NovelToon NovelToon
Imam Pilihan Bunda.

Imam Pilihan Bunda.

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Nikahmuda / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Pulang.

Pagi itu desa masih diselimuti kabut tipis. Udara dingin merayap pelan di antara pepohonan tinggi yang berdiri kokoh mengelilingi pemukiman. Aktivitas para mahasiswa mulai terlihat—tenda-tenda dibereskan, tas ransel diturunkan, suara riuh kecil bercampur tawa lelah setelah hari-hari panjang yang melelahkan sekaligus penuh pengalaman.

Namun untuk Lian, pagi itu terasa berbeda.

Ia duduk di dalam tenda medis, ransel sudah terkemas rapi di samping ranjang. Tangannya sesekali mengusap perutnya tanpa sadar—gerakan refleks, lembut, penuh proteksi. Wajahnya tampak tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam: kewaspadaan.

Pintu tenda terbuka.

Haikal masuk dengan langkah tenang, mengenakan seragam lapangan lengkap. Wajahnya tetap dingin, profesional, tapi sejak semalam ada garis halus yang tak pernah ada sebelumnya—kecemasan yang ditahan rapi.

“Kamu sudah siap?” tanyanya.

Lian mengangguk.

“Mahasiswa lain juga sudah bersiap. Bus katanya berangkat satu jam lagi.”

Haikal tidak langsung menjawab. Ia berdiri beberapa detik, lalu berkata pelan namun tegas.

“Kamu tidak akan pulang sebagai mahasiswa biasa, Lian.”

Lian menatapnya.

Ia sudah menduga.

Tak lama kemudian, sebuah panggilan datang. Haikal keluar tenda, berdiri beberapa langkah dari pintu, sikap tubuhnya lurus sempurna.

“Siap, Komandan.”

Suara di seberang terdengar tegas, singkat, tanpa basa-basi. Perintah langsung.

Haikal menjawab dengan nada datar namun penuh disiplin.

“Dimengerti.”

Panggilan berakhir.

Haikal kembali masuk.

“Keputusan sudah turun,” katanya.

“Kamu saksi langsung operasi tingkat tinggi. Statusmu mulai sekarang: saksi rahasia negara.”

Lian menghela napas perlahan.

Tidak kaget.

Hanya… berat.

“Dan aku?” tanyanya pelan.

Haikal menatapnya lurus.

“Aku diperintahkan ikut kembali ke kota bersamamu,” katanya.

“Sebagai pengamanan pribadi. Tugas tingkat dua.”

Lian terdiam.

“Kamu… pulang?” suaranya nyaris tak terdengar.

Haikal mengangguk satu kali.

“Ya.”

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Haikal melihat mata istrinya berkaca-kaca—bukan karena takut, bukan karena trauma—melainkan lega.

“Kamu nggak pergi lagi?” tanya Lian pelan, hampir seperti anak kecil yang takut harapannya runtuh.

Haikal melangkah mendekat.

Ia berlutut di depan Lian, sejajar dengan wajahnya.

“Aku pergi,” katanya jujur.

“Tapi bukan meninggalkan.”

Tangannya menggenggam tangan Lian erat.

“Sekarang kamu tanggung jawabku,” lanjutnya.

“Sebagai saksi negara. Sebagai istriku.”

Dan suaranya melembut, nyaris tak terdengar,

“Sebagai ibu dari anakku.”

Lian menunduk, lalu tersenyum kecil.

“Berat ya, Mas,” katanya lirih.

“Dapet istri barbar, saksi rahasia, bonus anak.”

Sudut bibir Haikal terangkat tipis.

“Sudah terbiasa menghadapi medan perang,” jawabnya.

“Ini… hanya medan yang berbeda.”

Bus mahasiswa mulai bergerak meninggalkan desa.

Tidak ada yang tahu bahwa di antara mereka, duduk seorang perempuan dengan status rahasia negara. Tidak ada yang tahu bahwa dua tentara berseragam sipil duduk tak jauh dari kursinya—satu di depan, satu di belakang.

Dan tidak ada yang tahu bahwa pria yang duduk di samping Lian, mengenakan jaket biasa dan topi rendah, adalah prajurit yang baru saja menyelesaikan operasi mematikan.

Lian bersandar pelan ke bahu Haikal.

“Mas,” bisiknya,

“kali ini… kamu beneran pulang kan?”

Haikal menoleh sedikit, lalu menurunkan kepalanya hingga dahinya menyentuh rambut Lian.

“Aku pulang,” katanya mantap.

“Dan kali ini… aku jaga kamu.”

Bus melaju menjauh.

Meninggalkan desa rahasia.

Meninggalkan operasi yang terkubur rapi.

