NovelToon NovelToon
PENYESALAN SANG PENGUASA

PENYESALAN SANG PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa

Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Arsitek Kekacauan dan Takhta yang Kosong

Menghancurkan reputasi seseorang di depan publik jauh lebih efektif daripada sekadar memukul wajahnya sampai babak belur. Aku melangkah kembali ke tengah aula pesta dengan langkah yang sangat terukur, membiarkan suara dentuman tubuh Darwin yang jatuh di balkon tadi menjadi musik latar yang hanya aku dan Seeula yang mendengarnya. Di ruangan ini, ratusan pasang mata masih tertuju padaku, menanti penjelasan atau mungkin sekadar mencari celah untuk menjatuhkanku kembali ke parit kemiskinan.

Aku tidak memberikan mereka kesempatan itu. Aku mengambil posisi di samping meja bundar paling depan, tempat para petinggi industri duduk dengan kaku.

"Madam Widowati, saya rasa perayaan ini baru saja dimulai," cetusku sambil memberikan anggukan kecil yang sarat akan dominasi.

Wanita paruh baya itu mencoba memperbaiki posisi berdirinya. Wajahnya yang semula penuh kemenangan kini tampak seperti kertas yang diremas, penuh kerutan kecemasan yang coba disembunyikan di balik bedak mahalnya. Dia melirik ke arah pintu balkon, berharap Darwin keluar dengan kabar baik, namun yang muncul hanyalah keheningan yang menyesakkan.

"Yansya, kau sangat berani mengacaukan pesta ulang tahun perusahaanku dengan trik saham murahan ini," desis Madam Widowati dengan tatapan yang ingin menembus jantungku.

Aku hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang menunjukkan betapa tidak berartinya ancamannya bagiku. Tanganku bergerak merapikan lengan jas hitamku yang masih tampak sempurna tanpa cela sedikit pun.

"Trik murahan tidak akan bisa membekukan aset pribadi seorang wakil direktur hanya dalam waktu sepuluh menit, Madam," timpalku dengan nada yang sangat santai namun menusuk.

Beberapa tamu di sekitar kami mulai berbisik-bisik. Kabar tentang jatuhnya Darwin menyebar lebih cepat daripada virus di ruangan ini. Mereka adalah orang-orang yang hanya setia pada kekuatan dan uang, dan malam ini, akulah pemegang kedua hal tersebut di genggamanku. Aku melihat beberapa pengusaha mulai mendekat, mencoba mencari muka atau sekadar ingin tahu siapa sosok pemuda misterius yang berani menantang dinasti Widowati.

"Siapa yang berdiri di belakangmu? Keluarga Salim? Atau mungkin grup investasi dari luar negeri?" tanya seorang pria tambun dengan setelan jas abu-abu yang kukenali sebagai salah satu direktur bank swasta.

Aku menoleh perlahan, menatap matanya dengan sorot yang begitu tajam hingga dia sedikit memundurkan langkahnya. Aku tidak butuh dukungan siapa pun untuk menjadi penguasa di era ini.

"Saya berdiri di atas kaki saya sendiri. Dan kaki saya saat ini sedang menginjak leher siapa pun yang mencoba menghalangi jalan saya," sahutku dingin tanpa ragu sedikit pun.

Jawaban itu membuat suasana ruangan semakin tegang. Seeula kemudian muncul dari arah balkon, wajahnya masih tampak pucat namun ada sorot kekaguman yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. Dia berjalan melewati kerumunan dan berdiri beberapa langkah di belakang ibunya. Aku melihatnya menggigit bibir bawahnya, seolah ada ribuan kata yang ingin dia tumpahkan namun tertahan oleh protokol kesopanan keluarga.

Aku memutuskan bahwa ini adalah saat yang tepat untuk memberikan pukulan terakhir sebelum aku meninggalkan pesta ini sebagai legenda baru.

"Madam Widowati, saya tidak datang ke sini untuk menghancurkan perusahaan Anda. Saya datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milik saya sejak lama," ucapku dengan suara yang cukup lantang hingga memenuhi aula.

Madam Widowati tampak tersentak, dia mungkin mengira aku sedang membicarakan harta atau posisi, namun dalam kepalaku, aku sedang membicarakan masa depan Seeula yang akan aku amankan sepenuhnya. Dia tidak menyadari bahwa semua pergerakan saham dan penghancuran Darwin hanyalah alat bagiku untuk berada di posisi yang setara dengan mereka.

"Kau sangat sombong, anak muda. Dunia bisnis tidak hanya butuh otak, tapi juga butuh ketahanan," gertak Madam Widowati dengan nada yang mulai kehilangan wibawanya.

Aku tidak membalasnya dengan kata-kata. Aku hanya mengambil ponselku, mengetik satu pesan singkat kepada Rian untuk memulai fase akuisisi tahap dua, lalu aku berbalik badan untuk keluar dari ruangan tersebut. Aku tidak butuh izin dari siapa pun untuk pergi.

Saat aku berjalan menuju pintu keluar, langkahku terasa sangat ringan. Aku bisa merasakan tatapan Seeula yang terus mengikuti punggungku hingga aku menghilang di balik pintu kayu besar yang dijaga oleh petugas keamanan. Mereka yang tadinya meremehkanku kini membungkuk hormat, seolah-olah aku adalah raja yang baru saja melewati rakyatnya.

