Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Benang Merah dan Jebakan Harimau
Pagi itu, sinar matahari terasa lebih tajam menembus jendela kaca besar di ruang kerja Raga. Debu-debu halus tampak menari dalam berkas cahaya, menciptakan suasana yang tenang namun sarat akan ketegangan yang tersembunyi. Wangi kopi hitam yang kuat bercampur dengan aroma kertas lama memenuhi ruangan, sebuah kombinasi aroma yang selama ini identik dengan keseriusan Tuan Muda Adhitama.
Raga duduk di belakang meja besarnya, namun kali ini ia tidak sedang menatap layar monitor. Pandangannya lurus tertuju pada papan tulis putih besar yang sengaja diletakkan di sudut ruangan. Di papan itu, ada beberapa foto, potongan koran lama, dan coretan garis-garis merah yang saling terhubung.
Di tengah papan itu, tertulis satu nama dengan huruf kapital yang tegas: BURHAN PRASETYA.
Nala masuk perlahan sambil membawa nampan berisi sarapan roti panggang dan segelas susu hangat. Ia melihat suaminya begitu larut dalam pikiran sampai tidak menyadari kehadirannya. Nala memperhatikan punggung tegap Raga. Ada beban berat yang terlihat dari cara bahu pria itu sedikit merosot, beban yang sudah ia pikul sendirian selama lima tahun terakhir.
"Mas Raga, sarapan dulu," ucap Nala lembut sambil meletakkan nampan di sudut meja yang kosong.
Raga tersentak kecil, lalu menoleh. Matanya yang tajam perlahan melembut saat melihat wajah tenang Nala. Ia menghembuskan napas panjang, seolah sedang membuang racun yang sejak tadi mengendap di dadanya.
"Terima kasih, Nala," jawab Raga pelan. Ia menjauhkan kursi rodanya dari papan tulis dan mendekat ke arah meja. "Aku hampir lupa bagaimana rasanya lapar jika sudah memikirkan tikus tua itu."
Nala menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan Raga. Matanya melirik ke arah papan tulis. "Jadi, dia benar-benar orangnya? Orang yang membuat Mas harus memakai topeng ini?"
Raga terdiam sejenak, menatap telapak tangannya sendiri yang masih memiliki bekas luka samar.
"Burhan adalah orang kepercayaan kakekku," kenang Raga, suaranya terdengar berat dan getir. "Dulu, aku memanggilnya Paman. Dia yang mengajariku cara membaca laporan keuangan pertama kali. Dia terlihat sangat setia, sangat tulus. Tapi di balik senyum ramahnya, dia membangun sebuah kerajaan kecil dari uang yang dia curi dari perusahaan kami."
Nala mendengarkan dengan seksama. Ia bisa merasakan rasa dikhianati yang begitu dalam dari setiap kata yang keluar dari bibir Raga.
"Lima tahun lalu, aku menemukan bukti penggelapan dananya," lanjut Raga. "Aku ingin melaporkannya ke polisi tepat setelah acara peresmian pabrik baru. Tapi di perjalanan pulang, rem mobilku tiba-tiba tidak berfungsi. Jalanan sedang hujan deras, dan aku kehilangan kendali. Saat mobil itu terguling dan api mulai muncul, aku melihat sebuah mobil lain berhenti di kejauhan. Seseorang turun, hanya berdiri di sana melihatku terbakar tanpa berniat menolong. Dan orang itu menggunakan tongkat."
Nala menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca membayangkan betapa mengerikannya kejadian itu. "Kejam sekali. Bagaimana mungkin seseorang tega melihat orang yang sudah dianggap keluarga menderita seperti itu?"
"Uang dan kekuasaan bisa mengubah manusia menjadi iblis, Nala," ucap Raga dingin. "Dia mengira aku mati malam itu. Dan selama ini, dia bersembunyi karena tahu jika aku melihatnya lagi, aku tidak akan melepaskannya."
Raga menatap Nala dengan sungguh-sungguh.
"Informasi dari Bella kemarin membuktikan bahwa Burhan belum menyerah. Dia ingin menyelesaikan apa yang dia mulai lima tahun lalu. Dia tahu aku sudah kembali ke perusahaan, dan dia merasa terancam. Dia butuh boneka untuk membantunya, dan ayahmu adalah boneka yang paling mudah dia kendalikan karena keserakahannya."
