Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi pengejar setia lo
Di antara kerumunan banyaknya murid, terlihat kedua cowok tampan berperawakan tinggi semampai berjalan dengan cool. Salah satunya, saka zyzenio leonardo atau biasa dipanggil dengan leo. Ia menampilkan tatapan yang terkesan dingin dan wajah yang dibiarkan datar. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celananya, sambil berjalan melewati kerumunan siswi yang menatap penuh kagum kearahnya, dan cowok satunya, dani abdiral, cowok yang terkesan netral kadang cuek, kadang random, ya! sesuai moodnya.
"Gila nggak kaleng-kaleng, sumpah leo emang ganteng banget."
"Ini wajib diacungin jempol."
"Gue nggak ke bayang kalo kak leo bakal seganteng ini."
"Dani juga nggak kalah ganteng."
"Perpaduan antara gula pasir dan gula merah, sama-sama manis."
Banyak siswi yang terlihat memuji ketampanan mereka, membuat suasana dikantin yang awalnya ramai menjadi semakin berisik dan riuh.
Termasuk zea, ia juga menatap penuh kagum ke arah leo, matanya mengikuti kemana leo berjalan.
"Cha dia siapa? kok ganteng banget ya, mukanya mirip lee min-ho." ujar zea, namun matanya masih fokus menatap leo.
"Lee min-ho?" tanya chacha sambil menyipitkan matanya.
"iya, itu loh cha yang sering ditonton mama gue didrama korea." bisik zea.
"Ze, kayaknya mata lo bermasalah deh, mana ada mirip lee min-ho." kata chacha sambil menggelengkan kepala.
"Mata gue nggak minus kok cha." jawab zea.
"Ya emang nggak minus, tapi juling! lagian masih gantengan lee min-ho kemana-mana kok." tukas chacha.
"Tapi dia juga ganteng." kata zea tidak mau kalah.
"Iya ze, TERSERAH LO!" sarkas chacha.
Leo duduk disamping digo tanpa memperdulikan tatapan dari semua orang disana, ia dengan santainya duduk sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Sedangkan dani duduk di samping leo, ia memandang lurus kedepan menatap ketiga gadis di hadapannya.
"Ganteng banget, HUAA....mirip banget sama oppa-oppa yang ada di drama korea." ujar zea tanpa sadar ia mengatakan itu dengan terang-terangan dihadapan leo. Dan tentunya itu tidak luput dari pendengaran chacha, angel, dan keempat cowok didepan mereka.
Chacha langsung melihat ke arah zea dengan wajah kaget dan tidak percaya, ia secepat kilat langsung menutup mulut sahabatnya itu.
"Ze, lo ngomong apaan sih?" tanya chacha berbisik.
"Kenapa sih cha?" zea balik bertanya dengan nada kesal, karena chacha membukam mulutnya dengan spontan.
Chacha tidak menanggapi zea, ia memilih diam dan tersenyum lebar penuh paksaan. Sedangkan angel hanya menggelengkan kepalanya saja, leo sendiri seolah-olah tidak terlalu memperdulikan komentar yang keluar dari mulut zea, karna hal itu sudah terbiasa baginya.
"Kak leo." panggil angel.
Leo menatap seorang gadis dihadapannya, lalu ia mengerutkan keningnya dengan wajah yang tampak terlihat bertanya-tanya.
"Angel?" ujar leo dengan suara khasnya, datar dan terdengar sedikit dingin.
"kedua curut ini teman lo kan? mereka ngambil meja kita bertiga." kata angel mengadu kepada kakak sepupunya itu.
"Nggak usah diambil pusing, lo duduk bareng disini." ujar leo dengan nada dingin.
"Nggak mau, pokoknya gue mau mereka pergi dari sini." kata angel, dengan nada kesal.
Leo tidak memperdulikan angel lagi, ia kembali fokus dengan ponselnya. Sedangkan angel menatap leo tidak percaya, karena menganggapnya seperti angin lewat.
