NovelToon NovelToon
The Antagonist'S Muse

The Antagonist'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / CEO / Sistem
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: lailararista

Vallerie tidak pernah menyangka bahwa menutup mata setelah membaca bab terakhir sebuah novel akan membawanya terbangun di tubuh seorang figuran dengan nama yang sama. Namun, ia tidak punya waktu untuk bingung. Sebilah belati tak kasat mata kini tergantung di atas kepala sahabatnya, sang Antagonis, yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Protagonis Pria demi membalas dendam kekasihnya

Demi mengubah naskah kematian tersebut, Vallerie harus memainkan peran yang berbahaya. Di mata dunia, ia adalah kaki tangan yang setia, ikut tertawa saat sang antagonis merencanakan kejahatan, dan terlihat sama busuknya. Namun, di balik bayang-bayang, Vallerie-lah yang diam-diam memotong tali jebakan, dan memastikan rencana jahat sahabatnya selalu gagal .

Berada di antara pedang Protagonis Pria dan obsesi gelap sahabatnya sendiri, satu-satunya teman bicara Vallerie hanyalah sebuah Sistem super cerewet dan berisik di dalam kepalanya. Terkadang Vallerie merasa kesal, tapi hanya dia yang bisa membantu V

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemarahan sang Antagonis

[Loh? Ini bukan jalan menuju rumah mu, Tuan putri, kamu mau kemana?]

Vallerie mengendarai mobilnya membelah jalanan kota, matanya tampak fokus menyetir, tapi masih terlihat raut wajah malas mendengar ucapan sistemn.

"Aku ingin pulang ke Apartemen."jawab Vallerie seadanya.

[Kenapa tidak kerumah saja, rumah mu lebih luas dan besar dari pada Apartemen.]

"Justru aku lebih nyaman di tempat yang tidak begitu luas, dirumah itu masih banyak orang, banyak pelayan. Aku ingin menyendiri."ucap Vallerie sambil memutar stir mobilnya saat berbelok arah.

[Aku tidak mengusulkan kamu menyendiri, nanti malah kesurupan, aku juga yang repot.]

Mendengar itu Vallerie menghela nafas jengah. "Kalau aku kesurupan kamu bisa berbuat apa? Tidak ada yang bisa kamu lakukan, kamu hanya bisa bacot, sistem."

Sistem terdiam, sepertinya agak syok mendengar balasan Vallerie.

[Tuan putri? Mulut mu pedas sekali, pantas saja kamu jomblo."

Vallerie tidak menjawab lagi, kenyataannya dia memang jomblo, di sini dan didunia aslinya. Vallerie pernah sekali memiliki kekasih, tapi sialnya dia pergi meninggalkan Vallerie ke tempat yang tidak bisa Vallerie jangkau. Karena itu Vallerie tidak ingin jatuh cinta pada siapa pun, dan dia tidak akan bisa, karena hatinya hanya untuk satu orang yang sudah pergi dari hidupnya.

[Kenapa kamu diam? Dan tiba-tiba terlihat murung, apa kamu memikirkan dia?]

Dalam pandangannya yang lurus menatap jalanan, mata Vallerie melebar, dia? Apa sistem tau soal masalalunya di dunia asli?

"Kamu tau masalalu ku?"tanya Vallerie memastikan.

[Tentu saja tau, sebelum membawa mu kesini aku sudah mencari tau tentang mu. Aku tau dalam hidupmu hanya mencintai seorang teman kecil mu, cinta monyet yang berlanjut hingga dewasa. Benar bukan?]

Vallerie tampak terdiam sesaat.

"Benar, tapi dia pergi."lirih Vallerie, mobilnya sudah terparkir rapi di parkiran. Namun dia belum berniat keluar, malah menyandarkan punggungnya lalu menatap lurus kedepan.

[Aku tebak dia pergi karena penyakit yang mematikan?] Ucap sistem yang di angguki Vallerie.

