NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Benteng Terakhir di Pesisir Sunyi

BAB 21: Benteng Terakhir di Pesisir Sunyi

Lampu merah di ruang pemulihan masih berpijar, mewarnai dinding koridor yang dingin dengan warna darah. Rangga berdiri di depan pintu kaca itu, menatap tubuh Arini yang kini dipenuhi kabel dan selang setelah operasi besar tadi. Namun, ia tidak punya waktu untuk berduka. Di luar sana, suara raungan sirine dan deru mobil-mobil hitam mulai mendekati gerbang Sanatorium.

Ibu Sarah telah mengirimkan "pasukannya". Tim keamanan korporat yang dibayar untuk satu tugas: melumpuhkan Rangga dan mengakhiri hidup Arini secara administratif.

"Pak Rangga, mereka sudah menjebol gerbang depan!" teriak pengawal pribadi Rangga, bergegas menghampiri dengan tangan yang sudah bersiap di gagang senjata pelumpuh.

Rangga tidak bergeming. Ia merapikan jam tangan mahalnya, lalu melirik tumpukan uang kusam yang tersimpan di dalam kotak kaca kecil di tangannya. Uang itu adalah kompas moralnya sekarang.

"Jangan biarkan satu orang pun melewati koridor ini," perintah Rangga. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang sangat mengerikan. "Gunakan cara apa pun. Jika mereka membawa surat perintah, katakan bahwa hukum tidak berlaku di tanah yang sudah kubeli dengan darahku sendiri."

Di ujung koridor, gerombolan pria bersetelan hitam muncul. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria paruh baya bernama pengacara klan Adiguna, Bapak Lukman. Ia memegang sebuah map merah.

"Tuan Rangga, mohon bekerja sama," ujar Lukman dengan nada sombong. "Ibu Sarah telah menyatakan Anda tidak stabil secara mental. Kami memiliki surat perintah untuk memindahkan Nona Arini ke fasilitas pemerintah dan membawa Anda pulang untuk perawatan psikis."

Rangga tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat dingin hingga membuat para pria berotot itu ragu untuk melangkah.

"Perawatan psikis?" Rangga melangkah maju, berdiri tepat di tengah koridor seperti raksasa yang menjaga pintu surga. "Kalian datang ke sini untuk membunuh wanita yang sedang berjuang hidup, dan kalian menyebut aku yang tidak stabil?"

"Kami hanya menjalankan perintah, Pak."

"Maka jalankan perintah ini juga," sahut Rangga sambil mengangkat ponselnya. "Detik ini juga, siaran langsung konferensi pers darurat yang dilakukan oleh firma hukumku sedang berjalan di seluruh televisi nasional. Dokumen penggelapan dana Mama, manipulasi wasiat ayahku, dan bukti sabotase medis terhadap Arini sedang dibongkar di depan publik."

Wajah Lukman memucat. "Anda... Anda benar-benar menghancurkan nama keluarga Anda sendiri?"

"Keluarga ini sudah hancur sejak kejujuran mati di dalamnya!" bentak Rangga. "Sekarang pergi dari sini, sebelum aku menambahkan dakwaan penculikan dan percobaan pembunuhan kepada kalian semua!"

Terjadi keributan kecil. Beberapa pria hitam mencoba merangsek maju, namun pengawal Rangga segera membentuk pagar betis. Ketegangan memuncak hingga ke titik didih. Rangga bersiap untuk pertumpahan darah demi menjaga pintu ruangan Arini tetap tertutup.

Namun, di tengah kekacauan itu, sebuah bunyi yang sangat halus terdengar dari balik pintu ruang pemulihan.

Titttt... titttt... titttt...

Irama monitor jantung Arini berubah. Tidak lagi cepat karena stres, tapi tenang dan beraturan.

Rangga tertegun. Ia mengabaikan orang-orang di depannya dan berbalik, menempelkan telinganya ke pintu kaca. Ia merasakan sebuah tarikan batin yang luar biasa kuat.

