NovelToon NovelToon
Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Dendam Kesumat / Ahli Bela Diri Kuno / Dark Romance
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Ini Novel Wuxia!

Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.

Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!

Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.

Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.

Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Fajar menyelimuti Kota Heiyun. Tembok batu kelabu yang kokoh tampak agung di bawah cahaya pagi yang dingin.

Gerbang kota, besar dan berukir, perlahan terbuka, menyambut hiruk pikuk perdagangan dan para pengembara yang datang dari segala penjuru.

Liang Shan berjalan memasuki gerbang, bahunya tegap, Golok Sunyi Mengoyak Langit tersarung di punggungnya. Ia berpakaian sederhana dengan menggunakan jubah hitam tanpa lambang perguruan, membuatnya tampak seperti musafir biasa.

Namun, sorot mata jernih yang menyimpan kesunyian itu, membuat banyak penjaga gerbang enggan menatapnya lama.

Kota Heiyun benar-benar merupakan pusat pertemuan. Kedai-kedai teh dan penginapan dipenuhi oleh pendekar berbaju warna-warni, masing-masing membawa senjata khas, mulai dari pedang panjang, tombak, cambuk, bahkan cakar besi.

Energi dunia persilatan terasa begitu kental, seperti kabut yang siap berubah menjadi badai kapan saja.

Liang Shan langsung menuju pusat kota, mencari markas Klan Murong, Klan Xu, atau Klan Zhao.

Namun, ia tahu bahwa bergerak terburu-buru adalah pantangan. Dendam yang sudah disimpan selama lima belas tahun tidak boleh dibakar habis dalam satu hari. Ia harus memahami permainan, mengetahui siapa yang harus ditebas, dan kapan waktu yang tepat.

Liang Shan memilih sebuah kedai arak di jalanan sepi, dekat dengan rumah-rumah mewah yang diduga menjadi kediaman para tokoh penting. Ia duduk di sudut, memesan air putih, dan mendengarkan.

Suara-suara di sekitarnya tidak banyak membantu, kebanyakan hanya membicarakan kekuatan dan rumor yang dilebih-lebihkan. Namun, tak lama kemudian, sepasang pendekar paruh baya dengan pakaian rapi duduk di meja sebelahnya.

"Apakah kau dengar kabar tentang 'Permata Tiga Hati'?" bisik salah satunya.

"Permata Tiga Hati? Bukankah itu permata legendaris yang konon bisa menunjukkan lokasi Kitab Rahasia Lima Elemen?" balas yang lain.

"Ya. Kabarnya permata itu akan menjadi hadiah utama dalam jamuan Aliansi Heiyun. Tiga Klan besar, Xu, Murong, dan Zhao, sepakat menggunakannya untuk menarik pendekar-pendekar hebat agar bergabung dengan mereka."

Liang Shan mendengarkan. Ia menyadari, pertemuan di Kota Heiyun bukan sekedar aliansi, melainkan upaya konsolidasi kekuasaan.

Mereka menggunakan pusaka untuk menarik pendekar, persis seperti cara mereka menggunakan nama besar untuk menghancurkan Keluarga Liang dan Tuan Agung Jin.

Tiba-tiba, kedamaian di kedai itu pecah.

Dari luar, terdengar suara gerobak yang berhenti tiba-tiba, diikuti teriakan marah.

"Minggir! Ini jalan Klan Murong! Siapa pun yang menghalangi akan menanggung risikonya!"

Liang Shan menoleh. Di jalan sempit itu, berdirilah tiga orang pengawal Klan Murong yang kemarin dilihatnya bersama Murong Feilong. Mereka sedang mencoba menggusur seorang kakek tua yang menjual manisan di pinggir jalan.

Kakek itu gemetar ketakutan, manisan di gerobaknya tumpah ke tanah. "Tuan-tuan, tolonglah. Saya tidak punya apa-apa lagi selain ini," pintanya memelas.

"Tidak punya apa-apa? Kalau begitu matilah!" bentak salah satu pengawal, tangannya bersiap melayangkan pukulan tenaga dalam.

Tepat sebelum pukulan itu mendarat, sebuah bayangan melesat.

Liang Shan bergerak. Bukan karena ia peduli pada kakek itu, melainkan karena dirinya melihat kesempatan.

Kesempatan untuk menguji ilmu yang telah diasah selama lima belas tahun, dan kesempatan untuk mengirimkan pesan pertamanya ke Klan Murong.

Ia bergerak tanpa suara dengan mengaplikasikan Jurus Langkah Terakhir di Jalan Tak Bernama. Langkahnya tampak kacau, condong ke kiri lalu menyimpang ke kanan, seolah tubuhnya digerakkan oleh keraguan. Namun justru di situlah letak terornya.

Setiap pijakan seperti kesalahan, setiap gerak seperti keraguan—dan karena itu mustahil ditebak. Dalam sekejap, jarak yang seharusnya ditempuh sepuluh tarikan napas telah lenyap dalam satu tarikan dada.

Tiga pengawal itu merasakan hawa dingin merayap ke tengkuk mereka.

Naluri bertarung yang ditempa puluhan tahun menjerit bersamaan. Mereka berbalik hampir serempak, tangan sudah meraih gagang senjata. Namun dunia persilatan tidak selalu memberi kesempatan kedua.

