Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wasiat Yang Terpendam
Ria berdiri mematung di tengah ruangan itu. Bau cat minyak yang khas dan debu yang menari di bawah sinar matahari memberikan kesan magis yang tidak pernah ia duga akan ditemukan di rumah ini. Matanya terpaku pada satu lukisan di sudut ruangan; sebuah potret dirinya dari belakang, sedang berdiri di balkon saat gerimis.
"Aku ingat hari itu," bisik Ria. "Itu adalah bulan keenam pernikahan kita. Kau baru saja membatalkan makan malam karena alasan pekerjaan, dan aku berdiri di sana cukup lama, merasa sangat kecil."
Arya berdiri di belakangnya, namun tetap menjaga jarak agar Ria tidak merasa terintimidasi. "Dan aku berdiri di balik pintu itu, Ria. Melihatmu selama hampir satu jam. Aku ingin memelukmu dari belakang, tapi hatiku terlalu kaku. Sebagai gantinya, aku datang ke ruangan ini dan menumpahkan semuanya ke kanvas ini."
Ria menoleh, menatap Arya dengan sisa-sisa air mata yang kini bukan lagi karena kesedihan, melainkan karena rasa lega yang membingungkan. "Kenapa kau memberitahuku sekarang? Kenapa tidak dulu, saat aku hampir menyerah pada hidup?"
"Karena dulu aku pikir aku punya waktu selamanya untuk terus bersikap angkuh," jawab Arya jujur. "Kematianmu yang hampir terjadi adalah tamparan paling keras. Aku sadar, semua lukisan ini tidak akan berarti apa-apa jika objeknya sudah tidak ada di dunia ini."
Arya kemudian berjalan ke arah meja kerja di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah palet warna yang masih bersih dan sebuah kuas baru. Ia menyerahkannya kepada Ria.
"Masa lalu kita adalah kanvas yang sudah penuh dengan coretan hitam, Ria. Aku tidak bisa menghapusnya. Tapi ruangan ini... dan hari ini... adalah kanvas baru. Aku ingin kita melukisnya bersama. Tanpa ada lagi rahasia, tanpa ada lagi dinding."
Ria menerima kuas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menatap kanvas kosong yang sengaja disiapkan Arya di tengah ruangan. Selama ini, hidupnya selalu ditentukan oleh warna yang dipilihkan orang lain—ayahnya, lalu Arya. Namun kini, ia memegang kendali atas warnanya sendiri.
Ia mencelupkan kuas itu ke warna biru cerah—warna langit setelah badai. Dengan perlahan, ia membuat satu goresan di tengah kanvas putih itu.
Arya tersenyum. Ia mengambil kuas lain, mencelupkannya ke warna emas, dan membuat goresan tepat di samping goresan Ria.
"Waktu yang kau tagih dariku sebagai sisa utang biaya operasi..." bisik Ria tanpa menoleh. "Aku akan membayarnya di sini. Di ruangan ini."
Arya merasakan napasnya tertahan. Itu adalah pernyataan perdamaian yang paling indah yang pernah ia dengar. "Aku akan menunggunya, Sayang. Sebanyak apa pun waktu yang kau butuhkan untuk melunasi 'utang' itu, aku tidak akan pernah pergi."
Sore itu, mereka tidak keluar dari ruangan itu. Tidak ada pembicaraan tentang perusahaan, tidak ada perdebatan tentang uang, dan tidak ada bayang-bayang Clara. Hanya ada suara gesekan kuas dan tawa kecil yang sesekali muncul saat Arya dengan ceroboh meneteskan cat di lantai.
Untuk pertama kalinya, Ria merasa rumah ini bukan lagi penjara emas. Meskipun rambutnya masih tipis dan tubuhnya masih harus dipantau medis, ia merasa jiwanya mulai tumbuh kembali.
Ia menyadari bahwa kesembuhan yang sesungguhnya bukan terjadi saat ia bangun dari koma, melainkan saat ia mampu melihat luka di masa lalunya dan memutuskan untuk tidak lagi membiarkan luka itu mendikte masa depannya.
Saat matahari mulai terbenam, memberikan semburat warna oranye di dalam studio rahasia itu, Ria menyandarkan kepalanya di bahu Arya. Bukan karena ia lemah, tapi karena ia akhirnya menemukan tempat yang aman untuk bersandar.
Namun, kedamaian mereka terusik saat pengacara keluarga Arya datang membawa surat wasiat lama dari almarhum ibu kandung Arya yang selama ini disembunyikan oleh ibu tirinya.
Kedamaian di studio lukis itu pecah ketika seorang pria tua berwajah kaku dengan tas kerja kulit asli berdiri di ruang tamu. Pak Baskara, pengacara kepercayaan keluarga besar Arya sejak mendiang ibu kandungnya masih hidup. Kehadirannya yang tiba-tiba selalu membawa kabar besar, dan kali ini, raut wajahnya lebih serius dari biasanya.
