NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 - Yang Sebenarnya

Tiba tiba pintu ruang ICU terbuka memperlihatkan seorang gadis yang memakai kerudung dan menggunakan gamis berwarna pink. Ia terdiam beberapa detik setelah melihat Bima yang sedang menatapnya, pandangan mereka terkunci sebentar.

"Mawar? Lo ngapain disini?" lirih Bima, karena takut Aura mendengarnya.

Mawar bingung harus berkata apa, apa mungkin ia harus mengatakan yang sebenarnya.

"Lo mau jenguk Arfan? Dia kekasih lo kan, pasti lo khawatir banget ya sama dia," ucap Bima dengan nada seperti cemburu.

"Kekasih? Aku kekasihnya Kak Arfan? Kata siapa kak?" tanya Mawar dengan bingung, kenapa bisa semua orang menganggap dirinya sebagai kekasihnya Arfan.

Sedangkan bagi Mawar, Arfan bukanlah kekasih Mawar. Bagaimana bisa Mawar menyukai Arfan, tentu tidak akan pernah.

​"Bicara di luar," perintah Bima singkat. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan, tapi penuh penekanan. Ia melepas pakaian sterilnya dengan gerakan kasar, lalu berjalan keluar tanpa menoleh lagi.

​Mawar meremas ujung gamis pink nya. Jantungnya berdegup kencang. Ia melirik sekilas ke arah Aura yang masih terisak di samping ranjang Arfan, untungnya sahabatnya itu masih terlalu tenggelam dalam kesedihan hingga tak menyadari kehadirannya.

​Mawar pun berbalik, mengikuti langkah lebar Bima menuju koridor rumah sakit yang sepi.

​Begitu pintu ICU tertutup, Bima langsung berbalik. Matanya menatap Mawar tajam. "Nggak usah akting bingung, War. Gue liat sendiri gimana Arfan perhatian ke lo selama ini. Bahkan lo jenguk dia sembunyi-sembunyi kemarin, kan? Kalau bukan kekasih, terus apa namanya?"

​Mawar menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemetar di tangannya. "Kak Bima salah paham. Aku sama Kak Arfan itu nggak ada hubungan apa-apa seperti yang Kakak pikirkan. Kak Arfan itu..." Mawar menggantung kalimatnya. Ia teringat janji dan rahasia Arfan.

​"Apa? Kak Arfan itu apa?!" desak Bima, langkahnya maju satu tindak, mengintimidasi.

​"Dia cuma orang yang aku hargai, Kak! Tolong, jangan asal tuduh kalau Kakak nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi!" suara Mawar meninggi, meski matanya mulai berkaca-kaca karena rasa lelah dituduh terus-menerus.

​Bima terkekeh sinis, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata. "Terus ngapain kalian jalan berduaan? Gue liat kalian jalan bareng bahkan ga cuman sekali, tapi dua kalian gue liat. Lo mau nyalahin mata gue dan bilang kalau cuman salah liat?" ucap Bima dengan sedikit meninggi tetapi masih terdengar lembut, "Tega ya, lo tau kan, kalau Arfan sama Aura itu deket. Kok lo mau sih sama Arfan, dia ga pantes sama lo! Lo terlalu sempuna buat dia!"

Mawar skatmat, ia hanya menundukan kepalanya dan terdiam. Ia takut melihat amarah Bima, "Ga seperti yang kamu.... yang kamu liat Kak, aku bisa jelasin semuanya," lirih Mawar.

"Jelasin apa, apa yang perlu lo jelas-"

"Aku sama Kak Arfan bukan kekasih, dia udah anggap seperti Kakakku sendiri karena semenjak dia di usir dari orang tuanya, dia tinggal di pesantren Abah aku!" ucap Mawar spontan dengan memotong perkataan Bima.

Bima mematung. Kata-kata Mawar barusan seperti hantaman keras yang meruntuhkan semua tembok kecemburuannya. "Di... pesantren Abah lo?"

​Mawar mengangguk pelan, air matanya kini benar-benar luruh. "Kak Arfan itu orang baik yang lagi kehilangan arah. Dia butuh keluarga, bukan sekadar pacar. Dan aku... aku cuma adik yang pengen dia kembali ke jalan yang benar."

