NovelToon NovelToon
Pangeran Tidur

Pangeran Tidur

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir / Romansa
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.

" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~


"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~

Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekacauan di panti

" Tuaaan.." suaranya tercekat

Tangannya gemetar, perlahan menutup mulutnya sendiri, seolah takut jika perasaan yang membuncah ini akan tumpah begitu saja.

Ini jalan menuju panti.

Air mata menggenang tanpa ia sadari.

Arelion melirik sekilas, lalu kembali menatap jalan. “Bukankah mau merindukan keluargamu."

Elora menoleh, matanya basah. “Tuan…”

“Ini adalah permintaan maaf atas nama ibuku.."

Elora menunduk, jemarinya saling bertaut di pangkuannya. Kata keluarga itu kembali mengaduk dadanya hangat sekaligus nyeri.

Arelion tetap menatap jalan, suaranya tenang namun terasa berat. “Ibuku menyesal setelah tahu perlakuan Maria padamu ."

Elora menggeleng pelan. “Saya yang harusnya minta maaf kepada nyonya ..karena saya sudah menyulitkan keluarga Arkaven ."

Tidak, Elora,” ulangnya, suaranya lebih dalam. “Aku tak suka mendengar kata-katamu itu.”

Elora terdiam. Bahunya sedikit menegang.

Angin sore menyusup di antara mereka. Elora menunduk.

Arelion menambahkan, “Dan mulai sekarang… jangan pernah lagi meminta maaf ."

Elora mengangguk perlahan. Di dadanya, sesuatu yang lama terikat mulai terasa mengendur.

Mobil melambat. Arelion menoleh sekilas, cukup lama untuk menangkap kilau air mata di mata Elora.

Elora menahan napas. Ada getar kecil di bahunya.

Arelion kembali memusatkan perhatian ke jalan.

Beberapa detik berlalu dalam sunyi yang lembut.

Elora mengusap sudut matanya, lalu tersenyum kecil rapuh tapi jujur. “Terima kasih, Tuan… terimakasih ."

Arelion tidak menjawab. Namun jemarinya mengendur di setir, dan untuk pertama kalinya sejak lama, perasaannya terasa berada di tempat yang benar.

Mobil berhenti tepat di depan gerbang panti.

Elora tak langsung turun. Ia mematung, seolah takut jika ini hanya mimpi yang akan lenyap begitu pintu terbuka.

Arelion mematikan mesin. “Pergilah.”

Itu saja.

Namun kata itu terdengar seperti izin yang telah lama ia tunggu seumur hidup.

Elora membuka pintu dengan tangan gemetar. Begitu kakinya menginjak tanah, air mata yang ia tahan akhirnya luruh.

Ia menoleh sekali lagi pada Arelion. “Apa anda tak ikut masuk?"

Sebelum Arelion menjawab ,Elora sudah berkata lagi,"Nggak papa tuan..saya nggak akan lama." ucap Elora sebelum ia bergegas ke dalam panti.

Arelion hanya mengangguk kecil.

Elora berlari kecil menuju gerbang.

Dan di dalam dada Arelion, ada rasa asing yang hangat melihat kebahagiaan sederhana itu, kebahagiaan yang tak pernah bisa dibeli oleh apa pun yang ia miliki.

“Kak Elora!"

Suara kecil itu melengking penuh kegirangan.

Sebelum Elora sempat melangkah lebih jauh, sesosok bocah berambut sedikit acak-acakan sudah berlari ke arahnya. Tubuh kecil itu menabrak perutnya dengan pelukan yang begitu erat, seolah takut ia akan pergi lagi.

“Romi…” Elora terisak sambil berlutut, memeluk bocah itu kuat-kuat. Tangannya gemetar saat membelai punggung kecil yang begitu ia kenal. “Kau sudah semakin tinggi,” ucapnya lirih di sela tangis. “Sudah besar sekarang.”

Romi tertawa kecil, memeluk leher Elora. “Kak Elora lama nggak pulang,” keluhnya polos.

Maaf… kata itu terpendam di dada Elora, tak sanggup terucap.

Tak jauh dari sana, Bu Panti berdiri dengan mata berkaca-kaca. Senyum hangat terbit di wajahnya, senyum seorang ibu yang akhirnya melihat anaknya kembali.

“Bu…” Elora bangkit dan melangkah cepat, lalu memeluk wanita paruh baya itu tanpa ragu.

Bu Panti mengusap rambut Elora dengan lembut, menahan getar di suaranya. “Syukurlah kamu baik-baik saja, Nak. Ibu hanya bisa berdoa setiap malam.”

Pelukan itu sederhana, tapi penuh rindu. Penuh kehangatan yang selama ini Elora simpan rapat-rapat di sudut hatinya.

Di luar gerbang, Arelion berdiri bersandar pada mobilnya.

Ia tak berniat masuk. Ia hanya menunggu.

Namun dari tempatnya berdiri, ia melihat semuanya.

Pelukan Elora pada bocah kecil itu. Cara tubuhnya merendah, seolah dunia di sekitarnya lenyap. Cara Elora memeluk Bu Panti..bukan seperti pelayan, bukan seperti orang yang tahu “tempatnya”, melainkan seperti seorang anak yang akhirnya pulang.

Dadanya menghangat, lalu terasa sesak bersamaan.

Inikah rumah yang selalu ia bawa dalam diam?

Elora terdiam sejenak sebelum akhirnya bercerita. Suaranya pelan, namun jujur, seolah setiap kata ia susun dengan hati-hati.

“ Aku ..tidak tinggal lagi dengan Ibu Maria… sekarang..aku tinggal di rumah keluarga Arkaven, Bu,” ucapnya lirih.

