NovelToon NovelToon
Dipaksa CEO Dingin

Dipaksa CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Showbiz / Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Demene156

Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.

"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"

"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."

*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Serangan Malam Mimpi Buruk

​Saat Kirana mendengar ucapan dari meja sebelah, jantungnya langsung berdebar kencang seolah baru saja dipukul palu tak kasat mata. Darahnya naik ke wajah, menciptakan rona merah yang sulit disembunyikan.

'Kirana, tenang! Tenang! Bagaimana mungkin kau terbawa suasana hanya karena ucapan orang asing? Bagaimana mungkin mereka bisa bilang cara Bryan menatapku berbeda? Seolah-olah… seolah dia sedang menatap istrinya sendiri?' batin Kirana panik.

Suara hatinya berteriak, berusaha menyangkal imajinasi liar yang tiba-tiba muncul di benaknya.

Sosok Bryan Santoso—Raja Iblis yang dingin dan tak tersentuh—menatapnya seperti seorang suami? Pikiran itu terasa seperti fantasi berbahaya yang tak boleh dibiarkan tumbuh.

Ia segera menggeleng kuat, berusaha membuyarkan bayangan konyol itu sebelum akarnya menghujam lebih dalam ke hatinya.

Dengan berdeham kecil dan batuk pelan beberapa kali untuk menenangkan diri, Kirana akhirnya membuka suara.

"Pria itu mungkin penglihatannya sedang buruk! Hahaha… bagaimana bisa dia mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu? Benar-benar imajinasi luar biasa," ucapnya kepada Bryan dengan tawa garing.

Ia berusaha mengusir ketegangan di udara, meski sebenarnya tawa itu lebih ditujukan untuk menenangkan dirinya sendiri.

Namun seolah semesta sengaja mempermainkannya, begitu Kirana selesai bicara, wanita di meja sebelah justru mengangguk penuh semangat.

"Kau benar, itu memang benar! Perhatikan anak laki-laki kecil itu," bisik wanita itu pada temannya, suaranya masih cukup jelas terdengar.

"Dia memang sangat mirip ayahnya, tapi lihat matanya… matanya sebenarnya sangat mirip ibunya, apalagi saat tersenyum begitu. Benar-benar perpaduan sempurna," lanjutnya.

Kirana merasa dunianya hampir runtuh. Ia nyaris ingin pingsan di tempat.

"Ehem… kakak perempuan itu… sepertinya dia juga punya penglihatan yang sangat buruk…" gumam Kirana makin pelan.

'Bagaimana mungkin Kael mirip denganku? Ini tidak masuk akal! Aku bukan ibunya! Hubungan kami bahkan baru berjalan beberapa hari!' batinnya meronta.

Reaksi berbeda justru datang dari pria di sampingnya. Berbeda dengan Kirana yang gelisah seperti cacing kepanasan, Bryan malah menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat.

Matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan kehangatan samar—seolah ia sama sekali tidak keberatan dengan komentar orang asing itu.

Momen kecil penuh gejolak batin itu cepat berlalu karena Kirana buru-buru mengalihkan perhatian. Ia tak ingin terjebak lebih lama dalam topik “istri” dan “ibu” yang membuat dadanya terasa sesak.

Ia menoleh ke sekeliling, mengamati restoran yang tampak penuh.

"Ehem… jadi kita duduk di mana? Sepertinya tempat ini sangat ramai. Aku tidak melihat kursi kosong di area utama," katanya cepat.

Bryan tersenyum tipis di balik ekspresi tenangnya. Tanpa banyak bicara, ia memberi isyarat pada pegawai restoran yang sejak tadi sudah mendekat dengan sikap hormat.

Pegawai itu mengangguk sopan, memeriksa tablet di tangannya, memastikan sesuatu di sistem reservasi, lalu memberi isyarat agar mereka mengikuti.

Mereka dibawa menuju ruangan VIP semi-privat dengan tanda reservasi terpasang di atas meja.

Ini pertama kalinya dalam dua tahun terakhir Kael makan di luar rumah, di tempat umum yang ramai. Bocah kecil itu tampak penasaran pada segala hal di sekelilingnya.

Matanya yang bulat besar menoleh ke sana kemari, mengamati lampu dekoratif dan ornamen restoran. Namun meski rasa ingin tahunya besar, ia tetap menggenggam tangan Kirana sepanjang waktu agar merasa aman.

