NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 - Adaptasi

Dunia perhotelan menuntut kesempurnaan, dan salah satu kuncinya adalah bahasa. Namun bagi Gery, deretan kosakata bahasa Inggris di papan tulis sudah seperti kode rahasia yang mustahil dipecahkan.

"Gery, it's not 'I am go to school', but 'I go to school'," bisik Vanya sambil menyenggol lengan Gery.

Gery menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Di depannya, buku latihan bahasa Inggris masih bersih, hanya ada coretan nama dan tanggal. "Kenapa harus ada am, is, are sih? Padahal intinya kan sama-sama mau pergi."

Vanya tertawa kecil, suara tawa yang mulai terdengar akrab di telinga Gery setelah dua bulan mereka duduk sebangku. "Itu namanya grammar, Ger. Sini, gue kasih trik cepatnya."

Vanya menarik buku Gery. Dengan telaten, ia membuat tabel sederhana. Tangannya yang lentik menari di atas kertas, menjelaskan perbedaan waktu dan penggunaan kata bantu dengan cara yang jauh lebih mudah dimengerti daripada penjelasan Bu Ratna di depan kelas.

Gery terdiam, bukan karena mengerti pelajaran, tapi karena melihat betapa seriusnya wajah Vanya saat mengajar. Rambutnya yang seringkali jatuh menutupi mata saat menunduk, dan aroma parfumnya yang kini terasa seperti aroma "rumah" bagi Gery.

"Nah, sekarang coba kerjain nomor lima," ucap Vanya sambil mengembalikan buku itu.

"Oke, oke. Subject, verb, object... gini?" Gery mencoba mengisi.

Vanya melihat hasil kerja Gery dan mengangguk puas. "Pinter! Nah, sekarang gantian. Gue nggak paham sama sekali soal hitungan akuntansi perhotelan ini.

Kok bisa ya debit-kreditnya nggak sinkron?"

Gery tersenyum, merasa inilah saatnya dia membalas budi. "Sini. Akuntansi itu cuma soal logika posisi. Anggap aja uang masuk itu teman, uang keluar itu tamu yang cuma mampir."

Gery mulai menjelaskan dengan bahasa yang sangat logis. Dia membedah satu demi satu kolom transaksi yang membuat Vanya pusing. Dalam hal logika dan angka, Gery memang juaranya. Dia bisa melihat pola di mana orang lain hanya melihat tumpukan angka. Hampir setiap jam pelajaran kosong atau saat istirahat, meja belakang mereka berubah menjadi pusat belajar kecil. Mereka tidak lagi hanya berbagi bekal, tapi berbagi isi kepala.

"Kita kayak tim ya?" ujar Vanya suatu siang, sambil menutup buku teks tebalnya. "Lo otak kiri, gue otak kanan."

"Tim yang terlambat bareng," tambah Gery, membuat mereka berdua tertawa bersama.

Namun, di tengah keakraban itu, ponsel Vanya sering kali bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk, biasanya dari pacarnya. Gery sering melihat perubahan raut wajah Vanya—dari tertawa riang saat belajar bersamanya, menjadi sedikit tegang atau kesal saat membaca layar ponselnya.

"Kenapa? Dia lagi?" tanya Gery hati-hati.

Vanya mendesah, memasukkan ponselnya ke dalam laci meja. "Iya. Dia nanya kenapa gue lama balesnya. Gue bilang lagi belajar bareng lo, eh malah dia marah. Katanya, masa belajar harus sama cowok."

Gery terdiam. Ada rasa bersalah yang aneh, tapi juga ada rasa ingin melindungi. "Kalau emang bikin masalah, kita belajarnya nggak usah terlalu dekat juga nggak apa-apa, Van."

Vanya menoleh cepat, menatap mata Gery dalam-dalam. "Nggak. Gue yang mau belajar sama lo. Lagian, cuma lo yang sabar ngajarin gue sampai paham. Dia aja nggak pernah mau dengerin curhatan gue soal susahnya pelajaran di sini."

