NovelToon NovelToon
London’S Heart Surgeon

London’S Heart Surgeon

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pernikahan rahasia / Kehidupan alternatif
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan

Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
​Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Setelah perjuangan yang menguras seluruh energi dan mentalnya di atas awan, roda pesawat akhirnya menyentuh landasan pacu Bandara Heathrow, London, dengan hentakan yang cukup keras. Begitu tanda sabuk pengaman mati, suasana kabin yang tadinya tegang berubah menjadi kesibukan yang terorganisir.

​Pintu pesawat terbuka, dan udara dingin London yang menusuk tulang langsung menyeruak masuk ke dalam kabin. Tim medis dari bandara sudah bersiaga di garbarata. Mereka masuk dengan cepat membawa stretcher tandu beroda yang sudah disiapkan untuk kondisi darurat.

​Lyra, dengan rambut yang sedikit acak-acak dan keringat dingin yang masih menempel di dahi, memberikan laporan medis singkat namun sangat detail kepada tim paramedis London. Suaranya terdengar sangat profesional dalam bahasa Inggris yang lancar, membuat para petugas medis itu mengangguk kagum.

​"Pasien stabil, denyut nadi sudah kembali normal setelah pemberian cairan dan oksigen aliran tinggi," jelas Lyra sambil memperhatikan Timmy yang kini dipindahkan ke atas stretcher.

​Saat Timmy mulai didorong menuju ambulans, bocah itu perlahan membuka matanya. Ia menatap Lyra, lalu memberikan senyum lemah dan sebuah lambaian tangan kecil sebelum pintu ambulans ditutup. Ayah Timmy, yang tampak jauh lebih tenang meski matanya masih sembap, memegang tangan Lyra sekilas.

​"Terima kasih, Dokter. Anda adalah malaikat bagi putra saya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi tanpa Anda," ucapnya dengan nada penuh rasa syukur yang tulus.

​Lyra hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Begitu ambulans itu menjauh dengan sirine yang bergaung di kejauhan, Lyra baru tersadar bahwa ia masih berdiri di tengah hiruk-pikuk bandara, sendirian, dengan koper yang masih harus ia ambil.

​> GILA! Batin Lyra berteriak kencang begitu adrenalinnya mulai turun. Gue baru aja mendarat dan udah berasa kayak habis selesai shift jaga 24 jam di IGD! Mana dingin banget lagi ini London! Untung si Timmy selamat, kalau enggak, bisa-bisa gue dideportasi sebelum sempet liat gedung Delphi!

​Ia merapatkan syal abu-abu pemberian Mira ke lehernya. Sambil berjalan menuju area klaim bagasi, ia melewati sebuah layar televisi besar di lobi bandara. Di sana, wajah Normeen Magnus kembali muncul dalam berita pagi, tampak sedang meninjau pengamanan bandara yang diperketat karena adanya pendaratan darurat tadi.

​> Eh, bentar... itu si Magnus? Lyra berhenti sejenak, menatap layar. Jangan-jangan dia ada di sekitar sini sekarang?

​Ia segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

​> Fokus, Lyra! Koper dulu, hotel, baru besok ke Delphi. Jangan sampai lo pingsan di sini cuma gara-gara laper dan kedinginan. Mana si Layla pake ngerahasiain nama bos Delphi lagi, bikin gue makin deg-degan aja mau masuk kerja besok!

​Dengan langkah yang sedikit gontai namun penuh kebanggaan karena telah menyelamatkan satu nyawa di perjalanan, Lyra Raven melangkah menuju pintu keluar Bandara Heathrow. London secara resmi menyambutnya dengan sebuah drama medis yang tak terlupakan.Langkah Lyra terhenti tepat di pintu keluar kedatangan. Ia mengira bisa menyelinap pergi dan segera mencari taksi menuju hotel, tapi dugaannya salah besar. Begitu ia melangkah keluar, suara tepuk tangan yang meriah pecah dari arah kerumunan penumpang yang tadi satu pesawat dengannya.

