NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 — Bayangan dari Masa Lalu

Seminggu berlalu sejak rapat direksi.

Dan sejak hari itu, ritme hidup Alya berubah lebih cepat dari yang ia bayangkan.

Pelatihan etiket berlanjut setiap pagi. Siang harinya ia mulai ikut dalam beberapa pertemuan internal—bukan sebagai pengambil keputusan, tetapi sebagai pengamat aktif. Malam hari ia membaca laporan perusahaan, mengenali pola relasi bisnis, dan mempelajari nama-nama penting yang akan hadir di gala tahunan Wijaya Group.

Ia tidak ingin hanya berdiri cantik di samping Bima.

Ia ingin mengerti dunia yang sedang ia masuki.

Pagi ini suasana rumah utama sedikit lebih sibuk dari biasanya. Tim stylist datang membawa beberapa pilihan gaun untuk gala malam nanti. Warna-warna elegan digantung rapi: hitam klasik, silver metalik, emerald gelap, dan burgundy.

Alya berdiri di depan cermin besar ruang ganti sementara.

“Untuk acara malam, pilih yang tidak terlalu mencolok tapi tetap kuat,” ujar Ratna yang turut hadir sebagai konsultan.

Stylist mengangkat gaun emerald dengan potongan clean dan garis tegas di bagian bahu.

“Ini memberi kesan tegas tanpa terlihat agresif.”

Alya menyentuh kainnya pelan.

Emerald.

Warna yang sama ia pakai saat rapat direksi.

Simbol tenang dan kuat.

“Saya pilih yang ini.”

Ratna mengangguk puas.

“Bagus. Malam ini bukan soal bersaing kecantikan. Ini soal posisi.”

Menjelang sore, mobil mereka meluncur menuju hotel tempat gala diadakan. Gedung mewah itu sudah dipenuhi tamu penting. Deretan mobil mewah berjajar di depan. Kamera media bisnis siap menyambut.

Begitu pintu mobil terbuka, lampu kilat langsung menyala.

Kali ini, Bima meraih tangan Alya tanpa ragu.

Bukan sekadar formalitas.

Gesturnya tegas.

Menyatakan kepemilikan.

Alya menyesuaikan langkah. Gaun emerald itu jatuh anggun mengikuti gerak tubuhnya. Rambutnya ditata sleek low bun. Anting berlian kecil berkilau halus.

Ia tidak terlihat seperti wanita yang seminggu lalu masih diragukan direksi.

Ia terlihat seperti bagian dari dunia ini.

Mereka memasuki ballroom megah dengan lampu kristal besar menggantung di tengah. Musik orkestra mengalun lembut.

Beberapa investor asing sudah berdiri dalam kelompok kecil. Senyum formal. Percakapan bisnis.

Bima membawa Alya berkeliling memperkenalkannya.

“Mrs. Alya Wijaya.”

Nama itu terdengar mantap diucapkan berulang kali.

Alya menjabat tangan dengan percaya diri. Tatapannya stabil. Jawabannya singkat dan terukur.

Ia menerapkan semua yang dipelajari.

Hingga sebuah suara feminin terdengar dari belakang.

“Bima.”

Nada itu berbeda.

Lebih personal.

Alya tidak perlu diberi tahu untuk menyadari bahwa suara itu bukan sekadar kolega bisnis.

Ia menoleh perlahan.

Seorang wanita tinggi dengan gaun merah anggur berdiri beberapa langkah dari mereka. Rambut hitam panjang tergerai. Wajahnya cantik dengan aura percaya diri yang nyaris menantang.

Bima berhenti.

Tatapannya berubah tipis—bukan terkejut, tapi waspada.

“Clara,” ucapnya singkat.

Nama itu melayang di udara.

Clara tersenyum samar, lalu mengalihkan pandangan pada Alya.

“Dan ini pasti istrimu.”

Nada suaranya halus, tapi ada sesuatu yang tajam di dalamnya.

Alya tersenyum profesional.

“Alya Wijaya.”

Clara menjabat tangannya, genggamannya sedikit lebih kuat dari yang diperlukan.

“Saya Clara Santoso. Partner lama Bima di proyek luar negeri.”

Partner lama.

Kalimat yang terdengar sederhana namun mengandung banyak arti.

Alya tidak menarik tangannya lebih dulu.

“Senang bertemu dengan Anda.”

Clara menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah membaca.

“Saya tidak menyangka Bima menikah secepat ini.”

Bima menjawab datar, “Keputusan pribadi tidak selalu perlu diumumkan lebih dulu.”

Clara tertawa kecil.

“Tentu.”

Tatapannya kembali pada Alya.

“Anda pasti wanita yang luar biasa sampai bisa membuatnya berubah pikiran tentang pernikahan.”

