NovelToon NovelToon
Duda Anak Satu

Duda Anak Satu

Status: tamat
Genre:Romantis / Duda / Tamat
Popularitas:780.5k
Nilai: 5
Nama Author: Riskaapa

Dosen, tampan, muda dan... duda.

Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.

Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.

Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.

Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seperti Ular Berbisa

"Saya sudah bosan, sudah tidak suka, makanya saya bakar."

Mata Erica hampir loncat mendengar ucapan Mona. Membakar rumah? Erica ingin terkikik, geli rasanya mendengar ucapan Mona yang sangat-sangat gila. Sepertinya sopan santun Mona ikut terbakar beserta rumahnya.

"Pantas sih dibakar juga, orang rumahnya sudah jelek, mana cuma pemberian mantan suami. Ya mau diapain lagi kan kalo sudah bosan dan sudah tidak suka lagi?" Erica mengedikkan bahu, seolah-olah sepaham dengan apa yang Mona pikirkan.

Sedikit demi sedikit senyum Mona luntur. Segala keterkejutan atas jawaban Erica ia sembunyikan di balik wajah angkuhnya.

"Nggak etis dong habis bakar rumah terus nginep di rumah orang lama-lama." Kini giliran Erica yang menampilkan senyum licik. Matanya tajam menatap wajah Mona. "Jadi kapan mbak mau pindah ke rumah baru mbak?"

Skakmat. Air muka Mona berubah. Ia tidak berkutik. Lidahnya kelu kehabisan kata-kata. Erica benar-benar memojokkannya. Gadis kecil itu tidak hanya berbisa, tapi juga licin. Seperti ular berbisa.

Mona berdehem. Dagu yang sempat turun kini kembali terangkat naik. Ia mengatur napasnya sebelum menjawab, "Kalau waktunya sudah pas."

Senyum Erica mengembang, meski jawaban Mona kurang memuaskan. "Semoga waktu pas itu segera tiba." Mata Erica turun ke tangan Mona. "Supaya mbak bisa cepat mencari pembantu agar kuku mbak yang cantik bisa kembali di poles."

Mona menoleh kuku-kuku tangannya yang tidak terurus. Terlalu sering bersentuhan dengan sabun cuci piring membuat kuteknya cepat luntur dan permukaan tangannya kasar. Tangan lentik yang ia rawat dan jaga selama ini rusak begitu saja.

Tak lama kemudian Mona bangkit dari duduknya, tapi pergerakannya terhenti ketika Erica kembali bersuara.

"Sekedar informasi, kamarku dan Mas Adam tidak pernah dikunci. Jadi alangkah baiknya mengentuk pintu terlebih dahulu jika tidak ingin melihat kejadian seperti tadi pagi."

Kali ini senyum Erica mengembang sempurna, puas. Melihat Mona tidak berkutik dan terpojokkan merupakan suatu kemenangan baginya. Ternyata nalurinya selama ini mengenai ketidaksukaannya pada Mona beralasan. Ia tidak tahu apa rencana Mona, tapi segala tindakan dan ucapannya mencerminkan perempuan itu ingin kembali pada Adam.

Adam. Lelaki itu memarkir mobilnya di tempat khusus dosen dan staf pengajar. Perasaan gelisah berkecamuk dihatinya. Pagi sekali Adam mendapat pesan dari kepala program studi terkait kejadian kemarin siang.

Adam mendesah kecewa. Sikapnya yang ceroboh membawanya ke dalam jurang masalah. Tak main-main, masalah ini dapat merenggut semua yang ia perjuangkan selama ini dan mungkin juga dapat mengubah hidupnya. Hal sepele jika dibesar-besarkan dapat membumihanguskan.

Dengan berat ia turun dari mobil. Meski bagaimanapun juga, sesulit dan sepelik apapun masalah, ia tidak boleh lari. Lari bukan cara untuk menyelesaikan masalah, tapi menunda masalah. Penyelesaian masalah yang tertunda dapat menimbulkan masalah baru.

Sesampainya di ruang prodi, sudah ada Syahnaz yang menyambut dengan berbagai pertanyaan. "Apa yang terjadi pak?" tanyanya dengan penuh antusias.

Adam mengedikkan bahu. "Cukup pelik bu masalahnya." Ia melewati Syahnaz begitu saja. Meninggalkan dosen muda itu dengan tanda tanya yang semakin besar di kepalanya.

"Apa masalahnya pak?"

Adam membereskan file di mejanya yang tidak sempat ia rapihkan. Lalu, ia duduk di sana. "Masalah sepele, cuma akar masalahnya yang pelik."