Kalimat itu tersimpan rapi di ingatan Gery. Bahwa bagaimanapun hebatnya pacar Vanya di luar sana, di meja belakang ini, Gery-lah yang paling dibutuhkan.

Meja belakang itu memang strategis untuk belajar, tapi juga menjadi magnet bagi mata-mata jahil di kelas 1-Hotel 2. Desas-desus mulai beredar di antara barisan depan.

"Gery sama Vanya itu sebenernya pacaran nggak sih?" bisik beberapa anak perempuan saat jam olahraga.

"Nggak mungkin, Vanya kan punya cowok sekolah lain. Tapi kok mereka nempel terus kayak perangko sama amplop?" sahut yang lain.

Gery mendengar sayup-sayup itu, tapi dia hanya diam. Fokusnya saat ini bukan pada Vanya, melainkan pada sosok gadis yang duduk tiga baris di depannya—Nadia. Nadia adalah siswi yang lembut, pembawaannya tenang, dan selalu berhasil membuat Gery salah tingkah setiap kali mereka berpapasan di depan papan tulis.

Suatu sore, saat kelas sudah sepi dan hanya tersisa mereka berdua yang sedang membereskan buku, Vanya tiba-tiba menyenggol lengan Gery.

"Ger, jujur deh. Lo lagi merhatiin Nadia ya dari tadi?" tanya Vanya dengan nada menggoda. Matanya mengerling jenaka.

Gery tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya langsung merah padam sampai ke telinga. "Apaan sih, Van? Nggak, kok."

"Halah, bohong! Mata lo tuh nggak bisa nipu. Tiap Nadia lewat, pensil lo berhenti gerak. Lucu banget deh lo kalau lagi naksir orang," Vanya tertawa lepas, sama sekali tidak ada nada cemburu dalam suaranya. Justru ada binar semangat, seolah dia baru saja menemukan misi baru yang seru.

Gery menghela napas, akhirnya menyerah. "Emang kelihatan banget ya?"

"Banget! Tapi tenang, rahasia aman di tangan gue," Vanya menepuk dadanya bangga. "Mau gue bantuin nggak? Gue kenal kok sama Nadia, dia anaknya baik banget. Tipe lo banget ya, yang kalem-kalem gitu?"

Gery hanya bisa tersenyum malu. Ada perasaan lega karena Vanya tidak merasa terganggu dengan perasaannya pada orang lain. Sebaliknya, Vanya mulai memberikan tips-tips cara mendekati Nadia, mulai dari topik pembicaraan hingga bagaimana caranya agar tidak terlihat kaku saat menyapa.

"Gue dukung lo 100 persen, Ger. Lo cowok baik, lo berhak dapet cewek yang juga baik," ucap Vanya tulus.

Namun, di balik dukungan itu, desas-desus di kelas justru semakin kencang. Teman-teman laki-laki Gery mulai meledeknya. "Woi Ger, jangan serakah dong! Vanya lo 'amanin', sekarang Nadia mau lo deketin juga?"

Ledekan itu seringkali membuat suasana jadi canggung. Vanya biasanya hanya akan membalas dengan lemparan penghapus ke arah mereka sambil berteriak, "Sirik aja lo semua! Urusin tuh nilai praktek kalian yang merah!"

Malamnya, saat SMS masuk ke ponsel Gery, itu bukan dari Nadia, melainkan dari Vanya.

From Vanya:

"Ger, gue udah tanyain ke Nadia soal hobi dia. Katanya dia suka baca novel. Besok coba lo pinjemin buku deh. Semangat, pejuang cinta!"

Gery tersenyum membaca pesan itu. Dia merasa sangat beruntung. Di saat dunia luar sibuk menggosipkan mereka, di dalam ruang rahasia persahabatan mereka, Vanya justru menjadi "sayap" bagi Gery untuk terbang mendekati gadis impiannya.

