Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Titik yang Tidak Bisa Ditarik Kembali
Pagi itu terasa terlalu tenang. Bukan tenang yang menenangkan melainkan jenis sunyi yang membuat Aruna waspada. Ia sudah bangun lebih awal dari biasanya, duduk di tepi ranjang apartemen sambil menatap layar ponselnya yang gelap. Tidak ada notifikasi. Tidak ada ancaman. Tidak ada email darurat. Dan justru itulah yang membuatnya curiga.
Dalam permainan seperti ini, diam sering kali berarti seseorang sedang mempersiapkan langkah besar.
Ia berdiri, merapikan diri dengan gerakan otomatis. Pikirannya sudah bekerja lebih dulu: skenario terburuk, kemungkinan sabotase, serangan reputasi lanjutan. Semua berputar seperti daftar cek mental yang terus diperbarui.
Saat tiba di kantor, atmosfer langsung terasa berbeda. Bukan bisik-bisik seperti hari-hari sebelumnya. Hari ini terlalu banyak mata yang menghindar. Langkah Aruna melambat sepersekian detik. Instingnya menegang. Sesuatu sudah terjadi dan ia belum tahu apa.
Ponselnya bergetar.
Calvin:
Naik sekarang. Jangan berhenti di mana pun.
Pesan singkat itu membuat detak jantungnya naik satu tingkat.
Ia langsung menuju lift. Di pantulan dinding logam, wajahnya tampak tenang. Tapi di balik itu, pikirannya sudah bersiap menghadapi kemungkinan paling buruk.
Begitu pintu ruang direktur tertutup di belakangnya, Calvin langsung memutar layar laptop ke arahnya.
Video.
Rekaman CCTV internal.
Tanggal kemarin malam.
Aruna melihat dirinya masuk ke ruang arsip. Waktu yang ditampilkan tidak masuk akal. Ia tahu persis ia sudah pulang pada jam itu. “Ini rekaman palsu,” katanya pelan.
Calvin mengangguk. “Dan sudah tersebar ke tiga divisi.”
Udara di ruangan terasa lebih berat.
“Mereka mencoba membingkai kamu merusak dokumen,” lanjut Calvin. “Kalau ini dipercaya, kasus Eastbay bisa runtuh dan kamu jadi kambing hitam resmi.”
Aruna tidak langsung bereaksi. Ia menonton ulang rekaman itu. Gerakannya terlalu halus. Terlalu sempurna. Manipulasi digital tingkat tinggi.
“Mereka tidak hanya menyerang,” katanya akhirnya. “Mereka ingin penutup cerita.”
Tatapan Calvin tajam. “Dan kita tidak akan memberikannya.”
Aruna menoleh. “Audit tahu?”
“Baru akan tahu,” jawab Calvin. “Kita laporkan bersama. Tapi sebelum itu aku mau kamu siap.”
“Siap untuk apa?”
“Perang terbuka.”
Sunyi jatuh.
Tidak dramatis. Tidak meledak. Hanya pengakuan bahwa garis terakhir sudah dilewati.
Aruna mengangguk perlahan. “Baik,” katanya. “Kita buka semuanya.”
Ruang audit terasa seperti ruang sidang. Video diputar. Tatapan mengeras. Bisik-bisik berubah menjadi perhitungan.
“Kami perlu verifikasi metadata,” kata salah satu auditor.
“Silakan,” jawab Calvin datar. “Kami sudah lakukan.”
File kedua ditampilkan. Jejak manipulasi digital muncul jelas: timestamp tidak sinkron, layering data, pola pengeditan yang menunjukkan rekayasa.
Sunyi.
Aruna bisa merasakan dinamika ruangan bergeser.
Bukan lagi curiga. Sekarang marah.
“Ini sabotase internal,” kata auditor senior.
Dan kalimat itu menjadi titik balik. Sejak kasus ini dimulai, Aruna tidak berada di kursi terdakwa melainkan saksi dari serangan yang terencana. Tatapan-tatapan di ruangan berubah arah. Tidak lagi ke dirinya. Tapi ke sistem dan siapa pun yang bermain di dalamnya.
Saat rapat selesai, udara kantor terasa berbeda.
Tidak ramah. Tidak juga bermusuhan. Lebih seperti menunggu. Semua orang tahu sesuatu besar sedang terjadi.
Di koridor, seorang staf junior mendekatinya ragu.
“Bu Aruna…”
Ia berhenti.
“Saya… percaya Ibu,” katanya pelan.
Kalimat sederhana itu menghantam lebih keras dari ancaman mana pun.
Aruna hanya mengangguk kecil. Tapi di dalam dadanya, sesuatu menguat. Kepercayaan. Dan itu lebih berbahaya bagi lawan dibanding bukti apa pun.
...****************...
Menjelang sore, Calvin berdiri di dekat jendela ruangannya. Kota di bawah tampak seperti jaringan lampu yang saling terhubung rapuh tapi kompleks.
“Mereka panik,” katanya.
“Dan orang panik membuat kesalahan,” jawab Aruna.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada senyum.
Hanya kesepahaman.
“Kita dorong sekarang,” kata Calvin. “Audit forensik penuh. Semua akses dibuka.”
Aruna mengangguk.
“Begitu ini berjalan,” lanjut Calvin, “tidak ada yang bisa mundur.”
Aruna menarik napas panjang. “Memang tidak ada yang mau mundur,” katanya tenang.
Dan Calvin terlihat benar-benar yakin.
Malam turun lebih cepat dari yang terasa. Aruna duduk sendirian di apartemennya, layar laptop memantulkan cahaya biru ke wajahnya. File demi file bergerak pola mulai terlihat. Dan di tengah semua data itu
Satu nama.
Muncul berulang.
Konsisten.
Tersembunyi… tapi jelas.
Jantungnya berdetak keras.
Bukan karena takut. Melainkan karena sadar ini adalah titik yang tidak bisa ditarik kembali.
Ia mengambil ponsel.
Mengetik satu pesan:
Aku menemukannya.
Balasan datang instan.
Calvin:
Simpan semua. Besok kita akhiri ini.
Aruna menatap layar lama.
Besok.
Kata itu terasa seperti janji sekaligus ancaman.
Ia menutup laptop perlahan. Sunyi apartemen kini terasa berbeda. Bukan lagi penuh tekanan. Melainkan ketenangan sebelum benturan terakhir.
Dan Aruna tahu ketika pagi datang, permainan tidak lagi tentang bertahan.
Ini tentang menjatuhkan siapa pun yang mencoba menghapus kebenaran.
Dan kali ini tidak ada jalan kembali.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/