NovelToon NovelToon
ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO

ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Pelakor jahat / CEO / Romantis / Ibu Pengganti / Duda / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Selama tiga tahun menikah, Elena mencintai suaminya sepenuh hati, bahkan ketika dunia menuduhnya mandul.

Namun cinta tak cukup bagi seorang pria yang haus akan "keturunan".
Tanpa sepengetahuannya, suaminya diam-diam tidur dengan wanita lain dan berkata akan menikahinya tanpa mau menceraikan Elena.

Tapi takdir membawanya bertemu dengan Hans Morelli, seorang duda, CEO dengan satu anak laki-laki. Pertemuan yang seharusnya singkat, berubah menjadi titik balik hidup Elena. ketika bocah kecil itu memanggil Elena dengan sebutan;

"Mama."

Mampukah Elena lari dari suaminya dan menemukan takdir baru sebagai seorang ibu yang tidak bisa ia dapatkan saat bersama suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3. BOCAH BERNAMA THEO

Elena meneguk air putih, mencoba menenangkan getar di dadanya. Ia harus kuat. Ia harus bercerai. Tidak ada jalan lain bagi seorang perempuan yang dikhianati seperti dirinya. Ia masih punya harga diri sebagai seorang wanita, tentu tidak akan menerima pengkhianatan kotor seperti itu ketika Elena dibesarkan dengan cinta dan kesetiaan kedua orang tuanya.

Baru saja ia meletakkan gelas di meja untuk menenangkan air mata yang mulai menggenang, sebuah tarikan kecil di ujung mantelnya membuat Elena terkejut.

Elena menunduk. Seorang bocah kecil, mungkin berusia lima tahun, berdiri di sebelah kursinya. Rambutnya pirang keemasan, matanya biru jernih seperti langit musim semi. Wajahnya tampan dengan pipi gembul kemerahan dan senyum kecil yang terlihat kikuk.

"Mama ...," ucap bocah itu pelan, suaranya serak karena menahan tangis.

Elena mengerjap, kebingungan. "A- apa yang kau katakan, Kid."

"Mama, aku kangen...." Bocah itu kini memeluk lutut Elena, seolah takut Elena akan pergi.

Elena tersentak, buru-buru menunduk. "Baby, kau salah orang. Aku bukan mama-"

Belum sempat kalimat itu selesai, bocah itu mulai menangis keras. Tangisnya tidak seperti rengekan manja anak kecil biasa, tapi tangis yang dalam, menyayat, penuh kehilangan.

Beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka, membuat Elena panik. Ia bukan tipe orang yang suka jadi pusat perhatian, apalagi karena hal seperti ini.

"Hey ... hey, jangan menangis, Sayang," ucapnya lembut, berjongkok agar sejajar dengan si bocah. "Ssst ... jangan menangis ya. Mata dan tenggorokanmu akan sakit kalau menangis."

Namun tangisan itu justru semakin kencang. Bocah itu menunduk, air matanya menetes di atas sepatu kecilnya yang tampak kotor oleh debu.

Elena menghela napas. Ia tak punya hati untuk mengabaikan anak sekecil ini. Tanpa pikir panjang, ia menunduk, mengangkat bocah itu, dan mendudukkannya di pangkuan Elena. Ia menepuk-nepuk punggung mungilnya dengan lembut, seperti yang sering dilakukan ibunya dulu saat Elena kecil dan sedang menangis karena hal sepele.

"Sudah, jangan menangis lagi. Lihat, semua orang melihat ke sini," bisik Elena lembut.

Bocah itu masih terisak, tapi perlahan tangisnya mereda. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Elena, seolah merasa aman di sana.

Elena tak tahu kenapa, tapi pelukan kecil itu menimbulkan sesuatu dalam dirinya, rasa lembut yang menekan sakit hatinya untuk sementara waktu. Seakan bocah ini, dengan cara yang aneh, menenangkan jiwanya yang koyak.

Setelah beberapa saat, bocah itu mengangkat wajahnya. Pipinya masih basah, tapi matanya mulai cerah kembali.

"Namamu siapa?" tanya Elena lembut, menyeka air mata di pipi bulat itu dengan tisu.

"Theo," jawab bocah itu lirih.

"Theo?" Elena tersenyum samar. "Nama yang bagus. Jadi, kenapa kau memanggilku 'Mama', Theo?”

Theo menatap wajah Elena lama, seolah sedang mencari sesuatu di sana. "Papa bilang ... Mama cantik. Kalau aku lihat perempuan cantik seperti Mama, berarti itu Mama."

Elena hampir tertawa, tapi senyumnya lebih banyak mengandung iba daripada geli. "Oh ya? Papa bilang begitu?"