Bu panti menatapnya lama, lalu tersenyum kecil,senyum yang menyimpan kelegaan.

“Ibu tahu, Nak,” katanya lembut. “ Tuan Muda Arkaven yang selama ini rutin mengirim sumbangan untuk anak-anak panti.”

Elora mengangkat wajahnya, terkejut.

“Setelah kamu ikut bersama Nyonya Maria,” lanjut Bu panti, nada suaranya menurun, “ternyata dia tidak menepati janjinya. Sumbangan yang biasa almarhum suaminya berikan… dihentikan begitu saja.”

Jari Elora mengepal di pangkuannya. Dadanya terasa nyeri, bukan karena marah,melainkan kecewa.

Bu panti mengelus punggung tangan Elora dengan penuh sayang.

“Syukurlah sekarang kamu tidak tinggal dengan Nyonya Maria lagi,” ucapnya tulus. “Ibu selalu merasa khawatir…"

Elora menunduk, matanya berkaca-kaca.

“Maaf, Bu… saya belum bisa banyak membantu.”

“Kehadiranmu saja sudah cukup,” jawab Bu panti hangat. “Dan lihat… Tuhan menjagamu dengan caranya sendiri.”

Namun kehangatan yang baru saja menyelimuti Elora seketika runtuh.

Suara gaduh datang dari arah gerbang..keras, kasar, dan penuh amarah. Teriakan bercampur bunyi benda dibanting membuat Elora refleks berdiri.

“Bu…?” suaranya bergetar.

Beberapa pria masuk tanpa permisi. Wajah-wajah asing dengan sorot mata tajam. Kali ini bukan dua atau tiga orang seperti sebelumnya..jumlah mereka lebih banyak. Terlalu banyak.

“Itu mereka lagi…” bisik salah satu pengurus panti dengan wajah pucat.

Belum sempat ada yang menenangkan keadaan, salah satu pria menendang kursi hingga terbalik. Suara kayu patah memecah udara.

“Mana pengurusnya?!” teriak seseorang. “Kami sudah bilang..tempat ini harus dikosongkan!”

Anak-anak mulai menangis. Tangisan kecil yang pecah satu per satu, berubah menjadi isak ketakutan. Romi memeluk kaki Elora erat-erat.

“Kak Elora…” suaranya gemetar.

Elora langsung merunduk, memeluk Romi dan beberapa anak lain yang mendekat padanya. Tubuhnya ikut bergetar, tapi ia memaksa dirinya tetap berdiri di depan mereka..seolah tubuh kurusnya bisa menjadi perisai.

“Jangan takut… dengar kakak ya,” bisiknya pelan, meski dadanya sendiri terasa sesak.

Suara kaca pecah. Lemari tua didorong hingga roboh. Situasi berubah mencekam dalam hitungan detik.

“Mereka sudah sering datang,” ucap salah satu pengurus dengan panik. “Mengaku punya hak atas tanah ini… tapi tidak pernah menunjukkan surat yang jelas.”

Elora menoleh cepat. Tanah. Kata itu membuatnya paham..ini bukan sekadar keributan biasa.

Di kejauhan, Arelion yang baru saja turun dari mobilnya membeku saat melihat pintu panti terbuka lebar dan suara gaduh menggema hingga luar. Matanya langsung menangkap pemandangan yang membuat dadanya mengeras: anak-anak menangis, orang-orang asing merusak, dan Elora berdiri di tengah kekacauan memeluk mereka.

Tatapannya berubah dingin.

Bukan marah yang meledak-ledak.

Melainkan amarah yang terkendali..jenis amarah yang berbahaya.

Ia melangkah cepat masuk.

“Cukup.”

Suaranya tidak keras, tapi tegas. Menghentikan beberapa gerakan di ruangan itu.

Semua mata menoleh padanya.

Elora menegang saat menyadari siapa yang berdiri di sana.

“Tuan…?” suaranya hampir tak terdengar.

Arelion menatapnya sekilas..cukup lama untuk memastikan ia dan anak-anak baik-baik saja..lalu kembali memandang para perusuh itu tanpa gentar.

“Keluar,” katanya dingin. “Atau aku pastikan kalian menyesal pernah melangkah ke tempat ini.”

Keheningan jatuh.

1
Masitoh Masitoh
seruuuuu
Efi Irsyad
cerita mengaduk perasaan saya /Cry/
Masitoh Masitoh
Episode awal yang menarik..siap-siap maraton
Masitoh Masitoh
Mampir thor
restu s a
mampir thor
Azumi Senja: Makasih kak 🥰
total 1 replies
Azumi Senja
🥰🥰🥰
Ziya Bandung
Makin seruuu nih..pinter banget sih thor 😍
Ziya Bandung
Seruuuuu bangeeetttt 👍
Azumi Senja
Ashiapppp
Ziya Bandung
Lanjuuuut
Sybilla Naura
lanjuuuuttt 😍😍
Sybilla Naura
Semoga Arelion tak amnesia
Azumi Senja: Semoga 🤭🤭
total 1 replies
Sybilla Naura
lanjuuuuuttttt
Sybilla Naura
Tiap bab nya bikin pinisirin 👍
Ziya Bandung
Seruuuuu👍
Ziya Bandung
Suka bangett cerita fantasi kaya gini..🫰🏻🫰🏻
Ziya Bandung
seruuuu😍😍
Sybilla Naura
Sukaa banget cerita dua dunia kaya gini..😍😍
Sybilla Naura
Wahhh..karya baru nih Thor..lanjuuuuuuuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!