Dan membawa pulang seorang istri, seorang saksi,

serta kehidupan baru yang tak lagi bisa dipisahkan dari bahaya—

namun juga tidak lagi sendiri.

Pesawat sudah berada di udara hampir setengah jam. Suara mesin stabil, lampu sabuk pengaman masih menyala, dan kabin dipenuhi aroma khas makanan pesawat yang baru saja dibagikan pramugari.

Lian menatap kotak makanan di pangkuannya.

Nasi hangat, lauk sederhana, roti kecil, dan segelas susu kotak. Ia sebenarnya lapar. Sejak pagi perutnya terasa kosong, tapi entah kenapa sejak pesawat lepas landas dadanya terasa sedikit sesak.

Ia membuka segel makanan itu.

Baru aroma hangatnya menyeruak, perut Lian langsung bergejolak.

“Uh—”

Wajahnya seketika memucat. Tangannya refleks menutup mulut. Sensasi mual datang mendadak, kuat, menggulung dari perut ke tenggorokan tanpa peringatan.

Haikal yang duduk di sampingnya langsung menoleh.

“Kamu kenapa?” tanyanya pelan namun sigap.

Lian tidak menjawab. Ia sudah berdiri, satu tangan menekan perutnya, satu lagi menahan sandaran kursi.

“Mas… toilet,” ucapnya singkat, suaranya tipis.

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah cepat menyusuri lorong sempit pesawat. Beberapa penumpang menoleh, pramugari sempat berdiri hendak membantu, tapi Lian sudah lebih dulu masuk ke toilet dan mengunci pintu.

Klik.

Begitu pintu tertutup, tubuhnya langsung membungkuk ke arah wastafel.

Perutnya berkontraksi keras.

“Uh—huek…”

Tidak ada makanan yang keluar.

Hanya cairan putih—encer, pahit, dan perih di tenggorokan.

Lian muntah berkali-kali, napasnya tersengal. Tangannya gemetar menahan pinggiran wastafel kecil itu. Keringat dingin muncul di pelipisnya.

“Kenapa… begini sih,” gumamnya lirih di sela napas yang memburu.

Ia membilas mulut, menekan tombol air, tapi rasa mual itu belum sepenuhnya pergi. Perutnya terasa ditarik, diremas pelan namun terus-menerus. Tangannya refleks turun, menutup perutnya dengan gerakan protektif.

Di luar, Haikal berdiri tepat di depan pintu toilet.

Ia tidak mengetuk.

Tidak memaksa.

Tapi seluruh tubuhnya tegang.

Tatapannya tajam menatap pintu kecil itu, rahangnya mengeras. Ia hafal tanda-tanda itu—bukan sebagai tentara, tapi sebagai suami yang terlalu lama jauh.

Pramugari mendekat pelan.

“Pak, apakah istri Anda baik-baik saja?”

Haikal mengangguk singkat.

“Dia hanya mual.”

Nada suaranya datar, tapi matanya tidak.

Beberapa menit kemudian, pintu toilet terbuka.

Lian keluar dengan wajah pucat, bibir sedikit basah, dan mata yang tampak lelah. Ia berjalan pelan, seolah langkahnya harus diatur satu per satu.

Haikal langsung berdiri di depannya.

Tanpa kata, ia melepas jaket tipis yang ia pakai dan menyampirkannya ke bahu Lian, lalu menuntunnya kembali ke kursi.

“Duduk,” katanya lembut tapi tegas.

Lian menurut.

Begitu duduk, ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi, memejamkan mata.

“Cuma mual,” katanya pelan, seolah tahu Haikal sedang menatapnya terlalu lama.

“Yang keluar cuma… cairan.”

Haikal tidak menjawab langsung.

Ia mengambil tisu, menyodorkannya, lalu membuka botol air mineral dan menyerahkannya ke tangan Lian.

“Minum sedikit,” ujarnya.

Lian meneguk pelan.

Pesawat terus melaju di atas awan.

Haikal menatap wajah istrinya yang pucat itu, lalu menurunkan pandangannya—ke tangan Lian yang masih bertahan di perutnya, seolah takut melepaskannya.

Dadanya terasa mengencang.

Ini bukan kebetulan.

Ini bukan kelelahan biasa.

Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun bertugas di medan paling brutal, Haikal merasa ada sesuatu yang jauh lebih rapuh… dan jauh lebih berharga… yang kini harus ia lindungi.

__

Mobil berhenti tepat di depan rumah.

Gerbang besi yang familiar terbuka perlahan. Tidak ada suara lain selain mesin yang dimatikan dan angin sore yang menyusup di antara pepohonan halaman.

Haikal turun lebih dulu.

