NovelToon NovelToon
Air Mata Seorang Istri: Kakakku, Perebut Suamiku

Air Mata Seorang Istri: Kakakku, Perebut Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Teman lama bertemu kembali / Romansa / Konflik etika
Popularitas:80.1k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.

Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.

"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.

"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Keesokan harinya, Kinanti pergi ke sekolah TK mengantarkan Ara. Dia berharap bisa bertemu dengan Rafka yang kadang mengantarkan Gita.

Seorang guru berdiri di depan pintu gerbang, menyambut kedatangan para murid. Dia tersenyum tipis kepada Kinanti dan mata waspada. Berita tentang perselingkuhannya juga sudah tersebar di grup orang tua murid dan grup sekolah TK.

“Ara, ayo, masuk!” ucap guru itu ketika Ara hanya diam di samping Kinanti.

“Bu, aku harap tindak tegas murid yang membuli Ara,” ujar Kinanti.

Guru itu terkejut karena tidak ada anak-anak yang membuli Ara. “Maksud ibu?”

“Sekarang tidak ada murid yang mau berteman lagi sama Ara. Pasti ada yang menghasut atau memprovokasi biar Ara dijauhi,” balas Kinanti.

Guru itu terkejut. “Baik, Bu. Nanti saya akan berikan nasihat kepada anak-anak yang lainnya.”

“Bu Guru ... Bu Guru! Kata Bunda jangan dekat-dekat dengan Ara karena ibunya pelakor," ucap seorang murid perempuan yang sedang main bersama teman-temannya dekat pintu gerbang.

“Iya. Ibuku juga bilang, jangan main sama Ara. Nanti ayahku bisa direbut sama Mamanya Ara,” celetuk murid lainnya.

Ekspresi muka Kinanti merah padam, menahan amarah. Dia tidak menyangka orang-orang di sekitar Ara juga menjauhinya.

“Mama, aku tidak mau sekolah lagi di sini. Mereka semua nakal,” kata Ara dengan mata berkaca-kaca.

“Sepertinya Ara harus pindah sekolah. Kalau tetap di sini, akan terus disebut sebagai anak pelakor,” batin Kinanti.

Akhirnya Kinanti membawa Ara pulang dan menitipkannya di rumah Pak Darma. Dia pun bergegas pergi ke tempat kerjanya naik ojek.

Sama seperti kemarin, Kinanti mendapatkan cibiran dari rekan-rekan kerjanya. Mereka bicara tidak di belakang, tetapi langsung di depan matanya. Bagi mereka pelakor tidak perlu dibela, tetapi harus dikasih efek jera, biar tidak mengulangi lagi perbuatannya di masa mendatang.

“Kinanti, dipanggil sama Pak Yogi.”

Kinanti pun masuk ke ruang kantor kepala cabang. Dia mencelos ketika melihat tatapan tajam atasannya.

“Aku tahu ini mungkin tidak adil bagimu. Namun, masalah yang kamu perbuat sudah mencoreng citra bank kita ini. Kami pun memutuskan untuk memutasi kamu ke Desa Batu Merah,” ucap Pak Yogi.

“Apa?!” Kinanti terkejut. Desa itu merupakan sebuah desa yang sering disebut ujung dunia, saking jauhnya dan sangat pelosok. Medannya juga sangat jelek. “Kalau bisa jangan pindahkan aku ke sana, Pak.”

“Jika kamu tidak mengambil kesempatan ini, bisa berhenti bekerja,” lanjut Pak Yogi. “Pikirkan baik-baik dahulu.”

Kirana pun keluar dari ruangan Pak Yogi dengan lesu. Mata rekan-rekan kerjanya memandang dengan sinis dan ada juga yang mengejek.

“Sepertinya dia dimutasi,” bisik salah seorang karyawan dibagian reseller.

“Masih untung di mutasi, bagaimana jika dipecat. Zaman sekarang itu sulit mendapatkan pekerjaan,” balas karyawan lainnya.

Kinanti meraih tasnya dan berlari keluar. Ia melewati lorong kantor tanpa peduli pandangan orang. Begitu sampai di belakang gedung, kakinya lemas. Ia bersandar pada dinding, lalu merosot ke bawah.

Tangisan Kinanti pecah. Tangis itu keluar dari tempat paling dalam, penuh rasa malu, takut, dan kehilangan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya terguncang hebat.

Kinanti benar-benar merasa sendirian. Tidak ada Rafka di sana. Tidak ada pembelaan. Tidak ada janji. Yang ada hanya kenyataan pahit: ia telah mempertaruhkan segalanya dan kini kehilangan semuanya.

Di situlah Kinanti akhirnya mengerti, bahwa tidak semua yang direbut akan membawa kebahagiaan. Ada yang hanya meninggalkan kehancuran, sepi, dan penyesalan yang tak bisa ditarik kembali.

Sementara itu, di tempat lain di waktu yang sama, Kirana berdiri di depan gedung pengadilan. Langit siang itu mendung, seolah memahami beban yang ia bawa. Kirana melangkah masuk dengan hati berdebar, tangan menggenggam map cokelat berisi berkas-berkas penting. Wajahnya pucat, tetapi sorot matanya tegas.