​Hening menyelimuti koridor rumah sakit. Bima meraup wajahnya kasar, merasa jadi orang paling bodoh sedunia karena sudah menghakimi gadis di depannya.

Bima tertegun, lidahnya mendadak kelu. Keangkuhan yang tadi meluap-luap luruh seketika, menyisakan rasa sesak yang menghimpit dada. "Maaf... Maaf banget, War. Gue... gue nggak tahu. Gue cuma terlalu takut lo salah pilih orang," ucap Bima dengan suara yang pecah.

​Mawar menatap Bima dengan mata yang sudah memerah sempurna. Bening air mata lolos begitu saja melewati pipinya yang pucat. Ia tersenyum tipis, tapi senyum itu jauh lebih menyakitkan daripada isak tangis.

​"Kenapa kalian bisa berpikir seburuk itu?" lirih Mawar, suaranya bergetar menahan isak yang hampir pecah. "Emang aku seburuk itu ya di mata kalian, Kak?"

​Tanpa menunggu jawaban Bima, Mawar berbalik. Gamis pink nya melambai pelan seiring langkahnya yang terburu-buru meninggalkan koridor. Ia tidak ingin Bima melihat betapa hancurnya harga dirinya saat ini.

​Bima hanya bisa mematung, menatap punggung yang kian menjauh itu dengan tangan yang menggantung di udara, ingin meraih, tapi merasa tak pantas lagi menyentuh dan tak pantas lagi berbicara dengannya.

...****************...

Mawar masuk ke dalam taksi dengan sangat tergesa gesa, lalu ia menumpahkan semua tangisannya di dalam.

Supir taksi hanya terdiam disana, ia tidak bertanya dan tidak menjalankan mobilnya. Supir taksi tersebut membiarkan penumpangnya untuk tenang terlebih dahulu.

Perkataan Bima sangat menyakiti hati Mawar, ternyata dirinya seburuk itu di mata Bima. Bima tega menuduhnya mengkhianati sahabatnya sendiri, Aura.

Padahal Mawar sedang berjuang untuk terus menjaga Aura dari Arfan, berjuang agar Arfan kembali seperti dulu yang tidak terobsesi pada cintanya.

"Memang ini semua salahku, aku harusnya mengatakan semuanya. Supaya tidak ada yang salah paham dan mengira aku... aku selingkuhan Kak Arfan," lirih Mawar.

Mawar menghapus air matanya, lalu menatap rumah sakit. Ia akan kembali nanti setelah dirinya merasa lebih tenang.

"Ke jalan mangga no 12 Pak," perintah Mawar, lalu perlahan taksi berjalan sesuai perintah Mawar.

Sementara itu Bima memukuli kepalanya sendiri, kenapa bisa ia tega dengan orang yang ia cintai.

Seketika Bima teringat perkataan Ayahnya selagi masih hidup.

"Apa yang kamu liat, belum tentu apa yang terjadi sebenarnya Bim, jadi jangan menyimpulkan semuanya seperti apa yang kamu liat."

"Maafin aku Yah! Bima gagal! Bima bodoh!" lirih Bima dengan gemetar.

Bima yakin jika Mawar pasti sangat membencinya dan tidak mungkin Bima akan mendapatkan hati Mawar.

Air mata Bima menetes, ia sangat menyesali perbuatannya. Sangat sangat menyesali karena sudah menuduh Mawar.

Pintu ruang ICU terbuka, Aura melangkahkan kakinya keluar dari sana. Ia mencari keberadaan Bima tetapi tidak ada.

"Kak Bima kemana?" ucap Aura sembari terus mencari di lorong lorong rumah sakit.

Aura sempat mendengar suara keributan tetapi mungkin itu hanya orang lain yang sedang berbeda pendapat.

"Aura!"

Aura mengerutkan kening, mencoba memfokuskan pandangannya yang masih agak kabur karena kelelahan. Sosok itu semakin dekat, langkah kakinya terdengar tegas di koridor yang mulai sepi. Rambut kecokelatannya yang terurai tampak kontras dengan suasana rumah sakit yang serba putih dan pucat.

"Lo harus pergi dari sini, Ra. Ngapain lo nungguin orang yang udah hancurin masa depan lo!" perintah gadis itu dengan menarik tangan Aura keluar dari sana.

Bersambung.......

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!