Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dimana Kunci Apartemenku?
...୨ৎ──── E V A ────જ⁀➴...
Gagang mesin poles lantai bergetar di tanganku saat aku sedang menatap kosong.
Dua puluh empat jam terakhir membuatku terguncang. Pertama, aku kehilangan shift pagi di restoran, lalu tas aku dicuri. Aku harus bersihin muntahan dan dimarahi berkali-kali sama Nyonya Hadibroto.
Aku setuju buat nari sama Farris karena aku butuh mengurangi stres yang berat di pundakku, tapi aku enggak berencana buat ngeseks sama dia. Itu malah terjadi begitu saja.
Aku terlalu terbawa suasana sampai enggak berhenti buat memikirkan apa yang sedang aku lakukan.
Aku enggak bakal menyebut ini sebagai hubungan satu malam, tapi kalaupun iya, itu juga bukan yang pertama buat aku.
Tapi aku ceroboh.
Kita enggak pakai pengaman, walaupun aku minum kontrasepsi, aku tetap harusnya lebih berhati-hati biar enggak kena HIV.
Aku yakin Farris bersih. Dari semua hal yang harus aku khawatirkan, PMS (Penyakit Menular Seksual) bukan yang paling atas di daftar aku.
Buat sedikit mengurangi stres, aku ambil HP dan kirim pesan ke dia.
...📩...
Eva: Kamu bersih atau aku harus mengecek?
Belum sampai semenit, HP aku bergetar.
^^^Farris: Aku bersih. Kamu minum kontrasepsi?^^^
Eva: Iya.
^^^Farris: Aku bakal bawa kondom next time.^^^
Tawa pun keluar dari mulutku.
Eva: Kamu ngira bakal ada lain kali.
^^^Farris: Kamu aja kemarin ngejutin aku. Pasti bakal ada yang kedua ... ketiga ... keempat ... kelima ... dan seterusnya.^^^
Eva: Semua tergantung gimana kencannya nanti.
^^^Farris: Berarti aku harus bikin kamu terkesan.^^^
Setelah kirim pesan ke Farris, aku merasa sedikit lebih baik. Sambil kerja, aku terus memutar lagi kejadian semalam di kepalaku.
Seksnya panas dan bikin deg-degan, sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Aku biasa quicky sama cowok yang enggak peduli apakah aku klimaks atau enggak.
Astaga, Farris bahkan enggak perlu berusaha. Cuma dengan dia ada di dalam rahim aku saja sudah cukup bikin aku klimaks.
Aku masih bisa merasakan tangannya menyusuri tubuhku. Aku masih bisa merasakan sensasinya. Aku masih bisa cium aromanya di tubuhku. Dan sekarang aku mulai merasa panas dan enggak nyaman lagi.
Dengan senyum kecil di bibir, aku terus memikirkan Farris, sampai kerjaan aku selesai.
Setelah menyimpan troli bersih-bersih dan peralatannya, aku pergi ke ruang ganti, di mana aku lepas celemek dan topi.
Aku mengecek tas di loker, tapi ingat kalau tas itu sudah dicuri.
Sial.
Kunci apartemen aku ada di dalam tas itu.
Aku pukul loker, lalu saat jalan ke pintu keluar, aku sadar aku enggak punya uang buat naik angkutan.
Merasa sengsara, aku berhenti di meja Cacha dan bilang, "Aku benci harus minta, tapi boleh pinjam seratus? Nanti malam aku balikin."
"Tentu." Dia mengeluarkan uang dari dompetnya dan aku ambil dengan senyum terima kasih.
"Hati-hati di jalan." Dia bilang hal yang sama setiap hari.
Karena jalanan bukan tempat yang aman aman di jam dua pagi.
"Aku bakal hati-hati," jawabku sambil kasih dia senyuman. "Makasih uangnya." Aku jalan ke pintu samping dan menunggu Cacha melepaskan aku.
Hembusan udara dingin menampar wajahku, aku merapatkan jaket sambil jalan ke arah halte.
Sekarang setelah aku keluar kerja, aku sadar betapa bodohnya aku karena sudah ngeseks sama Farris. Aku enggak yakin jalan bareng dia itu ide bagus.
Bagaimana kalau dia mau lebih dan semuanya jadi serius di antara kita?
Bagaimana kalau dia tahu aku cuma cewek miskin dari Gang Royal.
Aku ragu dia bakal mau terus ketemu sama aku.
Hal kayak begini tuh cuma terjadi di film.
Ya, kan?
Aku menggeleng, melihat ke atas dan ke bawah jalan, lalu cepat menyebrang jembatan layang, sebelum turun tangga ke halte.
Walaupun sudah jam dua lewat tiga puluh pagi, masih ada orang di sekitar. Semua kelihatan capek dan itu bikin suasananya muram.
Butuh empat puluh lima menit lagi sampai aku tiba di apartemen. Karena jendela tangga darurat dipaku, aku enggak punya pilihan lain selain membangunkan Nasrin.
Aku masuk ke gedung, saat naik tangga aku menelepon Nasrin.
Suaranya masih berat karena ngantuk.
...📞...
^^^ "Ada apa? Kamu baik-baik aja?"^^^
"Aku baik. Tas aku dicuri dan aku enggak bisa masuk ke apartemen. Aku boleh tidur di sofa kamu?"
^^^"Tentu."^^^
Begitu aku sampai di lantai tiga, pintu depan Nasrin terbuka dan aku masuk.
Aku menunggu pintunya menutup sebelum mendekat dan menyenderkan kepala ke dadanya, sambil melingkarkan tangan ke dia.
"Aku butuh pelukan!" gumamku saat air mata hampir jatuh.
Aku capek banget.
Nasrin mengusap punggungku beberapa saat sebelum dia bilang, "Tidur aja dulu, Nak. Pas toko perkakas buka, aku bakal beli kunci baru buat pintu kamu dan ganti."
Aku menjauh dan memaksa senyum. "Makasih, Nasrin. Aku enggak tahu harus gimana tanpa kamu."
Senyum kebapakan muncul di bibirnya. "Untungnya, aku rencana tetap tinggal di sini untuk waktu lama."
"Mending begitu."
Aku jalan ke sofa dan lepas sepatu sebelum rebahan. Beberapa detik kemudian, Nasrin taruh dua selimut di atas aku.
Dia cium sisi kepalaku dan bergumam, "Tidur aja dulu."
Waktu dia balik ke kamar, aku bilang, "Nasrin."
"Iya?"
"Aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, bocah kecil."
JD penasaran Endingnya