Genggaman kecil itu begitu erat, seolah Kirana adalah satu-satunya jangkar keselamatannya di dunia asing ini.

Setelah duduk di kursi nyaman, Kirana menghela napas lega. Suasana di ruang VIP jauh lebih tenang dibanding keriuhan di luar.

"Ah! Makan hot pot dengan AC menyala di tengah musim kemarau begini memang paling nikmat! Kael sayang, Tante yakin kau akan suka sensasi hangat dan lezat ini!" ujar Kirana sambil mengelus pipi lembutnya.

Kael mengangguk pelan. Pandangannya terus berkeliling dengan wajah penasaran yang menggemaskan.

Meski begitu, ia tetap duduk tenang di kursi di samping Kirana. Ia tidak beranjak sedikit pun—berbeda dengan anak seusianya yang biasanya sudah berlari menjelajah tempat baru.

Kael adalah anak yang sangat patuh dan tenang… selama Kirana ada di dekatnya.

​Kirana mulai membolak-balik buku menu berdesain mewah di hadapannya. Ia sesekali berhenti pada gambar hidangan yang menggugah selera, lalu menoleh meminta pendapat Bryan.

"Kamu tidak bisa makan makanan terlalu pedas, kan? Jadi bagaimana kalau kita pesan sup bebek Mandarin saja? Kuahnya gurih dan tidak akan melukai perutmu."

"Kau yang memutuskan." Bryan mengangguk tanpa ragu.

Ia melepas kancing blazernya, memberi kesan lebih santai namun tetap elegan. Lalu ia menyandarkan satu lengan di sandaran kursi di belakang Kirana.

Gerakan itu sederhana. Biasa saja.

Namun cara Bryan melakukannya—tenang, percaya diri, dengan aura maskulin yang nyaris tak masuk akal—membuat jantung Kirana tiba-tiba berlari kencang.

Aroma parfum pria itu tercium jelas. Perpaduan kayu cendana hangat, sentuhan citrus segar, dan wangi maskulin elegan yang menenangkan sekaligus memabukkan.

Aroma itu seperti mengepung indranya.

Kepalanya sedikit pusing.

'Apakah Bryan melakukannya dengan sengaja? Kenapa dia harus duduk sedekat ini?' batin Kirana bingung.

Ia cepat-cepat menepis pikirannya sendiri dan kembali fokus pada menu. Ia memesan beberapa hidangan unggulan: daging wagyu iris tipis, aneka bakso ikan, sayuran segar, dan jamur.

Ia juga dengan sabar bertanya pada Kael makanan apa yang ingin ia makan sambil menunjukkan gambar di buku menu.

Setelah pesanan dipastikan, Bryan menekan tombol panggil di meja.

Kurang dari tiga menit, seorang pegawai restoran datang—pelayanan yang sangat cepat, wajar untuk tamu ruang VIP.

Pegawai itu menyapa sopan lalu menanyakan pesanan.

Kirana menyebutkan satu per satu.

Pelayan mencatat di tablet, lalu membacakan ulang daftar pesanan untuk memastikan tidak ada kesalahan.

Setelah semuanya benar, ia membungkuk hormat dan keluar.

Kini ruangan itu hanya berisi mereka bertiga.

Bryan duduk tenang, matanya tak lepas mengamati interaksi Kirana dan putranya. Pemandangan itu terasa alami. Terlalu alami.

Pikirannya kembali pada ucapan perempuan di luar tadi—tentang kemiripan mata Kirana dan Kael.

Ia menatap mata Kirana dengan saksama.

'Memang... kalau diperhatikan lebih teliti, mereka agak mirip,' batin Bryan.

Ia sebenarnya sudah menyadari hal itu sejak beberapa waktu lalu. Ada kemiripan kecil yang mengejutkan antara keduanya, terutama saat Kael tersenyum tulus. Ekspresi dan aura yang muncul terasa sangat mirip dengan Kirana.

'Jika ini hanya kebetulan... maka ini kebetulan yang membahagiakan.'

Kurang dari setengah jam kemudian, panci hotpot dengan dua sekat kuah dan semua bahan pesanan tiba.

Aroma kaldu harum langsung memenuhi ruangan.

Bryan—yang dijuluki banyak orang sebagai Raja Iblis Besar—kembali menunjukkan sisi perfeksionisnya.

Ia menatap panci panas itu dengan serius, seolah sedang memimpin proyek bernilai miliaran rupiah.