Kalimat itu terdengar seperti pujian.

Namun nadanya menyiratkan keraguan.

Alya tidak terpancing.

“Setiap orang berubah ketika waktunya tepat,” jawabnya tenang.

Clara tersenyum tipis.

“Semoga saja.”

Satu kalimat.

Satu tantangan halus.

Beberapa tamu lain mendekat, membuat percakapan terputus. Namun aura di antara mereka belum benar-benar hilang.

Sepanjang acara, Clara beberapa kali terlihat berbicara dengan investor asing yang sama dengan Bima. Ia jelas bukan wanita biasa.

Dan ia jelas punya posisi kuat di lingkaran bisnis ini.

Di tengah acara, Bima membungkuk sedikit ke arah Alya.

“Clara adalah mantan calon mitra merger internasional.”

“Dan?”

“Dan seseorang yang pernah hampir menjadi bagian lebih dari itu.”

Jawaban jujur.

Tanpa ditutup-tutupi.

Alya mengangguk pelan.

Ia tidak menunjukkan reaksi cemburu.

Namun pikirannya mencatat.

Malam ini bukan hanya soal direksi atau investor.

Ini juga soal masa lalu yang belum sepenuhnya hilang.

Ketika sesi pidato dimulai, Bima naik ke atas panggung. Lampu sorot mengarah padanya.

Ia berbicara tentang pertumbuhan perusahaan, stabilitas saham, dan rencana ekspansi regional.

Alya berdiri di sisi panggung, mendengarkan dengan fokus.

Sorot mata beberapa orang masih mengarah padanya.

Mengukur.

Membandingkan.

Clara berdiri tidak jauh dari barisan depan.

Tatapannya tidak pernah benar-benar lepas.

Pidato selesai dengan tepuk tangan meriah.

Saat Bima turun dari panggung, Clara kembali mendekat.

“Pidato yang bagus,” katanya.

“Terima kasih.”

Clara menatap Alya lagi.

“Dunia ini tidak mudah, Mrs. Wijaya.”

“Saya tidak mencari kemudahan,” jawab Alya.

Clara tersenyum.

“Kita lihat saja.”

Kali ini, Alya membalas senyumnya dengan lebih tenang.

“Saya juga ingin melihatnya.”

Beberapa detik hening terjadi di antara mereka.

Tidak ada kata kasar.

Tidak ada drama.

Tapi jelas ada garis yang ditarik.

Clara akhirnya melangkah pergi, kembali ke kelompok investornya.

Bima menoleh pada Alya.

“Kamu baik-baik saja?”

“Saya tidak menikah untuk merasa terintimidasi.”

Jawaban itu membuat sudut bibir Bima bergerak tipis.

“Clara tidak suka kehilangan.”

“Ini bukan kompetisi.”

“Bagi sebagian orang, selalu begitu.”

Acara berakhir mendekati tengah malam.

Di dalam mobil yang membawa mereka pulang, suasana lebih sunyi dari biasanya.

Lampu kota berkelebat di balik jendela.

“Apakah dia masih terlibat dalam proyek perusahaan?” tanya Alya akhirnya.

“Perusahaannya salah satu kandidat kerja sama ekspansi Asia Tenggara.”

Informasi penting.

Berarti Clara bukan hanya bayangan masa lalu.

Ia masih bagian dari masa depan bisnis Bima.

Alya menatap lurus ke depan.

“Saya tidak akan menjadi alasan kegagalan negosiasi.”

Bima menoleh.

“Tidak ada yang menyalahkanmu.”

“Saya tidak ingin ada yang berpikir saya penghalang.”

Hening sesaat.

“Kamu bukan penghalang,” ucap Bima tegas.

“Lalu apa saya?”

Tatapan mereka bertemu dalam cahaya redup mobil.

Bima menjawab tanpa ragu.

“Bagian dari keputusan yang sudah saya ambil.”

Jawaban itu sederhana.

Tapi tidak ringan.

Mobil berhenti di depan rumah utama.

Alya turun dengan langkah tenang.

Malam ini ia tidak hanya menghadapi investor.

Ia menghadapi bayangan masa lalu suaminya.

Dan ia tidak mundur.

Di dalam kamar, ketika gaun emerald itu dilepas dan diletakkan rapi di kursi, Alya berdiri di depan cermin.

Refleksinya terlihat lebih dewasa.

Lebih tajam.

Gala pertama sebagai Nyonya Wijaya telah ia lewati.

Tanpa kesalahan.

Tanpa drama terbuka.

Namun ia tahu satu hal dengan pasti—

Clara bukan ancaman yang akan hilang begitu saja.

Dan jika dunia bisnis memang penuh permainan kekuasaan,

maka permainan itu baru saja dimulai.

1
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!