NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 Tujuh Pagi

Hari pertama, aku terbangun pukul lima empat puluh delapan.

Bukan karena alarm. Bukan karena berisik. Justru sebaliknya — terlalu sunyi, dan kesunyian yang asing punya cara sendiri untuk membangunkan otak yang belum mengenalinya sebagai aman.

Aku berbaring selama beberapa menit, menatap langit-langit kamar yang tingginya dua kali langit-langit kosan, mendengarkan penthouse yang masih gelap dan diam. Lalu dari balik dinding — samar, hampir tidak terdengar — ada suara. Langkah. Pintu yang dibuka dan ditutup dengan sangat pelan. Air mengalir singkat di dapur.

Lalu pintu utama.

Lalu tidak ada apa-apa.

Aku meraih ponsel. Pukul 05.31.

Revano sudah pergi.

Pola itu berulang tanpa variasi yang berarti.

Hari kedua — pukul 05.29. Hari ketiga — pukul 05.32. Hari keempat — pukul 05.30 tepat, yang terasa seperti dia memang menargetkan angka itu.

Setiap pagi, sebelum Jakarta sepenuhnya bangun, Revano sudah keluar. Dan setiap malam, ketika aku sudah selesai makan dan kembali ke ruang kerjaku, ada suara pintu utama yang terbuka — jam yang berbeda-beda tapi selalu lewat dari pukul sembilan.

Kami hidup di penthouse yang sama dengan jadwal yang tidak bertemu di titik manapun yang penting.

Kecuali satu.

Hari pertama itu kebetulan. Aku keluar dari wing kiri pukul tujuh kurang untuk mengambil air minum, dan Revano ada di dapur — berdiri di depan mesin kopi dengan jas yang sudah rapi sempurna, menekan tombol dengan cara yang hapal otot, menatap mesin dengan ekspresi yang tidak menunjukkan apapun.

Kami melihat satu sama lain.

Tidak ada yang berkata apapun.

Dia mengambil cangkirnya. Aku mengambil air minum dari kulkas. Kami berdiri di dapur yang sama selama mungkin empat puluh detik tanpa satu kata pun, lalu dia pergi ke arah pintu dan aku kembali ke wing kiriku.

Hari kedua, aku keluar di jam yang sama karena ternyata perutku memutuskan tujuh pagi adalah jadwal makan paginya sekarang. Revano lagi ada di dapur. Posisi yang sama, ritual yang sama. Mesin kopi, cangkir, berdiri menatap sesuatu yang tidak ada.

Kami melihat satu sama lain lagi.

Lagi tidak ada yang berkata apapun.

Hari ketiga aku mulai curiga ini bukan kebetulan dari pihaknya juga — tapi tidak cukup yakin untuk memverifikasi, dan memverifikasinya akan memerlukan komunikasi yang rupanya belum ada di menu kami.

Hari keempat, kami berpapasan di dapur pukul tujuh untuk keempat kalinya, dan keheningan di antara kami sudah punya karakternya sendiri — bukan canggung, bukan dingin, tapi jenis diam yang belum tahu harus menjadi apa.

Di luar empat puluh detik di dapur setiap pagi, hidupku di penthouse itu berjalan dalam ritme yang aku bentuk sendiri.

Pukul tujuh sarapan — roti atau sereal atau apapun yang kutemukan di dapur, karena ternyata kulkas selalu terisi oleh seseorang yang tidak pernah kelihatan melakukan pengisian, dan aku sudah menyerah mencari tahu mekanismenya.

Pukul tujuh tiga puluh sampai makan siang, aku kerja. Proyek yang sempat tertunda selama seminggu memerlukan konsentrasi penuh, dan ruang kerjaku di wing kiri ternyata punya akustik yang bagus — keheningan yang di malam pertama terasa mengintimidasi, siang hari terasa seperti aset.

Makan siang sendirian. Kadang di meja makan besar yang terasa absurd, kadang di sofa ruang tamu sambil menatap jendela karena pemandangannya tidak pernah membosankan meski sudah empat hari.

Sore, kerja lagi atau video call dengan klien. Malam, makan dari apapun yang ada atau pesan delivery yang anehnya selalu lebih cepat sampai ke gedung ini dari tempat tinggal manapun yang pernah aku huni sebelumnya — mungkin karena namanya, mungkin karena tipnya Kenzo yang selalu ada dalam amplop kecil di meja dapur setiap awal minggu dengan catatan untuk kebutuhan operasional harian yang aku tidak tahu harus bereaksi apa selain menggunakannya.

Dan setiap malam, setelah pukul sembilan, ada suara pintu utama yang terbuka. Langkah yang sudah mulai bisa kubedakan dari keheningan sekitarnya. Suara lemari es dibuka sebentar. Lalu kesunyian lagi dari wing kanan yang tidak pernah menunjukkan cahaya di bawah pintunya sampai larut.

Kami tinggal di tempat yang sama. Kami hidup di jadwal yang berbeda. Dan satu-satunya titik temu kami adalah empat puluh detik di dapur setiap pukul tujuh pagi yang tidak pernah menghasilkan satu kata pun.

