Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.
"Gus Hilman!"
Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.
Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Setelah prosesi akad nikah yang penuh ketegangan itu selesai, suasana sedikit mencair saat keluarga besar berkumpul di meja makan untuk menikmati hidangan syukur. Meskipun sudah sah menjadi suami istri, kecanggungan masih menyelimuti Hilman dan Nayla (Keyla).
Sesuai kesepakatan, Hilman akan tinggal sementara di rumah Pak Lurah karena Nayla bersikeras belum mau pindah ke lingkungan pesantren yang ketat.
Di tengah-tengah acara makan bersama yang dihadiri Abah Kiai, Umi, dan Arkan, tiba-tiba ponsel Nayla yang diletakkan di atas meja berdering nyaring. Layarnya menyala terang, menampilkan panggilan video (VC) dengan nama kontak yang sangat mencolok: "Sayangku 💋"..
Suasana meja makan mendadak hening. Semua mata tertuju pada ponsel itu, terutama mata tajam Pak Lurah dan tatapan teduh namun dalam milik Abah Kiai. Hilman yang sedang memegang sendok seketika membeku. Ia tahu betul siapa itu—Rian, pacar kota Nayla yang sempat ia dengar suaranya kemarin.
"Nayla, siapa itu?" tanya Pak Lurah dengan nada suara yang mulai meninggi, menahan malu di depan keluarga besarnya.
Nayla panik. Sifat hyper-nya mendadak berubah menjadi kegugupan yang luar biasa. Ia mencoba meraih ponselnya, tapi Arkan lebih cepat. Arkan mengambil ponsel itu dan melihat layarnya.
"Rian? Pacar kamu yang di Jakarta itu?" tanya Arkan dengan nada menyelidik, menatap adiknya dengan kecewa.
Gus Hilman meletakkan sendoknya pelan. Ia menatap Nayla yang kini wajahnya pucat pasi. Sebagai suami, ada rasa panas yang menjalar di dadanya—rasa cemburu yang sah, namun ia mencoba tetap tenang di depan para orang tua.
"Angkat saja, Mbak," ucap Hilman pelan namun berwibawa. "Jelaskan padanya bahwa sekarang Mbak sudah punya tanggung jawab baru."
Nayla gemetar. Dengan tangan yang berkeringat, ia menggeser tombol hijau. Layar menampilkan wajah Rian yang tampak ceria di sebuah kafe.
"Sayang! Kok lama banget diangkatnya? Kamu lagi apa? Aku kangen ban—" ucapan Rian terhenti saat ia menyadari latar belakang video Nayla bukan di kamar, melainkan di meja makan yang ramai dengan orang-orang berbaju koko dan sarung.
"Rian... stop," potong Nayla dengan suara mencicit.
"Lho, itu siapa di samping kamu? Kok cowoknya pake peci gitu? Terus kenapa kamu pake kebaya putih?" tanya Rian bingung, wajahnya mulai berubah tegang.
Hilman kemudian menggeser duduknya sedikit mendekat ke arah Nayla, hingga bahu mereka bersentuhan dan ia masuk ke dalam frame kamera. Ia menatap Rian melalui layar ponsel itu dengan tatapan yang sangat tenang namun penuh kuasa.
"Assalamu’alaikum, Mas Rian," sapa Hilman tenang. "Mohon maaf mengganggu waktunya. Saya Hilman, suami sah dari Nayla. Mulai malam ini, saya harap Mas tidak menghubungi istri saya lagi dengan panggilan seperti itu."
Rian di seberang sana melongo, ponselnya hampir jatuh. "Su-suami?! Nay, kamu bercanda kan?!"
Nayla hanya bisa menunduk, tak berani menatap layar maupun suaminya. Hilman kemudian mengambil alih ponsel itu dari tangan Nayla dan mematikan panggilannya.
"Masalah ini sudah selesai," ucap Hilman sambil meletakkan ponsel itu kembali, namun kali ini dengan posisi layar menghadap ke bawah. Ia lalu menatap Nayla. "Nanti kita bicara di kamar, ya... Istriku."
Mendengar kata "Istriku" keluar dari mulut Hilman yang biasanya kaku, Nayla merinding. Ia sadar, Gus Hilman yang ini tidak bisa lagi ia main-mainkan seperti kemarin.