Ini bukan hari yang Kirana inginkan. Namun, ini hari yang harus ia jalani. Di ruang sidang, suasana terasa dingin. Bangku kayu tersusun rapi. Suara langkah kaki menggema pelan. Kirana duduk di satu sisi, Rafka di sisi lain. Pria itu tampak lebih kurus, wajahnya kusut, matanya cekung.

Sesekali Rafka mencuri pandang ke arah Kirana. Ada penyesalan yang tak sempat diucapkan, ada ribuan kata yang terjebak di tenggorokan. Namun, Kirana tidak menoleh. Pandangannya lurus ke depan.

Ketika hakim membuka persidangan dan menyarankan mediasi, suasana hening.

“Apakah penggugat bersedia menempuh jalan mediasi?” tanya hakim dengan suara tenang.

Kirana berdiri. Lututnya sedikit gemetar, tetapi suaranya mantap.

“Tidak, Yang Mulia.”

Rafka tersentak. Kepalanya menoleh cepat. “Kirana—”

Hakim mengangkat tangan, meminta Rafka diam.

“Kamu yakin dengan keputusan ini?” tanya hakim kepada Kirana.

Kirana mengangguk. “Saya yakin.”

Di dadanya, rasa sakit itu masih ada. Akan tetapi, di baliknya, ada keteguhan yang tumbuh. Ia lelah berjuang sendirian. Ia lelah menutup mata demi mempertahankan sesuatu yang sudah lama mati.

Rafka menunduk. Tangannya mengepal. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari kehilangan yang tak bisa ia perbaiki.

Di luar ruang sidang, setelah persidangan selesai, Kirana menghela napas panjang. Udara terasa lebih ringan, meski hatinya masih perih. Ia tahu perjalanan ini belum selesai. Akan ada hari-hari berat ke depan. Akan ada luka yang butuh waktu lama untuk sembuh. Setidaknya, hari ini, ia memilih dirinya sendiri.

1
Ila Latifah
emak kirana juga aneh sih. apakah kirana anak tiri?
Ma Em
Semangat Kirana semoga usaha Kirana makin sukses , Kirana dan Gita selalu bahagia .
Naufal Affiq
lanjut kak
Dew666
💎🍭
Rahma Inayah
betapa egois nya bu Maya SDH jls2 Kinanti yg slah merusak.rumh tangga adiknya tp ttp aja Kirana yg di benci padhl satu rahim bukan ank tiri or angkat tp kasih syg kentara berbeda
tutiana
semangat kirana 💪🏻💪🏻💪🏻
tutiana
nah,,, karmanya enak to kinanti, selamat menikmati
Asyatun 1
lanjut
tutiana
ya ampun Thor pengen ngaplok mulutnya kinanti deh
Nanik Arifin
marahmu salah alamat, Maya... hrsnya yg kau usir, kau buang dr keluarga itu Kinanti, bukan Kinara. yg mencoreng nama keluarga, yg jd pelakor itu Kinanti. semua hancur Krn ulah Kinanti. mengapa org lain yg dituding & Kinanti ttp disayang". anda waras ?? kalian emg keluarga problematik
🌸Santi Suki🌸: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Tri Lestari Endah
semangat kirana 💪
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏
🌸Santi Suki🌸: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
Ita rahmawati
aku bner² curiga nih kalo si kirana bukan anaknya mereka,,tp ya emang ada juga sih ortu yg kyk gtu sm anak kandungnya sekalipun,,pilih kasih dlm segala hal kepada sesama anaknya 🤦‍♀️
🌸Santi Suki🌸: 😁😁😁🤭🤭🤭
total 1 replies
Mawar
sabar kirana pasti dibalik cobaan ini pasti akan ada hikmahnya.
🌸Santi Suki🌸: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Noor hidayati
orang tua yang sangat aneh mereka,lebih mementingkan kinanti,biarkan saja kirana,suatu saat kedua orang tuamu pasti membutuhkanmu,karena kinanti ga bakalan mau mengurusi mereka kalau sudah jompo
🌸Santi Suki🌸: 🥺🥺🥺🥺🥺
total 1 replies
Mawar
kok ada ya org tua kek gitu, kasihan x nasibmu kirana padahal km gk salah apa2.
🌸Santi Suki🌸: 🥺🥺🥺🥺🥺
total 1 replies
tutiana
harus sabaaaarrrrrrrr ngikutin kisah kirana ini
🌸Santi Suki🌸: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
ada ya ortu model bgitu, siapa yg salah siapa pula yg kena getah'y, sabar ya kir semoga kmu mndapatkn kebahagiaan dimasa depanmu
🌸Santi Suki🌸: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Sugiharti Rusli
semoga kamu dan Gita terus maju lha Ki menatap masa depan dengan segala keterbatasan yang ada dengan sikap optimis dan tidak lagi menengok ke belakang,,,
🌸Santi Suki🌸: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
Sugiharti Rusli
dan Kirana sepertinya dia sudah 'dibuang' keluarganya karena dianggap telah membuat anak kesayangan mereka terpuruk,,,
🌸Santi Suki🌸: 🥺🥺🥺🥺🥺
total 1 replies
Sugiharti Rusli
sepertinya Gita masih sangat terluka akibat perbuatan sang papa kepadanya yang dulu tidak pernah menepati janji dan malah memprioritaskan Ara sepupunya sendiri, bagi Gita itu sangat melukai hatinya,,,
🌸Santi Suki🌸: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!