Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Wakasa mengerang kecil lalu membalikkan badan.
“aaaaah…sudah Pagi ,” gumamnya sambil membuka mata.
Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya sebentar.
“Fenrir…” katanya pelan.
Tak ada jawaban.
“…Masih capek, ya.”
“Mulai hari ini… peringkat B,” gumamnya.
“…Hmph.”
Suara berat itu akhirnya terdengar.
“Kau terlalu banyak berpikir.”
“Kekuatanmu sudah pantas sejak lama.”
Wakasa tersenyum kecil. “Pagi juga buatmu.”
Begitu Wakasa turun ke lantai bawah, aroma makanan hangat langsung menyambutnya. Russi-san terlihat sedang menata meja dengan celemek sederhana.
“Oh, pagi Wakasa,” sapa Russi-san ceria. “Kamu bangun lebih pagi dari biasanya.”
“Pagi, Russi-san,” jawab Wakasa santai. “Kelihatannya enak.”
“Tentu saja,” ujar Russi-san sambil tersenyum. “
Wakasa duduk dan mulai makan.
“Seperti biasa… rasanya pas.”
Russi-san terkekeh. “Syukurlah. Oh ya, kamu mau pergi ke kantor petualang hari ini?”
“Iya,” jawab Wakasa. “
“Begitu ya,” kata Russi-san.
Wakasa mengangguk. “Pasti.”
Setelah selesai makan, Wakasa berdiri
“Terima kasih atas sarapannya, Russi-san.”
“Sama-sama,” jawabnya lembut. “Selamat Jalan.”
Wakasa melangkah ke pintu,
Russi-san tersenyum kecil.
Ia pun keluar dari penginapan.
“Hari ini.”
“ aku resmi peringkat B berarti dan sudah punya party berarti sudah bisa menjalankan misi peringkat A.”
Langkahnya mantap, menuju hari yang akan mengubah banyak hal.
Aula utama ibu kota pagi itu dipenuhi suara langkah kaki dan percakapan ramai. Cahaya matahari menembus jendela-jendela tinggi, memantul lembut di lantai batu.
Wakasa berhenti sejenak di dekat pilar besar,
“Pagi,” sapa Diana begitu ia tiba. Sikapnya tetap tegap, tapi nadanya lebih santai dari biasanya.
“Pagi,” jawab Wakasa. “Kalian cepat juga.”
Starla mengangguk kecil. “I-iya… aku tidak bisa tidur lama.”
Wakasa tersenyum. “Masih tegang?”
Starla tersentak kecil. “S-sedikit…”
Diana menghela napas pendek. “Itu wajar. Ini pertama kalinya kita bergerak sebagai satu party.”
Ucapan itu membuat Starla sedikit lebih rileks.
“Benar,” kata Wakasa. “Kita belum melakukan apa pun hari ini.”
Diana melirik papan besar di kejauhan. “Tapi apa pun misi yang kita ambil nanti, kalo bertiga pasti menjadi lebih mudah.”
“tentu saja,” jawab Wakasa santai.
Starla menatap Wakasa sejenak lalu tersenyum kecil. “K-kalau bertiga… rasanya lebih tenang.”
Wakasa mengangguk. “Aku juga merasa begitu.”
Diana ber deham. “Yang penting, adalah kerja sama tim dan jangan bergerak sendiri.”
“Tenang,” jawab Wakasa sambil terkekeh kecil. “Aku dengar kalau diingatkan.”
Starla menahan senyum kecil.
Wakasa melangkah sedikit ke depan. “Kalau begitu, kita langsung ke kantor petualang?”
Diana mengangguk. “Iya. Tentu saja.”
Starla mengeratkan tangannya. “A-aku akan berusaha sebaik mungkin.”
Wakasa menoleh dan tersenyum lembut. “Tenang saja sekarang kita satu tim.”
Starla tersenyum malu.
Diana mengangguk mantap.
Di tengah ramainya aula ibu kota, tiga petualang itu berdiri berdampingan—
melangkah bersama menuju awal petualangan mereka.
- Adegan berpindah ke Fannisa yang akan menjalankan misi
Halaman belakang barak kerajaan pagi itu dipenuhi suara derap langkah dan dentingan logam. Dua puluh prajurit kerajaan berbaris rapi, perlengkapan mereka berkilau diterpa cahaya matahari.