Nala menunduk, merasa malu karena ayahnya sendiri terlibat dalam rencana jahat ini. "Maafkan Ayah, Mas. Saya tidak menyangka dia akan sejauh ini."
Raga meraih tangan Nala di atas meja, meremasnya dengan lembut. "Jangan meminta maaf atas dosa yang tidak kau lakukan. Kau justru pembawa keberuntungan untukku. Tanpamu, aku mungkin masih akan buta mencari siapa yang bersembunyi di balik bayang-bayang ini."
Raga mengambil sepotong roti panggang, menggigitnya sedikit, lalu melanjutkan penjelasannya.
"Aku sudah menyusun rencana. Minggu depan, perusahaan akan mengadakan pesta ulang tahun yang ke-30. Itu adalah acara besar yang dihadiri oleh semua kolega bisnis dan mantan petinggi perusahaan. Aku akan mengirimkan undangan khusus untuk Burhan lewat jalur belakang, seolah-olah ayahmu yang mengundangnya untuk pertemuan rahasia di tengah pesta."
"Mas ingin memancingnya datang ke pesta itu?" tanya Nala cemas. "Bukankah itu berbahaya? Akan ada banyak orang di sana."
"Justru karena banyak orang, dia akan merasa aman," kata Raga dengan senyum licik. "Dia pikir aku masih pria lumpuh yang lemah dan tidak berdaya. Dia pikir aku tidak tahu identitasnya. Di pesta itu, di depan semua orang yang dulu dia bodohi, aku akan menarik topengnya dan menunjukkan pada dunia siapa dia sebenarnya."
"Tapi Mas..." Nala menatap mata suaminya dengan rasa khawatir yang nyata. "Bagaimana kalau dia membawa senjata? Bagaimana kalau dia nekat?"
"Aku punya Sera dan tim keamananku," jawab Raga yakin. "Tapi aku juga butuh kau, Nala."
Nala tersentak. "Saya? Apa yang bisa saya lakukan?"
Raga memutar kursi rodanya, membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan yang sangat mewah berbahan beludru hitam. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah set perhiasan zamrud hijau yang berkilau indah, dikelilingi oleh berlian-berlian kecil yang tampak seperti tetesan air mata malaikat.
"Pesta itu akan menjadi debut resmimu sebagai Nyonya Adhitama di depan seluruh dunia bisnis," ucap Raga. "Semua mata akan tertuju padamu. Kau harus menjadi pusat perhatian, pengalih perhatian yang sempurna. Saat semua orang sibuk mengagumimu dan membicarakan kecantikanmu, timku akan bekerja dalam diam untuk menyudutkan Burhan."
Nala menatap perhiasan itu dengan ragu. "Saya takut saya tidak bisa, Mas. Saya tidak terbiasa berpura-pura di depan orang banyak."
Raga bangkit sedikit dari kursinya, mendekatkan wajahnya ke wajah Nala. Jarak di antara mereka begitu dekat hingga Nala bisa merasakan hembusan napas Raga yang hangat.
"Kau bukan sedang berpura-pura, Nala," bisik Raga intens. "Kau adalah ratu di rumah ini. Dan mulai minggu depan, kau adalah ratu di duniaku. Percayalah padaku, dan yang lebih penting, percayalah pada dirimu sendiri. Kau memiliki kekuatan yang tidak kau sadari. Kekuatan yang bisa membuat pria seperti Burhan sekalipun gemetar."
Nala menelan ludah. Kata-kata Raga seolah menyuntikkan keberanian baru ke dalam pembuluh darahnya. Ia teringat bagaimana ia menghadapi Bella kemarin. Ia teringat bagaimana ia memijat kaki Raga setiap malam. Ia bukan lagi gadis kecil yang hanya bisa menangis di dapur.
"Baiklah, Mas," jawab Nala mantap. "Saya akan melakukannya. Saya akan menjadi perisai Mas."
Raga tersenyum puas. Ia menutup kembali kotak perhiasan itu dan menyerahkannya pada Nala. "Simpan ini. Dan mulai besok, kau akan berlatih lebih keras dengan Sera. Bukan hanya fisik, tapi juga cara bicara, cara berjalan di karpet merah, dan cara memberikan tatapan yang bisa membungkam lawan bicara tanpa satu kata pun."
