Nabila Zahra Kusuma gadis cantik yang hidup dengan keluarga yang sangat berantakan. Saat ibunya Siti Nurhaliza pergi meninggalkan dia dan ayahnya untuk memilih hidup dengan pria lain yang memiliki banyak harta. Sedangkan Hariyanto Kusuma ayahnya suka dengan dunia malam, minuman dan perjudian.
Nabila yang masih bersekolah kini harus berjuang untuk hidupnya sendiri, apalagi dia tidak ingin putus sekolah.
Setiap pulang sekolah, Nabila selalu menyempatkan diri kerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang buat membiayai hidupnya.
Hidupnya sangat sulit. Terkadang dia harus menahan air mata agar tidak dianggap lemah oleh orang lain. Nabila juga sering mendapatkan perundungan dari teman sekelas yang menganggap dia rendah.
Semua itu dia hadapi dengan menjadi perempuan yang sangat kuat. Sifat lembut dalam dirinya dia sembunyikan hanya untuk mempertahankan diri.
Setiap hari Nabila harus menyaksikan ayahnya bersama perempuan lain dengan tubuh terbuka di ruang tamu rumah mereka. Pakaian mere
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Nabila membuka pintu kamar mereka dengan sedikit kasar, wajahnya cemberut namun terkesan lucu sambil memegang banyak cemilan dan satu kotak susu coklat besar. Bahkan salah satu pengawal harus membantu dia membuka pintu kamar itu.
"Terimakasih paman!!" cetus Nabila kemudian menutup pintu dengan kakinya.
Reynaldo yang melihat ekspresi wajahnya langsung tertawa – bagaimana bisa wajah seperti itu tetap membawa banyak makanan. Nabila memang tipe orang yang suka ngemil saat sedang marah.
"Darimana kamu dapat itu? Bukannya kamu mengantuk tadi? Dan mengapa wajahmu kayak monyet yang gak dapat pisang!!" ujar Reynaldo tersenyum.
"Diamlah kadal air!! Aku lapar banget!" cetus Nabila dengan kesal.
"Kau mau makan di jam segini?"
"Kau lihat dong?? Heiii matamu dipakein dong udah cape-cape bawa dari bawah, malah nanya lagi!! Ditambah lagi ketemu nenek lampiran dan sekutunya yang bikin kesel!" ucap Nabila sambil meletakkan makanannya di atas meja dekat sofa, kemudian menghempaskan bokongnya ke sofa besar dan empuk.
"Nenek lampiran dan sekutu? Maksudmu siapa??" ucap Reynaldo menatap wajahnya.
"Alisha dong! Dia bawa gengnya dateng ke istana ini!"
"Beraninya dia!" ucap Reynaldo menatap tajam kemudian berjalan ke arah pintu kamar.
"Mau kemana??"
"Lihat aja nenek lampiran itu dan sekutunya!"
"Ku harap matamu kuat ya hahah" ucap Nabila pelan lalu tertawa.
"Ikut dong aku pengen lihat drama di kehidupan orang!" kekeh Nabila mengikuti langkah Reynaldo sambil sedang makan coklat.
"Mau kemana kamu??" ucap Reynaldo kepada Nabila yang mengikutinya dari belakang.
"Nonton sekutu nenek lampiran dimarahin kadal air.." ucap Nabila dengan wajah polos.
Reynaldo hanya menggeleng kepalanya dengan tatapan sedikit malas.
"Aku bukan kadal air Nabila!"
"Aku juga bukan monyet Reynaldo!!"
"Pffftttt tapi wajahmu benar-benar lucu kayak monyet!" ucap Reynaldo terkekeh.
"Bajingan ini! Kau coba lihat dong emang ada monyet yang makan coklat!!" gerutu Nabila.
"Ada.."
"Dimana?"
"Ini!!!"
"Wahhh ada yang kayaknya mau tidur luar nih sepertinya!!" ucap Nabila sinis.
Kini Nabila terus mengikuti Reynaldo sambil tetap mengunyah coklat yang dia pegang.
Reynaldo menatap tajam ke arah Alisha dan seluruh temannya – beberapa di antaranya sudah dalam kondisi mabuk.
"Apa yang kalian lakukan disini!!" ucap Reynaldo dengan suara tegas, membuat sebagian dari teman Alisha sedikit terkejut.
"Alisha putramu yang tampan udah datang nih!" ucap salah satu teman Alisha yang sudah sangat mabuk.
"Heheheh iyaa haii sayang mommy.." ucap Alisha yang juga sudah setengah mabuk, kemudian mendekat ke arah Reynaldo.
"Pengawal, usir mereka semua keluar dari istana!" teriak Reynaldo.
"Siapa yang menyuruh kamu mengusir teman-temanku!! Pasti wanita itu yang suruh kamu lakukan ini! Heiii bangsattt!! Dasar jalangg seharusnya kamu yang keluar dari sini! Kamu bukan bagian keluarga Wijaya!" teriak Alisha marah.