Ia menghitung segalanya dengan presisi: bahan mana masuk lebih dulu, mana belakangan agar tekstur tetap sempurna, dan berapa lama masing-masing harus direbus.

Sepanjang makan, ia melayani Kirana dan Kael dengan telaten dan teratur. Bahkan kali ini terasa lebih profesional dibanding saat mereka makan di apartemen Kirana dulu.

Kirana merasa kikuk sekaligus terkesan.

Ia belum pernah makan hotpot senyaman ini. Dilayani sepenuh itu oleh seorang bos besar perusahaan jelas pengalaman langka.

Bryan dikenal kolega dan bawahannya sebagai sosok dingin membeku. Ia jarang menunjukkan emosi. Bahkan senyum pun hanya muncul tipis, nyaris tak terlihat.

Tenang. Dingin. Profesional. Perfeksionis.

Jika rekan bisnisnya melihat pemandangan ini, mereka mungkin akan menjatuhkan rahang—melihat pria itu sibuk mengatur isi panci hotpot.

Di sini, bukan dia yang dilayani.

Dia yang melayani.

Ia memastikan setiap potongan daging dan bakso matang sempurna. Tidak seperti masakan Kirana yang kadang terlalu matang karena ia asyik mengobrol, atau masih dingin di bagian tengah.

Di tengah suasana hangat itu, Bryan tiba-tiba bertanya,

"Apakah Yono dan kamu bermain dalam drama yang sama?"

Kirana sedikit terkejut. Ia hampir tersedak bakso ikan sebelum menjawab.

Ia baru ingat Yono Barsa adalah idola terkenal di bawah agensi milik Bryan—sekaligus keponakan pria itu.

Ia mengangguk.

"Ya. Dia baru bergabung hari ini. Aku juga baru tahu tadi pagi di lokasi syuting, jadi cukup kaget melihatnya di sana."

Bryan mengambil daging sapi matang dan meletakkannya di piring Kirana, lalu melakukan hal yang sama untuk Kael.

"Sebenarnya, apa hubungan kalian dulu?" tanyanya santai, tapi tajam.

Kirana menggaruk kepala.

"Agak sulit dijelaskan singkat. Kami pernah pacaran sebentar waktu kuliah. Sudah lama sekali sejak kami putus."

Ia tidak merasa perlu menutupi masa lalu itu. Percuma juga—cepat atau lambat Bryan pasti tahu dari adiknya, Arion, sang raja gosip keluarga.

"Sekarang kami murni teman. Tapi mungkin tidak lama lagi. Sejak dia pulang dari luar negeri, aku jadi sasaran kebencian penggemarnya."

Ia menghela napas.

"Dia hampir membunuhku dengan kelakuannya yang ceroboh."

Ia teringat saat Yono memaksanya menjemput di bandara sementara puluhan fans fanatik menunggu di sana.

"Kalau dia berani mengganggumu lagi, beri tahu aku," kata Bryan singkat.

Nada suaranya tegas. Protektif.

Kirana sempat tertegun, lalu tertawa kecil.

"Haha, dia tidak akan berani macam-macam. Justru aku yang selalu mengganggunya saat adegan."

Ia mendengus kecil.

"Di luar syuting pun kalau dia berani macam-macam, aku akan mengancam jadi bibinya. Aku pasti pakai status itu buat menekannya!"

Kalimat itu meluncur begitu saja.

Dan seketika—

Sunyi.

Kirana membeku.

Bryan juga.

Kirana ingin membenamkan kepala ke panci hotpot saat itu juga.

'Kenapa aku tidak bisa mengendalikan mulut ini?! Kenapa aku harus bicara begitu di depan pamannya sendiri?!'

Dengan panik, ia segera mengambil makanan matang dan menumpuknya di piring Kael.

"Kael, makan yang banyak ya! Ini enak sekali!"

"Hehe... itu... aku cuma bercanda tadi. Tolong abaikan saja, ya!"

Wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus.

Namun Bryan sama sekali tidak terlihat tersinggung.

Sebaliknya, matanya melembut. Senyum tipis muncul—lebih jelas dari biasanya.

"Ide yang bagus."

Kirana tercengang.

Mulutnya sedikit terbuka.

'Dia... benar-benar menganggap itu ide bagus?!'

"Kirana."

Suaranya rendah.

Serius.

Tatapan matanya membuat udara terasa lebih berat.

"Apa... ada apa?" suara Kirana sedikit bergetar.

