NovelToon NovelToon
MAS KADES, I LOVE YOU

MAS KADES, I LOVE YOU

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Tamat
Popularitas:885.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Cerita ini hanyalah fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat, desa ataupun kota, itu hanyalah kebetulan Semata.

Amelia, putri seorang konglomerat, memilih mengikuti kata hatinya dengan menekuni pertanian, hal yang sangat ditentang sang ayah.

Penolakan Amelia terhadap perjodohan yang diatur ayahnya memicu kemarahan sang ayah hingga menantangnya untuk hidup mandiri tanpa embel-embel kekayaan keluarga.

Amelia menerima tantangan itu dan memilih meninggalkan gemerlap dunia mewahnya. Terlunta-lunta tanpa arah, Amelia akhirnya mencari perlindungan pada mantan pengasuhnya di sebuah desa.

Di tengah kesederhanaan desa, Amelia menemukan cinta pada seorang pemuda yang menjadi kepala desa. Namun, kebahagiaannya terancam karena keluarga sang kepala desa yang menganggapnya rendah karena mengira dirinya hanya anak seorang pembantu.

Bagaimanakah Amelia menyikapi semua itu?
Ataukah dia akhirnya melepas impian untuk bersama sang kekasih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Calon Kades

.

Mereka tiba di rumah Bu Sukma. Raka dan Pak RT duduk di teras.

“Pak, ini Pak RT sama Mas Raka," ucap Amelia. "Katanya mau ngobrol-ngobrol."

Pak Marzuki yang kebetulan memang masih duduk di teras, tersenyum menyambut kedatangan mereka. "Selamat pagi, Pak RT, Raka," sapa Pak Marzuki ramah.

"Selamat pagi, Pak Marzuki," jawab Pak RT dan Raka bersamaan. Lalu mereka bertiga pun bersalaman. Pak Marzuki mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di kursi yang ada di teras tersebut.

"Maaf, Pak, kami datang mendadak," ucap Pak RT. "Saya mau minta data diri Neng Amelia, karena dia kan sudah beberapa hari tinggal di sini."

Pak Marzuki mengangguk mengerti. "Oh, iya, iya. Silakan, Pak," ucap Pak Marzuki. Pria itu juga jelas paham akan prosedur yang berlaku.

Amelia bergegas membawa ember berisi keong ke belakang rumah. Ia meletakkan ember-ember itu di dekat kandang bebek, dan nantinya akan diberikan pada bebek pada siang hari karena tadi pagi sudah diberikan makan. Setelah itu, Amelia mencuci tangan dan kakinya di sumur, lalu kembali ke beranda.

"Ini KTP-nya, Pak," ucap Amelia, sambil menyerahkan KTP-nya kepada Raka.

Raka mengambil KTP Amelia dan menyerahkannya kepada Pak RT.

"Terima kasih, Neng Amelia," ucap Pak RT, sambil memfoto KTP Amelia dengan ponselnya.

"Oh, iya, Neng. Bulan depan kan, akan diadakan pemilihan kepala desa, tetapi karena Neng Amel adalah warga baru jadi Neng Amel masih belum bisa berpartisipasi dalam pemilihan tersebut," ucap Pak RT memberitahukan tentang agenda desa tersebut.

Amelia tersenyum. "Nggak apa-apa, Pak," jawab Amelia. "Yang penting, saya bisa tinggal di desa ini, saya sudah merasa senang."

Pak RT mengangguk dan ia cukup senang dengan sikap Amelia. Pak RT dan Raka kemudian berbincang-bincang sejenak dengan Pak Marzuki.

Setelah berbincang sejenak dengan Pak Marzuki, Pak RT dan Raka berpamitan.

"Terima kasih atas waktunya, Pak Marzuki," ucap Pak RT, sambil menjabat tangan Pak Marzuki.

"Sama-sama, Pak RT," jawab Pak Marzuki.

