"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: MENUJU JANTUNG LABIRIN
Hujan badai menghantam kota dengan kemurkaan yang seolah ingin membasuh segala dosa di atas aspalnya yang retak. Van hitam Julian membelah genangan air, melaju kencang meninggalkan kawasan dermaga yang kini telah berubah menjadi neraka kecil bagi tim taktis Adrian Vane. Di kejauhan, ledakan dari titik koordinat palsu yang kusiapkan menerangi langit malam dengan warna jingga yang mengerikan—sebuah kembang api kematian bagi mereka yang meremehkan seorang Valerie.
Julian mencengkeram kemudi dengan tangan yang masih gemetar. Sesekali ia melirik ke arahku, menatap raga Zura yang kini duduk tegak dengan ketenangan yang tidak manusiawi. Tidak ada lagi rintihan sakau. Tidak ada lagi kepanikan. Hanya ada fokus tajam yang mematikan.
"Kau baru saja meledakkan satu unit tim elit Klub 0,1%," suara Julian parau, antara ngeri dan kagum. "Mereka tidak akan berhenti. Kau tahu itu, kan? Adrian Vane akan mengerahkan seluruh pasukannya untuk mengambil kepala kita. Kau telah menghancurkan aset jutaan dolar miliknya."
"Biarkan mereka mengirim seluruh pasukan jika perlu," jawabku sambil membuka laptop miliknya yang kini sudah terhubung dengan basis data curian dari server Adrian. "Ketakutan adalah reaksi bagi mereka yang tidak memiliki rencana. Aku punya rencana, Julian. Dan rencana itu tidak melibatkan pelarian tanpa akhir ke lubang-lubang tikus yang kau sebut persembunyian."
Jemariku menari di atas keyboard. Fokusku tertuju pada satu titik koordinat yang muncul setelah aku mendekripsi file "PROYEK REGENESIS: TITIK NOL". Lokasinya berada di sebuah sanatorium tua yang disamarkan sebagai rumah sakit swasta eksklusif di pinggiran Hutan Pinus Utara.
"Sanatorium Blackwood," bisikku. "Di sanalah Sang Ilmuwan itu berada. Di sanalah raga asliku disimpan seperti barang pajangan di museum yang sakit."
"Kau gila jika ingin ke sana sekarang," potong Julian. "Itu adalah benteng. Mereka punya sistem keamanan biometrik, sensor panas, dan mungkin setengah dari kepolisian kota ada di daftar gaji mereka untuk menjaga rahasia di sana. Kita akan berjalan masuk ke lubang buaya."
Aku menoleh, menatap Julian dengan tatapan tajam yang membuat pria itu terdiam. Dominasiku kini mutlak. "Keamanan biometrik butuh data. Sensor panas butuh target. Dan kepolisian butuh perintah. Aku sudah meretas firewall Sanatorium itu sejak kita berada di bunker tadi. Aku sudah mengganti protokol keamanan mereka. Malam ini, sistem mereka akan mengenalimu sebagai petugas yang membawa 'tahanan', dan aku sebagai paket kiriman yang paling mereka nantikan."
Julian menelan ludah. Ia sadar bahwa ia bukan lagi pelindungku; ia adalah alatku. "Apa yang harus kulakukan?"
"Jadilah anjing Adrian yang setia. Bawa aku masuk melalui gerbang depan. Katakan bahwa kau berhasil menangkap Zura setelah ledakan itu. Mereka akan membukakan pintu dengan karpet merah karena mereka sangat ingin membedah otakku untuk memperbaiki kesalahan pada proyek 'produk gagal' mereka."
Perjalanan menuju Sanatorium Blackwood memakan waktu satu jam yang sunyi, hanya diisi oleh suara wiper mobil yang beradu dengan derasnya hujan. Semakin dekat kami dengan tujuan, raga Zura mulai memberikan reaksi fisik lagi. Keringat dingin mengucur di pelipisku, dan otot-ototku mulai berdenyut akibat sisa kecanduan yang meronta di dalam sel. Namun, jiwaku menolak untuk menyerah. Aku menggunakan rasa sakit ini sebagai pedang untuk tetap terjaga. Setiap denyut nyeri adalah pengingat bahwa aku masih hidup, dan aku masih Valerie.
Begitu sampai di gerbang besi raksasa Blackwood, Julian menurunkan kaca mobil. Sinar lampu sorot menabrak wajahnya, menyilaukan. "Detektif Julian. Membawa Subjek B. Perintah langsung dari Vane untuk segera diserahkan ke laboratorium bawah tanah sebelum keadaan semakin kacau di luar sana."
Penjaga itu memeriksa layar monitornya. Aku tahu apa yang ia lihat—identitas Julian yang sudah kulegalkan dalam sistem mereka, lengkap dengan surat perintah digital yang baru saja kukirimkan dari server bayangan. Gerbang itu terbuka dengan bunyi derit logam yang berat, seolah mengundang kami masuk ke mulut serigala yang lapar.
Di dalam sanatorium, suasananya sangat kontras dengan dunia luar yang kacau. Dindingnya putih bersih tanpa cela, lampunya terang benderang dengan pendar neon yang steril, dan bau antiseptik yang menyengat memenuhi setiap inci udara. Julian menyeretku dengan tangan terborgol melewati koridor panjang menuju lift khusus yang membutuhkan akses sidik jari.
Lift bergerak turun menuju Level -4, sebuah lantai yang tidak tercatat dalam cetak biru bangunan resmi. Saat pintu terbuka, pemandangan di depanku membuat jiwaku bergetar hebat.