"Kalau suatu saat nanti kau berubah pikiran, datanglah menemuiku kapan saja."

Jantung Kirana berdentam keras.

Ia tahu maksud kalimat itu.

Bryan sedang bicara tentang tawaran menikahnya.

Meski pria itu tak pernah mengungkitnya lagi secara langsung setelah penolakannya dulu, Kirana bisa merasakan perubahan sikapnya. Atmosfer di antara mereka semakin ambigu, seperti ada arus listrik tak kasat mata.

Yang paling buruk—

jantungnya sendiri mulai berkhianat.

'Tenang, Kirana. Jangan dianggap serius. Mungkin dia cuma bercanda,' ia mencoba menenangkan diri.

'Tapi... benarkah kata Yono waktu itu? Bahwa aku sebenarnya sudah terpikat pesona Bryan Santoso?'

Logikanya berusaha melawan perasaan yang makin tak terkendali.

Sejak tragedi lima tahun lalu, Kirana sudah berjanji tidak akan jatuh cinta lagi.

Ia masih ingat betapa hancurnya dirinya waktu itu. Ada masa panjang ketika kondisi mentalnya benar-benar berada di titik terendah.

Ia bahkan sempat merasa muak pada laki-laki.

Terutama saat mengingat mantan pertamanya—Aditya. Pengkhianatan pria itu meninggalkan luka bernanah di hatinya.

Dulu ada dorongan obsesif dalam dirinya untuk "menghancurkan" tipe pria seperti itu, seolah itu bentuk keadilan bagi dirinya sendiri.

Beberapa tahun terakhir kondisinya jauh lebih stabil berkat kesibukan di luar negeri.

Tetapi ia tetap menjaga jarak dari laki-laki. Hubungan serius, apalagi pernikahan, terasa mustahil baginya.

'Tapi pria di depanku ini...'

Sosok berwajah datar dan aura dingin itu—

perlahan menemukan celah di dinding tebal yang ia bangun untuk melindungi hatinya.

​...

​Setelah selesai makan malam dengan hidangan hotpot, Kael mulai merasa kelelahan setelah hari yang panjang.

Dalam perjalanan pulang di dalam mobil, bocah itu akhirnya tertidur lelap di pangkuan Kirana.

Tubuh kecilnya terasa begitu hangat dan lembut dalam pelukan, membuat Kirana enggan melepaskannya.

'Oh, ini benar-benar mengerikan! Si Kelinci Besar sudah membuatku sangat bingung dengan kata-katanya, dan sekarang Si Kelinci Kecil juga melakukan ini padaku...' batin Kirana sambil menatap wajah tenang Kael yang tertidur.

Ia menyadari kenyataan yang cukup menakutkan bagi dirinya sendiri: semakin banyak waktu yang ia habiskan bersama Kael, semakin besar pula rasa sayangnya pada anak itu.

Perasaan itu tumbuh begitu cepat, sampai-sampai jika ia tidak bertemu Kael bahkan hanya sehari saja, ia akan merasa sangat merindukannya.

'Jika aku tidak memeluknya hari ini, rasanya seperti ada sesuatu yang hilang di dalam diriku. Ini benar-benar bukan pertanda baik bagi masa depanku...' batin Kirana cemas.

Ketika mereka akhirnya sampai di rumah, Kirana dengan sukarela menggendong Kael. Dengan gerakan sangat hati-hati agar tidak membangunkan si kecil, ia membawa anak itu menuju kamar tidurnya.

Bryan tidak langsung pergi ke ruang kerja. Ia justru berdiri bersandar di kusen pintu kamar putranya, diam-diam memperhatikan Kirana yang sedang mengganti pakaian Kael dengan penuh ketelatenan.

Dalam kondisi mata setengah terpejam karena kantuk, Kael tampak sangat patuh saat Kirana memakaikan piyamanya. Setelah itu, Kirana menuntunnya ke tempat tidur, menyelimutinya dengan rapi, lalu mengelus pelan rambutnya dengan penuh kasih.

Pemandangan itu terasa sangat indah bagi Bryan. Dalam momen sederhana itu, Kirana terlihat seperti sosok ibu yang sempurna bagi Kael.

"Kami sudah sangat merepotkanmu selama beberapa hari terakhir ini," ujar Bryan dengan suara rendah agar tidak mengganggu tidur Kael.

Kirana, yang melihat si kecil sudah tertidur sepenuhnya dengan napas teratur, segera berdiri. Ia berjalan keluar kamar dengan langkah sangat pelan, nyaris tanpa suara di atas lantai kayu.

