Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Arlan menekan tombol bantuan pada panel lift yang tetap padam tanpa aliran listrik sedikit pun. Siska mencengkeram lengan kemeja Arlan dengan jari-jari yang gemetar hebat di tengah kegelapan total. Suara gesekan logam dari atas langit-langit lift menandakan beban yang kini hanya bertumpu pada satu kabel baja.
[Peringatan: Integritas Struktur Kabel Menurun Hingga 15%]
[Saran Sistem: Lakukan Pembukaan Paksa Plafon Darurat Sebelum Mekanisme Rem Darurat Gagal]
Arlan mengarahkan pandangannya ke bagian atas kotak logam yang kini terasa miring. Layar transparan dalam penglihatannya memberikan koordinat tepat mengenai pengait manual yang tertutup lapisan baja tebal.
"Mbak Siska, saya butuh bahu Mbak untuk memanjat," kata Arlan dengan nada suara yang terkontrol.
"Apa yang akan kamu lakukan dalam kondisi gelap gulita seperti ini, Arlan?" tanya Siska dengan suara yang mulai serak.
"Saya sempat menghafal letak tuas manualnya saat kita baru masuk tadi," kata Arlan sambil mulai meraba dinding lift yang kasar.
Siska mengatur posisi kakinya di atas lantai lift yang terasa goyah setiap kali mereka bergerak. Arlan memanjat dengan perlahan sambil menempatkan kakinya di atas bahu Siska yang terbalut blazer kerja. Kedua tangannya meraih pinggiran plafon yang terbuat dari bahan logam dingin.
[Analisis Visual: Titik Lemah Terdeteksi Pada Baut Kiri Depan]
[Instruksi: Berikan Tekanan Sebesar 40 Newton Ke Arah Berlawanan Jarum Jam]
Arlan mengikuti petunjuk visual yang berkedip merah di sudut matanya tanpa keraguan. Ia memberikan tekanan kuat pada bagian pengait menggunakan kekuatan seluruh lengannya. Suara benturan logam bergema di dalam ruang sempit itu saat penutup plafon akhirnya terbuka sedikit.
"Berhasil, sedikit lagi lubang ini akan terbuka sepenuhnya," kata Arlan sambil terus menarik penutup besi itu.
"Hati-hati, Arlan, suara gesekan kabel di atas sana terdengar semakin tajam," kata Siska sambil menahan posisi tubuhnya agar tidak terjatuh.
Arlan berhasil mendorong penutup plafon hingga menciptakan celah yang cukup besar untuk tubuh manusia. Ia segera menarik dirinya ke atas dan duduk di atas atap lift yang dipenuhi oleh kabel-kabel hitam. Cahaya darurat di dalam lorong lift mulai menyala samar-samar, memperlihatkan jurang gelap yang membentang di bawah mereka.
"Cepat berikan tangan Mbak, kita harus keluar sekarang juga sebelum sistem rem otomatis ini lepas," kata Arlan sambil menjulurkan tangannya ke dalam lubang.
Siska meraih tangan Arlan dengan kepanikan yang terlihat jelas di wajahnya yang pucat. Arlan menarik tubuh Siska dengan kekuatan penuh hingga wanita itu berhasil keluar dari kotak lift yang kini bergoyang hebat. Mereka berdua berdiri di atas permukaan logam yang sangat tidak stabil di tengah ketinggian lantai sebelas.
"Kita harus memanjat ke tangga darurat di sisi kiri dinding lorong ini," kata Arlan sambil menunjuk ke arah besi-besi yang tertanam di tembok beton.
"Jaraknya terlalu jauh untuk saya jangkau dengan kaki saya, Arlan," kata Siska sambil menatap ngeri ke arah kedalaman di bawah kaki mereka.
Arlan memeriksa jarak visual menggunakan pemindaian sistem yang memberikan garis proyeksi berwarna biru. Ia menyadari bahwa mekanisme penahan lift baru saja mengeluarkan suara retakan yang sangat keras.
[Peringatan Kritis: Rem Darurat Akan Lepas Dalam 10 Detik]
Arlan segera menarik pinggang Siska dan melompat ke arah tangga besi tepat saat suara dentuman besar terdengar dari arah kabel utama. Lift yang baru saja mereka tinggalkan terjun bebas ke dasar gedung dengan kecepatan luar biasa, menimbulkan suara benturan yang menggetarkan seluruh dinding lorong.
Siska memejamkan mata erat-erat sambil mencengkeram erat anak tangga besi yang mulai terasa licin karena keringat. Arlan memastikan posisi mereka aman dengan satu tangan memeluk Siska agar tidak tergelincir ke bawah.
"Jangan melihat ke bawah, Mbak Siska, kita hanya perlu naik tiga meter lagi untuk mencapai pintu lantai dua belas," kata Arlan dengan suara yang berat.
"Arlan, kamu baru saja menyelamatkan nyawa saya dari kematian yang pasti," kata Siska sambil berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
"Ini belum berakhir, Mbak, sabotase ini pasti melibatkan orang dalam federasi yang memiliki akses kunci fisik," kata Arlan sambil mulai memanjat ke atas.
Arlan mencapai pintu baja di lantai dua belas dan mencoba menarik tuas pembukanya dari sisi luar. Sistem panduan kariernya mendadak berubah warna menjadi merah pekat dan mengeluarkan notifikasi yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
[Peringatan: Terdeteksi Seseorang Sedang Menunggu Di Balik Pintu Ini Dengan Senjata Api]
Arlan menghentikan gerakannya seketika dan menahan napas sambil memberikan isyarat kepada Siska untuk tetap diam. Suara langkah kaki yang berat terdengar sangat dekat dari balik pintu baja yang terkunci itu. Arlan melihat bayangan hitam yang bergerak melalui celah kecil di bawah pintu tepat saat pelatuk senjata ditarik di sisi lain.