NovelToon NovelToon
A Little Bit Of LaNi

A Little Bit Of LaNi

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Amara akhirnya turun dari kamarnya setelah menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk bersiap. Kali ini ia memilih pakaian yang nyaman namun tetap manis: sweater tipis berwarna pastel dipadukan dengan celana denim. Rambutnya tidak ia kepang seperti kemarin, melainkan ia kuncir kuda dengan menyisakan beberapa helai poni yang membingkai wajahnya.

Nicholas yang sedang berbincang dengan Ryan di ruang tamu mendadak terhenti bicaranya. Matanya mengikuti setiap gerak-gerik Amara yang menuruni tangga.

"Udah siap?" tanya Nick, suaranya sedikit lebih berat dari biasanya.

"Udah. Tapi beneran ya, sore harus udah di rumah. Aku ada jadwal simulasi mandiri jam tujuh malem," sahut Amara sambil memakai sepatu ketsnya.

"Iya, Cerewet. Ayo," ajak Nick. Ia berpamitan pada Ryan yang hanya memberikan jempol sambil menyeringai jahil.

Saat mereka sudah di depan motor, Amara menahan lengan jaket Nicholas. "Kita mau ke mana sih, Kak? Dari tadi ditanya nggak dijawab terus."

Nicholas memasangkan helm ke kepala Amara, memastikan talinya terkunci dengan bunyi klik yang mantap. "Ke tempat yang nggak ada hubungannya sama buku Wangsit, kisi-kisi UTBK, atau latihan soal Matematika. Pokoknya ikut aja."

Melawan Angin

Motor Nicholas membelah jalanan Jakarta yang cenderung lebih lengang karena hari Minggu pagi. Amara awalnya menjaga jarak, hanya memegang ujung jaket Nicholas. Namun, saat motor itu masuk ke jalan layang dan angin berhembus cukup kencang, Nicholas menarik tangan Amara agar melingkar di pinggangnya.

"Pegangan yang bener, Amara. Gue nggak mau 'malaikat' gue terbang kebawa angin," teriak Nick di balik helmnya.

Amara merengut, tapi ia menuruti perintah itu. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Nicholas, dan entah kenapa, rasa nyaman itu kembali hadir. Ia bisa merasakan otot punggung Nicholas yang tegang namun memberikan rasa aman yang luar biasa.

Setelah hampir empat puluh menit berkendara, gedung-gedung tinggi mulai berganti dengan pemandangan pepohonan yang lebih rimbun. Mereka memasuki area perbukitan di pinggiran kota. Udara yang tadinya panas dan berdebu perlahan berubah menjadi sejuk dan segar.

Nicholas memarkirkan motornya di sebuah area parkir yang tidak terlalu ramai. Mereka sampai di sebuah tempat yang tampak seperti observatorium pribadi atau kafe terbuka yang terletak di puncak bukit kecil. Dari sana, mereka bisa melihat pemandangan kota dari ketinggian.

"Wah..." gumam Amara tanpa sadar. Matanya berbinar melihat hamparan hijau dan langit biru yang luas. "Kok Kakak tahu tempat ini?"

"Tempat pelarian gue kalau lagi pusing sama tugas maket atau kalau lagi... kangen sama seseorang," jawab Nick sambil melirik Amara dari sudut matanya.

Amara pura-pura tidak dengar, meskipun pipinya mulai memanas. Mereka berjalan menuju bangku kayu panjang yang menghadap langsung ke jurang yang dipagari besi pengaman.

"Sepi banget di sini," ucap Amara sambil menghirup udara dalam-dalam. "Seger banget, beda sama udara di depan gerbang sekolah."

"Itu tujuannya gue bawa lo ke sini. Biar paru-paru sama otak lo dapet asupan oksigen yang bener, bukan cuma asupan rumus kimia," sahut Nick. Ia menyodorkan sebotol minuman cokelat dingin yang tadi sempat ia beli di jalan.

