Berdasarkan kisah nyata.
Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.
Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?
SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!
Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SOSOK ANAK KECIL
Aku segera beranjak meninggalkan area perkebunan, setelah kurasa cukup untuk mengingat kerja keras bapak dalam menghidupiku. Kukayuh sepedaku, sambil berpamitan pada semua orang yang ada di sana.
Setelah beberapa saat, aku masuk ke area pemakaman desa. Teringat kembali apa yang kualami setahun lalu. Di mana aku masuk dan menjelajah dimensi ghoib untuk mencari jiwa bapak yang ditahan.
"Assalamu'alaikum Yaa Ahlul Qubur..." ucapku. Aku teringat selalu dengan ajaran Ustadz Furqon agar mengucapkan salam saat melewati area pemakaman umum. Karena itu adalah do'a untuk mereka yang sudah tiada. Siapapun orangnya yang ada dalam makam tersebut.
Tak lama dari itu, aku berhenti. Ada satu sosok anak kecil di pinggir jalan, terduduk bersandar ke tembok pembatas area makam dengan jalan umum yang kulewati ini. Wajahnya pucat pasi, baju yang digunakannya sobek di beberapa bagian, dan terlihat banyak darah di tangan dan kakinya itu. Aku langsung tahu, sosok anak kecil itu bukanlah manusia. Tapi aku tidak lagi merasa kaget atau takut. Karena selama setahun ke belakang ini pun, aku semakin terbiasa melihat segala wujud makhluk dari bangsa lelembut.
Sosok anak kecil itu duduk sambil menangis pilu. Tangisan yang seperti seorang anak kehilangan keluarga yang paling dicintai. Aku menoleh ke sekitar. Mencoba memastikan tidak ada seorang pun yang lewat.
"Hiks hiks... Huhuhuuu... Huhuuu... Hiks hiks hiks..." tangisannya terdengar menyayat hatiku.
"Assalamu'alaikum Yaa Rijalul Ghoib..." ucapku sebagai kalimat pembuka untuknya. "Kamu kenapa?" tanyaku kemudian.
Sosok anak itu menoleh ke arahku dengan tatapan kosong dan wajah pucat pasinya. Dia tak menjawab salamku. Beberapa detik dia terus menatapku dengan tangisan yang mulai mereda.
"Aku... Hiks hiks... Kangen Ibu... Kangen Bapak... Hiks hiks..." katanya.
"Kemana Ibu sama Bapakmu?"
"Masih ada..." jawabnya singkat.
"Masih hidup maksud kamu?"
"I... Hiks hiks... Iyaaa..."
"Terus kenapa kamu nangis?"
"Ibu sama Bapak udah gak sayang aku lagi... Hiks hiks..."
"Kenapa? Pasti mereka do'akan kamu kok..." jawabku. Masih posisi berdiri di tengah jalan sambil memegangi sepedaku.
"Enggak... Udah lama Ibu sama Bapak gak datang..."
"Kemana mereka?" tanyaku.
"Mereka sudah punya anak baru..." jawabnya.
"Alhamdulillah... Berarti kan kamu punya adik yang masih hidup. Nanti juga pasti orang tuamu datang ke sini lagi. Nengokin kamu. Do'akan kamu." jelasku.
"Udah lama... Aku sendirian di sini..." tatapan matanya semakin kosong, menatap kedua mataku.
"Kamu kesepian?" tanyaku.
"I... Iyaaa..."
"Mau Kakak do'akan kamu Dek? Siapa namamu?"
"Namaku Gilang..."
"Ya udah, Kakak do'akan kamu ya Dek Gilang... Jangan sedih lagi ya... Kamu gak sendirian sekarang." kataku sambil tersenyum kepada sosok anak ghoib itu.
Aku langsung menuntun sepeda, menyandarkannya ke tembok pembatas area makam, dan aku duduk sebentar di sampingnya. Tercium olehku bau anyir darah kering dari tubuhnya. Kubacakan do'a untuknya. Lalu sosok anak itu terlihat tersenyum bahagia mendengar do'aku.
"Sudah... Jangan sedih lagi ya Dek Gilang..." ucapku sambil mengusap kepalanya itu.
Sosok anak itu menatap ke arahku yang duduk di sampingnya. "Kakak bisa lihat aku?"
Aku tersenyum. "Iya... Kakak bisa lihat kamu." jawabku.
"Kakak gak takut sama aku?" tanyanya.
"Enggak kok, Insyaa Alloh Kakak udah gak takut lagi."