Hari kelima, aku memecahkan gelas.

Bukan karena ceroboh — atau tidak sepenuhnya. Aku sedang mencoba mengambil gelas dari rak paling atas yang ternyata terlalu tinggi untuk dijangkau dengan nyaman kalau kamu tidak bertubuh semeter delapan, dan ketika kakiku sedikit kehilangan keseimbangan di atas ujung jari, gelas itu meluncur.

Bunyi pecahnya keras di keheningan dapur pukul tujuh pagi.

Aku berdiri di antara pecahan kaca, menahan napas sebentar, lalu membungkuk untuk mengumpulkan pecahannya dengan tangan.

"Jangan."

Aku mendongak. Revano berdiri di pintu dapur — baru keluar dari wing kanan, masih memakai kemeja kerja yang belum seluruhnya dikancingkan, rambutnya untuk pertama kalinya tidak sempurna karena satu helai jatuh ke dahi.

Dia masuk ke dapur, membuka laci paling bawah di bawah wastafel — langsung, tanpa mencari, seperti orang yang tahu posisi semua benda di ruangan ini dengan mata tertutup — dan mengeluarkan sapu kecil dan pengki.

"Mundur dulu," katanya.

Aku mundur. Dia menyapu pecahan kaca dengan gerakan yang efisien dan tidak berlebihan, mengumpulkannya di pengki, membuangnya ke tempat sampah yang ada di bawah wastafel. Lalu menutup laci, meletakkan sapu kembali di posisinya, dan membalik ke arahku.

"Kakimu?"

"Tidak kena."

Dia mengangguk. Menatapku sebentar dengan cara yang sudah sedikit mulai bisa kubaca — bukan memeriksa dengan teliti, tapi memastikan dengan cepat. Verifikasi, bukan kekhawatiran. Atau mungkin kekhawatiran yang sudah diformat ulang menjadi verifikasi karena itu bahasa yang lebih nyaman baginya.

Lalu dia berbalik ke mesin kopi.

Dan kami kembali ke ritual yang sama — dia di depan mesin kopi, aku mengambil gelas baru dari rak yang lebih rendah kali ini, keheningan yang sudah jadi karakter tetap di antara kami.

Tapi sebelum dia mengambil cangkirnya dan pergi, dia berhenti.

"Rak paling atas," katanya, tanpa menoleh, "isinya gelas yang tidak dipakai. Yang dipakai sehari-hari ada di rak kedua."

Aku menatap punggungnya. "Terima kasih."

Dia mengambil cangkirnya. Pergi.

Malam harinya, aku duduk di ruang kerja dan menyadari sesuatu yang kecil tapi tidak bisa diabaikan begitu saja.

Itu kalimat pertama yang kami pertukarkan sejak hari Sabtu pindahan — lima hari yang diisi empat puluh detik diam di dapur setiap paginya. Dan kalimat itu datang bukan karena ada agenda, bukan karena jadwal, bukan karena kontrak memintanya.

Datang karena ada gelas yang pecah dan seseorang yang tahu di mana sapu disimpan.

Aku membuka laptop, mencoba kembali ke revisi yang belum selesai, tapi pikiranku tidak sepenuhnya di sana. Di satu sisi pikiran yang lain, ada catatan kecil yang sedang dibuat tanpa aku minta:

Revano tahu posisi semua benda di dapur ini sampai ke detail laci mana menyimpan apa.

Artinya dia menggunakan dapurnya. Bukan hanya mesin kopi.

Artinya di balik jadwal yang tidak pernah terlihat dari luar, ada kehidupan kecil yang berjalan di ruang-ruang yang tidak aku akses.

Itu bukan informasi penting. Tidak ada relevansinya dengan kontrak atau agenda apapun.

Tapi aku mencatatnya — dengan cara yang sama seperti aku mencatat bahwa dia membaca buku yang sedikit miring di rak, bahwa dia meninggalkan catatan dengan tulisan tangan bukan pesan teks, bahwa dia menyapu pecahan kaca tanpa berkomentar apapun tentang kejadiannya.

Potongan-potongan kecil yang belum membentuk gambar utuh. Tapi mulai ada di sana, sedikit demi sedikit, di tepi kesadaran yang aku jaga supaya tidak terlalu sering melihat ke arahnya.

Ponselku bergetar. Nara.

"Hari ke-5. Laporan?"

Aku mengetik: "Kami belum ngobrol lebih dari 10 kata total."

"Rekor dunia untuk pasangan baru."

"Kami bukan—" Aku menghapus kalimat itu. Menggantinya dengan: "Memang."

"Tapi kamu baik-baik saja?"

Aku menatap layar. Memikirkan empat puluh detik di dapur setiap pagi. Memikirkan sapu di laci bawah wastafel dan satu helai rambut yang jatuh ke dahi dan kalimat tentang rak kedua yang diucapkan ke arah yang berlawanan tapi tetap sampai.

"Sedang menuju ke sana," ketikku.

Dan kali ini kalimat itu terasa sedikit lebih dekat ke tujuannya dari hari-hari sebelumnya.

— Selesai Bab 8 —

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!