NovelToon NovelToon
Kiandra Dan Tara

Kiandra Dan Tara

Status: tamat
Genre:Keluarga / Teman lama bertemu kembali / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.

Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.

Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**

Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.

Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Canggung

Tiga Orang dengan Masa Lalu Pahit

Ruangan itu tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menampung kenangan yang terlalu penuh.

Aula sekolah lama mereka sudah direnovasi—dinding dicat ulang, lampu diganti lebih terang, kursi disusun rapi. Tapi bagi Kia, tempat itu tetap terasa sempit. Bukan karena ukurannya, melainkan karena masa lalu yang seakan menempel di setiap sudut.

Ia berdiri agak jauh dari kerumunan, memegang segelas air mineral yang belum disentuh sejak tadi. Matanya sesekali menyapu ruangan, bukan untuk mencari siapa pun, tapi justru untuk memastikan ia tidak terlalu lama menatap satu wajah tertentu.

Tara.

Tara duduk di seberang ruangan, berbincang pelan dengan dua orang teman lama. Sikapnya tenang, senyumnya sopan—tidak berlebihan, tidak mencolok. Kia memperhatikan perubahan itu tanpa sadar. Tidak ada lagi sorot mata penuh tantangan, tidak ada gestur defensif seperti dulu. Tara terlihat… matang. Dan entah kenapa, itu membuat dada Kia terasa aneh.

Daffa berdiri di tengah-tengah mereka. Secara harfiah dan emosional.

Ia berbicara dengan beberapa alumni, tertawa ringan, tapi matanya beberapa kali melirik ke arah Kia dan Tara secara bergantian. Seolah memastikan keduanya masih berada di orbit yang sama, meski berjauhan.

“Lo nggak nyesel datang?” tanya seorang teman lama Kia, mencoba membuka obrolan.

Kia mengangkat bahu. “Belum tahu.”

Temannya tertawa. “Lo masih sama, ya. Jawabannya selalu menggantung.”

Kia tersenyum tipis. Dalam hatinya, ia ingin menjawab jujur:

*Gue datang karena gue pengen tahu apakah gue masih sakit kalau lihat mereka.*

Dan jawabannya—ternyata iya. Tapi tidak sesakit yang ia kira.

Acara berjalan dengan alur yang membosankan: sambutan, foto bersama, nostalgia yang dipaksakan. Nama-nama disebut, kenangan lama dibangkitkan, seolah masa lalu bisa dibingkai rapi dan disimpan tanpa luka.

Lalu tibalah bagian yang tidak tercantum di rundown.

“Kita foto per kelas, ya!” seru panitia.

Kia menegang.

Tara juga.

Mereka bergerak bersamaan, tapi berhenti hampir di waktu yang sama saat menyadari posisi mereka akan bersebelahan.

Canggung.

Terasa oleh siapa pun yang berdiri cukup dekat.

Daffa melangkah maju, berdiri di antara mereka secara alami, seperti dulu. “Santai aja,” katanya pelan, cukup untuk mereka bertiga. “Ini cuma foto.”

“Kadang hal kecil justru yang paling berat,” jawab Kia lirih, tanpa menatap siapa pun.

Tara mendengarnya.

Dan untuk pertama kalinya, Tara tidak membalas dengan pembelaan. Ia hanya mengangguk kecil, menerima.

Kamera berbunyi.

Klik.

Satu momen terekam—tiga orang dengan jarak yang tidak terlalu dekat, tapi juga tidak sejauh dulu.

Setelah itu, acara bubar perlahan. Orang-orang mulai berpamitan, bertukar nomor, membuat janji yang mungkin tidak akan ditepati.

Kia mengambil tasnya, berniat pulang tanpa banyak drama.

“Ki,” panggil Daffa.

Kia berhenti.

Tara juga berhenti melangkah.

Daffa menatap mereka berdua. “Gue tau ini nggak nyaman. Tapi… mau minum kopi bentar?”

Kia refleks ingin menolak.

Tara lebih cepat bicara. “Kalau Kia nggak keberatan.”

Nada suaranya rendah. Hati-hati.

Semua mata kini tertuju pada Kia.

Ia menghela napas panjang. “Satu jam.”

Daffa tersenyum lega. “Deal.”

---

Kafe itu tidak jauh dari sekolah.

Tempat sederhana, dengan musik pelan dan lampu kuning hangat. Ironis—tempat seperti itu seharusnya menenangkan, tapi justru membuat emosi lebih mudah keluar.

Mereka duduk bertiga.

Tidak ada yang langsung bicara.

Daffa memesan minuman, memberi mereka waktu.

Akhirnya, Tara memecah keheningan. “Terima kasih… karena mau datang.”

Kia mengangguk singkat. “Gue nggak janji apa-apa.”

“Aku nggak minta janji,” jawab Tara. “Aku cuma… nggak mau lari lagi.”

Kata *lari* itu menampar sesuatu di kepala Kia.