Mereka duduk berdua dalam keheningan yang nyaman. Nicholas tidak mencoba memulai percakapan yang berat. Ia hanya membiarkan Amara menikmati pemandangan. Sesekali, Nick melirik ke arah Amara, memastikan gadis itu benar-benar rileks.

"Kak..." panggil Amara pelan.

"Hmm?"

"Makasih ya buat yang tadi pagi. Soal struk itu... aku beneran nggak nyangka," ucap Amara. "Kenapa Kakak nggak pernah benci aku pas aku bersikap kasar atau nyuruh Kakak pergi?"

Nicholas menatap lurus ke depan, ke arah cakrawala. "Gimana gue bisa benci sama orang yang udah kasih gue kesempatan kedua buat hidup? Dua tahun lalu, gue ngerasa dunia ini nggak adil. Gue berantem, gue luka, dan nggak ada yang peduli. Terus tiba-tiba ada anak SMA yang nangis-nangis panik cuma karena liat gue berdarah. Di saat itu gue sadar, mungkin hidup gue masih layak diperjuangin."

Nick menoleh ke arah Amara, sorot matanya sangat intens. "Pas gue ketemu lo lagi di rumah Ryan, gue janji sama diri gue sendiri: gue nggak boleh biarin orang ini lepas lagi. Tapi gue salah cara. Gue terlalu takut lo pergi, sampe gue lupa kalau lo juga butuh ruang buat napas."

Amara terenyuh. Ia merasa tembok pertahanan yang ia bangun selama ini benar-benar telah runtuh. Ia memberanikan diri untuk menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke arah Nicholas.

"Sekarang aku nggak bakal lari lagi kok," bisik Amara. "Asalkan... Kakak jangan jadi 'monster' lagi."

Nicholas tertawa kecil, suara tawa yang kini terdengar jauh lebih lepas. Ia merangkul bahu Amara, menarik gadis itu agar bersandar di bahunya. "Gue janji. Kalau gue mulai jadi 'monster', lo tiup aja peluit itu sekencang mungkin. Biar gue sadar lagi."

Sore mulai menjelang, langit berubah warna menjadi jingga keemasan. Nicholas mengajak Amara ke sebuah spot foto yang terbuat dari kayu di pinggir bukit.

"Ra, sini bentar," Nick mengeluarkan ponselnya. "Foto sekali yuk? Buat kenang-kenangan kalau kita pernah 'bolos' dari UTBK."

Amara tertawa. "Awas ya kalau di-post terus ada temen sekolah yang liat!"

"Nggak bakal. Ini buat konsumsi pribadi gue aja," sahut Nick.

Mereka berfoto dengan latar belakang matahari terbenam. Nicholas merangkul pinggang Amara, dan Amara tersenyum lebar ke arah kamera—sebuah senyuman yang paling tulus yang pernah Nicholas abadikan.

Dalam perjalanan pulang, Amara tidak lagi memegang ujung jaket Nicholas. Ia memeluk pinggang pria itu dengan erat, menyandarkan wajahnya di punggung Nicholas sambil memejamkan mata. Ia merasa sangat damai. Nicholas yang dulu ia anggap sebagai ancaman, kini telah bertransformasi menjadi pelindung yang paling ia percayai.

Sesampainya di depan rumah, hari sudah mulai gelap. Nicholas melepaskan helm Amara dengan lembut.

"Istirahat yang bener. Jangan dipaksa belajarnya malam ini," pesan Nick.

"Iya, Kak. Kakak juga hati-hati di jalan ya," jawab Amara.

Sebelum masuk ke dalam pagar, Nicholas menahan tangan Amara sebentar. Ia mengecup kening Amara dengan sangat singkat namun penuh perasaan. "Selamat malam, Amara."

Amara terpaku di tempatnya, mematung sampai motor Nicholas menghilang di tikungan komplek. Ia menyentuh keningnya dengan jari-jarinya, jantungnya berdegup tak keruan.

"Kayaknya... aku beneran sayang sama dia," bisik Amara pada bintang-bintang di langit malam itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!