Arya dan Ria menemui Pak Baskara di ruang tengah. Ria duduk di sofa dengan anggun, meski tangannya masih terasa sedikit gemetar. Ia bisa merasakan ketegangan yang memancar dari tubuh Arya yang duduk di sampingnya.
"Saya minta maaf mengganggu masa pemulihan Nyonya Ria," buka Pak Baskara sambil mengeluarkan sebuah amplop tua berwarna gading yang segelnya sudah mulai rapuh. "Namun, ada sebuah amanah yang selama ini tertahan oleh pihak-pihak tertentu. Sekarang, setelah Nyonya Ria melewati masa kritis, saya rasa waktu yang ditentukan oleh mendiang Ibu Sofia telah tiba."
Arya mengerutkan kening. Ibunya, Sofia, meninggal saat ia masih remaja. "Amanah apa? Kenapa baru sekarang?"
"Ibu tirimu, Nyonya Soraya, selama ini menahan dokumen ini dengan kekuatan hukum dari ayahmu. Namun, ada satu klausul dalam wasiat ini: 'Dibuka saat pewaris utama menemukan seseorang yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri, atau saat sang pewaris hampir kehilangan nyawa tersebut.'" Pak Baskara menatap Arya dan Ria bergantian. "Kejadian di rumah sakit kemarin memenuhi syarat itu."
Dengan tangan gemetar, Arya membuka amplop tersebut. Di dalamnya terdapat selembar surat tulisan tangan dan sebuah sertifikat kepemilikan aset yang sangat besar—sebuah yayasan dan tanah luas di pinggiran kota yang selama ini dianggap Arya telah dijual oleh ayahnya.
"Untuk putraku, Arya... Jika kau membaca ini, artinya kau telah memahami bahwa kekuasaan dan uang tidak bisa membeli detak jantung orang yang kau cintai. Aku meninggalkan tanah di Bukit Harapan untukmu dan istrimu. Bukan sebagai aset bisnis, tapi sebagai tempat perlindungan bagi wanita-wanita yang kehilangan suaranya, seperti aku dulu. Aku ingin istrimu yang mengelolanya, karena aku tahu kau akan memilih wanita dengan jiwa yang sama kuatnya denganku."
Ria membaca surat itu dengan mata berkaca-kaca. Ibu kandung Arya ternyata sudah memprediksi bahwa Arya akan tumbuh menjadi pria yang kaku dan mungkin menyakiti istrinya, persis seperti ayahnya dulu. Wasiat ini bukan sekadar harta, tapi sebuah kebebasan.
Aset yang ditinggalkan atas nama istrinya Arya itu sangat besar, cukup untuk membuat Ria menjadi wanita mandiri yang tidak perlu bergantung sepeser pun pada harta Arya.
"Ibu mertuaku... dia memberiku ini?" bisik Ria tak percaya.
"Bukan hanya itu," tambah Pak Baskara. "Tanah itu adalah lokasi yang selama ini diincar oleh Nyonya Soraya dan ayahmu untuk proyek apartemen mereka. Dengan dokumen ini, Nyonya Ria memegang kendali penuh atas masa depan bisnis mereka. Anda punya kuasa untuk menghentikan mereka, atau menghancurkan mereka."
Arya menatap Ria. Ia menyadari bahwa sekarang posisi mereka benar-benar berbalik. Dengan wasiat ini, Ria punya kekuatan hukum untuk meninggalkan Arya dan hidup sangat mewah tanpa bantuan siapa pun. Ria kini memiliki pedang untuk membalas perbuatan Soraya yang dulu menghancurkan ibu Arya, sekaligus perbuatan Arya yang pernah mengabaikannya.
Arya menunduk, suaranya parau. "Ibu tahu aku akan melakukan kesalahan, dan dia memberimu jalan keluar dariku, Ria. Sekarang... semua keputusan ada di tanganmu. Kau punya kekuatan untuk menghancurkan Soraya, dan kau punya alasan untuk pergi dariku dengan kepala tegak."
Ria menyentuh kertas wasiat itu. Ia melihat ke arah Arya, lalu ke arah surat dari almarhum mertuanya. Sebuah senyum tipis yang sulit diartikan muncul di wajahnya.
"Almarhum Ibu ingin melindungi wanita yang kehilangan suaranya," ucap Ria pelan namun tegas. "Dan orang pertama yang harus aku lindungi dari ketidakadilan... adalah diriku sendiri. Tapi Mas, aku tidak akan menggunakan ini untuk melarikan diri."
Ria menatap tajam ke depan, seolah sudah melihat rencana besar di kepalanya. "Aku akan menggunakan ini untuk memastikan Soraya tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Dan untukmu, Mas... anggap saja ini adalah 'jaminan' agar kau tidak berani macam-macam lagi padaku."