Tiga tahun lalu, Caliandra Adiyaksa memilih pergi.
Bukan karena ia tak lagi mencintai Arka Wiryamanta,
tapi karena cinta mereka berdiri di atas luka dan darah masa lalu.
Kini ia kembali, bukan sebagai gadis yang rapuh.
Ia hadir sebagai wanita mandiri dengan kerajaan bisnisnya sendiri.
Arka mengira waktu akan menghapus namanya.
Nyatanya, tidak ada satu hari pun ia berhenti mencintainya.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia bisnis,
gengsi, dendam lama, dan seorang pria bernama Kenzy Maheswara
berdiri di antara mereka.
Arka hanya tahu satu hal,
dari semua perempuan yang datang dan pergi,
hanya satu yang mampu mengacaukan hatinya.
Still you.
Tapi kali ini…
apakah Caliandra masih memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Tak Pernah Terkubur
Hujan turun tanpa permisi malam itu.
Surya Pradana duduk sendiri di ruang kerjanya yang gelap. Hanya lampu meja yang menyala redup. Di hadapannya, sebuah kotak kayu kecil terbuka.
Di dalamnya tersimpan satu foto lama.
Seorang gadis tersenyum manis, rambut panjangnya terurai tertiup angin. Matanya lembut. Wajahnya begitu hidup.
Namanya :Laras Pradana.
Adik perempuan satu-satunya Surya.
Satu-satunya keluarga yang ia miliki setelah orang tua mereka meninggal.
Cinta yang Dijanjikan… Lalu Direnggut
Dulu.....
Wiryamanta sering datang ke rumah mereka.
Ia sahabat dekat Surya. Rekan bisnis. Pria ambisius dengan karisma kuat.
Laras jatuh cinta padanya.
Dan Wiryamanta,…jelas membalas rasa itu.
Hubungan itu bukan rahasia.
Bahkan pembicaraan pernikahan sudah ada.
Surya masih ingat jelas malam ketika Wiryamanta datang membawa cincin.
“Aku akan menjaga Laras seumur hidupku,” ucapnya waktu itu.
"Izinkan aku menjadi bagian dalam cerita hidupnya"
Surya mempercayainya, tanpa ragu...
Ia mengizinkan hubungan itu dengan penuh keyakinan.
Namun, Waktu dan perasaan berubah terlalu cepat.
Dalam perjalanan bisnis ke luar kota, Wiryamanta bertemu seorang wanita.
Wanita yang kemudian menjadi ibu Arka.
Cinta baru itu datang seperti badai.
Dan Wiryamanta… memilihnya.
Tanpa keberanian menatap Laras.
Tanpa penjelasan yang cukup.
Hanya keputusan sepihak.
Pernikahan dibatalkan.
Laras hancur.
Kejatuhan yang Sunyi
Awalnya Laras hanya diam.
mencoba mencerna semua yang terjadi dalam hidupnya
Lalu ia berhenti makan.
Berhenti tersenyum.
Berhenti keluar kamar.
Depresi...? Jelas ia mengalaminya
Surya mencoba menguatkannya.
“Dia tidak pantas untukmu,” katanya berkali-kali.
Namun bagi Laras, Wiryamanta bukan sekadar pria.
Ia adalah masa depan yang sudah ia bangun dalam mimpinya.
Banyak hal yang sudah ia gantung dalam angan-angan bayangan
Kehidupan pernikahan Bersama laki-laki yang Bernama Wiryamanta itu.
Bukan hanya cintanya…seluruh hidupnya hanya ada satu nama Wiryamanta
Dan ketika mimpi itu runtuh…
Laras ikut runtuh bersamanya.
Saat pagi menyingsing....
Surya ingin membuka kamar adiknya, namun terkunci.
Ia memanggil nama laras berkali kali namun tidak ada sahutan suara yang terdengar.
Lalu surya mencoba mendobrak pintu kamar laras,
Dan ketika pintu itu berhasil didobrak.
Tubuh Laras terbaring tak bernyawa.
Botol obat berserakan di lantai.
Sepucuk surat kecil di meja.
“Kak, aku hancur….aku kalah….dan aku menyerah.
Maafkan aku.”
Dunia Surya berhenti di sana.
Kebencian yang Lahir
Sejak hari itu, Surya tidak lagi percaya pada takdir.
Ia percaya pada balas dendam.
Wiryamanta mungkin tidak membunuh Laras secara langsung.
Tapi ia yang menghancurkan jiwanya.
Dan bagi Surya… itu cukup.
Ia melihat Wiryamanta terus membangun kerajaan bisnisnya.
Terus bahagia dengan keluarga barunya.
Terus hidup seolah tidak pernah meremukkan hati seorang wanita sampai mati.
Dan Surya bersumpah dalam hati :
"Jika kau mengambil satu-satunya keluargaku,
maka aku akan mengambil segalanya darimu."
Malam Kecelakaan Itu
Bertahun-tahun kemudian, Surya mengetahui Adiyaksa mengalami kebangkrutan dan mulai menjauh dari Wiryamanta.
Ia melihat kesempatan.
Ia tahu hubungan keduanya retak.
Ia tahu jika ia bisa memperparahnya, Wiryamanta akan kehilangan sahabat terdekatnya. Mengacaukan bisnis bersamanya.
Ia menemui Adiyaksa, menyirami bahan bakar pada api kecil itu.
Menumbuhkan rasa curiga dan bumbu penghianatan wiryamanta didalam hatinya .
Dan musuh dari musuhku adalah Pion, begitu pikirnya
Malam sunyi itu…..
Ia ingin menemui adiyaksa. Ingin memanfaatkannya untuk menghancurkan wiryamanta. Ingin memastikan jurang di antara mereka semakin dalam.
Namun takdir bermain kejam.
Adiyaksa turun dari mobil sambil menggendong Aurora kecil.
Jalan licin.
Lampu sorot mobil Surya membias di tengah hujan.
Rem diinjak.
Terlambat.
BRAKKK!!!
Tubuh Adiyaksa terpental.
Aurora terlempar ke tepi jalan.
Surya keluar dengan tangan gemetar.
Ia melihat darah mengalir.
Ia melihat seorang anak kecil menangis histeris.
Dan dalam detik itu…
Ia punya pilihan.
Menolong sepenuh hati.
Atau memanfaatkan keadaan.
Ia memilih diam beberapa detik… terlalu lama.
Beberapa detik yang mengubah segalanya.
Aurora selamat.
Dengan ingatan yang samar.
Dan Surya melihat wajah kecil itu…
Sebagai alat.
Sebagai Pion.
Sebagai cara untuk menghancurkan Wiryamanta dari dalam.
Namun seiring jalannya waktu…
Ia menyayanginya.
Menyayangi Aurora seperti melihat laras di wajahnya.
Memeluknya seperti dia terlahir dari benihnya.
Tapi tetap tidak lebih besar dari kebencian dan rasa dendam di dalam hatinya.
Kembali ke Masa Kini
Surya menutup kotak kayu itu perlahan.
“Laras… aku belum selesai.”
Matanya dingin.
Namun ketika Aurora masuk ke ruangan itu dan tersenyum kecil padanya.
Ada sesuatu yang melembut.
Hanya sesaat.
Karena di dalam dirinya, cinta dan dendam tidak pernah berdiri sejajar.
Dan dendam selalu menang.
😭😭😭