Terlihat wanita paruh baya berjalan mendekat ke arah meja disebelah mereka, ia membersihkan meja itu yang tampak memang sudah kosong penghuninya.
"Maaf den, neng, apa ada yang mau dipesan?" tanya wanita paruh baya itu tersenyum dengan rama, masih dengan setia membersihkan meja tersebut.
"Biasanya kalian pesen banyak makanan den, hari ini bude liat kok diam-diaman aja? kayak orang lagi sariawan."
"Hehehe, ini kita baru mau pesen bud-
"HUAHAHA..." angel tertawa dengan keras, tawanya memotong ucapan sony yang baru saja akan berbicara.
"Iya bude kayak motor yang kehabisan bensin!" timbal angel.
"Neng bisa aja." wanita paruh baya itu tersenyum.
"Kenapa nggak duduk atuh, cantik-cantik kok berdiri, duduk disini neng." ujar nya kembali.
"Iya bude, makasih." mereka bertiga duduk di kursi yang sudah kosong tersebut.
"Emm....makanan yang paling enak apa ya bude?" tanya angel.
"Semuanya enak neng, tinggal pilih aja maunya yang mana." timbal bude sambil menyodorkan menu makanan.
"Zea pesan es teh manis dan bakso, bude." kata zea.
"Kalo chacha pesan nasi goreng sama es jeruk." tambah chacha tanpa melihat menu.
"Kalo es jeruk mang pian yang ada neng, ditempat bude nggak ada, neng bisa pesan disana." bude menunjuk laki-laki paruh baya distand paling ujung.
"Nah itu mang pian namanya, neng langsung pesan saja kesana."
Mereka bertiga mengikuti arah telunjuk bude ayu, seperkian detik ketiga gadis itu terkejut setelah apa yang mereka lihat, mereka menatap laki-laki paruh baya yang berbadan besar dan otot-ototnya terpampang sangat jelas.
"Nggak jadi deh bude, ganti sama es teh aja." kata chacha dengan cepat.
"Beneran neng? neng nggak bakalan nyesel? soalnya es jeruk mang pian enak buangat neng! manis masem gitu, bikin seger....apalagi kalo sedang radang tenggorokan, beehhh...kuman-kuman langsung minggat, bakteri-bakteri langsung larat." jelas bude ayu, ekspresinya sangat meyakinkan.
"Hehehe, lain kali aja deh bude, tunggu sampai chacha radang tenggorokan aja." ucap chacha dengan tertawa canggung.
"Nggak harus sampai radang tenggorokan juga cha." nimbrung angel yang diangguki bude ayu.
"Emm anu emm....kan hari ini hari pertama kita masuk SMA, jadi semua makanan dan minuman pertama yang kita pesan semuanya dari jualan bude." timbal chacha, nada bicaranya sedikit gugup.
"Aduh neng, bude jadi terhura deh."
"TERHARU BUDE!" ujar ketiga gadis itu dengan kompak.
"Itu yang bude maksud hehehe." kata bude ayu dengan cengengesan.
"Kita bakal jadi pelanggan setia bude, bener kan?" ujar chacha mengajak kedua temannya untuk menyetujui ucapannya.
"Iya bude, itu pasti." timbal zea.
"Dan kita bakal sering-sering nongkrong disini." sahut angel.
"Terima kasih ya neng-neng cantik, baiklah untuk hari ini semua apa yang neng bertiga pesen bakal bude gratisin."
"Serius bude?" tanya chacha dengan antusias.
"Iya neng, bude serius."
"Bude, kalo gitu angel mau pesan es teh manis sama bakso." ujar angel.
"Baiklah, tiga es teh manis, bakso dua, nasi goreng satu." bude mencatat pesanan mereka.
"Iya bude."
Bude ayu meninggalkan meja mereka dan berjalan dengan pelan, setelah kepergiannya zea menatap laki-laki yang sempat ditunjuk oleh wanita paru baya tadi.
"Serem cha! badannya kayak gorila, gede banget! kayak baru keluar dari kandangnya." bisik zea pelan.
