"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjuangan Erena
Azeus mengacak rambut Nana gemas sebelum benar-benar beranjak. Di kepalanya, bayangan masa depan sudah tersusun rapi. lulus tepat waktu, pegang kendali perusahaan Papa, lalu menjadikan Nana nyonya besar di rumah ini. Obsesi itu sudah mendarah daging baginya, Nana adalah pusat dunianya sekarang.
Deru mesin moge baru Azeus memasuki area parkiran kampus, disambut siulan riuh dari Raka dan Dion yang sudah nongkrong di atas motor masing-masing. Azeus turun dengan gaya narsisnya, melepas helm full-face yang membuat rambutnya sedikit berantakan—tampilan yang selalu sukses menarik perhatian mahasiswi yang lewat.
"Wuidih, pengantin baru auranya beda ya! Mukanya cerah bener kayak abis dapet asupan gizi dari surga," ledek Raka sambil naik-turunkan alisnya.
"Gimana semalam, Ze? Udah resmi jadi 'Abang Sayang' apa masih 'Abang Tabrak'?" timpal Dion yang langsung disambut tawa ngakak mereka berdua.
Azeus cuma menyeringai, menyandarkan tubuhnya di motor.
"Berisik lo semua. Iri bilang bos! Nana itu beda, makin diliat makin bikin gue pengen cepet-cepet lulus terus ijab qobul."
"Udah mikir kawin aja nih bocah! Kuliah dulu yang bener, jangan titip absen mulu!" Gathan menyahut kalem, meski matanya tetap mengawasi sekitar.
Tiba-tiba, suasana ceria itu mendadak dingin. Dari arah belakang, sepasang tangan dengan kuku merah terawat sempurna langsung melingkar di pinggang Azeus, bergelayut manja dan memeluknya erat.
"Azeus... kamu ke mana aja sih? Aku cariin dari kemarin," suara lembut yang dibuat-buat itu milik Erena.
Azeus membeku, rahangnya mengeras. Ia tidak membalas pelukan itu, justru tangannya berusaha melepas paksa kaitan tangan Erena. Namun, Erena tetap pada posisinya, bersandar di punggung Azeus dengan aura manipulatif yang kuat—seolah ingin menunjukkan pada seisi parkiran bahwa Azeus adalah miliknya.
"Lepas, Er. Gue ada kelas," ucap Azeus dingin, tanpa menoleh sedikit pun.
"Kok galak banget sih? Padahal aku kangen banget sama kamu. Kita butuh bicara, Ze," bisik Erena tepat di telinga Azeus, mengabaikan tatapan sinis dari Raka dan Dion yang sudah tahu betul betapa "palsu" gadis ini.
Azeus mendengus muak. Di matanya sekarang, hanya ada wajah polos Nana yang menunggunya di rumah. Kehadiran Erena yang memaksakan kehendak ini benar-benar merusak suasana paginya
Zeus melangkah lebar meninggalkan area parkiran tanpa menoleh sedikit pun. Langkahnya mantap, diikuti oleh Raka, Dion, dan Gathan yang berjalan beriringan seperti barisan pelindung. Mereka sengaja mengabaikan Erena yang masih berdiri mematung dengan tangan yang menggantung kosong di udara.
Dulu, sebelum kecelakaan maut itu terjadi, geng motor Azeus adalah pendukung nomor satu hubungan mereka. Mereka sering menggoda Azeus dan Erena, menganggap Erena adalah sosok "ratu" yang pas untuk ketua mereka. Namun, pengkhianatan Erena saat Azeus terpuruk, diusir dari rumah, dan harus hidup susah di basecamp, meninggalkan luka yang sama dalamnya bagi sahabat-sahabat Azeus. Mereka melihat sendiri bagaimana Azeus hancur, dan Erena menghilang tanpa jejak, seolah Azeus hanyalah barang rongsokan yang tak lagi berharga.
"Gila ya itu cewek, mukanya tebel bener kayak ban traktor," gumam Dion pedas sambil sesekali menoleh ke belakang dengan tatapan jijik.
Raka mendengus muak.
"Dulu kita dukung dia karena kita pikir dia tulus. Ternyata cuma parasit harta. Najis gue liat akting lembutnya sekarang."
Azeus tetap diam, rahangnya mengeras. Fokusnya bukan lagi pada masa lalu yang palsu, melainkan pada Nana yang menunggunya di rumah. Kesetiaan teman-temannya yang tetap ada di saat ia tak punya apa-apa jauh lebih berharga daripada kecantikan manipulatif Erena.
Di belakang mereka, Erena masih berdiri tegak. Meski hatinya mendidih karena diabaikan di depan umum, ia tetap berpura-pura tenang. Ia merapikan rambutnya yang tersapu angin, memasang ekspresi elegan seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, matanya yang tajam terus menatap punggung Azeus dengan amarah yang tertahan. Ia tidak terbiasa ditolak,
"Kita lihat saja, Azeus. Kamu tidak akan bisa lepas dariku semudah itu," batin Erena.