Theo mengangguk mantap, matanya berbinar. "Iya! Papa bilang Mama pergi jauh, tapi suatu hari Theo pasti ketemu Mama lagi. Jadi waktu lihat Mama, Theo langsung tahu. Ini pasti Mama Theo!"

Elena terpaku. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, bercampur pilu. Anak sekecil ini ... begitu merindukan sosok ibunya hingga ia menganggap siapa pun yang sedikit mirip penjabaran abstrak dari ayahnya adalah ibu bocah ini.

"Aku bukan Mama Theo," ucap Elena hati-hati.

Theo langsung menunduk, wajahnya kembali murung. "Theo nakal ya? Theo bikin Mama marah?"

Elena terdiam. Ia menatap wajah polos itu, mendengar suara kecil yang bergetar ketakutan.

"Theo janji enggak nakal lagi, Mama jangan tinggalin Theo, ya? Theo tidak mau sendirian lagi," ucap Theo dengan isakan.

Kalimat itu menghancurkan pertahanan Elena sepenuhnya. Ia menghela napas panjang dan menarik Theo ke dalam pelukannya lagi, kali ini lebih erat.

"Tidak, Sayang. Aku tidak marah. Jangan menangis, ya?" katanya lembut sambil mengusap rambut lembut bocah itu.

Beberapa pengunjung tersenyum melihat pemandangan itu, mengira mereka benar-benar ibu dan anak. Elena tidak peduli. Entah kenapa, pelukan anak kecil ini memberinya ketenangan yang tidak bisa diberikan siapa pun.

"Aku cuma ingin tahu ...Theo di sini sama siapa?" tanyanya perlahan.

Theo menunjuk ke arah taman di seberang jalan. "Sama Papa. Tapi tadi Theo kejar balon warna biru, terus balonnya terbang, Theo kejar ... terus Papa hilang."

Elena menatap arah yang ditunjuk Theo. Di sana banyak orang lalu-lalang, tapi tak ada satu pun yang tampak mencari anak kecil.

"Aku bukan Mama, tapi aku bisa bantu cari Papa, ya?"

Theo menggeleng cepat, matanya membulat panik. "Tidak! Theo tidak mau ditinggal Mama lagi!"

Nada suaranya begitu takut hingga Elena merasa jantungnya mencelos. Ia berusaha menenangkan, mengelus punggung Theo lembut.

"Tenang, aku tidak akan pergi, Sayang. Aku di sini, oke? Tapi kita harus cari Papa kamu juga. Papa pasti panik." ucap Elena lembut.

Theo mengangguk pelan, meski matanya masih dipenuhi air mata yang belum sempat jatuh.

Untuk beberapa saat mereka hanya duduk di sana. Elena memesan segelas jus jeruk untuk Theo, dan bocah itu meminumnya dengan hati-hati, sesekali mengangkat wajah untuk memastikan Elena masih di sana.

Mungkin Tuhan sedang mengirimkan seseorang untuk mengingatkannya bahwa di dunia ini masih ada hati yang lebih murni dari luka, dan hari ini, wujudnya adalah bocah bernama Theo.

"Mama?" bocah itu memanggil lirih. "Mama suka balon?"

Elena tersenyum kecil. "Suka. Tapi aku lebih suka melihat Theo tersenyum."

Theo terkekeh pelan. Tawanya jujur, polos, dan entah kenapa mampu membuat Elena tertawa kecil juga.

Untuk beberapa menit, waktu seolah berhenti. Dunia mereka berdua terasa begitu damai di tengah hiruk pikuk kota. Elena mendengarkan Theo bercerita tentang balon birunya, tentang rumahnya yang katanya besar tapi sepi, dan tentang Papa-nya yang sibuk bekerja.

"Papa baik," katanya sambil mengunyah potongan kecil kue yang Elena pesan untuknya. "Tapi Papa sering marah kalau Theo keluar rumah. Katanya banyak orang jahat di luar."

"Oh, begitu," sahut Elena pelan, memandang anak itu dengan iba.

Theo menatapnya lagi. "Tapi Papa bilang ... kalau Mama ketemu Theo, Mama pasti sayang sama Theo, ya kan?"

Elena tidak mampu menjawab. Ia hanya tersenyum samar, mengelus pipi gembul bocah itu, lalu berbisik pelan, "Tentu saja, Sayang. Siapa pun yang jadi Mama Theo, pasti sayang sekali sama Theo."

Theo tersenyum lega, matanya berbinar seperti langit cerah setelah hujan.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

"Theo?!" Sebuah suara berat, tegas, namun juga terkejut terdengar dari belakang.

Elena menoleh.