Di bagian depan barisan, dua gadis berdiri berdampingan.
Fannisa, dengan rambut pink panjang terurai, merapikan sarung tangan sihirnya dengan gerakan tenang. Sorot matanya lembut, namun penuh perhatian pada keadaan sekitar.
“Jangan terlalu kencang,” ucap suara lembut di sampingnya.
Itu Silka, rambut hitam panjang terurai menyentuh punggungnya, wajahnya tenang dengan senyum halus.
“Nanti tanganmu sakit.”
Fannisa menoleh dan tersenyum kecil. “Aku hanya ingin memastikan semuanya siap.”
Silka mengangguk pelan. “Kamu memang selalu begitu… terlalu memikirkan orang lain.”
Fannisa tertawa pelan. “Kalau tidak, kita bisa ceroboh.”
Pandangan Fannisa beralih ke barisan prajurit di depannya.
“Ini misi ranking S,” ucapnya lirih namun jelas. “Target kita… Scorpion King.”
Silka menautkan jemarinya dengan tenang. “Monster hutan dengan racun mematikan.”
“Banyak regu gagal karena meremehkannya,” tambah Fannisa lembut.
Seorang prajurit di barisan depan menarik napas dalam.
“Pemimpin… apakah kita benar-benar siap?”
Fannisa melangkah maju satu langkah. Suaranya tetap lembut, tapi kini terdengar tegas.
“Kita tidak akan menang jika hanya mengandalkan kekuatan,” katanya.
“Kita akan menang karena kerja sama.”
Barisan menjadi lebih tenang.
“Kita saling menjaga,” lanjut Fannisa. “Tidak ada yang bergerak sendiri. Tidak ada yang ditinggalkan.”
Silka menoleh ke arah prajurit-prajurit itu dan tersenyum lembut.
“Kami akan memastikan semua kembali dengan selamat.”
Fannisa mengangguk kecil, lalu mengangkat tangannya sedikit.
“Kita adalah pasukan kerajaan,” ucapnya lebih lantang.
“Kita tidak mundur.”
Sorot mata para prajurit berubah—ketegangan berganti keyakinan.
Fannisa menarik napas dalam.
“Siapkan perlengkapan. Kita berangkat.”
“YA!”
Dua puluh suara menjawab serempak.
Angin hutan berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan bahaya yang mengintai.
Di depan barisan itu, Fannisa berdiri dengan tenang, rambut pinknya berkibar tertiup angin—
lembut dalam sikap,
perhatian pada setiap nyawa,
namun cukup kuat untuk memimpin menghadapi raja monster hutan.
- adegan kembali ke wakasa-
Kantor petualang pagi itu cukup ramai. Beberapa petualang berdiri di depan papan misi, sementara sebagian lain mengantre di meja pendaftaran.
Wakasa, Diana, dan Starla berhenti di depan papan misi peringkat A.
“Spinokiller…” gumam Wakasa sambil membaca. “Target tunggal. Monster hutan.”
Diana menyilangkan tangan. “Tinggal di tengah hutan tua. Agresif wilayah.”
Starla menatap kertas itu lama… lalu sedikit cemberut.
“…Namanya saja sudah menyeramkan,” gumamnya pelan.
Wakasa melirik ke arahnya. “Takut?”
“B-bukan takut!” Starla langsung membantah. “Cuma… durinya banyak.”
Diana tersenyum miring. “Padahal kemarin kamu tampak berani menghadapi Red Bear.”
“Itu beda!” Starla menggembungkan pipinya.
Wakasa terkekeh kecil.
Mereka pun melangkah ke meja pendaftaran.
“Selanjutnya~”
Suara ceria menyambut mereka.
Di balik meja berdiri Sakura, gadis berambut biru dengan senyum lembut yang langsung dikenali Wakasa.
“Oh? Wakasa!” mata Sakura berbinar. “Pagi~”
“Pagi, Sakura,” jawab Wakasa santai. “Ceria seperti biasanya ”
“Tentu saja~” Sakura tersenyum. “Jadi, mau ambil misi apa?”
Diana menyerahkan lembar misi. “Kami mengambil misi peringkat A ini.”
Sakura membaca cepat, lalu matanya membesar.
“Spinokiller?!”
Ia menatap mereka satu per satu. “Kalian bertiga?”
“Iya,” jawab Wakasa.