Golok Sunyi Mengoyak Langit terhunus!

Bilah golok itu bersinar dalam sekejap, bukan karena memantulkan cahaya, melainkan karena memancarkan aura dingin yang menusuk.

Jurus Tebasan Luka di Ujung Senja!

Liang Shan tidak menyerang dengan kekuatan. Ia menyerang dengan kesunyian. Goloknya berayun pendek, cepat, dan senyap.

Pengawal pertama hanya merasa dingin di pergelangan tangannya. Senjata yang dia genggam erat langsung jatuh ke tanah. Pengawal kedua tersentak mundur, namun bajunya sobek di bagian dada, dan darah menetes perlahan.

Pengawal ketiga, yang paling kuat, sempat menghindar. Ia menyeringai sinis dan melayangkan pukulan balasan yang kuat.

"Berani sekali kau! Rasakan Pukulan Delapan Gunung ini!"

Liang Shan menahan. Ia tidak bisa melawan tenaga dalam secara frontal, karena itu akan mengaktifkan racun di nadinya. Pemuda itu mengaplikasikan Jurus Bayangan Sunyi di Balik Hujan. Gerakannya berubah lembut, berputar seperti air.

Bilah Golok Sunyi tidak menghantam pukulan itu, melainkan berputar dan menyentuh titik tekanan di siku pengawal. Hanya sentuhan ringan.

Tapi hal itu sudah cukup untuk membuat pengawal tersebut terhuyung dan menjerit tertahan, lengan kanannya lemas tak bertenaga.

Liang Shan kembali menyarungkan goloknya, semua terjadi dalam tiga tarikan napas dan tiga jurus saja.

Tiga pengawal Klan Murong itu terkapar. Tidak mati, namun terluka parah di titik-titik vital pada tubuhnya, mereka lumpuh dan tidak akan bisa bertarung lagi setidaknya selama setahun.

Kakek penjual manisan itu menatapnya dengan wajah pucat. Pendekar-pendekar di kedai terdiam. Mereka menyaksikan seorang pemuda mengalahkan tiga pengawal kuat dari Klan Murong hanya dalam sekejap mata, tanpa mengeluarkan banyak tenaga.

Liang Shan menatap tiga pengawal yang merintih itu dengan mata dingin.

"Sampaikan pada tuanmu," katanya dengan suara datar, "bahwa di dunia persilatan, ada orang yang memilih berjalan dalam sunyi. Dan bagi yang hidup dalam keangkuhan, sunyi itu akan segera membelah langit mereka."

Ia berbalik, tidak mempedulikan teriakan pengawal yang dipenuhi amarah dan ancaman. Liang Shan kembali ke kedai, duduk di sudut, dan meminum airnya seolah tidak ada yang terjadi.

Orang-orang di kedai, yang tadinya berisik, kini diam. Mereka menatap pemuda itu dengan campuran rasa takut dan ingin tahu.

Siapa pendekar misterius yang muncul dari kabut itu?

Liang Shan tahu, aksinya yang cepat dan mematikan itu telah mengirimkan riak pertama ke seluruh Kota Heiyun. Golok Sunyi Mengoyak Langit telah bernyanyi untuk pertama kalinya, dan lagunya adalah ancaman.

Setelah selesai minum, Liang San segera beranjak pergi dan menghilang di keramaian.

Beberapa saat kemudian, seorang pemuda berpakaian sutra biru—diduga adalah anggota inti Klan Murong—datang ke lokasi perkelahian dengan wajah marah.

"Siapa yang berani melakukan ini pada pengawalku?" teriaknya, wajahnya tampak memerah.

Salah satu pengawal yang masih bisa berbicara berbisik,

"Tuan Muda, pelakunya adalah seorang pemuda dengan pakaian abu-abu. Dia membawa golok hitam."

Sementara Liang Shan, di sisi lain kota, saat ini sedang berjalan menuju penginapan. Di balik ketenangan yang ia pertahankan, racun di nadinya bergetar hebat.

1
Nanik S
Bagus Lian Shang
Nanik S
Kecapi Sakti
Nanik S
Apakah Kakek itu orang yang dicari
Nanik S
Mereka bertiga benar2 tangguh
Nanik S
Liang Shan... punya berapa Nyawa
Nanik S
God Joon
Nanik S
Liang Shan.... berat amat jalanmu
Nanik S
mereka sepasang Anak sahabat yang mati karena dikhianati
Nanik S
Jendral Zhao ternyata bukan hanya penghianat tapi Inlis yang sesungguhnya
Nanik S
teruskan... menarik sekali Tor
Junn Badranaya: Siap kak ...
total 1 replies
Nanik S
Liang Shan harusnya tinggal dengan Damai
Nanik S
Liang Shan.... apakah akan hancur bersama Goloknya
Nanik S
Ternyata Jendral besar juga terlibat
Nanik S
Mantap.... kenapa Lian Shen tidak mencari penawar racunya
Nanik S
Kecantikan sebagai Alat untuk meruntuhkan Lelaki
Nanik S
Kurangi musuh satu satu
Nanik S
Pesan pertama Golok Sunyi
Nanik S
Mantap Tor
Nanik S
Ling Shang... kehilangan kedua kali amat menyakitkan
Nanik S
Hidup dengan tubuh beracun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!