Langkah seseorang mendekat cepat. Sosok tinggi besar dengan jas hitam rapi dan aura berwibawa yang tidak asing baginya. Rambut hitamnya tertata, wajahnya tegas dan dingin, sama seperti dulu.

Elena terpaku. Dunia seolah berhenti berputar sesaat ketika matanya benar-benar mengenali pria itu.

Hans Morelli.

Nama itu bergema di kepalanya. Rival lamanya di dunia bisnis, pria ambisius yang dulu selalu bersaing dengan Elena sejak masa kuliah, dan kini pemilik perusahaan besar yang menjadi pesaing utama Raven Wattson.

Tapi apa yang paling mengejutkan bukanlah kemunculannya di tempat itu ... melainkan kenyataan bahwa Theo berteriak memanggil pria itu.

"Papa!" seru Theo riang, melambaikan tangan kecilnya.

Elena membeku di tempat. Dunia seperti berputar balik begitu cepat hingga ia kehilangan arah.

Hans menatap Elena dengan tatapan tajam dan heran sekaligus dingin.

"Kau menculik anakku?" tuduh Hans.

Elena terperangah. "Huh?" repsonnya.

Namun Hans tidak memberi waktu untuk menjawab. Ia mendekat, langkahnya berat dan pasti, menatap Elena seolah siap menuntut penjelasan atas dosa besar yang belum sempat wanita itu pahami.

Dan saat itu, di bawah tatapan tajam pria yang dulu pernah menjadi bagian dari masa lalunya, Elena hanya bisa terdiam, antara terkejut, bingung, dan tak tahu harus berkata apa.

Untuk sesaat, tak ada satu pun yang berbicara. Hanya suara detak jam kafe dan napas tercekat Elena yang terdengar di antara ketegangan itu.

Sampai akhirnya, Hans kembali membuka suara, suaranya dalam dan dingin, "Jelaskan, Elena. Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan dengan anakku?"

Nada itu membuat Elena mengerutkan dahi dan mengepalkan tangan, bersiap memukul sang pria atas tuduhannya barusan. Namun sesuatu menahannya.

1
Luh Nanik
mama sama papanya dkabarin dong Roland.....
bunda DF 💞
kereen bangeet ceritanya,, karakter Elena yg kuat,, Hans yg melindungi,, dan yg paling utama,, Theo karakternya sesuai dgn umurnya,, gak sok dewasa. kereen Thor
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
Muhammad Arifin
wes d like...apik ❤️
isnaini_jk 28
Luar biasa
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
Iryani levana khrisna Khrisna
terimakasih Thor tetap semangat dalam berkarya
Sumirah Mira
selalu menghina wanita lain mandul .. sekarang karma mu sudah datang kamu sekarang wanita mandul
Archiemorarty: Karma selalu ada dimana pun 😎
total 1 replies
Sumirah Mira
menyesal tiada guna Raven .. nikmati lah kehancuran mu ....
Sumirah Mira
perempuan mandul itu sudah takdir ..kenapa harus ditambah lagi penderitaan nya harus nya pasangan itu menerima kekurangan pasangan nya
Archiemorarty: Lingkungan konoha malah lebih parah mulut para netijennya soal mandul 🙄
total 1 replies
Triana Oktafiani
Terloveh2 baca ceritamu thor ❤️❤️
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
Dessy Christianti
keren thor
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
Febri Istiqomah
jangan" Jessy ibu'a Theo nih...
Archiemorarty: Oh, tentu tidak kalau ini 🤭
total 1 replies
YULIEN KANTOHE
pembalasan lebih kejam dari perbuatan.
YULIEN KANTOHE
makanya jgn jadi pelakor.mengaku ngaku hamil raven pe anak ternyata bukan.cuma beking malu diri jo.
YULIEN KANTOHE
baru tau ya ? 😄😄😄
YULIEN KANTOHE
raven baru nge kalau anak jesi bukan darah dagingnya.makanya dia pulang mo cari tau.🤣🤣🤣 terlambat sudah .
YULIEN KANTOHE
raven baru nge kalau anak jesi bukan darah dagingnya.makanya dia pulang mo cari tau.🤣🤣🤣 terlambat sudah .
YULIEN KANTOHE
jessi ini nda pantas jadi ibu.dia itu anggap saja sebagai cobaan.anak nya saja dia ni mau mo urus,apalagi ngana raven.babotajo jesi bilang 🤭😄
YULIEN KANTOHE
orang ngidam itu banya dp mau.tenga malam minta buah,sate ayam,durian.pada hal belum dp musim itu buah.🤭
YULIEN KANTOHE
jauhkan dari dirimu si monica itu hans.jgn sampe dia jadi pemicu stres.x elena
.
YULIEN KANTOHE
perasaan hans dan ronald so nda ada mama papa.🤭😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!