Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.
Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH DIBALIK KABUT INGATAN
Pintu lift terbuka dengan denting halus, membawa mereka keluar menuju balkon melingkar di puncak menara. Angin kencang langsung menyambar, menerbangkan ujung kerudung Arunika dan membuat hawa dingin menusuk kulit. Dari ketinggian ini, Bandung tampak seperti hamparan kotak-kotak warna-warni yang terjepit di antara pegunungan biru yang mengepungnya.
Arunika berjalan perlahan menuju pagar pembatas, membiarkan matanya yang tanpa kacamata menyapu pemandangan kota yang terbentang luas. Senja berdiri di sampingnya, tampak ragu untuk melangkah terlalu dekat ke tepian, seolah ketinggian ini menarik paksa kepingan-kepingan memori yang selama ini ia kunci.
"Aku juga pernah ke sini saat pertama ke Bandung," ucap Arunika tiba-tiba. Suaranya hampir tertelan oleh deru angin yang kencang di atas sana.
Senja menoleh, menatap profil wajah Arunika dari samping. Ada rasa heran yang muncul di matanya yang redup. "Kenapa?" tanyanya pelan. "Kenapa tempat ini yang kamu pilih pertama kali?"
Arunika terdiam sejenak, jemarinya menggenggam besi pembatas yang dingin. Ia sendiri tidak pernah benar-benar memahami dorongan itu. Saat ia pertama kali menginjakkan kaki di kota ini tiga tahun lalu sebagai perantau, tempat pertama yang ia tuju bukanlah pusat perbelanjaan atau tempat wisata hits, melainkan menara ini.
"Entah, rasanya sangat ingin," ucap Arunika lirih. "Waktu itu aku merasa seperti ada sesuatu yang memanggilku ke sini. Seperti ada sebuah urusan yang belum selesai, padahal aku baru saja sampai. Aku berdiri di titik ini, di posisi yang sama seperti sekarang, dan menatap ke arah Braga selama berjam-jam."
Senja terpaku mendengar pengakuan itu. Ia teringat kembali pada janji yang "tidak pernah terjadi" itu. Ia teringat betapa kuatnya ia ingin membawa gadis itu ke sini, menunjukkan dunia dari atas sini, dan membisikkan isi hatinya.
"Mungkin dorongan itu bukan milikmu, Arunika," bisik Senja, suaranya bergetar karena emosi yang meluap. "Mungkin itu adalah sisa dari janji yang tidak sampai. Mungkin saat itu, jiwaku yang terjebak di jalanan sedang berteriak mencarimu, dan kamu merasakannya tanpa kamu sadari."
Arunika menoleh ke arah Senja. Mata mereka bertemu di tengah terpaan angin puncak menara. "Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin. Tapi hari ini aku sadar, Senja. Mungkin alasan aku selalu merasa hampa di kota ini, meski aku punya pekerjaan dan teman, adalah karena aku sedang menunggu seseorang menepati janji yang bahkan aku sendiri lupa pernah kubuat."
"Arunika..." Senja menyebut nama itu dengan nada yang berbeda, seolah nama itu kini memiliki berat dan makna yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
"Kalau memang benar kita pernah membuat janji itu," lanjut Arunika dengan mata yang mulai berkaca-kaca, "maka sekarang janji itu sudah terjadi. Kita sudah di sini. Di puncak menara, melihat Bandung yang kamu janjikan. Kamu tidak lagi terlambat, Senja. Kamu sudah sampai."
Senja memejamkan matanya, membiarkan angin puncak menara menyapu wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, rasa sesak di dadanya perlahan memudar, digantikan oleh rasa tenang yang asing namun menyejukkan. Di atas sana, di antara langit dan bumi, waktu seolah berhenti hanya untuk menyaksikan dua jiwa yang sempat terputus, akhirnya kembali berpijak di tempat yang sama.