Sakura tersenyum kecut. “Kalo ada wakasa sih aku tidak heran.”
Starla sedikit menunduk. “A-apa… tidak masalah?”
Sakura menggeleng cepat. “Tidak, tidak! "Kalau ada wakasa sih seharusnya aman.” gumamnya
“Tapi tetap hati-hati, ya. Spinokiller itu besar dan durinya berbahaya.”
Starla bergumam kecil. “…Tuh kan.”
Diana langsung menoleh. “Masih cemberut?”
“A-aku cuma realistis!”
Wakasa tersenyum kecil. “Tenang saja.”
Sakura menyerahkan dokumen misi.
“Baik~ misi peringkat A Spinokiller resmi kalian ambil.”
Ia sedikit mencondongkan badan. “Pastikan kembali dengan selamat, ya.”
“Pasti,” jawab Wakasa.
Starla mengangguk kecil. “K-kami akan berhati-hati.”
Diana mengangguk tegas. “Terima kasih.”
Sakura melambaikan tangan kecil. “Semangat~!”
Dengan misi peringkat A di tangan dan senyum Sakura di belakang mereka,
party Wakasa pun melangkah pergi—
menuju hutan tua tempat Spinokiller, sang monster mirip Spinosaurus, menanti.
Pepohonan raksasa menjulang di sekeliling mereka. Cahaya matahari nyaris tak menembus kanopi hutan yang rapat. Udara terasa lembap dan berat.
Wakasa berjalan di depan, lalu tanpa sadar memperlambat langkahnya agar sejajar dengan Starla.
“Kalau kakimu pegal, bilang,” ucapnya pelan.
Starla tersentak kecil. “E-eh? T-tidak… aku masih kuat.”
Namun langkahnya sedikit goyah saat melewati akar besar. Wakasa refleks meraih lengannya.
“Pelan,” katanya lembut.
Starla membeku sejenak. “W-Wakasa-kun…”
Pipinya memerah, telinganya bergerak kecil.
Diana melirik dari belakang, lalu menyeringai. “Wah~ perhatian sekali.”
Wakasa melepaskan tangannya perlahan. “Aku cuma jaga party.”
“Iya, iya,” jawab Diana. “Alasannya profesional.”
Starla menunduk. “T-terima kasih…”
Wakasa tersenyum kecil. “Tenang saja selama aku di sini, kamu aman.”
Starla menatapnya sekilas, matanya sedikit berbinar. “…I-iya.”
Mereka melanjutkan langkah. Hutan semakin sunyi.
Starla berjalan lebih dekat dengan Wakasa tanpa sadar.
Diana ber deham pelan. “Kalian mau pegang tangan sekalian? Biar tidak tersesat.”
“D-Diana!” Starla langsung memerah.
Wakasa menggelengkan kepalanya dan pipinya memerah “Haah tidak tidak.”
“Sayang sekali,” jawab Diana santai. “Padahal lucu.”
Starla menyembunyikan wajahnya sebentar. “T-tolong serius…”
Wakasa menunduk sedikit ke arahnya. “Kalau takut, tetap dekat saja. Tidak apa-apa.”
Starla mengangguk kecil. “…Aku akan begitu.”
Mereka berhenti ketika Wakasa mengangkat tangannya.
“Tunggu.”
Diana langsung fokus. “Apa yang kamu lihat?”
Wakasa berjongkok dan menyentuh tanah. “Jejak besar. Masih baru.”
Starla memeluk tasnya lebih erat dan tanpa sadar melangkah lebih dekat ke Wakasa.
Wakasa berdiri dan sedikit memposisikan diri di depan Starla.
“Di belakangku.”
Starla menatap punggungnya. “W-Wakasa-kun…”
Diana tersenyum tipis melihat itu. “Tenang saja. Kalau ada apa-apa, aku juga di sini.”
Hening menyelimuti mereka.
Lalu—
Dum… dum…
Getaran pelan terasa di tanah.
Starla menggenggam ujung mantel Wakasa. “A-aku dengar…”
“Aku tahu,” jawab Wakasa tenang. “Jangan lepas.”
Diana menarik napas dalam. “Sepertinya… tamu kita akhirnya muncul.”
Udara di tengah hutan menegang.
Di antara pepohonan gelap, sesuatu yang besar bergerak—
sirip berduri menjulang di balik bayangan.
Spinokiller sudah sangat dekat.