Nabila terkejut karena dia ikut terseret dalam perdebatan itu.
"Dasar nenek lampiran!! Lagi pula kalau aku mau mengadu masalahnya kemana dong?? Ingat kamu hanya menumpang di rumah suamiku!! Hahaha aku tahu Reynaldo nggak mungkin bisa mencintaimu!"
"Hahahah kamu bilang cinta!! Hellooo Setidaknya hidupku nggak cuma ngantungin cintaa! Lihat aja dirimu kamu mendekati ayah mertua hanya karena nama Wijaya!!" cetus Nabila yang masih fokus dengan coklatnya.
"Sayangg.." ucap Raden Wijaya mendekat ke arah Alisha yang sudah setengah tidak sadarkan diri, menarik pinggangnya.
"Sayang lihat dong aku cuma buat pesta kecil-kecilan aja tapi mereka malah menghina aku di depan teman-temanku.." ucap Alisha manja kepada Raden Wijaya.
"Nenek lampiran mulai beraksi lagi nih!!" bisik Nabila kepada Reynaldo dengan suara cukup keras agar Alisha bisa mendengarnya.
"Sayangg lihat dong menantu pilihan putramu bilang aku nenek lampiran" ucap Alisha dengan wajah cemberut.
Reynaldo hanya memberikan tatapan tajam kepada mereka berdua.
"Alisha sepertinya kita harus pulang aja yaa.." ucap teman-teman Alisha yang sudah mulai khawatir.
"Iyahh pergi sanaaa!! Pengawal tolong, lain kali kalau sekutu nenek lampiran ini datang lagi, langsung usir aja ya!" ucap Nabila berteriak kepada para pengawal.
"Baik nyonya!" ucap salah satu pengawal kemudian mulai menarik paksa teman-teman Alisha untuk keluar.
"Heeii kaliann para pengawal beraninya ya! Drajat kita beda bangsat!!"
"Lepass!! Aku alergi bersentuhan sama pengawal rendah kayak kalian..!"
"Alisha ini penghinaan banget!"
Teriak teman-teman Alisha kala diperlakukan dengan tegas oleh pengawal.
"Sayang lihat dong mereka bikin aku malu banget!!" rengek Alisha kepada Raden Wijaya.
"Reynaldo mengapa kamu melakukan hal seperti ini kepada ibumu!!" ucap Raden Wijaya dengan pandangan tajam ke arah Reynaldo.
"Tolong ajari istri anda supaya tahu posisinya! Dan yah, sekarang istana ini berada di bawah kendali istriku – apapun yang istriku lakukan dan katakan, semua orang harus mematuhinya!!" ucap Reynaldo dengan suara tegas.
"Tapi dia baru aja masuk keluarga ini!" ucap Alisha tidak puas.
"Aku tidak menerima penolakan, dan ingat kalian hanya tinggal sementara disini – apalagi kalian seperti pengemis yang tidak punya tempat tinggal sendiri!" cetus Reynaldo dengan nada datar.
"Dasarr anak kurang ajar!!" ucap Raden Wijaya kemudian menampar pipi Reynaldo dengan kuat.
CETASSSSSSSSSS!!
Seluruh mata kini tertuju kepada mereka berdua – ayah dan anak yang sama-sama memiliki watak keras. Bahkan Nabila sampai berhenti mengunyah coklatnya.
"Apaaa yang kau lakukan!" teriak Nabila menatap tajam ke arah Raden Wijaya.
"Kauu beraninya menatapku seperti itu!" teriak Raden Wijaya.
"Kalau berani kenapa tidak?? Ohh iya aku lupa aku harus menghormati anda sebagai orang tua suamiku! Tapi sepertinya anda tidak pantas untuk dihormati rupanya tuan Raden Wijaya... Dan anda Alisha! Sejak aku masuk ke istana ini sepertinya kamu tidak suka sama aku, tapi itu tidak masalah! Cuma saja aku sudah muak dengan drama rendahan kamu – yahh kalian memang pantas disebut nenek lampiran dan kakek lampiran!" ucap Nabila dengan cepat dan tegas.
Nabila kemudian menggenggam tangan Reynaldo erat-erat.
"Ohh iyaa tuan Raden Wijaya yang terhormat, kau harus tahu suamiku tidak membalas pukulan itu bukan karena dia lemah – hanya saja dia takut kalau tangannya menyentuhmu, kau tidak akan bisa melihat dunia ini lagi!"
Reynaldo hanya menatap wajah Nabila yang sedang dalam mode "bawel" nya. Kecepatan dia berbicara bahkan membuat Raden Wijaya dan Alisha terdiam tak bisa menjawab.
"Beraninya kamu berbicara seperti itu!!" pekik Raden Wijaya.