Ia berdiri sejenak, menatap rumah itu—rumah yang ia tinggalkan bertahun-tahun lalu dengan janji sebentar. Catnya masih sama. Lampu teras masih menggantung di tempatnya. Bahkan pot bunga di sudut halaman… masih hidup.

Lian berdiri di sampingnya, satu tangan memegang tas kecil, satu tangan lagi refleks berada di perutnya.

“Masuk?” tanyanya pelan.

Haikal mengangguk.

Ia melangkah maju, memutar kunci, lalu membuka pintu.

Klik.

Pintu terbuka.

Haikal berhenti tepat di ambang.

Rumah itu… tidak berubah.

Sofa di tempat yang sama. Rak sepatu masih di sudut. Jam dinding masih berdetak dengan ritme yang ia kenal.

Tapi—

Rapi.

Bukan rapi kaku ala dirinya.

Rapi yang hidup.

Tidak ada debu di permukaan meja. Lantai bersih tanpa noda. Sepatu tertata sejajar. Bahkan bantal sofa tersusun rapi, tapi tidak kaku—seperti seseorang yang membenahkannya sambil lalu, setiap hari.

Haikal melangkah masuk pelan, matanya menyapu setiap sudut.

Dada nya mengencang.

Ia tahu betul bagaimana istrinya.

Lian—yang bisa lupa menaruh handuk basah di mana saja, yang mandi sehari sekali dan sering lupa menyisir rambut, yang bisa membuat satu ruangan berantakan hanya dengan duduk lima menit.

Dan sekarang…

Rumah ini seperti dijaga.

Seperti dirawat.

Seperti… ditunggu.

“Ini…” suara Haikal rendah, hampir tak terdengar.

“Kenapa bisa rapi begini?”

Lian menutup pintu di belakang mereka, lalu berdiri di tengah ruang tamu. Ia menatap sekeliling rumah itu dengan mata yang berbeda—mata seseorang yang sudah lama hidup di dalamnya sendirian.

“Aku membersihkannya,” jawabnya sederhana.

Haikal menoleh cepat.

“Kamu?”

Lian mengangguk pelan.

“Pelan-pelan. Sedikit-sedikit. Kadang berantakan lagi,” katanya sambil tersenyum kecil.

“Tapi aku beresin lagi.”

Haikal menelan ludah.

“Kamu kan…”

“Kamu nggak suka beresin rumah.”

“Aku nggak suka,” Lian mengakui jujur.

“Tapi aku tinggal di sini. Sendiri.”

Kalimat terakhir itu jatuh pelan—tapi berat.

Haikal terdiam.

Lian melangkah ke dapur, meletakkan tasnya, lalu kembali ke ruang tamu. Tangannya menyentuh sandaran sofa, seolah memastikan semuanya nyata.

“Kalau rumah ini berantakan,” lanjutnya tanpa menatap Haikal,

“rasanya… makin kosong.”

Haikal menutup pintu sepenuhnya.

Klik.

Suara itu seperti memutus jarak panjang yang pernah ada di antara mereka.

Ia berdiri di tengah rumah itu, rumah yang tetap menunggunya, sama seperti seseorang yang kini berdiri beberapa langkah di depannya.

Tanpa berkata apa-apa, Haikal melangkah mendekat.

Tangannya terangkat, ragu sejenak, lalu mendarat di pundak Lian.

“Terima kasih,” ucapnya rendah.

Bukan untuk rumah.

Tapi untuk semuanya.

Lian menoleh, tersenyum tipis.

“Selamat pulang, Mas,” katanya pelan.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama—

rumah itu terasa benar-benar kembali hidup.

1
panjul man09
ibu berpikiran apa itu, menikahkan anaknya hanya 2 orang saksi tidak undang tetangga adakan syukuran kek, ibu pelit emang lian hamil? sampe nikah sembunyi2 ,haikal jg mau aja dia ikutim maunya bu maya.
dyah EkaPratiwi
😭😭😭 semangat lian
dyah EkaPratiwi
semoga keduanya selamat
munaroh
nanti tak cobane, rujak bertabur keju. wes kemecer dhisik 🤤
munaroh
good job Lian👏
munaroh
🤣🤣🤣. begitulah pas nikah di hari-hari pertama, banyak kejutan😭
Nyai Nung: sifat yang berlawanan 🤣🤭
total 1 replies
munaroh
🤣🤣🤣 ada ada aja dah😆
munaroh
cie cie, pesonanya abang ga bisa ditolak ya lian🤣
Nyai Nung: banget beb, rasanya jantungku mau copot 🤭🤣
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
pecemburu sekali pak haikal
Nyai Nung: Sejuta sekali🤭
total 1 replies
muna aprilia
lanjut
Nyai Nung: Siap bos, ditunggu ya👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!