Di balik dinding kaca besar, terdapat lusinan tabung inkubasi yang memancarkan cahaya biru redup. Di dalamnya terdapat janin-janin tanpa nama, atau mungkin raga-raga kosong yang disiapkan untuk para elit. Dan di sana, di tengah ruangan yang dikelilingi monitor monitor besar, aku melihatnya. Raga asliku—Valerie—terbaring di atas meja operasi, dikelilingi oleh mesin-mesin yang mendengung rendah. Di sampingnya berdiri seorang pria kurus dengan jas laboratorium putih yang sangat rapi dan kacamata perak yang mencerminkan cahaya lampu operasi: Sang Ilmuwan.
"Bawa dia masuk," perintah Sang Ilmuwan tanpa menoleh. Suaranya datar, tanpa emosi, tipikal seorang sosiopat yang melihat manusia hanya sebagai angka dan data statistik.
Julian mendorongku ke tengah ruangan. Sang Ilmuwan mendekat, menatap wajah Zura dengan tatapan dingin yang dipenuhi rasa penasaran klinis. Ia memegang daguku, memutar kepalaku ke kiri dan ke kanan seolah sedang memeriksa kualitas daging di pelelangan.
"Luar biasa," gumamnya, suaranya mengandung nada kekaguman yang memuakkan. "Residu kesadaran Subjek A di dalam raga Subjek B masih menunjukkan aktivitas sebesar 85%. Kau adalah anomali paling berharga dalam sejarah Proyek Regenesis, Dr. Valerie. Otakmu memiliki pertahanan yang tidak bisa diprediksi oleh algoritma kami."
"Dan kau adalah noda paling kotor dalam sejarah sains, Dokter," jawabku, menatap tepat ke matanya yang tanpa jiwa. "Kau menghancurkan kemanusiaan demi memperpanjang umur para parasit."
Sang Ilmuwan tertawa kecil, suara kering yang terdengar seperti gesekan kertas amplas. "Etika adalah penghambat kemajuan, Valerie. Aku tidak sedang membunuhmu. Aku sedang memberikanmu peran sebagai pionir keabadian. Melalui observasi atas kegagalanmu, aku akan menyempurnakan pemindahan jiwa bagi para pemimpin dunia. Kau harusnya bangga."
"Kau hanya tukang jagal yang memakai gelar akademis," desisku tajam.
Sang Ilmuwan memberi isyarat pada dua asistennya untuk mengikatku ke kursi prosedur di samping raga asliku. "Detektif Julian, kau bisa menunggu di ruang depan. Pembayaranmu akan diproses setelah kami mengekstraksi data dari sinapsis wanita ini. Proses ini akan menyakitkan baginya, jadi sebaiknya kau tidak menonton."
Julian melirikku. Ia melihat ketenangan di mataku yang merupakan kode instruksi terakhir bagi rencanaku. Dominasiku tidak goyah sedikit pun.
Tepat saat asisten itu hendak menyentuh lenganku dengan jarum bius berisi cairan penenang, Julian beraksi. Ia menarik pistol dari balik jaketnya dan menembak mati dua penjaga bersenjata di pintu masuk laboratorium sebelum mereka sempat bereaksi. Di saat yang sama, aku menggunakan kunci kecil yang kusembunyikan di balik lidah raga Zura sejak dari van tadi untuk membuka borgolku dalam satu gerakan cepat.
Kekacauan meledak seketika. Aku menerjang Sang Ilmuwan sebelum ia sempat menekan tombol darurat di mejanya. Aku menjatuhkannya ke lantai beton yang dingin, mencengkeram lehernya dengan seluruh kekuatan raga Zura, dan menekan sebilah pisau bedah yang sempat kurebut dari meja peralatan ke nadi lehernya.
"Jangan bergerak atau bersuara," bisikku, suaraku sedingin es di kutub utara. "Aku sudah memutus seluruh komunikasi keluar dari lantai ini. Alarm yang ingin kau tekan tadi sudah kualihkan untuk memulai protokol penghapusan massal di server utamamu. Dalam 180 detik, seluruh riset hidupmu, seluruh data klien Klub 0,1%, akan menguap jika kau tidak mengikuti perintahku."
Wajah Sang Ilmuwan yang tadinya sombong kini memucat pasi, keringat mulai membasahi dahinya yang lebar. "Apa yang kau inginkan? Jangan hancurkan data itu... itu adalah karya hidupku!"
"Tukar kami kembali," perintahku, menunjuk raga asliku yang masih terbaring kaku di bawah lampu operasi. "Lakukan prosedur inversi sekarang juga. Jika aku harus mati di tubuh pecandu ini, aku pastikan kau akan mati sebagai orang gagal yang tidak punya apa-apa lagi untuk dijual pada Adrian Vane. Kau tahu apa yang dilakukan Klub pada orang gagal, bukan?"
Di luar ruangan kaca, Julian terus menembak ke arah pasukan pengamanan yang mulai berdatangan dari koridor. Suara baku tembak memekakkan telinga, namun fokusku tidak goyah sedikit pun. Aku menekan pisau bedah itu lebih dalam hingga setetes darah keluar dari lehernya.
"Kau punya sisa dua menit, Ilmuwan," kataku dengan nada yang sangat tenang, kontras dengan kekacauan di sekeliling kami. "Lakukan tugasmu, kembalikan aku ke raga asliku, atau kita semua akan berakhir menjadi abu di ruangan ini bersama semua ambisi kotormu."
Malam ini, di jantung labirin mereka, Valerie tidak lagi menjadi objek eksperimen yang malang. Ia adalah sutradara dari kehancuran mereka, pemegang kendali atas nasibnya sendiri, dan hakim bagi Sang Ilmuwan yang telah menjual jiwanya pada iblis.