"Saya pamit dulu ya, Mbak Amelia," ucap Raka, sambil tersenyum kepada Amelia.

"Makasih ya, Mas Raka," jawab Amelia, mengingat tadi Raka membantunya membawa dua ember berisi keong yang sebenarnya memang cukup melelahkan.

Pak RT dan Raka melambaikan tangan kepada Amelia dan Pak Marzuki lalu pergi meninggalkan rumah.

"Amelia juga pamit ya, Pak," ucap Amelia. "Amelia mau nyusul Ibu ke sawah. Kasihan Ibu sendirian."

Pak Marzuki mengangguk. "Iya, hati-hati di jalan, Nak," pesannya.

"Ada yang mau diambilkan sesuatu nggak, Pak?" tanya Amelia sebelum dia pergi

Pak Marzuki tersenyum, Amelia benar-benar gadis yang pengertian dan perhatian. "Nggak ada, Nak," jawab Pak Marzuki. "Kamu hati-hati aja di jalan. Oh iya, tolong bantu Bapak kembali ke kamar ya?"

Amelia tersenyum dan membantu Pak Marzuki untuk berdiri dari kursi. Ia kemudian memapah Pak Marzuki dengan hati-hati menuju kamarnya

*

Sesampainya di sawah, Amelia melihat Bu Sukma yang masih mencabuti rumput di antara tanaman padi. Ia segera menghampiri Bu Sukma dan ikut membantu.

"Bu," ucap Amelia, memulai percakapan. "Tadi Pak RT sama Mas Raka datang ke rumah."

Bu Sukma menghentikan pekerjaannya dan menoleh ke arah Amelia. "Mereka ngapain datang?"

"Pak RT mau minta fotocopy KTP Amelia," jawab Amelia. "Itu salah Amel karena lupa untuk melapor.”

"Ya ampun, ibu juga lupa," ucap Bu Sukma ikut merasa bersalah.

"Nggak papa, Bu. Yang penting Sekarang kan sudah diurus sama Pak RT,” ucap Amelia. "Oh iya Bu, katanya bulan depan akan ada pemilihan kepala desa ya? Tapi Amelia masih belum bisa ikut pilihan. Soalnya Amelia kan masih baru di sini."

Bu Sukma menatap Amelia sendu. Iya tak tahu harus menjawab apa.

"Tapi nggak apa-apa, Bu," ucap Amelia sambil tersenyum. "Yang penting, Amel bisa tinggal di desa ini. Itu sudah lebih dari cukup buat Amel."

"Iya sih. Ibu juga senang ada Neng Amel," sahut Bu Sukma. "Oh iya Neng, tahu gak, Den Raka itu salah satu calon kepala desa lho?" Bu Sukma bercerita tanpa diminta.

Amelia menatap Bu Sukma dengan tatapan terkejut. "Wah, serius Bu?" tanya Amelia tak percaya. "Mas Raka nyalon jadi kepala desa?"

Bu Sukma mengangguk. "Iya, Den Raka itu memang pemuda pintar sih. Walaupun anak orang kaya, dia gak pernah sombong sama tetangga. Makanya dia disukai sama warga desa sini.”

Amelia mengangguk. Ia sendiri juga mengakui bahwa Raka memang baik.

*

*

*

Hari-hari terus berganti. Amelia semakin menikmati hidupnya di desa Karangsono. Ia semakin akrab dengan para tetangga.

Namun, di balik semua kebahagiaan itu, Amelia menyimpan kekhawatiran yang mendalam. Ia merasa tabungannya semakin menipis. Ia tidak ingin menjadi beban bagi Bu Sukma dan Pak Marzuki. Dia ingin memiliki penghasilan, tapi apa? Dari mana?