Setelah menutup pintu kamar Kael dengan hati-hati, ia berbalik menatap sang "Kelinci Besar" yang dingin, Bryan Santoso.

"Tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Aku juga sangat menyukai Kael," ujar Kirana tulus.

Namun setelah ragu sejenak, ia memaksakan senyum lega.

"Kael sudah jauh lebih ceria sekarang, jadi sepertinya tugasku hampir selesai. Kurasa sebentar lagi aku tidak perlu tinggal di sini lagi, bukan?"

Wajah Bryan berubah muram seketika. Atmosfer di lantai dua mendadak terasa dingin.

"Apakah kau sebegitu ingin pergi dari sini?" tanya Bryan.

Kirana refleks mundur satu langkah karena tekanan dari tatapan tajam pria itu.

"Ini memang rencana awalnya, kan? Aku akan pergi setelah Kael pulih dari traumanya. Aku rasa akan merepotkan jika aku terus tinggal di sini tanpa alasan jelas," ujar Kirana.

"Tidak," jawab Bryan datar namun penuh otoritas.

Kirana merasa frustrasi. Ia terpaksa mengangkat kepala dan menatap mata Bryan lurus-lurus untuk menegaskan sikapnya.

"Tapi aku yang akan merasa tidak nyaman jika terus begini," tegasnya.

Bryan mengerutkan kening.

"Apa yang membuatmu merasa bermasalah?"

"Ya tentu saja bermasalah!" Kirana menarik napas dalam sebelum melanjutkan, "Sejujurnya aku bukan orang yang disiplin atau teratur. Kalau aku terus tinggal di rumah mewahmu ini, aku harus menjaga citra dan perilakuku setiap saat supaya tidak terlihat buruk..."

"Kau tidak perlu melakukan itu. Jadilah dirimu sendiri," potong Bryan singkat, tegas, dengan nada nyaris seperti perintah.

Kirana menepuk dahinya gemas.

"Baiklah, meskipun kamu tidak keberatan dengan kekacauanku, aku tetap butuh kehidupan pribadiku sendiri, Bryan!"

"Maksudmu?"

"Sesekali aku pasti ingin mengundang teman-temanku berkumpul. Aku juga butuh waktu santai setelah bekerja—bersepeda, pergi ke kafe, atau mungkin... pergi ke klub malam untuk bersenang-senang. Dan kalau di sana aku bertemu pria tampan yang menarik hatiku, mau tidak mau aku pasti akan mengajaknya pulang untuk berma—"

"Cukup!"

Wajah Bryan langsung menggelap saat mendengar kalimat terakhir itu.

Rahangnya menegang. Ia menatap Kirana dengan sorot mata jauh lebih dingin dari sebelumnya. Tak ada lagi sisa kehangatan seperti saat mereka di restoran tadi.

Bayangan Kirana bersama pria lain membuat amarah murni muncul dalam dirinya.

Tak ingin melakukan sesuatu secara impulsif yang mungkin akan menyakiti Kirana—secara fisik maupun perasaan—Bryan memilih mundur.

Ia berbalik dengan kasar tanpa berkata apa pun, lalu masuk ke ruang kerja pribadinya dan membanting pintu.

Kirana hanya bisa berdiri terpaku, menatap punggung pria itu yang menghilang di balik pintu.

​...

​Larut malam telah tiba, namun Kirana masih terbaring di tempat tidurnya dengan pikiran yang berkecamuk hebat. Matanya menatap langit-langit kamar yang gelap, sementara jantungnya masih menyisakan rasa takut akibat kemarahan Bryan tadi.

Ia menyesali ucapannya barusan—ucapan provokatif yang membuatnya terdengar seolah wanita liar yang gemar membawa pria asing pulang untuk hubungan panas.

Padahal kenyataannya justru berbanding terbalik.

Kirana adalah tipe yang akan memperlakukan pria hidung belang dengan sangat kasar jika mereka mencoba bermain-main dengannya atau sekadar ingin tidur dengannya.

Jika ada yang berani mengajak one night stand, Kirana biasanya akan menyeret pria itu ke gang sepi, menghajarnya dengan tongkat satpam yang selalu ia bawa untuk perlindungan diri, lalu menyemprotkan pepper spray ke mata mereka tanpa ampun.