"Coba bapak ceritakan peliknya sebelah mana."

Adam terkekeh melihat antusiasme Syahnaz untuk mengetahui masalah hidupnya. "Terlalu panjang untuk di ceritakan bu. Bagusnya diketik lalu dijadikan novel."

"Saya siap mendengarkan kok, pak."

Memang dasar perempuan, sangat suka mendengarkan hal-hal yang berbau gosip. Mulut dan telinganya langsung terpasang untuk menggali lebih dalam masalah orang. Tapi terkadang perempuan memasang telinganya bukan karena simpati, tapi untuk diceritakan kembali ke orang lain.

Tidak lama kemudian ketua program studi datang. Beberapa saat kemudian Adam dipanggil untuk menghadap. Melihat Adam masuk ruangan kepala prodi, Syahnaz duduk di kursinya yang tidak jauh dari pintu ruangan kepala prodi. Beberapa pertanyaan sudah terangkai di kepalanya untuk menyambut Adam ketika keluar dari ruangan prodi.

Adam mendudukkan diri ketika ketua prodi mempersilahkannya duduk.

"Bapak pasti sudah tahu kenapa saya memanggil bapak pagi-pagi sekali," ujar Arif, ketua program studi Administrasi Bisnis.

"Ya, pak."

"Saya kenal bapak dengan baik. Jujur, saya sangat terkejut mendengar kejadian kemarin siang di roof top yang melibatkan bapak dengan salah satu mahasiswa kita. Bapak tentu tahu tindakan bapak salah. Beruntung kejadian kemarin belum menyebar di lingkungan kampus. Jangan sampai masalah ini terendus media apalagi sampai melibatkan polisi."

Adam mengangguk. Menyadari betapa beratnya masalah yang ia hadapi. Reputasinya, kampus, dan keluarga terancam nama baiknya.

"Saya ikut bertanggungjawab karena bapak adalah salah satu dosen tetap di program studi yang saya ketuai ini. Selagi bisa, kita selesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Bukan karena kita hanya ingin melindungi salah satu pihak dan menentang hukum, tapi mengingat masalah ini masih dapat di selesaikan dengan baik-baik dan berdamai."

"Saya paham, pak."

"Nanti siang kita bicarakan dengan anak itu disini. Silahkan."

"Baik pak, terima kasih banyak." Adam bangkit dari duduknya. "Saya permisi."

Sementara itu, Syafiq sedang berbaring di atas ranjang kamar kosannya ketika ia mendapatkan panggilan dari kampus untuk dimintai keterangan mengenai kejadian kemarin siang. Tinjuan tangan Adam menyebabkan pembuluh darah di bagian wajahnya pecah sehingga menimbulkan luka memar. Berbekal Googling, ia mengompres wajahnya dengan es batu untuk meredakan proses pembengkakan dan peradangan. Tidak ada saudara atau keluarga, ia merantau ke kota untuk melanjutkan pendidikannya. Sehingga mau tidak mau, ia harus mengobati lukanya sendiri.

Syafiq diantarkan oleh penjaga gedung fakultas ekonomi dan bisnis yang melerai perkelahiannya dengan Adam. Mungkin lebih tepatnya disebut penyerangan, karena ia diserang secara tiba-tiba tanpa tahu masalahnya apa.

Di ruangan prodi, sudah ada Adam, Arif, Noni sebagai wakil dari bidang kemahasiswaan, dua orang saksi dan Syafiq. Beberapa kali Adam mengusap wajahnya melihat wajah Syafiq yang penuh luka memar akibat ulahnya.

"Saya tidak tahu kenapa Pak Adam tiba-tiba menyerang saya." Syafiq bersuara ketika Arif meminta penjelasan kenapa Adam bisa menghajarnya. "Saya tidak melawan karena saya kira Pak Adam hanya bercanda."

Adam mengusap wajahnya untuk yang kesekian kalinya. Syafiq benar-benar aneh, bisa-bisanya ia mengira hajaran Adam hanya bercanda. Padahal wajahnya dibuat bonyok begitu.

"Kamu ngapain di roof top?" tanya Arif.

"Saya ditarik Erica, teman perempuan saya. Dia menangis, makanya saya peluk untuk menenangkan dia. Setelah tangis dia reda, tiba-tiba Pak Adam datang lalu menghajar saya." Syafiq menghela napas lalu menoleh ke arah Adam. "Mungkin maksud Pak Adam baik. Pak Adam merupakan wali dosennya Erica sehingga begitu dekat dengan Erica. Karena melihat Erica bolos kelas dan mendapati saya sedang bersamanya dengan keadaan memeluknya, makanya Pak Adam marah."