Sore harinya, latihan Nala dengan Sera berpindah dari ruang olahraga ke aula besar yang memiliki lantai marmer mengkilap.
Sera meletakkan sebuah buku tebal di atas kepala Nala.
"Jalan," perintah Sera datar.
Nala mencoba melangkah dengan anggun, mengenakan sepatu hak tinggi sepuluh sentimeter yang baru dibelikan Pak Hadi. Namun, baru tiga langkah, buku itu jatuh berdebum ke lantai.
"Lagi," ucap Sera tanpa ekspresi.
Nala mendesah, memungut buku itu, dan meletakkannya kembali di kepala. "Sera, kenapa harus pakai buku begini? Bukankah ini cara kuno?"
"Postur tubuh adalah pesan pertama yang Anda kirimkan pada musuh, Nyonya," jelas Sera sambil berjalan memutari Nala. "Jika bahu Anda turun, orang akan menganggap Anda lemah. Jika leher Anda terlalu tegang, orang tahu Anda takut. Anda harus terlihat seperti air yang tenang, namun memiliki kedalaman yang mematikan."
Sera berhenti tepat di depan Nala.
"Bayangkan Anda sedang berjalan menuju orang yang paling Anda benci. Orang yang ingin melihat Anda jatuh. Tunjukkan pada mereka bahwa lantai marmer yang Anda injak ini adalah milik Anda sepenuhnya. Tatap mata saya seolah saya adalah debu yang tidak berharga."
Nala menarik napas panjang. Ia membayangkan wajah Nyonya Siska. Ia membayangkan ejekan Bella di masa lalu. Ia menegakkan bahunya, dagunya terangkat sedikit, dan matanya menajam.
Ia mulai melangkah.
Langkah kaki Nala terdengar mantap di atas marmer. Tak... tak... tak... Iramanya tenang namun bertenaga. Buku di kepalanya tidak bergerak sedikit pun. Ia melewati Sera dengan tatapan yang dingin dan penuh otoritas, sebuah ekspresi yang bahkan mengejutkan Sera sendiri.
"Bagus," puji Sera singkat. "Sekarang, kita latihan cara berbicara. Jika seseorang merendahkan Anda dengan halus, jangan marah. Jangan berteriak. Cukup berikan satu pertanyaan yang membalikkan keadaan."
Latihan itu berlangsung hingga matahari terbenam. Nala merasa seluruh tubuhnya pegal, namun ada rasa bangga yang tumbuh di hatinya. Ia sedang menempa dirinya menjadi senjata baru untuk Raga.
Malam harinya, suasana di mansion terasa lebih sunyi.
Raga berada di perpustakaan pribadi, duduk di kursi rodanya di depan perapian yang menyala. Di pangkuannya ada sebuah buku lama, namun matanya tidak tertuju pada tulisan itu. Ia sedang mendengarkan suara dari arah studio lukis.
Nala sedang di sana. Ia sedang melukis sesuatu yang baru.
Raga menggerakkan kursi rodanya perlahan menuju studio. Pintu studio sedikit terbuka. Dari celah itu, Raga bisa melihat Nala sedang berdiri di depan kanvas besar.
Nala tidak menyadari kehadiran Raga. Ia sedang memegang kuas besar, menyapukan warna hitam dan abu-abu dengan gerakan yang liar namun terarah. Ia sedang melukis sebuah pemandangan badai di tengah laut. Ombak besar yang menggulung, awan hitam yang pekat, namun di kejauhan, ada seberkas cahaya putih yang menembus awan.
Raga memperhatikan cara Nala melukis. Ada semangat yang membara di sana. Ada emosi yang tertuang dengan jujur.
Tiba-tiba, Nala meletakkan kuasnya. Ia tampak lelah. Ia berjalan menuju jendela, menatap kegelapan malam di luar.
Raga memutuskan untuk masuk.
"Badai itu terlihat sangat nyata," komentar Raga pelan.
Nala menoleh, sedikit terkejut namun langsung tersenyum manis saat melihat suaminya. "Mas belum tidur?"
"Belum," jawab Raga. Ia mendekati kanvas itu. "Kenapa melukis badai? Aku pikir kau akan melukis bunga setelah kejadian di Bogor kemarin."