Sosok anak itu kembali tersenyum. Meskipun di wajahnya ada bercak darah. Tapi terasa tulus senyumnya padaku. "Terima kasih ya Kak."
"Sama-sama Dek Gilang. Ya sudah, Kakak pulang dulu ya..."
"Jangan pulang Kak..."
"Kenapa?"
"Temenin aku di sini... Aku kesepian Kak..."
"Kakak gak bisa temani kamu di sini Dek Gilang. Kita berbeda dimensi sekarang." jawabku sambil menyentuh tangan sosok itu, dengan darah kering menempel di telapak tangannya.
"Kalo aku ikut Kakak, boleh?" tanyanya.
"Maaf ya Dek, kamu gak boleh ikut sama Kakak. Ya sudah, Kakak pamit ya..."
Aku segera beranjak berdiri, mengambil lagi sepedaku, dan segera berjalan sambil menuntun sepeda sampai di ujung batas area pemakaman itu. Aku sama sekali tak menoleh ke belakang, walaupun sosok anak itu beberapa kali memanggilku.
Karena aku tahu, jika aku menoleh apalagi sampai berhenti lagi, itu bagaikan sebuah undangan baginya untuk ikut denganku. Meski dalam hati kecilku, aku merasa kasihan. Walau dia adalah sosok anak yang ghoib.
Singkat cerita, aku sampai di rumah. Tampak bapakku terbaring di atas kasurnya. Di dekatnya ada dua buah tongkat untuk membantunya berjalan. Didapatkan dari sumbangan para warga yang merasa iba dengan kondisi bapakku itu.
Sebenarnya, bapak sudah bisa bicara dan komunikasi denganku dan orang lain yang datang berkunjung. Wajahnya pun sudah terlihat normal. Tak ada tanda-tanda sakit atau apapun itu.
Tapi... Kedua tangan dan kakinya yang menghitam... Tak bisa digerakkan dengan normal. Jika digerakkan tampak seperti orang yang hampir terkena struk. Bahkan hampir lumpuh.
"Assalamu'alaikum... Nisa udah pulang dari pasar Pak." ucapku sambil berdiri di depan pintu kamarnya.
"Wa'alaikumsalam... Alhamdulillah..." jawabnya sambil menggerakkan kepala menoleh ke arahku.
"Nisa barusan beli ikan lele, sama ikan salem, Bapak mau ikannya di goreng aja atau di masak lain?" sambil sedikit ku angkat kantong kresek yang berisi ikan itu.
"Terserah kamu aja Nis. Mau digoreng ya pasti Bapak suka, mau dimasak lain juga ya pasti Bapak makan kok. Hehehe..." jawabnya sambil menyeringai tertawa tipis.
"Ya udah, biar cepet, ikan salemnya Nisa goreng aja ya. Nanti ikan lelenya dimasak pepes aja. Buat besok lagi."
"Iya Nis... Gak apa-apa..."
Aku beranjak ke dapur. Kukeluarkan semua belanjaanku. Dan segera kubersihkan ikan salem dan ikan lelenya. Sebagian ku taruh dalam kulkas. Supaya tidak bau dan lebih awet untuk hari esok dan lusa.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa punya kulkas juga." gumamku dalam hati sambil menaruh ikan lele dan sebagian sayuran yang sudah kubersihkan.
Kulkas dan beberapa perabotan lain termasuk masih baru. Kudapatkan dari hasil jerih payahku mengajar mengaji. Ditambah juga dengan tabungan bapak selama masih bisa bekerja. Dan memang aku gunakan uang tabungan itu atas perintah bapak juga. Aku tak pernah berani ambil walau hanya seribu rupiah pun tanpa sepengetahuan bapakku.
Aku kembali mempersiapkan bahan masakan. Sayuran kupotong kecil-kecil untuk kubuat sop, dan ikan salem kubumbui sederhana saja.
"Hihihihi..."
Aku sedikit kaget saat mendengar suara tawa anak kecil di belakangku. Sontak aku pun menoleh. Tapi tak ada siapa-siapa.
Aku kembali melanjutkan membumbui ikan lele. Dan suara tawa anak kecil itu muncul lagi. "Hihihi... Hihi..."
Aku akhirnya menunda menyiapkan bahan masakan. Aku berjalan perlahan. Sampai aku melihat ke arah ruang tamu.
Dan ternyata...
Sosok anak kecil yang tadi kutemui di area pemakaman, sedang duduk di kursi kayu ruang tamuku.
"Yaa Alloh... Ngapain kamu ikut Kakak?"