Adam mencerna setiap kalimat yang Syafiq katakan. Sejujurnya saat itu ia tidak ingat bahwa ia adalah dosen walinya Erica, apalagi tahu jika saat itu Erica ada kelas. Yang ia ingat dan tahu saat itu Erica sedang sakit sehingga tidak bisa mengikuti kelas. Bahkan Syafiq sendiri yang bertanya padanya kenapa Erica belum keliatan di area kampus saat mereka bertemu di lobby.

"Benar begitu, pak Adam?" Arif bertanya setelah Syafiq dan kedua orang saksi menjelaskan apa yang terjadi.

"Benar, pak." Adam menarik napas. Kebohongan ini akan menyelamatkannya, meski kebohongan ini ada benarnya juga. "Saya kesal karena Syafiq dan Erica, yang merupakan anak didik terbaik saya melewatkan kelas untuk bermesraan di roof top. Saya menyadari tindakan saya berlebihan, oleh karena saya minta maaf, Syafiq."

"Saya juga minta maaf, pak. Saya tidak akan membawa pengaruh buruk lagi untuk anak bapak."

"Anak bapak?" tanya Arif, tak mengerti yang dimaksud anak oleh Syafiq.

"Anak didik maksudnya," jelas Adam.

Syafiq bangkit dari duduknya, meraih tangan Adam lalu cium tangan. "Maafkan saya, calon bapak mertua."

Cinta benar-benar membutakan. Demi pujaan hati, Syafiq membenarkan semua kesalahan yang bahkan tidak ia ketahui seperti apa kebenaran sesungguhnya.

1
Darni Jambi
bgus bnget,laki2nya teguh penditian,
Ma Em
Biasa
Ma Em
sudah usir saja si mona biang kerok itu Erica mau jadi pelako dia, , dulu Adamnya ditinggalin sekarang mau balikan lagi, kamu harus tegas Erika jangan kalah sama si Mona biang kerok itu.
Ma Em
emang yah rumah tangga itu ada aja godaannya segala mantan istrinya yang selalu datang mengganggu, hati-hati Erica harus dijagain tuh mas Adamnya jangan sampai tergoda lagi.
Ifa Lai
👍👍👍
Raning Raning
keren
Andi Fitri
Mona tak tau malu seharusnya Adam cpt2 Carikan kontrakan atau srh plg ke rmh ortunya dri pada rmh tangga kmu sm erica nnt berantakan..
nurul hidayah
zhafran nya jangan ama Erica adam mulu thor.. biar ama mona..
Imas Priyanati Anggoro
kasihan Syafiq..gmn klo ketahuan jika Adam sm erica suami istri
Imas Priyanati Anggoro
jangan² rumhnya kebakaran dia sendri yg buat supaya tinggl bareng drumh adam
Kinan Rosa
kapok Lo Adam
Kinan Rosa
astaga Safiq lebih tegas dari Adam ternyata
Adam kamu harus sadar
Rida Sriwati
bagus
Elsina Heatubun
Erika oh erika...kasar dan lebay
Elsina Heatubun
Erika egois bangat...
Elfrina Tinambunan
ga ada sekuelnya thor.. rasanya masih pengen baca kelanjutannya hahaa
Diana Puntian
teruslah berkarya thorrr dengan cerita2 yang lebih fokus lagi, tetap semangat thorrr lanjuttt 💪👍
ykwia: maaciii sudah setia dengan cerita Duda Anak Satu 🤗 Sampai jumpa di cerita selanjutnya ❣️
total 1 replies
Kartika *PUCUK🌱 SQUAD🐛*🌽
Kehilangan mendewasakan seseorang. Terimakasih ka author atas ceritanya🤗
ykwia: terimakasih juga sudah setia dengan cerita Duda Anak Satu 🤗 Sampai jumpa di cerita selanjutnya ❣️
total 1 replies
Imay HIATUS 🐥
Endingnya syuka bangettt Thor, gk brrbelit2 mantap jiwa.. dgn hadirny bayi Erica mampu mengatasi Mona, ada hikmahnya jg orgtua meninggal Erica bertambah dewasa.
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂
ykwia: Sejauh ini belum kepikiran buat bikin extra part wkwk tapi pasti akan segera di update jika sudah siap hihi
Terimakasih sudah setiaa🤗 Sampai jumpa di cerita selanjutnya❣️
total 1 replies
Nuri 73749473729
lanjuuttt...
ykwia: sudah tamat kak😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!