[Maka dari itu, karena itu juga kamu ada disini, setelah kamu menyelesaikan misi disni, kamu akan mendapatkan imbalan. Apa kamu mau tau imbalannya?]

Vallerie menaikkan sebelah alisnya. "Memang apa imbalannya?"

[Apa kamu penasaran?]

Tanya sistem lagi yang di angguki Vallerie.

[Karena kamu penasaran, aku akan memberitahukan nya lain kali saja]

"Sistem sialan!"

★★★

"Aku dengar, Aleta naik jabatan."bisik salah satu kariawan yang berdiri di bar Pantry sambil mengaduk coffe buatannya. Teman disebelahnya mengangguk membenarkan.

"Aku juga dengar. Tapi kok bisa? Padahal kan dia baru, dan sepertinya juga agak sedikit payah soal pekerjaan."

Vallerie yang hendak memasuki Pantry memberhentikan langkanya, berdiri di pintu saat mendengar ucapan dua orang karyawan di bar. Sepertinya itu percakapan yang menarik.

[Kenapa aku tidak tau Aleta naik jabatan? Apa mungkin karena tiba-tiba? Kemarin masih menjadi anak magang."

Vallerie hanya diam, menebalkan telinganya mendengar ucapan dua orang itu selanjutnya.

"Kamu tidak tau, atau pura-pura tidak tau? Dia itu kan kekasih bapak Dominic."jawabnya sambil menyenggol teman sebayanya.

"Ya, aku tau. Tapi Bapak Dominic angkat dia menjadi Asisten untuk apa? Kan Bu Zaskia sudah ada."

"Aku dengar sih, dia jadi asisten kedua bapak Dominic, buk Zaskia tetap yang utama."tamannya itu mengangguk, lalu menyeruput coffe nya.

"Dua asisten? Buk Zaskia aja sebenarnya sudah cukup, selama ini sepertinya pekerjaan Buk Zaskia juga bagus. Mungkin nanti Aleta tidak ada gunanya."ucapnya lalu tertawa kecil.

"Sepertinya berguna di atas ranjang saja."balas temannya dan mereka sama-sama tertawa mengejek Aleta.

Vallerie yang mendengar itu terkejut, Aleta menjadi asisten Dominic? Yang benar saja? Apakah Eleanor sudah mendengar soal ini? Pasti dia akan sangat marah kalau sampai dia mengetahuinya. Dengan langkah cepat, Vallerie menuju ruangan Eleanor. Tanpa permisi dia langsung masuk membuat wanita yang tengah sibuk berkutat dengan laptop nya menegakkan kepalanya menatap penuh tanya kepada Vallerie.

"Elea! Kamu sudah tau mengenai Aleta?"tanyanya sambil menopang tangannya di meja Eleanor.

Eleanor menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa dengannya? Kemarin kamu memintaku untuk menjauhinya dan menjaga jarak dengan Dominic. Aku tengah berusaha melakukan itu."

Vallerie menghela nafas panjang, lalu duduk dikursi hadapan Eleanor. "Bagus kalau begitu. Tapi ini gong banget! Pasti kamu terkejut."

"Ada apa?"tanya nya mulai penasaran.

"Aleta naik jabatan."ucapnya membuat mata Eleanor membola sempurna.

"Apa? Kamu yakin?" Vallerie mengangguk mantap.

"Yakin, aku dengar dari teman yang se divisi dengannya. Katanya dia naik jabatan menjadi asisten Dominic."

"APA!" Kali ini Eleanor lebih terkejut dari sebelumnya, bahkan sampai berdiri sambil mengebrak meja.

Vallerie sampai terkejut dan refleks memegang dadanya hingga tersadar di sandaran kursi, karena gebrakan tiba-tiba dimeja.

"Asisten?"Vallerie mengangguk dan mendongak menatap Eleanor yang berdiri.

"Benar, Asisten kedua Dominic."