Gery belum menyadari satu hal: bahwa seseorang yang paling semangat membantumu mencari cinta, terkadang adalah seseorang yang paling tidak ingin kehilangan keberadaanmu di sampingnya.

Setelah Vanya memberikan "bisikan" tentang hobi Nadia, Gery tidak lantas bergerak agresif. Dia lebih memilih menjadi pengamat dari baris belakang. Strateginya sederhana: menjadi teman yang berguna tanpa menjadi pengganggu.

Apalagi, sebuah fakta baru terungkap: Nadia sudah memiliki pacar di luar sekolah.

"Yah... sayang banget ya, Ger," bisik Vanya suatu hari saat mereka sedang istirahat di kelas. Vanya baru saja mendapat konfirmasi soal status Nadia. "Lo nggak apa-apa?"

Gery hanya mengangkat bahu sambil terus mencoret-coret buku akuntansinya. "Nggak apa-apa, Van. Gue suka bukan berarti harus memiliki sekarang juga, kan? Lagian, liat dia senyum dari sini aja udah cukup buat bikin hari gue nggak suntuk-suntuk amat."

Vanya menatap Gery dengan pandangan heran sekaligus kagum. "Lo tuh... terlalu baik atau emang kurang ambisi sih? Kalau gue jadi lo, gue pasti bakal galau seharian."

Gery terkekeh. "Gue cuma realistis. Lagian kita kan di sini buat belajar perhotelan, bukan buat drama sinetron."

Maka, dimulailah fase persahabatan antara Gery dan Nadia. Berkat "jembatan" yang dibangun Vanya, Nadia sering ikut bergabung ke meja belakang jika ada pelajaran yang sulit. Gery tetaplah Gery; dia tetap sabar menjelaskan rumus-rumus kepada Nadia, sama tulusnya saat dia mengajar Vanya.

Gery sengaja menjaga jarak yang sopan. Dia tidak pernah mengirim SMS yang bersifat pribadi kepada Nadia di malam hari. Interaksinya hanya sebatas di sekolah. Dia lebih banyak menghabiskan waktu berdiskusi dengan teman-laki-laki lainnya tentang sepak bola atau rencana-rencana lainnya.

"Ger, lo kok nggak pernah nyoba nge-SMS Nadia sih?" tanya Vanya suatu sore saat mereka berjalan menuju parkiran. "Gue punya nomornya, nih."

"Nggak usah, Van," jawab Gery tenang. "Dia udah punya pacar. Gue nggak mau jadi beban pikiran buat dia atau bikin masalah di hubungan orang. Temenan di kelas gini udah lebih dari cukup."

Vanya terdiam. Dia melihat sosok Gery dari samping—cowok yang teguh dengan prinsipnya, yang menghormati privasi perempuan, dan yang bisa menekan egonya sendiri demi kenyamanan orang lain.

"Lo langka, Ger," gumam Vanya pelan, hampir tidak terdengar.

"Apa?"

"Nggak, bukan apa-apa," Vanya segera mengalihkan pembicaraan. "Eh, denger-denger semester depan ada rencana study tour ke Bali-Jogja, lho. Nabung dari sekarang, Ger! Jangan diabisin buat beli bekal mulu."

Gery tertawa. "Tenang, tabungan gue aman."

Di semester satu itu, meja belakang menjadi saksi kedewasaan seorang Gery. Dia belajar untuk mencintai tanpa harus mencuri, dan menghargai keberadaan Nadia sebagai sahabat. Sementara itu, Vanya semakin merasa bahwa Gery adalah tempat berlabuh yang paling aman untuk segala ceritanya—karena dia tahu, Gery tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan atau melewati batas yang seharusnya.

Tanpa mereka sadari, semester satu akan segera berakhir, dan perjalanan panjang menuju Bali dan Jogja sudah menanti di depan mata, yang akan mengubah dinamika di antara mereka bertiga.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!