Pagi itu, ketika Mas Diman si tukang sayur datang, dan Amelia ikut berbelanja bersama dengan Bu Sukma dan para tetangga, tiba-tiba, sebuah ide muncul di benak Amelia. Melihat sayur-sayur yang ada di dalam gerobak Mas Diman, ia teringat dengan ilmu pertanian yang pernah ia pelajari di kampus.

"Bu," panggil Amelia ketika ia sedang membantu Sukma untuk memasak di dapur.

“Ada apa, Neng?” Tanya Bu Sukma tanpa menoleh karena dia sedang mengiris bawang.

"Gimana kalau kita bikin kebun sayur?" tanya Amelia. "Kita tanam berbagai macam sayuran terus nanti kita bisa jual sayuran ke pasar atau dititip ke Mas Diman. Lumayan kan, Bu, buat nambah penghasilan?"

Bu Sukma menggelengkan kepalanya. "Aduh, Neng" ucap Bu Sukma. "Mau tanam sayur di mana?" tanya Bu Sukma mengingat Mereka cuma memiliki sepetak sawah yang sudah ditanami padi. Sedangkan lahan di belakang rumah juga hanya kecil dan itupun sudah dipakai untuk kandang bebek.

Amelia tersenyum. "Nggak usah khawatir, Bu," ucap Amelia. "Asal Ibu izinin, Amelia bisa kok menyulap halaman depan rumah jadi kebun."

Bu Sukma mengerutkan kening. "Gimana caranya, Neng?" tanya Bu Sukma, bingung.

"Amelia bisa nanam sayurannya pakai batang bambu atau paralon yang diberdirikan di pagar," jelas Amelia. "Jadi, kita nggak butuh lahan yang luas. Kita bisa memanfaatkan pagar rumah sebagai media tanam."

Bu Sukma masih bingung dengan apa yang diterangkan oleh Amelia. Ia belum pernah melihat kebun sayur yang ditanam di dalam bambu atau paralon. Namun, ia juga tidak ingin mematahkan semangat Amelia. Karena itu Bu Sukma pun mengangguk dan mengiyakan.

Amelia bersorak kegirangan. "Asyik! Makasih ya, Bu!" ucap Amelia, sambil memeluk Bu Sukma erat-erat.

Keesokan harinya, Amelia ingin merealisasikan niatnya membuat kebun sayur di halaman depan.

Setelah selesai membantu Bu Sukma menyiapkan sarapan, Amelia menghampiri Bu Sukma yang sedang menyiram tanaman di halaman belakang.

"Bu," ucap Amelia, dengan nada bersemangat. "Di sini kalau mau beli bibit tanaman di mana ya?"

"Di dekat pasar ada toko pertanian, Neng. Nanti Ibu minta Udin, tetangga kita, buat nganterin kamu ke sana," jawab Bu Sukma.

Amelia tersenyum. "Makasih ya, Bu."

*

*

*

Amelia dan Bu Sukma berjalan menuju ke rumah Udin yang berada di ujung jalan. Saat mereka sedang berjalan, mereka berpapasan dengan Raka yang sedang mengendarai sepeda motor.

Raka tersenyum dan menghentikan motornya. "Selamat pagi, Bu Sukma, Mbak Amelia," sapa Raka, dengan ramah.

"Selamat pagi, Den Raka," jawab Bu Sukma, tersenyum.

"Mau ke mana ini pagi-pagi?" tanya Raka, penasaran.

"Ini, Den Raka," jawab Bu Sukma. "Mau ke rumahnya mang Udin. Mau minta tolong anterin Neng Amelia ke toko pertanian dekat pasar."

Raka mengangguk-angguk. "Mau beli apa, Mbak?" tanya Raka.

"Mau beli bibit sayur, Mas,” jawab Amelia.

"Ya udah gak usah nyari mang Udin. Biar saya aja yang anterin Mbak Amelia. Kebetulan saya juga mau beli obat.” Raka menawarkan diri penuh semangat.

Amelia mengerutkan kening. Apa benar sebelumnya Raka berniat ke pasar. Jelas-jelas tadi mereka berjalan berlawanan arah.