Suasana di lorong kampus mendadak terasa lebih berwibawa. Azeus berjalan memimpin di depan dengan ransel yang tersampir di salah satu pundaknya, diikuti oleh Raka, Dion, dan Gathan yang melakukan hal serupa. Langkah mereka mantap, bukan lagi seperti gerombolan mahasiswa yang hanya datang untuk titip absen, melainkan seperti pasukan yang siap bertempur di medan akademik.
Begitu mereka memasuki ruang kelas, suasana yang tadinya bising perlahan mereda. Azeus langsung memilih barisan kursi tengah—posisi yang cukup strategis untuk fokus mendengarkan namun tetap bisa memantau sekitar. Raka dan Dion duduk di sisi kiri dan kanannya, sementara Gathan mengambil posisi di belakang mereka.
"Tumben lo milih depan, Ze? Biasanya nyari pojokan buat tidur," bisik Raka sambil mengeluarkan buku catatan dan pena dari tasnya.
"Gue harus lulus cepet, Ra. Papa udah kasih syarat, dan gue nggak mau Nana nunggu kelamaan buat gue nikahin," jawab Azeus datar namun penuh penekanan. Sifat obsesinya pada Nana benar-benar menjadi bahan bakar utama kedisiplinannya sekarang.
Tak lama kemudian, seorang dosen senior dengan kacamata tebal masuk ke ruangan. Suasana seketika hening. Azeus segera menegakkan punggungnya, mengeluarkan laptop, dan bersiap mencatat setiap poin penting.
"Selamat pagi semuanya. Hari ini kita akan membahas tentang Manajemen Strategis Perusahaan Cabang," ujar Dosen itu sambil membuka salindia di layar proyektor.
Mendengar kata 'Perusahaan Cabang', mata Azeus berkilat. Ini adalah materi yang paling ia butuhkan untuk membuktikan pada ayahnya bahwa ia layak memimpin. Sepanjang penjelasan dosen, Azeus tampak sangat serius. Ia tidak lagi memainkan ponsel atau bercanda dengan Dion.
Dion yang biasanya hobi nge-gim di bawah meja, kali ini ikut terpengaruh aura serius Azeus. Ia sesekali mencatat, meski sesekali masih menyenggol lengan Azeus untuk menggoda.
"Wuidih, serius amat bos. Inget, jangan sampai otaknya ngebul ya," bisik Dion pelan.
Azeus hanya membalas dengan seringai tipis tanpa mengalihkan pandangan dari papan tulis. Di pikirannya, setiap kata dari dosen itu adalah anak tangga yang membawanya lebih dekat untuk menghalalkan Nana. Ia ingin menjadi lelaki yang mapan, yang bisa menjamin hidup Nana agar gadis itu tidak pernah lagi merasakan kerasnya hidup di panti asuhan atau di jalanan.
Gathan yang duduk di belakang hanya bisa tersenyum kecil melihat perubahan drastis sahabatnya. Cinta memang bisa mengubah seorang badboy ugal-ugalan menjadi pria yang sangat ambisius.
Deru mesin moge Azeus dan teman-temannya membahana, meraung keras membelah kemacetan jalanan siang itu. Seperti formasi tempur, keempat motor itu meliuk-liuk lincah di aspal. Namun, di belakang mereka, sebuah mobil sedan mewah berwarna putih membuntuti dengan jarak yang terjaga. Itu Erena. Dengan tatapan tajam di balik kacamata hitamnya, ia terus menginjak pedal gas, mengikuti ke mana pun arah knalpot Azeus pergi.
Sampai di sebuah pertigaan besar dengan tikungan tajam, formasi mereka pecah.
"Ze! Kita duluan ke basecamp ya! Jangan lupa mampir kalau bini lo udah tidur!" teriak Raka sambil menggeber gasnya.
"Yo! Hati-hati lo, jangan sampe oli bocor gara-gara kelamaan dipake bucin!" timpal Dion sambil tertawa, lalu melesat lurus bersama Gathan menuju jalur arah rumah mereka dan basecamp.
Biasanya, Azeus akan berada di barisan paling depan menuju tempat nongkrong mereka. Tapi hari ini, Azeus langsung membanting stang motornya ke arah kanan, berbelok sendirian menuju jalur perumahan elit. Pikirannya sudah tidak di jalanan lagi. bayangan Aluna yang sedang duduk manis dengan kuncir kuda di rumah benar-benar membuatnya tidak sabar.
Erena yang melihat Azeus berbelok sendirian langsung memutar kemudinya dengan agresif. Ia mengernyit bingung. Kenapa dia pulang secepat ini? Biasanya dia nongkrong sampai malam, batin Erena penuh selidik.
Azeus terus memacu motornya, sesekali melirik spion dan menyadari ada mobil yang membuntutinya. Ia menyeringai narsis di balik helmnya.
"Masih mau main-main, Er? Silakan, liat aja nanti siapa yang bakal nyesel," gumam Azeus pelan.
Keinginan Azeus untuk segera sampai rumah sudah di ubun-ubun. Obsesinya pada Nana membuatnya merasa satu detik tanpa melihat gadis itu adalah kerugian besar. Ia ingin segera melepas ranselnya, duduk di samping Nana, dan mungkin mencuri satu atau dua kecupan sebelum Papanya pulang.