Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Aroma yang familiar
Perjalanan pulang sore itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Meski Aluna duduk di boncengan motor Brian, ada jarak tak kasat mata yang membentang di antara mereka. Brian tetap fokus pada jalanan di depannya, namun pikirannya masih tertinggal di lorong perpustakaan yang sepi tadi siang.
Sesampainya di depan pagar rumah Aluna, Brian tidak langsung memacu motornya pergi. Ia mematikan mesin, menciptakan keheningan yang mendadak terasa mencekam.
"Lun," panggil Brian pelan.
"Iya, Bri?" Aluna turun dari motor sambil memegang erat tali tasnya. Ia berusaha tampak biasa saja, meski jantungnya berdegup tidak keruan.
Brian melepas helmnya, lalu mendekat ke arah Aluna. Bukannya membicarakan soal perpustakaan, Brian justru condong ke depan, mengendus pelan udara di sekitar Aluna. Dahinya berkerut dalam.
"Kamu... pakai parfum baru?" tanya Brian dengan nada yang sulit diartikan.
Aluna tertegun, tangannya refleks merapikan kerah seragamnya. "Enggak, Bri. Masih yang lama kok. Kenapa?"
Brian terdiam sejenak, matanya menatap tajam ke arah Aluna. "Aneh. Di seragam kamu, ada aroma yang sangat familiar. Bukan aroma parfum kamu, tapi aroma yang sering aku cium di motor atau di kamar Bara. Aroma woody dan maskulin yang khas banget punya dia."
Jantung Aluna seolah berhenti berdetak. Ia teringat kejadian di perpustakaan tadi; saat ia berdiri sangat dekat dengan Bara, bahkan sempat menyentuh lengannya. Rupanya, aroma tubuh Bara tertinggal di sana, mengkhianati kebohongan yang ia bangun susah payah.
"Oh... itu," Aluna mencoba tertawa kecil, meski terdengar sangat sumbang. "Tadi kan aku nggak sengaja papasan sama Bara di perpustakaan, Bri. Mungkin pas dia lewat atau pas aku nggak sengaja nyenggol dia, baunya nempel. Kan kamu tahu sendiri parfum Bara baunya tajam banget."
Brian tidak langsung menjawab. Ia menatap Aluna dengan tatapan yang kosong. "Nyenggol ya? Sampai aromanya sekuat ini di bahu kamu?"
Brian kemudian meraih tangan Aluna, melihat kembali plester handiplast di sana. "Tadi di perpustakaan, Bara beneran cuma nanya soal mata kamu? Nggak ada yang lain?"
"Nggak ada, Bri. Beneran," jawab Aluna cepat, terlalu cepat hingga terdengar seperti pembelaan diri.
Brian mengangguk pelan, namun senyumnya tidak sampai ke mata. "Oke. Aku percaya sama kamu, Lun. Karena kamu pacar aku, dan Bara itu sahabat aku dari kecil. Nggak mungkin kan dia nusuk aku dari belakang?"
"Ya udah, aku balik dulu ya. Istirahat yang cukup. Jangan sampai tangan kamu kena pisau lagi," ucap Brian sambil mengacak rambut Aluna sekilas.
Begitu motor Brian menderu menjauh, Aluna jatuh terduduk di kursi teras rumahnya. Ia mencium bahu seragamnya sendiri, dan benar saja, aroma Bara masih tertinggal di bajunya , aroma yang dulu selalu membuatnya merasa tenang, namun kini justru membuatnya merasa seperti seorang pengkhianat.
Sementara itu, di atas motornya, tangan Brian mencengkeram stang begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Ia tahu aroma itu. Ia sangat tahu bahwa aroma sekuat itu tidak mungkin hanya karena "papasan". Kecurigaan yang tadinya hanya percikan kecil, kini mulai membakar logikanya.
Aluna berdiri mematung di balik pintu rumah yang tertutup rapat. Punggungnya bersandar pada kayu pintu yang dingin, seolah benda itu bisa menahan tubuhnya agar tidak luruh ke lantai. Ia mencium lagi bahu seragamnya. Aroma woody khas Bara masih ada di sana, tipis namun nyata, seakan menjadi saksi bisu atas setiap kata jujur yang mereka ucapkan di perpustakaan tadi.
"Hem... maafin aku ya, Bri," bisik Aluna dengan suara yang hampir habis. Air matanya kembali mengalir, jatuh membasahi kerah seragam yang masih menyisakan aroma laki-laki lain itu. "Aku sudah banyak berbohong sama kamu. Aku nggak tahu sampai kapan hubungan kita bisa bertahan seperti ini."