1
Tyaga
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Tyaga
harusnyaaa mikirr, intropeksi
sweetssa
Aku membuat sebuah karya menarik di NovelToon dengan judul “Mas Adimas” mohon dukungannya! ❤️
Tyaga
wkwkwk sokorr 🤣🤣🤣🤦‍♂️
aneh2 ajaa mau ke sawah kok pakai sepatu hak tinggi 🤣
Tyaga
wkwwk sokor
Tyaga
udah tau Raka ga nrima Sundari knpa tetap mau dinikahin
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
busyeett kalau sudah baca tentang klenik² jadi gimana yaa... ngeri thor karna pernah ngalamin, Naudzubillahi Mindzalik.
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: salam kenal kembali dari Ngawi Jawa Timur
total 5 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
di daerah ku masih ada thor termasuk aku dulu pas hamil anak pertama juga gitu ngadain 7 bulanannya cuma pendampingnya di wakilkan sama keluarga dan trauma juga karna ada sodara yg nyiramin airnya ga kira² sampe aku mengap² plus saking banyaknya orang yang hadir nunggu saweran sama uang yg di bambu kurungnya itu sampe rebutan ora karuan.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
weehhh akhirnyaa... akhirnyaaa ketangkep juga para silumannya.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Amelia juga bandel sih ngikut ke pasar segala, sudah tau kalau pasar itu sudah pasti ramai harusnya pikirkan baik².🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
padahal Amelia tahu sejak dia dekat dengan Raka trs ada yg ngincar keselamatan dia dan papahnya juga sudah tau kalau anaknya dalam bahaya bahkan tau pelakunya tp kenapa ga di beresin daribawal di penjarakan dengan bukti bukan malah memberi peluang pelaku bertindak lebih lagi pak Alex apa lagibRaka ga peka.🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
laahh bukannya ada yang ngawasin Amel orang suruhan papahnya kok bisa kecolongan.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Laaahh ngejek diri sendiri anda Sundari.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kalau mau identitas mu di rahasiakan boleh saja Mel tapi harus di rencanain mateng² tanpa harus merendahkan harga diri ortumu juga apa lagi kamu sudah tau lingkungan kampung itu bagai mana nyinyirnya... dari cara kamu manggi papah mamah saja sudah ngambang buat mereka dan jd cibiran mereka jd menurutku percuma.🤭🫣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: Aaaaa 🤣🤣
total 5 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
aneh Amelia kayaknya lebih suka ortunya di cibir dan di rendahkan orang lain dari pada di hargai, kalau cara berpikirnya trs seperti itu sama saja kamu ga menghormati ortu mu Mel justru menginjak² harga diri mereka sebagai orang tua bukan sebagai orang kaya.. hargai lah ortu mu kasihan mereka harus di permalukan karna permintaan anaknya yg justru ga mencerminkan hormatnya seorang anak....
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
nah mending jujur lagian ngapain di sembunyiin Mel sudah ga ada alasan lagi buat kamu sembunyiin status kamu karna kamu sama papahmu saja sudah baikan.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Amel sudah mau nikah tapi masih rahasiain keluarganya padahal awal hubungan itu baik ya jujur lebih baik karna keterbukaan itu penting.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
harusnya Amel menghargai ortunya juga, karna mereka yg seharusnya yg di utama kan Amel jangan egois trs, boleh saja ngadain pesta di kampung tapi selanjutnya ngadain pesta lagi di kota untuk mewujudkan keinginan ortu karna kamu satu²nya anak mereka jd jangan kesannya hanya keinginan kamu trs yg harus di utamakan sedari awal.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
penjaga keamanan kamu maksudnya Amel mereka orang kiriman papahmu.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
tenang Raka kalau kamu masih khawatir saat dia pulang kamu bisa nyusul minta alamat sama bu Sukma.🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!