"Aku punya mulut jadi aku bisa berbicara!" teriak Nabila kembali kemudian memeluk lengan Reynaldo.
"Sayaangg aku mengantukkk!" ucap Nabila kini menatap ke arah Reynaldo dengan wajah mengantuk.
"Kau harus istirahat, ini sudah larut malam.." ucap Reynaldo dengan suara lembut kemudian menggendong tubuhnya seperti seorang bayi koala. Nabila segera membenamkan wajahnya di bahu Reynaldo.
"Wanita itu tidak bisa diremehkan" gumam Raden Wijaya dalam hati.
Kini Reynaldo membawa Nabila menuju kamar mereka.
"Permisi tuan.." ucap Bram asisten pribadi Reynaldo menghampirinya saat hendak masuk lift.
"Ada apa?" ucap Reynaldo terhenti dari langkahnya.
"Ada masalah di bagian ekspor! Ada seseorang yang memaksa ingin bertemu dengan anda segera tuan.."
"Kita akan pergi sebentar lagi! Siapkan mobilnya!"
"Baik tuan.."
Kini Reynaldo masuk lift bersama Nabila yang masih nyaman berada dalam gendongannya.
"Kau mau kemana?" ucap Nabila dengan suara pelan yang semakin mengantuk.
"Ada urusan penting yang harus aku selesaikan!" ucap Reynaldo datar.
"Tapi ini sudah malam, kau harus beristirahat.."
"Aku akan istirahat di dalam mobil! Kau tetap di istana dan istirahat ya!"
"Baiklah, hati-hati jalan ya!" ucap Nabila yang masih tertempel di badannya.
Reynaldo membawa Nabila ke kamar dan melihatnya sudah tertidur lelap. Dia dengan lembut meletakkan wanita itu di ranjang dan menutupinya dengan selimut agar tetap hangat.
"Reynaldo hati hatiii!!" ujar Nabila dengan suara sangat pelan namun tetap terdengar oleh Reynaldo.
Kini Reynaldo meninggalkan kamar setelah memastikan Nabila sedang tidur nyenyak. Sebelum pergi, dia memberi instruksi kepada kepala pelayan untuk menjaga dan menemani Nabila.
"Besok kalau dia ingin keluar, awasi dia dengan baik dan berikan pengawal untuk mengikutinya!" ucap Reynaldo kepada pengawalnya.
"Baik tuan!" ucap pengawal itu dengan hormat.
Pagi hari menyinari Istana Mahkota Perak, Nabila terbangun dari tidurnya – jam menunjukkan pukul 9 pagi.
"Astaga aku bangun siang!!" ucap Nabila yang langsung menatap jam kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, dia keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Terlihat jelas wajah Raden Wijaya dan Alisha menatapnya dengan pandangan sinis.
Nabila memilih untuk mengabaikannya.
"Reynaldo belum pulang ya??" ucap Nabila kepada kepala pelayan.
"Belum nyonya.."
"Baiklahh, aku mau Sandwich Sosis dan susu coklat dong, tolong antarkan aja ke kamar ya.." ucap Nabila dengan suara ramah – hal itu jelas terlihat oleh Raden Wijaya dan Alisha.
"Baik nyonya.." ucap kepala pelayan dengan hormat.
Sementara itu Nabila mengambil segelas air dingin karena merasa sangat haus.
"Permisi Nyonya.." ucap salah satu pengawal menghampirinya.
"Yahh ada apaa??.."
"Tuan mengirimkan paket ini untuk nyonya.." ucap pengawal memberikan sebuah kotak yang cukup besar.
"Letakkan saja di atas meja.." ucap Nabila sambil membawa gelas air untuk diminum.
Dia duduk di kursi dekat ruang masak pelayan kemudian membuka kotak itu dengan cepat.
"Aahhhh Thank You so much hubby.." ucap Nabila sangat bahagia saat melihat isi kotaknya adalah berbagai macam jenis coklat impor.
"Sepertinya aku harus beli lemari pendingin khusus di kamar untuk menyimpan semua ini.." gumam Nabila dalam hati.
"Pelayan.. tolong susun ini dengan rapi di lemari pendingin ya, dan jangan lupa makananku juga ya.." ucap Nabila kemudian melangkah menuju lift untuk kembali ke kamar.
"Heiii!! Kamu bertindak seperti seorang ratu di tempat ini! Apa kamu tidak bisa membuat makananmu sendiri!" teriak Alisha dari belakang.
"Nenek lampiran lagi yah Tuhann.." gumam Nabila dalam hati.
"Nyonya Alisha untuk saat ini aku tidak ingin berdebat!! Lagipula aku mau hubungi suamiku jadi anggap saja kamu tenang aja hari ini dan ingat! Istana ini sekarang dalam pengawasanku!!" teriak Nabila kemudian berlari masuk lift.