Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Valois
Di waktu yang sama, jauh dari hiruk-pikuk drama remaja di SMA Sevit, aroma karbol dan obat-obatan yang menyengat memenuhi indra penciuman Lucas.
Kepala detektif kepolisian itu berdiri bersandar di dinding koridor rumah sakit yang dingin, sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di sela jari-jarinya—sebuah kebiasaan gugup yang selalu ia lakukan saat sedang berpikir keras.
Sejak pagi buta, ia sudah berada di sana, menunggu hasil otopsi dari jasad Maria, korban pembunuhan misterius yang ditemukan pagi buta.
Di ujung koridor, keluarga Maria duduk saling berangkulan. Suami korban menunduk dalam diam sementara anak perempuan mereka terus menangis tersedu-sedu, meratapi kepergian sang ibu yang begitu mendadak dan tragis.
Tak lama, pintu ganda ruang forensik terbuka. Seorang pria jangkung beraura tenang melangkah keluar. Ia adalah Dokter Heinz Vlad, kepala ahli forensik yang menangani kasus ini. Jas putihnya tampak bersih tanpa noda, kontras dengan kacamata bingkai tipisnya yang memantulkan cahaya lampu koridor.
Heinz berjalan menghampiri keluarga korban. Dengan suara baritonnya yang tenang dan profesional, ia mulai menjelaskan kondisi jasad Maria.
"Saya turut berduka cita sedalam-dalamnya," ucap Heinz dengan nada simpatik yang tertata. "Proses otopsi telah selesai. Sayangnya, kondisi jasad Nyonya Maria sangat tidak wajar. Tubuhnya mengalami dehidrasi ekstrem, mengering karena kehabisan seluruh volume darah dalam waktu yang sangat singkat. Kami telah membersihkan jasadnya, dan sekarang pihak keluarga sudah bisa membawanya pulang untuk segera dikebumikan."
Mendengar penjelasan brutal tentang kondisi tubuh Maria yang kehabisan darah, tangisan sang anak semakin pecah. Sang suami hanya bisa mengangguk lemah, hancur oleh kenyataan bahwa istrinya tewas dengan cara yang begitu mengerikan.
Lucas memperhatikan interaksi itu dari kejauhan dengan rahang mengeras. Setelah urusan dengan keluarga korban selesai dan mereka mulai mengurus administrasi kepulangan jenazah, Heinz berbalik dan memberikan isyarat kecil pada Lucas. Sang detektif segera mengikuti dokter forensik itu masuk ke dalam ruang kerja pribadinya.
Begitu pintu ditutup, suara bising dari luar seolah teredam sepenuhnya.
"Kau memintaku bicara berdua setelah urusan dengan keluarga korban selesai," Heinz membuka kacamata pelindungnya, meletakkannya di atas meja kerja yang dipenuhi tumpukan berkas. "Ada apa, Lucas?"
Lucas melangkah maju, meletakkan kedua tangannya di atas meja Heinz dan menatap pria itu lekat-lekat. "Luka di leher Maria. Dua titik tusukan itu. Jelaskan padaku tentang itu, Heinz."
Heinz terdiam. Tangannya yang sedang merapikan pena terhenti di udara.
"Apa kau menemukan luka gigitan yang sama di mayat-mayat sebelumnya?" tuntut Lucas, suaranya rendah namun penuh penekanan.
Dokter forensik berwajah tampan pucat itu tidak langsung menjawab. Ia menatap Lucas dengan sorot mata yang sulit diartikan, seolah sedang menimbang-nimbang kata yang paling aman untuk diucapkan. Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Heinz menghela napas pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Ya. Aku menemukannya."
Mata Lucas sedikit membesar. "Kenapa kau tidak pernah memberitahuku soal ini?!"
"Aku sudah mencantumkan semua datanya di dalam laporan otopsi resmi," jawab Heinz tenang, menunjuk tumpukan map di sudut mejanya. "Luka serupa memang ada pada korban-korban sebelumnya, hanya saja letaknya berbeda-beda. Ada yang di pergelangan tangan, di pangkal paha, di punggung, bahkan pinggang. Karena ukurannya sangat kecil dan kondisi mayat yang sudah mengerut, luka itu mudah dikira sebagai bekas gigitan hewan liar atau luka gores pasca-kematian."
Lucas tertegun. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Laporan medis Heinz selalu dipenuhi istilah teknis berbahasa Latin yang tebalnya bisa mencapai belasan halaman. Ia memang sering kali hanya membaca kesimpulan akhirnya saja.
Kini, kepingan puzzle yang selama ini berserakan di kepala Lucas mulai menyatu, membentuk sebuah gambar yang sangat gila dan tidak masuk akal.
Mayat yang mengering. Darah yang hilang tanpa jejak. Dua lubang tusukan rapi.