Aluna tahu, setiap kali ia menatap mata Brian yang tulus, ia sedang membangun benteng dari tumpukan kebohongan. Dan ia juga tahu, cepat atau lambat, benteng itu akan runtuh dan menghancurkan mereka bertiga. Dengan langkah gontai, Aluna masuk ke dalam rumah, berusaha mengubur rasa bersalahnya dalam kesunyian kamar.
Sementara itu, di jalanan yang mulai temaram, Brian memacu motornya dengan kecepatan yang tidak biasa. Angin malam yang dingin menusuk kulitnya, namun tidak mampu mendinginkan kepalanya yang terasa mendidih.
Di otak Brian, hanya ada rasa curiga yang terus berputar-putar seperti kaset rusak. Ia mengingat setiap detail kecil: mata Aluna yang sembab, tangan Bara yang bergetar, dan aroma parfum itu. Brian bukan orang bodoh. Ia tahu persahabatan antara Bara dan Aluna sangat dalam, tapi apa yang ia lihat hari ini terasa lebih dari sekadar persahabatan.
"Kenapa harus di perpustakaan sepi? Kenapa lo harus nangis di depan dia, Lun?" gumam Brian di balik helmnya.
Genggamannya pada stang motor mengerat. Brian mencintai Aluna, dan ia sangat menghargai Bara sebagai sahabat terbaiknya. Namun, rasa curiga itu kini telah menanam akar yang kuat di hatinya. Brian mulai merasa bahwa selama ini, ia mungkin hanya menjadi orang ketiga di antara "cerita" yang belum selesai antara Aluna dan Bara.
Malam semakin larut, namun rasa curiga di hati Brian justru semakin terang benderang. Ia tidak bisa tenang hanya dengan berdiam diri di rumah. Ia butuh melihat reaksi Bara secara langsung tanpa ada Aluna di antara mereka. Dengan membawa tas ransel berisi pakaian ganti, Brian memacu motornya menuju rumah sahabatnya itu.
Suasana di depan rumah Bara tampak sepi. Brian memarkirkan motornya, lalu melangkah menuju pintu depan dan mengetuknya dengan irama yang sudah sangat akrab bagi mereka.
"Bara, ini aku Brian," seru Brian dari luar.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Bara muncul dengan kaos oblong dan wajah yang tampak sangat lelah—jelas terlihat bahwa ia baru saja terjaga dari lamunannya, bukan dari tidurnya. Bara tertegun melihat sosok Brian berdiri di sana dengan tas ransel.
"Hey, Bri. Kenapa kamu ke sini?" tanya Bara, mencoba menutupi kegelisahannya. Jantungnya berdegup kencang, takut jika Brian datang untuk mengonfrontasi kejadian di perpustakaan tadi.
Brian memasang senyum terbaiknya, senyum yang biasa ia tunjukkan, meski matanya tetap mengamati setiap gerak-gerik Bara. "Aku mau numpang nginep di rumah kamu sementara, boleh kan?"
Bara sempat terdiam sejenak. Pikirannya berputar cepat, mencari alasan untuk menolak, namun ia tahu menolak Brian hanya akan menambah kecurigaan. Akhirnya, Bara menggeser tubuhnya dan membukakan pintu lebih lebar.
"Yaudah santai sini, sini gak perlu sungkan," jawab Bara dengan nada yang diusahakan seakrab mungkin.
"Makasih ya, Bar. Lagi bosen aja di rumah, pengen mabar atau sekadar ngobrol sama lo kayak dulu," ucap Brian sambil melangkah masuk ke dalam kamar Bara yang beraroma kayu—aroma yang sama dengan yang ia cium di seragam Aluna sore tadi.
Begitu masuk ke kamar, Brian sengaja meletakkan tasnya di dekat meja belajar Bara. Matanya dengan lincah menyapu setiap sudut ruangan, mencari benda-benda kecil yang mungkin bisa memberi petunjuk. Sementara itu, Bara duduk di tepi ranjang, merasa seolah sedang duduk di atas bom waktu.
"Tadi Aluna udah sampai rumah dengan aman kan, Bri?" tanya Bara berbasa-basi, meski sebenarnya ia sangat menghindari menyebut nama itu.
"Aman kok. Tapi dia kayaknya masih kepikiran soal tangannya yang kena pisau itu," sahut Brian sambil duduk di kursi belajar Bara, matanya menatap tajam ke arah sahabatnya. "Eh, Bar. Lo kan sahabat dia dari kecil, biasanya kalau Aluna lagi sedih atau banyak pikiran, dia ceritanya ke siapa sih selain gue?"
Bersambung.......