Terutama pria yang sudah menikah namun masih berani menggoda wanita lain—mereka yang memiliki bekas lingkar cincin kawin di jari—justru akan mendapat pukulan paling keras.

Ia bahkan tak segan menyetrum bagian vital mereka dengan taser genggam hingga menangis memanggil ibu mereka.

Lalu bagaimana dengan kehidupan seksnya sendiri?

Kedengarannya memang menyedihkan bagi wanita seusianya, tetapi satu-satunya momen ia pernah berhubungan intim adalah malam kelam lima tahun lalu.

Malam ketika ia dijebak oleh adik tirinya sendiri, Aruna, lalu dipaksa tidur dengan pria asing karena pengaruh obat dan alkohol.

Mungkin pengalaman pertama yang traumatis itu benar-benar merusak persepsinya tentang keintiman.

"Aku bahkan merasa ingin muntah setiap kali memikirkan seks secara serius," gumam Kirana lirih.

Ia sadar dirinya telah benar-benar membuat Bryan marah malam ini. Namun ia merasa tidak punya pilihan.

"Aku harus membicarakan ini cepat atau lambat. Lebih baik semuanya diselesaikan sekarang sebelum perasaan ini tumbuh jadi sesuatu yang tak bisa kukendalikan," gumamnya lagi, mencoba meyakinkan diri sendiri.

Bagi Kirana, lebih baik ia yang menjauh lebih dulu dan menjadi pihak yang "jahat", daripada suatu hari nanti justru dibuang setelah masa lalunya terungkap.

Karena kegelisahan yang memenuhi dadanya, malam itu tidurnya sama sekali tidak nyenyak.

Mimpinya dipenuhi bayangan hitam dan suara-suara masa lalu yang mengerikan.

Dalam mimpi yang kacau dan surealis itu, ia kembali mendengar suara orang-orang yang dulu membuangnya—orang-orang yang hanya peduli pada reputasi mereka sendiri tanpa peduli betapa hancurnya Kirana saat jatuh dengan janin yang tumbuh di dalam kandungannya.

Suara-suara itu menggema jelas.

"Kirana, apa yang membuatmu berpikir kau bisa melawanku? Selain hubungan darah, kau bukan siapa-siapa di keluarga ini!"

"Kau masih berani bertanya soal nasib bayi itu? Apa sebenarnya yang kau rencanakan? Jangan bilang kau ingin melahirkan dan membesarkan anak haram itu!"

"Anak itu lahir prematur dan langsung meninggal. Jenazahnya sudah kuurus dengan layak, jadi berhentilah mencarinya!"

"Kirana, untuk terakhir kalinya! Mulai detik ini, aku, Hendrawan Yudhoyono, tidak lagi mengakuimu sebagai putriku! Kau tidak punya hubungan apa pun dengan keluarga ini!"

"Kirana, maafkan aku... mari kita putus. Tapi tenang saja, aku tetap peduli padamu. Aku akan memperlakukanmu seperti adik perempuanku sendiri..."

Tubuh Kirana yang tertidur mulai berkeringat dingin.

Mimpinya berlanjut ke masa paling kelam dalam hidupnya.

Ia kembali melihat kecelakaan lalu lintas hebat lima tahun lalu. Ia kembali mendengar suara dingin pria yang dulu ia panggil Ayah—suara yang mengatakan bahwa anak di dalam kandungannya sudah dikuburkan di tempat yang tak pernah ia ketahui.

Ia bahkan tak pernah diberi kesempatan melihat wajah bayinya untuk terakhir kali.

Dalam mimpi itu, Kirana berlari sekuat tenaga, berusaha menjauh dari suara-suara yang terus membisikkan kegagalan dan aib.

Ia berlari hingga tiba di puncak atap rumah sakit yang tinggi.

Di bawahnya terbentang jurang kegelapan tak berujung, seolah memiliki tarikan magnet gelap yang memanggilnya mendekat selangkah demi selangkah.

Akhirnya, dengan rasa lelah yang luar biasa, ia memejamkan mata dan melompat.

Namun saat tubuhnya jatuh, ia tidak terbangun seperti biasanya.

Ia justru terjatuh ke lapisan mimpi lain.

Kali ini suasananya berbeda.

Bukan mimpi buruk penuh amarah, melainkan potongan memori malam ketika ia dipaksa berhubungan dengan pria asing di kamar hotel setelah dijebak Aruna.