“Kita semua pernah lari,” sela Daffa. “Dengan cara masing-masing.”

Kia menatapnya. “Termasuk lo.”

Daffa tersenyum pahit. “Iya. Termasuk gue.”

Tara menunduk, jemarinya saling bertaut. “Dulu gue pikir, dengan marah, gue bisa mempertahankan apa yang gue punya. Ternyata… gue cuma kehilangan lebih banyak.”

Kia diam.

“Aku salah sama ibu lo,” lanjut Tara. “Dan sama lo.”

Itu kalimat yang sudah Kia dengar sebelumnya. Tapi kali ini terasa berbeda. Tidak terburu-buru. Tidak defensif.

“Lo tahu apa yang paling nyakitin?” tanya Kia akhirnya, suaranya rendah tapi tegas.

Tara mengangkat kepala. “Apa?”

“Bukan tuduhan lo. Bukan cekcok kita. Tapi kenyataan kalau ibu gue nerima lo… bahkan saat gue sendiri belum bisa.”

Tara menelan ludah. “Ibu lo orang baik.”

“Dia terlalu baik,” kata Kia. “Sampai sering lupa jaga dirinya sendiri.”

Keheningan jatuh.

Daffa menyesap kopinya. “Kadang orang dewasa juga nggak tahu caranya melindungi diri tanpa melukai anak-anaknya.”

Kia menatap meja. “Gue nggak mau pura-pura semua baik-baik aja.”

Tara mengangguk. “Aku juga nggak.”

“Tapi gue juga nggak mau terus-terusan marah,” lanjut Kia. “Capek.”

Itu pengakuan.

Dan pengakuan itu membuat dada Tara sesak.

“Aku nggak berharap kita langsung dekat,” kata Tara. “Aku cuma… pengen jadi orang yang lebih baik dari versi gue yang dulu.”

Kia menghela napas. “Itu urusan lo.”

Tara tersenyum kecil. “Iya. Tapi dampaknya mungkin ke lo juga.”

Daffa menatap mereka bergantian. Ada sesuatu yang berubah—tidak besar, tidak dramatis. Tapi nyata.

Satu jam berlalu tanpa terasa.

Saat mereka berdiri untuk pergi, hujan turun di luar.

Gerimis.

“Kita nunggu bentar,” kata Daffa.

Mereka berdiri di teras kafe, menatap jalanan basah.

Tara memeluk lengannya sendiri. “Dulu gue selalu mikir, lo kuat banget, Ki.”

Kia meliriknya. “Dan lo pikir itu pujian?”

“Sekarang gue tahu,” lanjut Tara pelan. “Kuat itu sering lahir karena nggak punya pilihan.”

Kia tidak membalas.

Tapi ia tidak menolak kalimat itu.

Saat hujan reda, mereka berpisah di persimpangan jalan.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada janji.

Hanya anggukan kecil.

Tapi malam itu, saat Kia pulang dan menutup pintu rumahnya, ia menyadari sesuatu yang mengejutkan—

Dada itu masih terasa berat.

Tapi tidak lagi penuh amarah.

Lebih seperti… ruang kosong yang siap diisi ulang.

Dan entah mengapa, bayangan Tara—yang berdiri di bawah lampu jalan dengan wajah penuh penyesalan—tidak lagi membuatnya ingin pergi.

Melainkan membuatnya bertanya:

*Mungkin, luka lama memang tidak untuk dilupakan… tapi untuk dipahami.*

...****************...

1
falea sezi
ya kok end kan blom. nikah daffa sama. kia Thor g ada boncap kah
sabana: maaf kak, sampai di sini aja ya kak.🙏
total 1 replies
falea sezi
sweet bgt si daffa
falea sezi
gini doank nih karma bapak nya sama. nenek. lampir h seru
sabana: jahat kan masalahnya 🤣
total 1 replies
falea sezi
emak kia lebih baik hati kan dripada emak lu yg egois perebut
sabana: 😄 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
ia lah pantas jangan ngerusak kebahagiaan kia.. dr awal lahir kia uda menderita sedangkan lu ma ibuk lu enak bgt hidup nya
sabana: iyah bener🤭
total 1 replies
falea sezi
cpet nikah deh kalian buat tara jangan ganggu kapal gue ini ya
sabana: 🤭 terimakasih
total 1 replies
falea sezi
moga daffa bisa nyembuhin luka kia
sabana: iyah🤭
total 1 replies
falea sezi
kurang ajar bgt ne mertua
sabana: emang nyebelin
total 1 replies
Amelia Kesya
hadir thor, kayaknya seru lajut dulu☺️
sabana: terimakasih, semoga betah 🤭
total 1 replies
sabana
terimakasih
Bela Viona
anak anak tdk salah
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
Bela Viona
owhhh ank manjaaaa ya..
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
Bela Viona
lumayan sesak di episode awal..
blm bisa komen bnyk..
Bela Viona
serius ini blm ada papan komentar ?
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya
sabana: salam kenal jg🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!