Vampir.
Kata itu berteriak di dalam kepala Lucas. Di era modern yang dipenuhi gedung pencakar langit dan internet ini, menyimpulkan bahwa pelaku pembunuhan berantai adalah monster penghisap darah dari mitos terdengar seperti lelucon orang gila.
Jika ia memasukkan dugaan ini ke dalam laporan resmi kepolisian, atasannya pasti akan langsung mencabut lencananya dan mengirimnya ke psikiater.
Namun, insting detektifnya yang tajam tidak bisa dibohongi. Terlalu banyak kebetulan yang mustahil dijelaskan dengan logika sains biasa.
"Baiklah," Lucas menegakkan tubuhnya, raut wajahnya berubah menjadi sangat serius dan penuh tekad. "Terima kasih atas informasinya, Heinz. Aku akan membaca ulang semua laporanmu."
Lucas memutuskan untuk mengunci rapat-rapat dugaan gilanya ini. Ia belum bisa memberitahu siapa pun. Sebelum ia mengambil langkah gegabah, ia harus menyelidikinya sendiri, mencari bukti nyata bahwa makhluk malam itu benar-benar berkeliaran di kotanya.
.
.
.
Setelah ditarik paksa oleh Sirius menyusuri koridor, Lunaris akhirnya mendapati dirinya berdiri di depan pintu kayu mahoni ganda yang sangat ia benci: Ruang Kepala Sekolah. Tempat di mana harga dirinya dihancurkan beberapa jam yang lalu.
Sirius tidak repot-repot mengetuk. Pemuda itu mendorong pintu hingga terbuka lebar dengan sikap arogan yang sangat alami.
Namun, pemandangan di dalam ruangan itu membuat langkah Lunaris terhenti karena kaget.
Bapak Harrison, Kepala Sekolah yang tadi pagi menatapnya dengan raut jijik dan membentaknya layaknya sampah, kini sedang berdiri membungkuk dengan postur yang sangat canggung dan penuh hormat. Di hadapan meja kebesarannya, duduk seorang wanita muda yang sangat elegan, menyilangkan kakinya dengan anggun.
Wanita itu luar biasa cantik. Usianya mungkin hanya terpaut satu atau dua tahun lebih tua dari Lunaris, namun auranya memancarkan kedewasaan dan intimidasi absolut. Ia mengenakan gaun setelan haute couture berwarna hitam pekat, kulitnya seputih pualam, dan bibirnya dihiasi lipstik merah segar.
Dan yang paling membuat Lunaris tercengang... saat wanita itu menoleh, garis wajahnya, ketajaman hidungnya, dan warna mata peraknya memiliki kemiripan yang sangat identik dengan pemuda iblis di sebelahnya. Lunaris refleks menoleh bergantian pada Sirius dan wanita misterius itu.
"Ah! Akhirnya Anda tiba!" seru Pak Harrison dengan nada riang yang dibuat-buat, memecah keheningan. Pria paruh baya itu bergegas keluar dari balik mejanya, menyambut Sirius dengan senyum lebar yang terlihat sangat menjilat. "Selamat datang di SMA Sevit. Jadi ini Tuan Muda Valois? Sungguh sebuah kehormatan besar bagi institusi kami bisa menerima pewaris dari keluarga Anda!"
Lunaris ternganga. Tuan Muda Valois? Di kalangan elit, hierarki kekayaan adalah segalanya. Keluarga Lauren adalah donatur besar yang kaya raya. Di atas mereka, ada Keluarga Luxe yang memegang kendali bisnis multinasional.
Namun di puncak rantai makanan itu, terdapat nama "Valois". Sebuah garis keturunan bangsawan yang kekayaannya tidak bisa dihitung dengan angka, mengendalikan aset bayangan di seluruh dunia, dan memiliki pengaruh politik yang sangat absolut. Keluarga Valois adalah mitos di kalangan konglomerat—tidak tersentuh dan berada di kasta yang jauh, jauh lebih tinggi dari Aaron maupun Bracia.
Dan Sirius, menggunakan identitas itu dengan begitu mudahnya.
Wanita cantik berwajah dingin itu bangkit berdiri dari kursinya. Saat matanya bertubrukan dengan mata Sirius, ia tidak menunjukkan rasa hormat, melainkan menatap sang pemuda dengan sinis dan jengkel.
"Nattzu," sapa Sirius santai, seolah ia sedang menyapa tukang kebunnya, bukan seorang bangsawan elit.
Wanita bernama Nattzu Valois itu tidak menjawab sapaan Sirius. Ia melangkah mendekat dengan suara heels yang mengetuk lantai marmer, lalu mengalihkan pandangannya pada Lunaris.