Ia pernah mengalami mimpi seperti ini sebelumnya, dan biasanya mimpi itu selalu dipenuhi rasa takut, jijik, dan ketidakberdayaan—cukup kuat untuk membuatnya terbangun sambil mual.

Tetapi kali ini terasa berbeda.

Satu demi satu ciuman dingin namun lembut mendarat di dahinya, matanya, hidungnya, hingga bibirnya.

Anehnya, ia tidak merasa jijik.

Ia justru merasa dihargai, seolah dirinya adalah sesuatu yang sangat berharga bagi seseorang.

Namun tiba-tiba, sensasi tajam terasa di lehernya.

Ia mengerang pelan.

"Siapa... siapa dia? Aduh... sakit sekali... Kenapa dia menggigit sekeras itu?" gumam Kirana dalam igauannya.

​Sementara itu, kenyataan beberapa menit sebelumnya terjadi di luar mimpi Kirana.

Di ruang kerja, meskipun Bryan telah berusaha sekuat tenaga menahan diri dengan lembur, pada akhirnya ia tetap tidak mampu menekan dorongan batinnya. Ia merasa takkan tenang sebelum melihat wajah wanita itu.

Kirana benar-benar membuatnya nyaris kehilangan kendali dengan ancaman membawa pria lain pulang.

"Jika aku bertemu pria tampan, tak bisa dihindari aku akan membawanya pulang untuk bermalam."

Kalimat itu terus berputar di kepala Bryan seperti meteor yang menghantam keras, meruntuhkan seluruh tembok logika yang tersisa.

Saat memasuki kamar Kirana—yang ternyata tidak terkunci—Bryan hanya melihat wanita itu tertidur.

Karena ruangan sangat gelap dan hanya diterangi cahaya bulan samar, ia tidak menyadari ekspresi gelisah di wajah Kirana yang sebenarnya sedang terjebak mimpi buruk.

Bryan melangkah mendekati ranjang dengan pelan.

Ia tahu seharusnya ia tidak berada di sana. Secara etika, membangunkan seseorang di kamar pribadinya tengah malam adalah tindakan yang salah. Namun emosi dan hasratnya sedang kacau. Cemburu yang membakar membuat kendalinya melemah.

Saat ia membungkuk dan mulai menciumi leher gadis itu, gelombang perasaan yang ia tahan seharian akhirnya pecah.

Aroma lembut tubuh Kirana membuat kesadarannya semakin menipis.

Tanpa sadar, ia menggigit leher wanita itu cukup keras—seperti binatang buas yang menandai mangsanya secara naluriah.

"Eh... itu..." gumam Kirana yang langsung terbangun karena rasa perih nyata di lehernya.

Begitu mendengar suara itu, punggung Bryan menegang.

Tubuhnya yang tadi panas mendadak terasa seperti disiram air es. Ia tersadar akan apa yang baru saja dilakukannya.

Namun ia masih membenamkan wajah di lekukan leher Kirana, tak berani mengangkat kepala karena rasa bersalah yang tiba-tiba muncul.

Kirana hampir berteriak, tetapi menahannya.

Dengan suasana canggung, ia mencoba berbicara.

"Uhuk... Bryan... aku hanya tidur biasa... bukan tidur mati... tindakanmu barusan sudah cukup untuk membangunkanku..."

Awalnya ia ingin pura-pura tetap tidur untuk menghindari konfrontasi, tetapi rasa sakit itu terlalu nyata.

Bryan perlahan mengangkat kepala.

Matanya yang gelap seolah menyatu dengan bayangan malam. Dengan jari sedikit gemetar, ia mengusap garis rahang Kirana.

"Mm. Aku memang membangunkanmu... lalu kenapa?" suaranya serak, rendah, dan berbahaya.

Begitu kalimat itu terucap, ia langsung menggenggam kedua tangan Kirana dan menahannya di atas bantal. Tanpa ragu, ia menunduk dan mencium bibirnya.

Ciuman itu dalam, menuntut, dan dipenuhi emosi yang terpendam.

"Mmm—"

Kirana meronta refleks, berusaha melepaskan diri, tetapi kekuatannya tak sebanding. Tangannya terkunci, kakinya tertahan oleh lutut Bryan.

'Situasi gila apa ini? Apa aku masih bermimpi?' batin Kirana kacau.

Saat napasnya mulai menipis karena intensitas ciuman itu, Bryan akhirnya melepaskannya.

Namun ia tidak berhenti.