Nala mendekati Raga, berdiri di samping kursi rodanya. "Karena badai adalah apa yang sedang kita hadapi sekarang, Mas. Gelap, menakutkan, dan mengerikan. Tapi saya tahu, badai pasti berlalu. Dan cahaya di ujung sana... itu adalah kita."
Raga menatap lukisan itu, lalu menatap Nala. Perasaan haru menyelinap di sela-sela hatinya yang biasanya dingin. Gadis ini bukan hanya menjadi rekannya dalam strategi bisnis, tapi juga menjadi penjaga jiwanya.
"Nala," panggil Raga lirih.
"Ya, Mas?"
"Jika semua ini selesai... jika Burhan sudah tertangkap dan ayahmu sudah mendapatkan hukumannya... apa yang paling ingin kau lakukan?"
Nala berpikir sejenak. Ia menatap tangannya yang terkena noda cat.
"Saya ingin kita pergi berlibur," jawab Nala jujur. "Ke sebuah rumah kecil di pinggir pantai. Hanya kita berdua. Tanpa topeng, tanpa kursi roda ini jika Mas sudah siap, tanpa ada orang yang mengawasi. Saya ingin melukis Mas di bawah sinar matahari yang asli, bukan cahaya lampu ruangan."
Raga tertegun. Impian Nala begitu sederhana, namun terasa begitu mewah bagi Raga yang sudah lama terperangkap dalam dendam dan kepura-puraan.
"Aku berjanji," ucap Raga serius. "Aku akan membawamu ke sana. Dan saat itu tiba, aku akan menunjukkan padamu siapa Raga Adhitama yang sesungguhnya."
Raga menarik tangan Nala, mencium telapak tangannya yang hangat.
Tiba-tiba, terdengar suara keributan kecil dari arah halaman depan. Suara gonggongan anjing penjaga dan teriakan para pengawal.
Raga langsung berubah menjadi waspada. Ia melepaskan tangan Nala dan meraih ponselnya.
"Ada apa?!" bentak Raga saat panggilannya tersambung ke pos depan.
"Tuan Muda! Ada seseorang yang mencoba menerobos gerbang!" lapor kepala keamanan dengan suara panik. "Seorang wanita! Dia terlihat sangat kacau dan berteriak-teriak memanggil nama Nyonya Muda!"
Nala mengerutkan kening. "Wanita? Siapa?"
Raga mematikan ponselnya, wajahnya mengeras. "Kita lihat saja sendiri. Nala, tetap di belakangku."
Mereka menuju lobi utama. Pintu besar mansion terbuka, memperlihatkan suasana halaman depan yang terang benderang oleh lampu sorot pengamanan. Beberapa pengawal sedang menahan seorang wanita yang sedang berontak hebat.
Wanita itu mengenakan gaun malam yang sobek di beberapa bagian. Rambutnya berantakan, riasannya luntur terkena air mata dan keringat. Wajahnya pucat pasi, dipenuhi goresan luka kecil.
Nala tersentak kaget saat mengenali siapa wanita itu.
"Ibu Siska?!" seru Nala tak percaya.
Wanita itu, ibu tiri Nala yang biasanya angkuh dan elegan, kini terlihat seperti gelandangan yang putus asa. Saat melihat Nala, ia langsung menjatuhkan dirinya berlutut di tanah, memohon dengan suara parau yang menyedihkan.
"Nala! Tolong! Tolong Ibu!" jerit Siska sambil terisak. "Ayahmu... Ayahmu diculik! Dan Bella... Bella dibawa pergi oleh pria pincang itu!"
Dunia seolah berhenti berputar bagi Nala. Darahnya membeku. Jebakan harimau yang sedang disiapkan Raga sepertinya sudah didahului oleh langkah musuh yang lebih licik.
Raga mencengkeram sandaran kursi rodanya kuat-kuat. Rahangnya mengeras.
"Bawa dia masuk," perintah Raga dingin pada para pengawal. "Dan kunci semua pintu. Perang ini ternyata dimulai lebih cepat dari dugaanku."
Nala hanya bisa mematung, menatap ibu tirinya yang hancur. Ia sadar, kedamaian semu yang ia rasakan beberapa jam lalu telah menguap. Malam ini, benang-benang takdir mulai saling melilit, menyeretnya masuk ke dalam pusat badai yang jauh lebih besar dari yang pernah ia lukis di kanvasnya.
ceritanya bagu😍