"Iya ya, serem juga." bisik chacha sambil mengangguk pelan.
"Hahaha, lo berdua ada-ada aja deh." angel tertawa keras.
Disisi lain, digo melirik kearah mereka bertiga dengan tajam dan beralih menatap teman-temanya.
"BUDE! PESAN DONG!" digo berteriak dengan keras, ia memanggil bude ayu dari meja mereka. Membuat seisi kantin dengan spontan melihat ke arahnya, termasuk ketiga gadis disamping meja mereka.
"Astaghfirullah, den digo, kalo mau pesan langsung kesini saja, jangan teriak-teriak atuh, bude lagi sibuk." sahut bude tangannya berkutat menyiapkan pesanan.
"Kasian, makanya jangan suka ngambil hak orang lain!" tukas chacha sambil tersenyum mengejek.
"Apaan nih cewek, bikin darah tinggi gua naik aja" batin digo.
Dan seperkian detik akhirnya digo berjalan menghampiri stand bude ayu dan memesan makanan mereka.
Sementara zea, dia menumpu dagunya sambil memandang wajah tampan yang saat ini sedang asik bergulat dengan ponsel ditangannya, zea menelisik setiap inci wajah tersebut dengan kagum.
"Sempurna! Gue suka sama hidungnya yang mancung dan matanya yang tajam, rambutnya juga berantakan, tapi gayanya pas banget. Tinggi badannya juga ideal buat gue, gue jadi pengin tau lebih banyak tentang lo. Gimana ya kalo mama tau? lee min-ho yang selalu dipuja-pujanya itu ternyata nggak beda jauh sama cowok di meja sebelah, gue yakin mama bakal meloncat-loncat saking senangnya. Baiklah, gue bakal buktiin kalau gue bisa dapetin lee min-ho versi lokal, dan mulai hari ini… GUE, BIFOLLA QUEEN ZEALIA, RESMI MENJADI PENGEJAR SETIA LO! hahaha!" zea berbicara dalam hati sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, bahkan tersenyum-senyum sendiri.
"Woii ze, lo ngapain senyum-senyum sendiri? ngayal lo ya?" ujar chacha.
"Nggak lah, gue cuman mikirin kucing gue yang baru aja lahiran semalem, dan lo tau? anak-anaknya lucu banget, gemess deh!" jawab zea asal sambil berusaha menyembunyikan senyumnya yang masih mengembang.
Senyuman zea masih terpatri di wajahnya, ia bahkan berusaha semampunya untuk menyembunyikannya, zea juga berpura-pura melihat ke arah murid lain. Namun, mata yang berbinar-binar membuat usahanya gagal, karena sejak tadi chacha memperhatikannya dengan tatapan aneh tertuju kepadanya.
"Ze gue serius, mending lo jujur deh, apa yang ngebuat lo senyum-senyum sendiri nggak jelas kayak gini?" tanya chacha sambil memperhatikan zea dengan tatapan yang penuh rasa penasaran.
"Gue baru aja nemuin pelabuhan cha." jawab zea.
"Pelabuhan?" tanya chacha kembali masih dengan rasa penasarannya.
"Iya, pelabuhan yang tenang buat hati gue, dan kayaknya dia bakal jadi tempat gue berlabuh." kata zea, sambil melihat ke samping meja mereka, ia tersenyum bahagia namun tidak dengan chacha, ia terlihat bingung dan mengernyitkan dahinya.
"Pelabuhan yang tenang buat hati lo? maksud lo apaan sih ze?" tanya chacha dengan nada yang penuh kebingungan dan sedikit kesal, karena ia tidak memahami apa yang sahabatnya itu katakan.
"Gue nggak ngerti sumpah deh ze." lanjut chacha sambil menggelengkan kepala.
Zea menatap chacha dan tersenyum, lalu ia mengedipkan matanya, seolah-olah mengatakan bahwa chacha tidak perlu tahu lebih banyak.
Bersambung