"Dominic kenapa sih sebenarnya? Kenapa demi Aleta dia sebegitu nya? Tidak bisa! aku harus bertanya padanya."Eleanor melangkah lebar menggapai pintu, sebelum Vallerie menahan pergerakannya.

"Kamu mau bertanya pada Dominic atau Aleta?"tanya Vallerie sambil mencengkram tangan Eleanor.

"Aku ingin bertemu Dominic, aku akan bertanya padanya."Vallerie mengangguk pasrah.

"Baiklah aku ikut, tapi ingat rencana awal kita, kamu boleh bertanya tapi jangan berlebihan." Tanpa berniat menjawab, Eleanor mengangguk dan keluar dari ruangannya menuju ruangan Dominic di ikuti Vallerie.

Langkah Eleanor seperti tidak sabaran, saat sampai didepan ruangan Dominic tanpa mengetuk pintu dia langsung melangkah masuk. Namun, hal yang tidak diduga membakar dada Eleanor, saat Aleta berada di pangkuan Dominic sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu.

"Dominic!"

Tangan Eleanor mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia berdiri tepat di depan meja Dominic, sebenarnya hendak mendorong Aleta dari pangkuan Dominic dan hendak menghajar habis-habisan wanita itu, sebelum Vallerie menahannya, lalu menggeleng. Seakan mengingatkan rencana mereka.

Eleanor menarik nafas panjang. Lalu menatap tajam dua orang itu, Aleta turun dari pangkuan Dominic dan berdiri disisinya, sedangkan Dominic menatap dingin Eleanor dan Vallerie bergantian.

"Masuk keruangan ku tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?"tanya Dominic dingin.

"Nic! Apa benar dia sekarang menjadi asisten mu?"tanya Eleanor mengabaikan pertanyaan Dominic.

Dominic mengangkat sebelah alisnya. "Kalau iya, kenapa?" Jawabnya.

"Nic! Kamu gila? Dia tidak akan berguna menjadi asisten! Zaskia lebih ahli. Kenapa harus memilih dia yang jelas tidak ada skill nya." Mendengar itu Aleta menunduk, lalu menatap lirih Eleanor.

"Bu, jangan salahkan bapak Dominic. Saya yang salah, karena menuruti kemauannya untuk menjadikan saya asistennya." Eleanor dan Vallerie menatap Aleta yang terlihat menyedihkan, dengan air mata yang perlahan mulai menetes, memancing atensi Dominic untuk menatapnya, dan terlihat merasa iba.

Vallerie menaikkan sebelah alisnya, seperti merasa janggal dengan tangisan itu. Menurutnya reaksi Aleta terlalu berlebihan, padahal Eleanor membentak Dominic, tapi dia yang menangis.

Dominic meraih tangan Aleta dan menggenggamnya. "Kamu tidak salah, aku yang menginginkannya, agar kamu bisa aman dalam jangkauan ku."

Tangan Eleanor semakin mengepal kuat. Dulu Dominic yang begitu kepadanya, dulu Dominic tidak bisa melihatnya bersedih, sekarang semua itu sudah berpindah kepada Aleta. Aleta! Merebut Dominic darinya.

Mata Vallerie terus memperhatikan Aleta, wanita itu tersenyum mendengar ucapan Dominic. Tapi bukan senyum haru, bukan senyum tulus. Tapi seperti senyum kemenangan.

[Aku sepeti merasa Aleta ini aneh, tuan putri. Kamu juga pasti merasakannya kan?]

Vallerie diam, harusnya sistem itu tau, kenapa malah bertanya. Dasar! Sistem tidak jelas!

[Aku tau maksud dari raut wajah mu. Aku memang mengetahui segalanya, tapi sekarang alur ceritanya sudah banyak berubah. Jadi aku tentu tidak tau perubahan apa saja yang akan terjadi. Di novel asli, Aleta memang polos dan baik hati.]

Vallerie hanya mengangguk mendengar penjelasan sistem.

