Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir, mantan prajurit wanita hebat di dunia kuno, kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad ia bergerak menumpas kejahatan dan zombie.
Sepupu dan tunangan yang selingkuh? Bunuh!
Paman dan Bibi yang licik? Bunuh!
Orang-orang serakah yang berniat jahat? Bunuh!
Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya. Bersama orang-orang kepercayaannya, menaklukkan kota miskin yang terbuang, menciptakan sebuah kota aman yang akan menjadi cahaya dimasa depan. Menciptakan sebuah harapan ditengah-tengah keputusasaan.
Mampukah Elle menciptakan harapan ditengah kehancuran? Atau justru gugur dimakan kejinya akhir dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Kehidupan Lampau
**
Seorang wanita meringsek mundur dengan bahu berdarah, menatap takut pada tiga orang jahat yang menatapnya dengan tatapan kejam, lapar dan senyum gila.
"Ayo! Ayo! Kami butuh makan daging lagi hari ini. Kau yang begitu lembut ini, jangan mundur lagi biarkan kami merasakan nikmatnya dagingmu lagi" Ucapnya dengan lidah yang mengusap bibir, seolah menikmati makanan.
"Hahaha, kakak daging dari kecantikan yang mengguncang negara ini benar-benar enak sekali, manis!" Ucap laki-laki lain seraya tertawa dengan gilanya.
"Slurrp! Kakak pertama, kakak kedua, cepatlah aku sudah tidak sabar. Air liurku hampir menetes. Hehehehe." Laki-laki ketiga tak kalah gilanya.
Ketiga orang ini menatap Ellenoir dengan tatapan lapar, dengan wajah cekung dan gigi kuning, ketiganya maju dengan kedua tangan terangkat seolah akan meraup Elle kapan saja. Menambah ketakutan Elle pada ketiganya.
"Jangan mendekat..." Ucap Elle dengan nada putus asa, air matanya bercucuran, badannya gemetar, terlebih ia sendirian. Adiknya, pengawal dan pengurus rumahnya telah dimakan oleh sekelompok orang jahat ini. Ia disimpan terakhir karena yang lebih enak akan lebih memuaskan jika dimakan terakhir.
Ditangkap, disekap, dan disiksa. Sebagian dagingnya sudah dikikis. Itu adalah bahunya yang saat ini ia pegang. "Aku mohon, lepaskan aku... Jangan makan aku..." Ucap Elle lagi, nadanya bergetar hebat.
"Hehehehe"
"Hahahaha"
"Slurpp hahaha"
"Pegangi dia!" Ucap orang jahat pertama, membuat dua lainnya bergerak cepat mencekal lengan kiri dan kanan Elle membuatnya tidak bisa bergerak. Dengan posisi berlutut, air matanya semakin deras, dan orang jahat pertama maju dengan pisau yang mengkilap setelah diasah.
"Kakak, cepat, cepat, lengannya dulu!" Ucap orang jahat no 2, menyodorkan tangan kanan Elle pada orang jahat pertama.
"Gadis cantik, aku datang!" Pekik orang jahat pertama dengan tawa gilanya, maju dan tangan yang memegang pisau terulur---
"ARGH!!!"
"Nona? Apa kabar? Apa kau mimpi buruk lagi?" Tanya gadis kecil yang berlari ke samping tempat tidur Elle.
Elle yang barusaja bangun dari mimpi buruknya, terduduk dengan keringat mengucur, badan gemetar dan nafas terengah. "Beri aku air.." Bisiknya hampir tak terdengar, membuat pelayannya dengan cepat membawakannya.
"Kau baik-baik saja, nona? Apa perlu aku panggilkan tabib?" Tanya pelayannya.
Elle menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, aku baik-baik saja, ayo bersiap mengunjungi ayah." Ucapnya. Setelah bertahun-tahun, mimpi buruk yang sama, meski ia selalu kelelahan setiap bangun, tapi sejauh ini ia sudah bisa mengatasinya, mengatasi mimpi buruk yang juga kenyataan dari dunianya yang asli. Sudah 5 tahun sejak ia menyeberang ke dunia kuno. Ketahanan mental dan pikirannya juga lebih kuat.
**
"Tuan Darson, pelantikan nona Ellenoir akan digelar besok, tidakkah tuan ingin menghabiskan waktu lebih dulu dengan putrimu itu sebelum ia berganti jabatan?" Tanya sang asisten pada sang komandan kompi yang sudah beberapa tahun ini pensiun dan menjadi pejabat biasa yang tidak mencolok.
"Tidak perlu, Elle akan datang nanti. Dia sudah mengirimkan surat lewat merpati pos kemarin padaku. Siapkan saja jamuan makan sederhana yang biasa kita lakukan. Elle tidak suka hal yang berlebihan." Ucap tuan Darson seraya mengibaskan tangannya pada sang asisten, membuatnya menganggukkan kepala mengerti, kemudian undur diri dari hadapan sang tuan.
