomunikasi bukan dengan kata, tetapi dengan menanamkan perasaan, gambaran, atau tahu-tahu saja sebuah ide muncul di kepala Anda. Seperti intuisi yang sangat kuat dan spesifik."

Ferdy mengangguk pelan. Itu persis seperti yang dia alami malam tadi. Saat ia bingung tentang Vina dan Kirana, "jawaban" itu datang seperti intuisi yang tiba-tiba sangat jelas.

"Jadi, gue cuma perlu peka ya, Melati?" ucapnya, menoleh ke sudut kamar. "Oke. Gue coba."

Dia memutuskan untuk mencoba "komunikasi" yang lebih aktif. Dia mengambil selembar kertas dan pulpen.

"Kalo lo bisa baca atau ngerti gue, coba kasih tanda," katanya, meletakkan pulpen di atas kertas. "Geser dikit aja."

Dia menunggu, menatap penuh konsentrasi. Pulpen itu tak bergerak. Tapi di ujung jarinya, ia merasakan hangat yang sangat samar, seperti ada yang menyentuhnya dengan lembut.

Dasima berdiri di seberang meja, tersenyum melihat usaha Ferdy. Dia tidak bisa menggerakkan benda fisik seperti itu—hukum alam masih terlalu kuat. Tapi dia bisa memusatkan energinya dengan sangat halus.

Dia mendekat, dan dengan seluruh konsentrasinya, mencoba mempengaruhi molekul udara di sekitar ujung jari Ferdy, menciptakan sensasi hangat yang nyaris tak terdeteksi.

Ferdy menarik jarinya, mata membelalak.

"Tadi… hangat?" Dia tidak yakin. Mungkin sugesti.

"Oke, yang lain," katanya, tak menyerah. Dia menutup matanya. "Coba… kalo lo setuju sama sesuatu, bikin wangi melatinya kuat.

Kalo nggak setuju, bikin udara jadi lebih dingin. Gimana?"

Dia diam, fokus. "Aku harus lanjutin kerja sama dengan Kirana untuk pameran ini."

Dia menunggu. Beberapa detik kemudian, wangi melati yang biasa samar, tiba-tiba menguat dengan jelas, memenuhi kamarnya. Harum, manis, menenangkan.

Ferdy tersenyum lebar. "Oke! Berarti setuju."

"Selanjutnya… aku harus tetap waspada sama Vina."

Wangi melati tetap kuat, tapi udara di sekelilingnya terasa turun satu atau dua derajat, cukup untuk membuatnya merinding sedikit.

"Jadi… tetap waspada. Oke, paham."

Eksperimen sederhana itu membuatnya bersemangat. Ini bukan bukti ilmiah, tapi bukti perasaan yang kuat. Dan dalam hal seperti ini, perasaan adalah segalanya.

Esok Harinya, dan Seterusnya

Pola itu berlanjut. Di mana pun Ferdy pergi, Dasima mengikuti. Ke kampus, ke coffeeshop meeting, bahkan saat Ferdy hunting foto di sudut-sudut kota untuk project barunya. Ferdy mulai terbiasa "berkonsultasi" dengan "Melati"-nya untuk hal-hal kecil.

Saat di jalan raya macet dan hampir terjadi kecelakaan ringan, "Belok ke jalur kiri pelan-pelan, ada motor dari blind spot." Ferdy merasakan dorongan intuisi yang kuat, dan menghindari insiden.

Saat bingung memilih antara dua angle foto, "Yang sudut rendah itu lebih dramatis, lebih cocok dengan ceritamu." Ferdy memilih angle rendah, dan hasilnya memang lebih powerful.

Saat dapat tawaran job foto produk dengan bayaran menggiurkan tapi kliennya terkenal telat bayar dan suka semena-mena, "Itu bukan rejeki, itu masalah. Tolak." Ferdy, dengan berat hati karena butuh uang, menolak.

Ternyata, teman fotografer lain yang mengambil job itu kemudian mengeluh habis-habisan di grup karena tidak dibayar hingga tiga bulan.

Interaksi mereka menjadi semacam simbiosis yang tak terucap. Ferdy mendapatkan bimbingan, perlindungan, dan ketenangan. Dasima mendapatkan tujuan, kepuasan, dan yang terpenting—kedekatan dengan jiwa yang selalu ia cintai.

Suatu sore, di tepian Situ Babakan, Ferdy sedang memotret pemandangan danau saat matahari terbenam. Dia duduk di sebuah batu, menunggu momen cahaya yang tepat.

"Indah ya, Melati?" ucapnya pelan, menikmati keheningan alam di tengah kota. "Kadang aku penasaran, lo dulu manusia juga nggak?

Punya cerita apa? Kenapa ikutin aku?"

Di sebelahnya, Dasima duduk di atas batu yang sama, menatap warna jingga di permukaan air. Matanya berkaca-kaca.

"Aku dulu manusia, Raden. Dan ceritaku… adalah ceritamu juga."

"Suatu hari nanti, kau akan tahu. Tapi untuk sekarang, biarkan aku cukup dengan begini. Menemanimu, menjagamu, dan melihatmu menemukan kebahagiaanmu sendiri di dunia yang baru ini"

Ferdy tidak mendengar. Tapi dia merasakan sesuatu—sedih, manis, dan penuh kerinduan yang dalam—melayang di udara. Dia tidak bertanya lagi. Hanya menikmati kehadiran yang nyata meski tak terlihat.

Ketika malam tiba dan mereka kembali ke kamar kos, Ferdy meletakkan segelas air dan sepotong kecil kue lapis yang ia beli di dekat danau di sudut meja. "Ini buat lo, Melati. Terima kasih udah nemenin seharian."

Itu mungkin hanya simbol. Tapi bagi Dasima, itu adalah pengakuan. Sebuah pengakuan bahwa dirinya ada, dianggap, dan dihargai. Dia menghirup esensi dari persembahan sederhana itu, dan hatinya penuh.

Pencarian Ferdy akan cara melihat dan berinteraksi mungkin belum membuahkan hasil visual. Tapi dia telah menemukan sesuatu yang lebih berharga: sebuah hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan, rasa hormat, dan komunikasi halus yang melampaui indra biasa.

Dan Dasima, sang pengikut setia dari lima abad, akhirnya merasa tak lagi sekadar menunggu. Ia kini hidup kembali, dalam peran baru, di sisi sang pangeran yang tak lagi mengenalnya, namun dengan caranya sendiri, mulai merasakannya. Untuk sekarang, itu lebih dari cukup. Mereka telah menemukan bahasa mereka sendiri—bahasa wangi melati, intuisi yang jernih, dan kehadiran yang tak perlu dipertanyakan lagi.

1
Halwah 4g
Ooohhh Dasimaa..ada yg fisik juga modelan Kirana..beughhh..menang bnyak Ferdy yak harusnya 🤭..setiaaaa GK tuh ma Dasima y 😄
Bp. Juenk: wahaha masak setia Ama ghaib
total 1 replies
Marine
mantap sangat mendalami karya sebagai author yaa
Youarefractal
Wih bagus bgt, baru pertama loh aku baca sampai selesai 1 bab, aku suka setiap detail soal potografi-nya, seolah penulis memang potografer beneran
Bp. Juenk: thanks Kk support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!