Tatapan mata Nattzu begitu tajam, menusuk, dan sedingin es batu. Rasanya seperti sedang ditatap oleh seekor predator puncak yang sedang mengukur nilai gizi mangsanya.
Bulu kuduk Lunaris merinding hebat, tubuhnya menegang tanpa sadar.
Namun, Nattzu sama sekali tidak mengatakan sepatah kata pun pada Lunaris. Wanita itu membuang muka, kembali menatap Sirius dengan wajah datar tak berminat.
"Aku sudah melakukan apa yang kau minta," ucap Nattzu, suaranya terdengar merdu namun membawa hawa dingin musim salju.
"Semuanya?" tanya Sirius, melirik sekilas ke arah Pak Harrison yang kini tampak seperti anak anjing penurut. "Termasuk ini?"
Nattzu menghela napas panjang yang terdengar sangat melodramatis. Ia merogoh tas tangan mahalnya, mengeluarkan sebuah dokumen berstempel emas khusus keluarga Valois, dan melemparnya ke meja Kepala Sekolah.
"Iya. Semuanya sudah diurus," jawab Nattzu malas. "Sekarang gadis ini berada dibawah tanggungjawab keluarga Valois. Yayasan sudah memulihkan beasiswanya tanpa syarat, catatan merahnya sudah dihapus dari sistem, dan Kepala Sekolah di sini telah 'menyadari kesalahpahamannya', bukan begitu, Tuan Harrison?"
Pak Harrison mengangguk cepat, wajahnya sedikit memucat. "B-benar sekali, Nona Valois! Itu semua hanya kesalahpahaman teknis! Lunaris adalah siswi kebanggaan kami, tidak mungkin kami membiarkannya pergi!"
Mendengar kemunafikan yang keluar dari mulut pria tua itu, Lunaris merasa mual, namun di saat yang sama, beban raksasa yang menimpa dadanya seolah terangkat.
Beasiswanya kembali. Haknya dikembalikan, murni karena kekuatan uang dan kekuasaan keluarga "Valois" yang menindas otoritas sekolah.
Sirius menyeringai puas, menepuk pundak Nattzu dengan gaya sok akrab. "Kerja bagus. Kau memang adik yang sangat bisa diandalkan, Nattzu."
Adik?! Mata Lunaris membelalak sempurna, kepalanya langsung menoleh cepat pada wanita itu. Jadi Nattzu adalah adik Sirius?!
Ribuan pertanyaan meledak di kepala Lunaris.
Jika Sirius adalah entitas kuno, setengah vampir dan setengah lycan... apakah itu berarti wanita cantik dan super kaya di depannya ini juga monster penghisap darah dan hewan buas?! Makhluk abadi yang berkeliaran di siang bolong menggunakan tas Hermès?!
Lunaris menatap Sirius, meminta penjelasan lewat tatapan matanya yang panik, namun sang iblis hanya tersenyum simpul dan mengabaikannya sepenuhnya.
Nattzu menepis kasar tangan Sirius dari bahunya. Wajah aristokratnya menahan kekesalan yang luar biasa.
"Dengar, ya," desis Nattzu dengan nada mengancam yang tertahan, merapikan sarung tangan sutranya. "Aku mengurus kekacauan ini karena aku terpaksa. Lain kali, jangan pernah menyusahkan hidupku lagi dengan drama manusia rendahan seperti ini..." Nattzu menatap Sirius tajam, menurunkan suaranya hingga hanya bisa didengar oleh mereka bertiga, "...terutama ketika kau baru saja bangkit dari petimu, Kakak."
Setelah menjatuhkan bom kalimat yang membuat jantung Lunaris nyaris berhenti berdetak itu, Nattzu memutar tubuhnya dan dan kali ini menatap Lunaris. "Dan kau, semoga kau tidak menyesal telah membangkitkan makhluk satu ini." Ucapnya.
"Yak! Sopanlah sedikit, bagaimanapun aku tetap kakakmu," Sahut Sirius yang diabaikan oleh Nattzu.
Kemudian wanita cantik itu berjalan keluar dari ruangan Kepala Sekolah tanpa menoleh lagi, meninggalkan jejak aroma parfum mawar yang mahal dan aura mistis yang mencekik.
Di tengah keheningan ruangan itu, Sirius hanya terkekeh pelan, sangat menikmati raut wajah Lunaris yang kini terlihat seolah baru saja melihat hantu di siang bolong.
lunaris ini tipe keras, bagus lah cewek2 begini untuk karakter fantasy. saya kasiab sama ibunya lunaris yg mungkin terlalu lembut. aaron itu kayak gimana ya? penasaran juga
berharap, sekali update itu langsung 3 atau 4 bab gt lho
walau sebagian tentang kilas balik...
segera lanjut kakak, kalau perlu langsung 5 bab🤭🤭🤭