Ia kembali ke leher Kirana—ke bekas gigitan tadi—lalu menjilatinya pelan, seolah menenangkan luka yang ia buat sendiri. Sensasi itu justru membuat bulu kuduk Kirana meremang hebat.

"Hei, Bryan... Bryan Santoso! Sadarlah!"

Ia memanggil beberapa kali dengan panik.

Tetapi Bryan seperti tenggelam dalam dunianya sendiri, terus menyusuri leher dan bahu Kirana.

Pria di hadapannya sekarang bukan Bryan yang biasanya—bukan pria dingin dan terkendali yang ia kenal.

Yang ada di depannya adalah sosok asing dan berbahaya.

Giginya bergerak perlahan dari leher menuju tulang selangka, seolah berniat turun lebih jauh.

"Tidak... jangan! Hentikan!"

Kirana berteriak sambil meronta dengan sisa tenaga.

Kenangan buruk yang selama ini ia tekan mendadak bangkit. Ingatan malam di hotel itu menyeretnya kembali seperti rawa gelap yang menelan tanpa ampun.

Tubuhnya gemetar hebat.

Otot-ototnya menegang karena serangan panik yang datang tiba-tiba.

​Tepat ketika rasa sakit psikologis itu mencapai puncaknya hingga Kirana merasa ingin mati saja, gerakan pria di atasnya tiba-tiba berhenti total.

Bryan mendadak membeku, meninggalkan berat tubuhnya yang padat seperti gunung menekan Kirana tanpa tanda kehidupan.

Rasa sesak yang mencekik itu lenyap seketika, digantikan kebingungan yang luar biasa.

"B... Bryan? Kau baik-baik saja?" Kirana menepuk bahu pria itu dengan hati-hati, tetapi tidak ada respons sedikit pun.

Setelah menunggu sekitar sepuluh detik tanpa tanda gerakan, ia mencoba mengerahkan tenaga untuk membalikkan tubuh Bryan perlahan ke samping agar bisa bernapas lebih lega.

Dengan bantuan cahaya bulan yang menyusup lewat celah jendela, Kirana akhirnya bisa melihat wajah pria itu.

Bryan berbaring sangat tenang dengan mata terpejam rapat. Ia tampak seperti raja yang tertidur damai—seolah makhluk buas penuh hasrat beberapa detik lalu bukan dirinya sama sekali.

"Astaga... apa yang sebenarnya terjadi malam ini? Jangan bilang... jangan-jangan dia benar-benar berjalan sambil tidur?!" gumam Kirana dengan napas masih tersengal.

Bagi Kirana, itu satu-satunya penjelasan yang terasa masuk akal.

Tidak mungkin Bryan yang biasanya sangat terkontrol bertindak segila ini jika ia sadar sepenuhnya.

"Tapi bukankah kebiasaan berjalan dalam tidur ini agak terlalu unik dan berbahaya? Dia bisa masuk ke kamarku selarut ini, menggigit leherku seperti vampir kelaparan, bahkan tadi sempat menyahut ucapanku dengan nyambung..." gumamnya lagi, masih heran.

Namun suara napas Bryan yang panjang dan teratur menandakan ia benar-benar tertidur pulas sekarang.

Kirana tidak berani membangunkannya. Ia pernah mendengar mitos bahwa membangunkan orang yang berjalan dalam tidur bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Ia takut jika dibangunkan paksa, Bryan justru kembali bertingkah liar atau malah mengalami syok.

Di sisi lain, meninggalkannya tidur di sini juga membuatnya gelisah.

'Tapi di larut malam seperti ini, kepada siapa aku bisa meminta bantuan?' batin Kirana cemas.

"Tidak mungkin aku memanggil pelayan atau satpam. Itu sama saja bunuh diri. Berita tentang Bryan tidur di kamarku akan langsung jadi skandal besar bagi keluarga Santoso dan juga diriku," gumamnya makin bingung.

Setelah berpikir keras, satu nama terlintas di benaknya—orang yang paling mungkin mengetahui rahasia keluarga ini.

Bersambung…

1
Ira Janah Zaenal
up up up 💪💪💪💪😍😍😍😍
Arini
Lanjutannya dong
falea sezi
lanjut
falea sezi
semangat kirana
falea sezi
yg tidur ma Kirana Brian y
falea sezi
lah anak yg di kandung Kirana mana keguguran apa gimana
falea sezi
kasian kirana
Ira Janah Zaenal
semangat Kiara atau putri Laura Pitaloka tunjukkan pesonamu💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!