Angin di puncak menara berembus semakin kencang, seolah-olah ingin membawa pergi sisa-sisa beban yang selama ini menggantung di antara mereka. Arunika menatap lurus ke arah cakrawala Bandung, di mana matahari mulai bergerak turun, memberikan rona keemasan pada atap-atap bangunan tua di bawah sana. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara dingin mengisi rongga dadanya sebelum akhirnya ia menoleh sepenuhnya ke arah Senja.
"Dan kalau benar janjiku itu kamu, atau janjimu itu aku," ucap Arunika dengan suara yang bergetar namun penuh ketulusan. Matanya yang jernih, tanpa kacamata yang biasanya menghalangi, kini menatap langsung ke dalam manik mata Senja yang redup. "Aku berharap kamu kembali pulang, ke mana pun itu, dengan tenang."
Kalimat itu jatuh seperti sebuah mantra pembebasan. Arunika menyadari bahwa cinta atau janji yang paling besar sekalipun tidak seharusnya menjadi penjara yang mengikat seseorang dalam keabadian yang menyakitkan. Jika kehadirannya di sini adalah untuk menggenapi apa yang sempat terputus, maka ia sudah melakukannya. Ia telah membawa "janji" itu sampai ke puncak.
Senja tertegun. Ia merasakan kehangatan yang asing menjalar dari kata-kata Arunika, sesuatu yang lebih panas dari sinar matahari dan lebih nyata dari tubuhnya yang bias. Ia melihat Arunika bukan lagi sebagai orang asing yang kebetulan bisa melihatnya, melainkan sebagai rumah yang selama ini ia cari di sepanjang trotoar Braga.
"Pulang?" bisik Senja parau. "Aku sudah lupa rasanya punya tempat untuk kembali, Arunika. Selama tiga tahun ini, rumahku adalah rasa bersalah dan trotoar yang dingin."
Arunika tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung keikhlasan yang luar biasa. "Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin. Tapi sekarang aku sudah melihatmu sepenuhnya, Senja. Aku sudah mendengar ceritamu, merasakan sesakmu, dan menuntaskan janjimu. Kamu sudah tidak punya hutang lagi pada dunia ini. Kamu sudah boleh beristirahat."
Senja menatap tangannya. Perlahan, batas-batas tubuhnya yang tadinya tampak seperti bias cahaya mulai memudar, menyatu dengan warna langit sore. Ketakutannya akan terlupakan perlahan sirna, karena ia tahu, selama Arunika masih hidup dan bernapas, memorinya tentang sore ini akan tetap abadi.
"Terima kasih, Arunika," ucap Senja, suaranya kini terdengar seperti gema yang menjauh. "Terima kasih karena sudah menjadi fajar yang menjemputku. Kalau memang aku harus pergi, aku akan pergi dengan membawa bayanganmu sebagai satu-satunya hal yang paling nyata yang pernah aku miliki."
Arunika tetap berdiri di sana, mendekap buku sketsa cokelat itu erat-erat di dadanya. Ia membiarkan air matanya jatuh tanpa berusaha menghapusnya. Ia tahu bahwa melepaskan adalah bagian tersulit dari sebuah janji, namun itu adalah satu-satunya cara agar Senja tidak lagi menjadi "tokoh novel" yang terjebak di bab yang sama selamanya.
Di puncak menara itu, di tengah hening yang magis, Arunika berdiri sendirian secara fisik, namun hatinya merasa lebih penuh dari sebelumnya. Ia telah mengantar sebuah jiwa kembali ke pelukan kedamaian, tepat di tempat di mana janji itu seharusnya bermula.
Senja terdiam cukup lama setelah mendengar ucapan tulus Arunika. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu beralih menatap kerumunan orang di bawah sana yang tampak seperti semut. Angin puncak menara yang tadinya terasa seperti akan menerbangkan eksistensinya, perlahan-lahan justru terasa seperti hanya melewatinya begitu saja.
