NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Titik yang Tidak Bisa Ditarik Kembali

Pagi itu terasa terlalu tenang. Bukan tenang yang menenangkan melainkan jenis sunyi yang membuat Aruna waspada. Ia sudah bangun lebih awal dari biasanya, duduk di tepi ranjang apartemen sambil menatap layar ponselnya yang gelap. Tidak ada notifikasi. Tidak ada ancaman. Tidak ada email darurat. Dan justru itulah yang membuatnya curiga.

Dalam permainan seperti ini, diam sering kali berarti seseorang sedang mempersiapkan langkah besar.

Ia berdiri, merapikan diri dengan gerakan otomatis. Pikirannya sudah bekerja lebih dulu: skenario terburuk, kemungkinan sabotase, serangan reputasi lanjutan. Semua berputar seperti daftar cek mental yang terus diperbarui.

Saat tiba di kantor, atmosfer langsung terasa berbeda. Bukan bisik-bisik seperti hari-hari sebelumnya. Hari ini terlalu banyak mata yang menghindar. Langkah Aruna melambat sepersekian detik. Instingnya menegang. Sesuatu sudah terjadi dan ia belum tahu apa.

Ponselnya bergetar.

Calvin:

Naik sekarang. Jangan berhenti di mana pun.

Pesan singkat itu membuat detak jantungnya naik satu tingkat.

Ia langsung menuju lift. Di pantulan dinding logam, wajahnya tampak tenang. Tapi di balik itu, pikirannya sudah bersiap menghadapi kemungkinan paling buruk.

Begitu pintu ruang direktur tertutup di belakangnya, Calvin langsung memutar layar laptop ke arahnya.

Video.

Rekaman CCTV internal.

Tanggal kemarin malam.

Aruna melihat dirinya masuk ke ruang arsip. Waktu yang ditampilkan tidak masuk akal. Ia tahu persis ia sudah pulang pada jam itu. “Ini rekaman palsu,” katanya pelan.

Calvin mengangguk. “Dan sudah tersebar ke tiga divisi.”

Udara di ruangan terasa lebih berat.

“Mereka mencoba membingkai kamu merusak dokumen,” lanjut Calvin. “Kalau ini dipercaya, kasus Eastbay bisa runtuh dan kamu jadi kambing hitam resmi.”

Aruna tidak langsung bereaksi. Ia menonton ulang rekaman itu. Gerakannya terlalu halus. Terlalu sempurna. Manipulasi digital tingkat tinggi.

“Mereka tidak hanya menyerang,” katanya akhirnya. “Mereka ingin penutup cerita.”

Tatapan Calvin tajam. “Dan kita tidak akan memberikannya.”

Aruna menoleh. “Audit tahu?”

“Baru akan tahu,” jawab Calvin. “Kita laporkan bersama. Tapi sebelum itu aku mau kamu siap.”

“Siap untuk apa?”

“Perang terbuka.”

Sunyi jatuh.

Tidak dramatis. Tidak meledak. Hanya pengakuan bahwa garis terakhir sudah dilewati.

Aruna mengangguk perlahan. “Baik,” katanya. “Kita buka semuanya.”

Ruang audit terasa seperti ruang sidang. Video diputar. Tatapan mengeras. Bisik-bisik berubah menjadi perhitungan.

“Kami perlu verifikasi metadata,” kata salah satu auditor.

“Silakan,” jawab Calvin datar. “Kami sudah lakukan.”

File kedua ditampilkan. Jejak manipulasi digital muncul jelas: timestamp tidak sinkron, layering data, pola pengeditan yang menunjukkan rekayasa.

Sunyi.

Aruna bisa merasakan dinamika ruangan bergeser.

Bukan lagi curiga. Sekarang marah.

“Ini sabotase internal,” kata auditor senior.

Dan kalimat itu menjadi titik balik. Sejak kasus ini dimulai, Aruna tidak berada di kursi terdakwa melainkan saksi dari serangan yang terencana. Tatapan-tatapan di ruangan berubah arah. Tidak lagi ke dirinya. Tapi ke sistem dan siapa pun yang bermain di dalamnya.

Saat rapat selesai, udara kantor terasa berbeda.

Tidak ramah. Tidak juga bermusuhan. Lebih seperti menunggu. Semua orang tahu sesuatu besar sedang terjadi.

Di koridor, seorang staf junior mendekatinya ragu.

“Bu Aruna…”

Ia berhenti.

“Saya… percaya Ibu,” katanya pelan.

Kalimat sederhana itu menghantam lebih keras dari ancaman mana pun.

Aruna hanya mengangguk kecil. Tapi di dalam dadanya, sesuatu menguat. Kepercayaan. Dan itu lebih berbahaya bagi lawan dibanding bukti apa pun.

...****************...

Menjelang sore, Calvin berdiri di dekat jendela ruangannya. Kota di bawah tampak seperti jaringan lampu yang saling terhubung rapuh tapi kompleks.

“Mereka panik,” katanya.

“Dan orang panik membuat kesalahan,” jawab Aruna.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada senyum.

Hanya kesepahaman.

“Kita dorong sekarang,” kata Calvin. “Audit forensik penuh. Semua akses dibuka.”

Aruna mengangguk.

“Begitu ini berjalan,” lanjut Calvin, “tidak ada yang bisa mundur.”

Aruna menarik napas panjang. “Memang tidak ada yang mau mundur,” katanya tenang.

Dan Calvin terlihat benar-benar yakin.

Malam turun lebih cepat dari yang terasa. Aruna duduk sendirian di apartemennya, layar laptop memantulkan cahaya biru ke wajahnya. File demi file bergerak pola mulai terlihat. Dan di tengah semua data itu

Satu nama.

Muncul berulang.

Konsisten.

Tersembunyi… tapi jelas.

Jantungnya berdetak keras.

Bukan karena takut. Melainkan karena sadar ini adalah titik yang tidak bisa ditarik kembali.

Ia mengambil ponsel.

Mengetik satu pesan:

Aku menemukannya.

Balasan datang instan.

Calvin:

Simpan semua. Besok kita akhiri ini.

Aruna menatap layar lama.

Besok.

Kata itu terasa seperti janji sekaligus ancaman.

Ia menutup laptop perlahan. Sunyi apartemen kini terasa berbeda. Bukan lagi penuh tekanan. Melainkan ketenangan sebelum benturan terakhir.

Dan Aruna tahu ketika pagi datang, permainan tidak lagi tentang bertahan.

Ini tentang menjatuhkan siapa pun yang mencoba menghapus kebenaran.

Dan kali ini tidak ada jalan kembali.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!