"Rin?" bisiknya.

Rangga membuka pintu dengan perlahan, mengabaikan seruan Lukman di belakangnya. Di dalam ruangan yang beraroma antiseptik itu, Dokter Bram sedang berdiri terpaku menatap layar monitor otak.

"Rangga... lihat," bisik Dokter Bram dengan suara gemetar.

Di atas ranjang, jari-jari Arini bergerak. Bukan lagi sekadar kedutan saraf, tapi sebuah gerakan yang sengaja. Perlahan, sangat perlahan, kelopak mata yang sudah tertutup berbulan-bulan itu mulai terbuka sedikit.

Mata Arini yang sayu dan cekung itu menatap langit-langit ruangan, lalu bergeser pelan mencari sumber suara yang selalu membisikkan doa di telinganya setiap malam. Saat matanya bertemu dengan mata Rangga yang memerah, sebuah keajaiban terjadi.

Arini tidak bisa bicara karena selang ventilator di tenggorokannya, tapi sudut matanya mengeluarkan air mata yang mengalir jernih. Ia mengenali Rangga. Ia mengenali pria yang tetap tinggal saat dunia mengusirnya.

Rangga jatuh berlutut di samping ranjang. Ia meraih tangan Arini, menciumnya dengan isak tangis yang meledak. Masa bodoh dengan pengacara di luar, masa bodoh dengan harta Grup Sarah, masa bodoh dengan dunia yang hancur di sekelilingnya.

"Kamu kembali... Kamu kembali padaku, Rin..." isak Rangga.

Arini meremas tangan Rangga dengan sisa tenaganya yang sangat tipis. Ia seolah ingin mengatakan: Aku mendengar semuanya. Aku mendengar perjuanganmu.

Di luar koridor, suara keributan mendadak berhenti. Ternyata, pihak kepolisian telah sampai, namun bukan untuk menjemput Rangga. Berdasarkan bukti yang dirilis Rangga ke publik, polisi datang untuk menjemput Lukman dan membubarkan tim keamanan bayaran Ibu Sarah untuk kepentingan penyelidikan kasus wasiat palsu.

Rangga tidak memedulikan itu semua. Ia hanya menatap Arini. Ia mengambil kotak kaca berisi uang kusam itu dan menunjukkannya pada Arini.

"Lihat, Rin. Uang ini masih ada. Aku menyimpannya sebagai saksi bahwa cintamu adalah hal yang paling berharga yang pernah kumiliki. Aku tidak akan pernah melepaskannya lagi. Aku tidak akan pernah membiarkanmu sendirian lagi."

Arini mencoba tersenyum di balik masker oksigennya. Meski tubuhnya masih sangat lemah dan kankernya belum sepenuhnya hilang, namun keinginannya untuk hidup telah menang melawan maut karena satu hal: ia tidak ingin meninggalkan Rangga sendirian di dunia yang dingin ini.

Malam itu, di Sanatorium yang kini menjadi benteng cinta mereka, Rangga bersumpah. Ia akan menggunakan seluruh harta yang ia ambil kembali dari ibunya untuk membangun yayasan kanker terbesar di Asia. Ia akan mengabdikan hidupnya untuk menyembuhkan Arini dan ribuan orang lain yang bernasib sama.

Pangeran itu tidak lagi membutuhkan mahkota emasnya. Ia telah menemukan mahkota sejatinya dalam genggaman tangan seorang wanita yang kembali dari ambang kematian demi dirinya.

Perang belum berakhir, karena Ibu Sarah pasti tidak akan menyerah begitu saja dari balik sel penjara nantinya. Namun bagi Rangga, selama Arini membuka matanya setiap pagi, ia memiliki cukup kekuatan untuk menaklukkan seluruh dunia.

"Tidurlah lagi jika lelah, Sayang," bisik Rangga sambil mengelus dahi Arini yang kini terasa hangat. "Aku akan menjagamu sampai pagi menyapa kita dengan kedamaian yang sesungguhnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!