"Tapi kayanya itu bukan aku," ucap Senja pelan, memecah keheningan di antara mereka. Ia menoleh ke arah Arunika dengan tatapan yang kini lebih tajam, seolah baru saja menyadari sesuatu yang sangat mendasar. "Karena janjinya sudah dicapai kalau benar, tapi aku tidak hilang."
Arunika tersentak. Ia yang tadinya sudah bersiap untuk sebuah perpisahan yang emosional, kini justru merasa bingung. Ia menatap sosok Senja yang masih berdiri kokoh di sampingnya—tidak memudar, tidak menjadi cahaya, dan tidak lenyap ditelan angin sore. Senja tetap di sana, sama nyatanya (dan sama biasnya) seperti saat mereka pertama kali bertemu di kafe semalam.
"Maksudmu?" tanya Arunika, suaranya sedikit parau karena sisa air mata yang belum kering.
"Kalau memang aku adalah sisa jiwa yang tertahan karena janji kepadamu, seharusnya saat kita sampai di sini dan kamu melepaskanku, aku sudah pergi," Senja melangkah menjauh sedikit dari pagar pembatas, berjalan memutari balkon menara. "Kalau aku masih di sini, berarti ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar janji melihat menara. Berarti... alasanku ada di dunia ini bukan cuma soal kamu, atau soal masa lalu itu."
Arunika menurunkan buku sketsa dari dadanya. Ia tidak memakai kacamata, jadi ia harus menyipitkan mata sedikit untuk melihat ekspresi Senja yang kini tampak lebih hidup—bukan hidup karena kembali menjadi manusia, tapi hidup karena memiliki tekad baru.
"Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin," gumam Arunika, mengulang mantra mereka dengan nada yang lebih penuh tanya. "Jadi, kalau bukan soal janji ini yang menahanmu, lalu apa, Senja? Apa yang membuatmu tetap tinggal bahkan setelah aku mengikhlaskanmu?"
Senja berhenti tepat di depan Arunika. "Mungkin semesta tidak mengirimmu untuk melepaskanku, Arunika. Mungkin semesta mengirimmu untuk menemaniku mencari tahu siapa aku sebenarnya, di luar buku sketsa ini dan di luar janji-janji yang sudah basi itu."
Senja tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini tidak mengandung kesedihan. "Mungkin aku tidak hilang karena perjalananku baru benar-benar dimulai sekarang, bersamamu. Bukan sebagai hantu dari masa lalu, tapi sebagai... sesuatu yang baru."
Arunika merasakan kehangatan yang berbeda. Ketakutan akan kehilangan yang tadi sempat menghimpitnya kini berganti menjadi rasa penasaran yang besar. Jika puncak menara ini bukanlah garis finis, maka jalanan Bandung di bawah sana masih menyimpan ribuan teka-teki yang menunggu untuk mereka pecahkan bersama.
"Jadi," ucap Arunika sambil mengusap pipinya, "kamu nggak jadi pergi?"
"Sepertinya tidak dalam waktu dekat," jawab Senja tenang. "Lagipula, kamu bilang tadi kamu ingin aku pulang dengan tenang. Mungkin 'pulang' yang dimaksud bukan ke liang lahat atau ke langit, tapi menemukan tempat di mana aku tidak lagi dianggap sebelah mata. Dan tempat itu... sepertinya ada di dekatmu."
Arunika tertawa kecil di tengah sisa isak tangisnya. Ia kembali merapatkan buku sketsanya. "Dasar pria geer. Tadi bilang bukan tokoh novel, sekarang malah bikin dialog puitis begini."
Mereka berdiri bersama di puncak menara, menatap matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat Bandung. Kali ini, mereka tidak lagi bicara soal kematian atau perpisahan. Mereka bicara soal apa yang akan mereka makan setelah turun dari menara, dan ke mana langkah kaki mereka akan membawa mereka esok hari di kota yang penuh rahasia ini.
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