Elle adalah putri semata wayangnya yang ditinggalkan sang istri, kepribadiannya selalu lembut dan lembut. Tapi hanya dalam beberapa tahun ia bahkan bisa naik ke jabatan jenderal.
Darson tersenyum kecil menatap potret lukisan yang menunjukkan Elle dan sang istri yang paling dicintainya. Ia sangat merindukan keduanya, khususnya sang istri yang sudah lebih dulu meninggalkannya di dunia tersebut sendirian.
Elle selalu menjadi kebanggan Darson, kapanpun dam dimanapun ketika ada kesempatan memamerkannya, ia akan memamerkan sang anak dihadapan para teman dan koleganya. Cinta dan kasihnya benar-benar besar pada Elle, sampai-sampai di beberapa kesempatan, Darson tak kuasa menahan tangis ketika ia melihat Elle.
"Sayang, putri kita sudah dewasa sekarang. Ia bahkan mampu melampaui ayahnya ini. Kau juga pasti bangga padanya kan?" Gumamnya seraya mengusap lembut potret sang istri.
Ia hanya komandan kompi dulu, dan sekarang hanya pejabat biasa. Rintangan yang dilalui keduanya jelas tidak biasa, keduanya kesulitan karena jegalan banyak orang yang tidak suka Elle bersinar. Dengan posisi ayahnya yang hanya sekedar pejabat no 7 itu, hanya satu tingkat diatas pejabat no 8 yang paling rendah.
Elle benar-benar berjuang diatas kakinya sendiri. Dan Darson hanya bisa mendukung Elle sepenuh hati, sepenuh tenaga, dan sepenuh hartanya yang tidak banyak itu. Meski ia tahu, jika Elle saat ini bukan Elle yang sebenarnya.
"Ayah, apa yang kau pikirkan? Bukankah kau merindukan putri kecil kesayanganmu ini? Ayo, ayo, luapkan kasih sayangmu padaku." Ucap Elle seraya tersenyum lebar menatap sang ayah yang hanya melamun menatapnya dengan lembut.
Darson tersadar, lantas tersenyum dengan tulus. Elle sudah didepannya saat ini, makan bersama dan mengobrol bersama. Ia bahkan mengeluarkan candaan lembut itu lagi untuk meluluhkan hatinya.
"Apa kau nyaman dengan kenaikan jabatan ini?" Tanya Darson lembut.
"Tentu saja! Bukankah ini yang kita impikan bersama? Aku bisa sekalian mewujudkan mimpi ayah, hehehe. Bagaimana ayah, apakah aku hebat dimatamu?" Tanya Elle tertawa bodoh didepan sang ayah.
Darson juga tertawa, "Hebat! Hebat! Elle yang paling hebat! Kalau begitu selamat kepada calon jenderal masa depan ini? Ayo minum satu gelas bersama mantan prajurit ini?" Ucapnya seraya mengangkat satu gelas wine, dengan nada dibuat bercanda.
"Ya, ya, ya, ayo minum! Terimakasih ayah, ini berkat dukungan dan doamu. Elle sayang sekali pada ayah!" Ucap Elle tertawa, dengan suara lembut ia memasang wajah manis hingga kedua matanya menyipit membuat sang ayah gemas melihatnya.
Meski Elle sering terlihat tidak bagus dihadapan semua orang diluar, karena citranya yang dikenal kejam, tapi dirumah ini, dihadapan Darson ia tetap akan memasang wajah, suara, dan sifat manja khas bayi kecil perempuan, tidak pernah melupakan siapa dirinya yang sebenarnya.
"Baiklah, ayah... Kau sudah mabuk ayo pergi istirahat. Besok kau harus menemaniku pelantikan!" Ucap Elle setelah beberapa saat keduanya menghabiskan beberapa gelas anggur.
"Hehe, baiklah, tapi apa ayah bisa bertanya satu hal padamu?" Tanya Darson tidak jelas, ia benar-benar sudah mabuk saat ini.
"Apa itu ayah?" Tanya Elle yang masih sadar.
"Putri kecilku, bagaimana keadaannya sekarang?" Gumamnya dengan kepala yang terbaring dimeja, setengah sadar menatap Elle dengan mata menyipit.
Elle tertegun. "Ayah, kau... tahu?" Tanyanya pelan.
"Tentu saja... Bagaimanapun perubahan sebesar ini terjadi. Tapi kau tetap putriku, hehehe... Putriku yang baik. Hanya saja... Eghk, ayah merindukan putri ayah, Ellenoir." Gumamnya lagi, meski tidak jelas tapi Elle dapat memahaminya dengan sangat baik.
Setelah itu, Elle memanggil asisten sang ayah agar membawanya kembali ke kamar untuk beristirahat. Meninggalkan Elle sendirian di meja yang masih terdapat setengah makanan dan beberapa botol anggur lagi.