​"Itu dokternya! Itu dia!" seru seorang ibu-ibu yang tadi duduk di baris tengah.

​Lyra terpaku. Ia melihat puluhan orang berdiri sambil memberikan standing ovation. Rasanya sangat surealis. Namun, ketenangan itu hanya bertahan lima detik sebelum tiba-tiba belasan wartawan dengan kamera berlampu flash yang menyilaukan dan mikrofon berlogo kantor berita internasional merangsek maju, mengelilinginya dalam lingkaran ketat.

​"Dokter! Bisa jelaskan bagaimana Anda menangani pasien di tengah turbulensi?"

"Apakah benar Anda seorang spesialis dari Indonesia?"

"Dokter, lihat ke kamera sini!"

​Kilatan lampu kamera menyambar-nyambar wajah Lyra, membuatnya harus menyipitkan mata. Suasana jadi sangat bising dan sesak.

​> LAHH ANJIRR KOK JADI GINI?! Batin Lyra menjerit histeris sementara wajahnya berusaha tetap tersenyum sopan meski agak kaku. Gue baru mendarat, muka bantal, rambut acak-acakan habis keringetan nolongin orang, dan sekarang masuk TV internasional?! Mana koper gue belum ketemu lagi! Sumpah ya, ini kalau Layla sama Mira liat di Bandung, mereka pasti bakal syukuran tujuh hari tujuh malam!

​"Tolong, beri jalan! Saya hanya melakukan tugas saya sebagai dokter," ucap Lyra dalam bahasa Inggris, mencoba tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang karena dikerubungi banyak orang asing.

​Seorang wartawan pria dengan nekat menyodorkan mikrofon nyaris mengenai hidung Lyra. "Ada kabar bahwa pihak Rumah Sakit Delphi sudah mendengar aksi Anda. Apakah Anda dokter baru yang dikirim untuk bekerja di bawah pimpinan 'The Best'?"

​Mendengar nama Delphi disebut, Lyra sedikit tersentak.

​> Waduh, jangan bilang bos Delphi yang galak itu udah tau?! Mampus gue, kalau dia tipe yang nggak suka publikasi, bisa-bisa hari pertama gue langsung dikasih surat peringatan gara-gara bikin heboh bandara!

​Di tengah kepungan wartawan itu, Lyra merasa sangat kewalahan. Namun, tiba-tiba beberapa petugas keamanan bandara berbadan tegap datang membelah kerumunan, menciptakan barisan barikade untuk melindunginya.

​"Mohon mundur! Berikan ruang untuk Dokter," ujar petugas itu dengan tegas.

​Lyra mengembuskan napas lega dan segera mengikuti arahan petugas keamanan untuk menjauh dari kejaran pers. Sambil berjalan cepat, ia sempat melirik ke arah sudut koridor yang dijaga ketat. Di sana, ia melihat sekelompok pria berseragam hitam dengan logo kepolisian London.

​Dan di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria tinggi dengan kacamata tipis yang sedang berbicara melalui walkie-talkie. Mata biru tuanya sempat melirik ke arah keributan yang disebabkan Lyra, memberikan tatapan tajam yang seolah sedang memindai situasi.

​> Itu... Normeen Magnus?! Lyra menelan ludah. Sial, dia beneran di sini. Dan dia baru aja liat gue dikerubungin wartawan kayak buronan atau artis dadakan. Malu-maluinnnn banget!!

​Tanpa menoleh lagi, Lyra mempercepat langkahnya, masuk ke dalam mobil jemputan yang sudah menunggunya, meninggalkan hiruk-pikuk Heathrow yang baru saja ia buat gempar.

1
Cici Winar86
di sinopsis nya pharma dokter jantung..tapi ini di bilangnya di sini dokter saraf...
AEERA♤
bacaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!