Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Keesokan harinya, Kinanti pergi ke sekolah TK mengantarkan Ara. Dia berharap bisa bertemu dengan Rafka yang kadang mengantarkan Gita.
Seorang guru berdiri di depan pintu gerbang, menyambut kedatangan para murid. Dia tersenyum tipis kepada Kinanti dan mata waspada. Berita tentang perselingkuhannya juga sudah tersebar di grup orang tua murid dan grup sekolah TK.
“Ara, ayo, masuk!” ucap guru itu ketika Ara hanya diam di samping Kinanti.
“Bu, aku harap tindak tegas murid yang membuli Ara,” ujar Kinanti.
Guru itu terkejut karena tidak ada anak-anak yang membuli Ara. “Maksud ibu?”
“Sekarang tidak ada murid yang mau berteman lagi sama Ara. Pasti ada yang menghasut atau memprovokasi biar Ara dijauhi,” balas Kinanti.
Guru itu terkejut. “Baik, Bu. Nanti saya akan berikan nasihat kepada anak-anak yang lainnya.”
“Bu Guru ... Bu Guru! Kata Bunda jangan dekat-dekat dengan Ara karena ibunya pelakor," ucap seorang murid perempuan yang sedang main bersama teman-temannya dekat pintu gerbang.
“Iya. Ibuku juga bilang, jangan main sama Ara. Nanti ayahku bisa direbut sama Mamanya Ara,” celetuk murid lainnya.
Ekspresi muka Kinanti merah padam, menahan amarah. Dia tidak menyangka orang-orang di sekitar Ara juga menjauhinya.
“Mama, aku tidak mau sekolah lagi di sini. Mereka semua nakal,” kata Ara dengan mata berkaca-kaca.
“Sepertinya Ara harus pindah sekolah. Kalau tetap di sini, akan terus disebut sebagai anak pelakor,” batin Kinanti.
Akhirnya Kinanti membawa Ara pulang dan menitipkannya di rumah Pak Darma. Dia pun bergegas pergi ke tempat kerjanya naik ojek.
Sama seperti kemarin, Kinanti mendapatkan cibiran dari rekan-rekan kerjanya. Mereka bicara tidak di belakang, tetapi langsung di depan matanya. Bagi mereka pelakor tidak perlu dibela, tetapi harus dikasih efek jera, biar tidak mengulangi lagi perbuatannya di masa mendatang.
“Kinanti, dipanggil sama Pak Yogi.”
Kinanti pun masuk ke ruang kantor kepala cabang. Dia mencelos ketika melihat tatapan tajam atasannya.
“Aku tahu ini mungkin tidak adil bagimu. Namun, masalah yang kamu perbuat sudah mencoreng citra bank kita ini. Kami pun memutuskan untuk memutasi kamu ke Desa Batu Merah,” ucap Pak Yogi.
“Apa?!” Kinanti terkejut. Desa itu merupakan sebuah desa yang sering disebut ujung dunia, saking jauhnya dan sangat pelosok. Medannya juga sangat jelek. “Kalau bisa jangan pindahkan aku ke sana, Pak.”
“Jika kamu tidak mengambil kesempatan ini, bisa berhenti bekerja,” lanjut Pak Yogi. “Pikirkan baik-baik dahulu.”
Kirana pun keluar dari ruangan Pak Yogi dengan lesu. Mata rekan-rekan kerjanya memandang dengan sinis dan ada juga yang mengejek.
“Sepertinya dia dimutasi,” bisik salah seorang karyawan dibagian reseller.
“Masih untung di mutasi, bagaimana jika dipecat. Zaman sekarang itu sulit mendapatkan pekerjaan,” balas karyawan lainnya.
Kinanti meraih tasnya dan berlari keluar. Ia melewati lorong kantor tanpa peduli pandangan orang. Begitu sampai di belakang gedung, kakinya lemas. Ia bersandar pada dinding, lalu merosot ke bawah.
Tangisan Kinanti pecah. Tangis itu keluar dari tempat paling dalam, penuh rasa malu, takut, dan kehilangan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya terguncang hebat.
Kinanti benar-benar merasa sendirian. Tidak ada Rafka di sana. Tidak ada pembelaan. Tidak ada janji. Yang ada hanya kenyataan pahit: ia telah mempertaruhkan segalanya dan kini kehilangan semuanya.
Di situlah Kinanti akhirnya mengerti, bahwa tidak semua yang direbut akan membawa kebahagiaan. Ada yang hanya meninggalkan kehancuran, sepi, dan penyesalan yang tak bisa ditarik kembali.
Sementara itu, di tempat lain di waktu yang sama, Kirana berdiri di depan gedung pengadilan. Langit siang itu mendung, seolah memahami beban yang ia bawa. Kirana melangkah masuk dengan hati berdebar, tangan menggenggam map cokelat berisi berkas-berkas penting. Wajahnya pucat, tetapi sorot matanya tegas.
Ini bukan hari yang Kirana inginkan. Namun, ini hari yang harus ia jalani. Di ruang sidang, suasana terasa dingin. Bangku kayu tersusun rapi. Suara langkah kaki menggema pelan. Kirana duduk di satu sisi, Rafka di sisi lain. Pria itu tampak lebih kurus, wajahnya kusut, matanya cekung.
Sesekali Rafka mencuri pandang ke arah Kirana. Ada penyesalan yang tak sempat diucapkan, ada ribuan kata yang terjebak di tenggorokan. Namun, Kirana tidak menoleh. Pandangannya lurus ke depan.
Ketika hakim membuka persidangan dan menyarankan mediasi, suasana hening.
“Apakah penggugat bersedia menempuh jalan mediasi?” tanya hakim dengan suara tenang.
Kirana berdiri. Lututnya sedikit gemetar, tetapi suaranya mantap.
“Tidak, Yang Mulia.”
Rafka tersentak. Kepalanya menoleh cepat. “Kirana—”
Hakim mengangkat tangan, meminta Rafka diam.
“Kamu yakin dengan keputusan ini?” tanya hakim kepada Kirana.
Kirana mengangguk. “Saya yakin.”
Di dadanya, rasa sakit itu masih ada. Akan tetapi, di baliknya, ada keteguhan yang tumbuh. Ia lelah berjuang sendirian. Ia lelah menutup mata demi mempertahankan sesuatu yang sudah lama mati.
Rafka menunduk. Tangannya mengepal. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari kehilangan yang tak bisa ia perbaiki.
Di luar ruang sidang, setelah persidangan selesai, Kirana menghela napas panjang. Udara terasa lebih ringan, meski hatinya masih perih. Ia tahu perjalanan ini belum selesai. Akan ada hari-hari berat ke depan. Akan ada luka yang butuh waktu lama untuk sembuh. Setidaknya, hari ini, ia memilih dirinya sendiri.
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