⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...
Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.
Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.
Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.
"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 (Part 2)
"Gia!" Pak Radit menahan beban tubuh Gia.
Gia menyandarkan kepalanya di dada Pak Radit. Dia bisa mendengar detak jantung gurunya itu—cepat, tapi kuat. Wangi parfum woodsy itu sekarang bercampur dengan bau keringat yang maskulin. Anehnya, Gia nggak merasa bau itu menjijikkan. Justru... menenangkan.
"Pak... cukup... saya beneran nggak kuat..." bisik Gia. Pandangannya mulai berputar.
Pak Radit nggak marah. Dia malah menggendong Gia (lagi!) ala bridal style menuju tribun yang teduh. Dia mendudukkan Gia di bangku semen, lalu dengan telaten dia mulai mengipasi wajah Gia pakai papan jalannya.
"Kamu tuh ya... kalau nggak kuat jangan dipaksa sampai segitunya," omel Pak Radit, tapi suaranya terdengar sangat khawatir.
Gia merem-melek. "Tadi... Bapak yang nyuruh... 15 putaran..."
"Itu kan biar kamu disiplin, bukan biar kamu mati di lapangan saya, Gia!" Pak Radit membuka tas olahraganya, mengeluarkan sebotol minuman elektrolit yang ternyata sudah dia siapkan di dalam cooler bag kecil. "Nih, minum."
Gia meminumnya pelan-pelan. Kesadarannya mulai balik. Dia melihat Pak Radit yang duduk di sampingnya, ikut berkeringat. Keringat itu menetes dari pelipis Pak Radit, turun ke rahangnya, lalu menghilang di balik kerah kaosnya.
Gue harus dapet medali karena nggak pingsan liat pemandangan ini, batin Gia.
"Pak," panggil Gia setelah beberapa saat hening.
"Apa lagi? Mau es krim lagi?"
"Bapak tadi bilang... saya ini 'tanggung jawab khusus' Bapak. Itu maksudnya apa? Di depan Tante Siska lagi bilangnya."
Pak Radit terdiam. Dia menatap lurus ke arah gawang sepak bola di depan mereka. Suasana sekolah sudah sangat sepi. Hanya ada suara burung gereja dan suara napas mereka yang mulai beraturan.
"Maksudnya... ya karena kamu murid yang paling sering bikin masalah. Saya nggak mau kamu kenapa-kenapa di bawah pengawasan saya," jawab Pak Radit, terdengar sangat normatif.
"Bohong," sahut Gia cepat. "Kalau cuma karena itu, Bapak bisa aja nyuruh Pak Bambang satpam buat anter saya pulang kemarin. Tapi Bapak malah nganter sendiri, beliin salep, bahkan beliin es krim mahal."
Gia memberanikan diri. Dia memegang ujung lengan kaos Pak Radit. "Pak Radit... Bapak ngerasa 'sesuatu' juga ya sama saya?"
Pak Radit menoleh. Jarak mereka sangat dekat di tribun itu. Sinar senja menyinari wajah mereka berdua, memberikan efek dramatis yang kalau di film-film sudah pasti masuk adegan first kiss.
"Gia, kamu itu murid saya. Saya gurumu. Ada garis yang nggak boleh dilewati," kata Pak Radit, suaranya rendah dan serak.
"Garis itu kan kita yang bikin, Pak. Kalau kita hapus, emang kenapa?"
Pak Radit menatap bibir Gia sebentar, lalu dengan cepat dia mengalihkan pandangannya. Dia berdiri dengan mendadak. "Garis itu ada buat ngelindungin kamu, Gia. Dan buat ngelindungin saya juga. Sekarang ayo pulang, udah mau magrib. Saya nggak mau dapet masalah lagi gara-gara kamu."
...
...
Di dalam mobil saat perjalanan pulang, suasana jadi sangat canggung. Pak Radit fokus menyetir dengan muka sedatar tembok, sementara Gia sibuk dengan ponselnya.
Tiba-tiba, ponsel Gia bergetar hebat. Ratusan notifikasi masuk dari grup kelas "XII IPS 3 - NO GURU NO DRAMA".
Gia membuka grup itu dan jantungnya seolah berhenti berdetak.
Seseorang telah memotret kejadian di tribun tadi. Dari sudut pengambilan fotonya, Pak Radit yang lagi mengipasi Gia dan posisi mereka yang sangat dekat kelihatan seperti mereka lagi mau ciuman.
Caption-nya: "OMG! Spill dong, ini Pak Radit lagi kasih nafas buatan atau lagi simulasi drakor sama Gia di tribun? Kok mesra banget? #GuruMuridGoals #GiaTheWinner"
"Mampus..." gumam Gia.
"Kenapa?" tanya Pak Radit tanpa menoleh.
"Pak... kayaknya hukuman saya bukan lari 15 putaran lagi deh."
"Maksud kamu?"
Gia menyodorkan ponselnya ke hadapan Pak Radit. Pak Radit melihat foto itu sekilas, lalu dia langsung menginjak rem mendadak di pinggir jalan.
"Siapa yang foto ini?!" suara Pak Radit meninggi. Dia terlihat sangat marah—tapi bukan marah yang meledak-ledak, melainkan marah yang penuh ketakutan.
"Nggak tahu, Pak. Ini di-post di akun fess sekolah juga..." Gia mulai gemetar. Dia tahu ini bakal jadi masalah besar.
Pak Radit memukul setir mobilnya. "Ini yang saya maksud, Gia! Ini kenapa garis itu harus ada! Sekarang foto ini udah kesebar, dan besok pagi... saya yakin kita berdua bakal dipanggil ke ruang Kepala Sekolah."
Gia menunduk, air matanya mulai jatuh. Dia nggak bermaksud bikin karier Pak Radit hancur. Dia cuma mau disukai balik. "Maaf, Pak... saya beneran nggak tahu kalau ada yang ngintip..."
Pak Radit melihat Gia yang menangis. Amarahnya perlahan luruh. Dia menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya di kursi. "Sudah. Jangan nangis. Saya bakal urus ini. Apapun yang terjadi besok, kamu bilang kalau saya cuma nolongin kamu yang hampir pingsan karena hukuman saya. Ngerti?"
"Tapi Pak—"
"Gia, dengerin saya," Pak Radit memegang kedua bahu Gia, memaksa gadis itu menatapnya. "Saya bakal lindungin kamu. Saya nggak bakal biarin kamu dapet sanksi. Tapi mulai besok... kita harus bener-bener jaga jarak. Nggak ada lagi latihan privat. Nggak ada lagi antar jemput."
Gia merasakan hatinya perih luar biasa. Jauh lebih perih daripada kakinya yang kram atau paru-parunya yang kelelahan.
"Termasuk es krimnya, Pak?" tanya Gia lirih.
Pak Radit menatap Gia lama sekali. Di matanya, ada pergulatan antara keinginan untuk memeluk muridnya itu atau tetap menjadi guru yang profesional.
"Termasuk es krimnya," jawab Pak Radit pelan, lalu dia menjalankan mobilnya lagi dengan kecepatan tinggi.
Malam itu, Jakarta terasa sangat dingin bagi Gia. Dia baru saja menyadari kalau jatuh cinta pada gurunya bukan cuma soal estetik drakor, tapi soal menghadapi kenyataan pahit bahwa dunia dewasa punya aturan yang nggak bisa dia langgar begitu saja dengan stiker "Daddy".
.....
.
.
.
[To be continued ke Episode selanjutnya]
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..