Aku masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggu di depan gedung. Petugas valet menutup pintu dengan sangat hati-hati, sebuah perlakuan yang sangat kontras dengan saat aku diusir dari tempat pelelangan beberapa hari lalu. Aku menyandarkan kepalaku di jok mobil yang empuk, menikmati keheningan yang akhirnya menyelimutiku.

Namun, saat mobil mulai melaju meninggalkan area gedung, ponselku bergetar hebat. Ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

"Kau memang hebat, Yansya. Tapi kau lupa satu hal: Darwin bukan satu-satunya serigala yang lapar malam ini," baca saya dalam hati saat melihat deretan teks di layar.

Aku menyempitkan mata, menatap layar ponsel dengan rahang yang mengeras. Sepertinya ada orang lain yang mulai menyadari keberadaanku dan merasa terancam oleh langkah-langkahku yang terlalu cepat. Namun, aku tidak merasa gentar sedikit pun. Keberhasilan malam ini hanyalah permukaan dari rencana besarku untuk menguasai seluruh ekosistem bisnis di kota ini sebelum orang lain menyadarinya.

Mobil yang kutumpangi membelah jalanan kota yang mulai sepi. Aku tidak menginstruksikan sopir untuk pulang ke kos sempitku yang lama. Tempat itu sudah bukan lagi rumahku. Aku menyebutkan sebuah alamat apartemen mewah di pusat kota yang baru saja kubeli atas nama perusahaan cangkangku sore tadi. Investasi di properti adalah langkah logis untuk menjaga citra baruku sebagai pemain besar.

"Hubungi pengacara internal kita, Rian. Pastikan semua berkas pengambilalihan utang Widowati Group sudah siap di meja direksi besok pagi pukul sembilan," perintahku saat telepon tersambung.

Rian menyahut dengan nada antusias di seberang sana, melaporkan bahwa kepanikan mulai melanda pasar modal akibat pergerakanku yang tidak terduga. Semua orang ingin tahu siapa Yansya, namun aku sudah memastikan identitas digital dan masa laluku terkunci rapat dalam enkripsi yang mustahil ditembus oleh teknologi masa ini. Aku ingin mereka tetap buta hingga saat aku benar-benar duduk di kursi tertinggi.

Sesampainya di lobi apartemen, aku melihat sebuah mobil sport merah terparkir tepat di depan pintu utama. Seorang pria muda dengan rambut klimis dan gaya yang sangat angkuh berdiri bersandar di pintu mobil itu. Aku mengenalinya sebagai putra dari pemilik bank terbesar di negeri ini, sosok yang di masa depanku nanti akan menjadi rekan bisnis sekaligus duri dalam daging.

Dia menatapku dengan senyum yang dipaksakan ramah, sebuah senyuman khas predator yang baru saja menemukan mangsa yang menarik.

"Selamat atas pertunjukanmu di pesta Madam Widowati, Yansya. Saya rasa kita perlu bicara mengenai masa depan saham yang baru saja kau borong itu," sapa pria itu dengan nada yang sangat sok akrab.

Aku terus berjalan melewatinya tanpa menghentikan langkah, hanya memberikan isyarat dengan tangan agar dia mengikutiku jika memang ingin bicara. Aku tahu dia memiliki informasi yang bisa kumanfaatkan, dan di duniaku yang baru ini, informasi adalah mata uang yang jauh lebih berharga daripada emas.

1
ZasNov
Semangat Yansya, kalahkan mereka semua.. 💪😎
ZasNov
Semoga kali ini Yansya bisa benar2 melindungi Seeula..
ZasNov
Ga bisa nolak tuh kalau udah diancam begitu..
ZasNov
Madam Widowati udah kayak dijatuhkan dari gedung tinggi.. 🤭
ZasNov
Wah keren Yansya, dia datang menyerang dengan senjata rahasia yang tidak terduga.. 😂👍
ZasNov
Madam Widowati salah target ternyata 😂
ZasNov
Ayo tunjukan siapa dirimu Yansya, beri Madam Widowati pelajaran & selamatkan Seeula..
ZasNov
Nah lho, keadaan beneran berbalik. Bukan Pak Hermawan & Adrian lagi yang mengancam Yansya, sekarang Yansya yang menekan Pak Hermawan.. 😎👍
ZasNov
Ga nyangka banget kan Pak Hermawan, kalau Yansya punya kartu As yang bisa membalikan keadaan.. 😆
ZasNov
Mantap Yansya.. bisa tetap tenang, malah makin bersemangat menunjukkan taringnya.. 😎👍
Pipit Jambu
iya
ZasNov
Tuh kan, mulai banyak orang memanfaatkan nama Seeula untuk menekan Yansya.. 😖
ZasNov
Aduh, bagusnya Seeula sllu dalam perlindungan Yansya. Karena Darwin udah tau kelemahan Yansya itu Seeula..
ZasNov
Nyesel kan.. Udah telat. Kalau dikasih kesempatan kedua, jangan disia2in lagi ya
ZasNov
Selain penasaran sama rencana Yansya selanjutnya, kepo juga sama cara dia deketin Seeula.. 😄
ZasNov
Tanpa basa-basi langsung ditolak.. 😆👍
ZasNov
Hadeuh, Yansya.. Kamu bisa sukses juga berkat doa & usaha istrimu juga. Giliran ga diurusin, kamu juga bakalan berantakan..
Seeula
dari rawrrr ke aongg aonggg aongg🤣
Seeula
tamu2 tak diundang 😏
Seeula
gak gak ini mh kaya preman minta2 uang buncit gini mh😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!