"Nic? Kamu mau aku menyerah?"Ucap lirih Eleanor, kali ini tidak ada lagi nada ke angkuhannya, emosinya sudah turun, seakan dia pasrah dengan segalanya.

Dominic yang mendengar itu diam, menatap lamat wajah Eleanor yang menatapnya dengan mata-mata berkaca, seakan kecewa kepadanya. Tapi kenapa perasaan Dominic gelisah menatap mata itu?

"Aku tidak minta kamu menyerah, aku hanya minta kamu berhenti mengganggu Aleta, bagiamana pun dia tidak salah."Eleanor memalingkan wajahnya menatap langit-langit mencoba menahan air matanya yang hendak tumpah.

"Baiklah, kalau itu yang kamu mau."jawabnya.

Dominic dan Aleta yang mendengar itu menatap heran Eleanor, apa benar dia menyetujui permintaan Dominic semudah itu? Setelah selama ini dia terus mengganggu Aleta.

"Elea? Apa maksudmu?"tanya Dominic meminta penjelasan, ia bahkan berdiri dari duduknya, menatap bertanya Eleanor yang ada di hadapannya.

"Kurang jelas? Mulai saat ini aku tidak hanya berhenti menganggu Aleta, tapi aku juga akan berhenti menganggu mu. Hubungan kita saat ini hanya sebatas sekretaris dan bos. Itu kan yang kamu mau selama ini?"jelas Eleanor.

Vallerie yang mendengar itu tersenyum bangga, akhirnya Eleanor memainkan dengan benar rencana mereka. Sikap seperti ini, baru benar, bukan malah suka emosi dan marah-marah seperti dulu. Itu terlihat tidak elegan sama sekali.

Dominic diam, memang benar itu yang dia mau selama ini, dia mau Eleanor bersikap sewajarnya atasan dan bawahan, atau sewajarnya sahabat. Tidak menganggu Aleta, mau pun dirinya. Tapi kenapa dia sangat berat untuk menyatakan kalau memang itu yang dia mau.

Vallerie maju selangkah mendekati Eleanor. "Kamu mengambil keputusan yang bagus, Elea. Dari kecil kita sudah sahabatan, jangan sampai karena orang yang baru masuk ke kehidupan kita menghancurkan itu semua. Jadi, buang perasaan yang berlebihan, anggap perasaan itu hanya perasaan sayang kepada teman. Seperti kamu sayang padaku."ucap Vallerie panjang lebar sambil tersenyum tulus.

Eleanor menatap Vallerie sekilas lalu mengangguk. "Kamu benar."ucapnya dan kembali menatap Dominic. "Nic, aku menyerah, semoga kamu bahagia bersamanya."lanjutnya lalu pergi dari keluar ruangan Dominic.

Vallerie tersenyum miring saat melihat Dominic yang terdiam menatap nanar pintu yang dibanting kasar. Vallerie maju beberapa langkah untuk mendekati Aleta yang diam seribu bahasa saat Vallerie mendekat.

"Puas sekarang?"bisiknya tepat dihadapan wajah Aleta.

Aleta menunduk sambil memelintir jarinya. "Aku tidak mengerti maksud mu."ucapnya nya polos.

Vallerie berdecih. Baru sehari naik jabatan sudah berbeda cara bicaranya, bukannya selama ini dia terlalu sopan? Bukannya dia selalu menunduk hormat pada Vallerie mau pun Eleanor?

Dominic yang melihat itu menjauhkan Vallerie dan menatap malas wanita itu. "Jangan ganggu dia, urus teman mu saja."

Vallerie menatap sinis Dominic. "Aku pastikan kamu menyesal membuang berlian demi kerikil."ucapnya dan melangkah keluar ruangan.

1
Raine
kan sistem bisa dengar kata hati tanpa harus mengeluarkan suara
Raine
hmm sepertinya aleta si drama quenn,
Alissia
/Smile//Smile/
Fahreziy
nexk
Fahreziy
👣👣👣👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!