Elle banyak berpikir saat ini. Ia tertegun sekaligus terkejut. Karen ternyata sang ayah selama ini tahu jika dirinya bukan Elle yang asli. Tapi, sejak kapan ia tahu? Mungkinkah sejak ia datang 5 tahun lalu? Pikirnya sedih.
Elle merasa sangat tidak nyaman. Hatinya sakit, memikirkan sang ayah yang benar-benar sudah ia anggap ayah sendiri tahu kenyataan tapi bahkan tidak mengungkapkan satu fakta pun. Apakah ia kesulitan menghadapi dirinya selama ini? Mungkinkah ketika ia bepergian selama beberapa bulan itu ia menghindarinya agar ia menjadi lebih tenang dan ikhlas?
Oh, ayahnya malang sekali. Harus menanggung kesedihan, kesepian, dan fakta yang membuatnya kehilangan sendirian. Elle mulai meneteskan air mata, ia benar-benar terlalu nyaman berperan sebagai Elle, sampai tidak sadar jika sang ayah sudah tahu fakta aslinya.
Memang benar. Ia bukan orang dari dunia ini. Ia adalah Elle yang datang dari dunia modern yang sedang hancur. Kehancuran didunia modern itu membuat Elle yang hanya punya satu adik terpisah berjuang sendirian di kerasnya dunia hancur.
Akhir dunia. Bencana alam, mayat hidup (zombie), dan evolusi serta mutasi benar-benar terjadi disana. Elle datang ke dunia yamg sekarang ia tinggali setelah kalah dari serangan zombie level 5 di tahun kedua dunia hancur. Ia bahkan belum sempat menemukan sang adik, tapi kemudian mati ditangan zombie.
Tapi ia tidak benar-benar mati. Ia datang ke dunia yang penuh kehangatan ini dengan kekuatan besar mengikuti, atas kompensasi perjalanan waktunya. Kekejaman yang ia bawa dari dunia modern yang hancur juga menjadikannya seorang prajurit wanita pertama.
Dengan dukungan hangat sang ayah dan adik laki-laki yang selama ini ia rindukan. Keduanya ada disini, jadi meski ia menolak pun pada akhirnya ia kalah oleh kehangatan semu ini.
"Kakak! Aku datang, dimana ayah? Kenapa tidak memanggilku lebih awal sih?!" Ucap Darron dengan raut kesal khasnya. Datang dengan nafas terengah, jelas ia berlari mengejar waktu.
Elle tersadar, segera mengusap air matanya. "Oh, ayah bilang kau sedang melakukan perjalanan ke selatan! Aku mana tahu kau sudah pulang. Dasar bocah kecil, apakah lagi-lagi kau datang tanpa beristirahat?" Tanya Elle menyelidik.
"Ugh ya... Jangan salahkan aku. Bukankah aku hanya ingin makan bersama kalian! Kapan lagi waktu bersama ini bisa kita rasakan, hm? Apalagi kau akan menjadi jenderal besok. Pasti lebih jarang berada dirumah nanti, kan?!" Ucap Darron seraya mendengus sebal.
Elle tertawa kecil."Baiklah, baiklah, meski sudah jadi jenderal bukankah aku akan tetap meluangkan waktu untuk bocah kecil si pengatur ini? Oh tentu saja untuk ayah tersayang kita, aku akan lebih banyak menemaninya dimasa tua!" Balas Elle seraya tertawa, tak lupa tangannya juga dipakai untuk mengacak rambut Darron.
Hal inilah, yang membuat Elle menikmati identitas barunya. Ayah dan adiknya ada disini, meski sang ibu telah tiada. Tapi kasih sayang Darson juga sang adik yang 99% mirip adiknya yang asli didunia sana membuat Elle juga terbuka hatinya.
Hanya saja, sang ayah, Darson ternyata sudah tahu faktanya sejak lama. Memikirkan hal ini, ia berniat menemuinya besok sebelum pelantikan untuk memberinya penjelasan.
"Kak! Kau dengar tidak? Aku bertanya, ayah dimana, kenapa kau makan sendirian?" Tanya Darron dengan kening berkerut.
"Baiklah, ayah sudah mabuk, pamanmu Gan sudah membawanya kembali ke kamar. Kau terlambat satu langkah!" Ucap Elle menggoda sang adik dengan menaikkan kedua alisnya.
"Aiya, apakah kemampuan minumnya menurun? Aku rasa paman Gan sebelumnya mengatakan jika jamuan makan baru setengah jam ini mulai." Ucap Darron bingung.
"Ayah terlalu senang kali ini. Biarkan saja, besok masih bisa berkumpul. Kau cepatlah makan lalu istirahat, besok masih harus bangun pagi menemaniku." Ucap Elle akhirnya. Dan Darron yang memang belum makan pun mulai melahap makanan yang ada dimeja.
Elle tersenyum lembut menatapnya.
**