NovelToon NovelToon
Penerus Warisan Dewa

Penerus Warisan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:38.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.

Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.

Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.

Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.

“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”

Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Puncak Awan Dalam

Sinar mentari pagi menembus kabut tebal yang menyelimuti Gunung Awan Hijau, menampakkan sisa-sisa kekacauan dari malam sebelumnya. Hutan Bambu Hitam di area luar telah rata dengan tanah, berubah menjadi kawah hangus yang masih mengeluarkan asap tipis.

Ribuan murid luar berkerumun di kejauhan, berbisik-bisik penuh ketakutan tentang dewa atau iblis apa yang singgah di sekte mereka semalam.

Namun, Lin Xuan tidak peduli dengan keributan itu.

Bersama sembilan orang lainnya yang lolos ke sepuluh besar termasuk Zhao Yun yang wajahnya masih dipenuhi plester obat Lin Xuan menapaki tiga ribu anak tangga batu giok menuju Puncak Awan Dalam (Inner Cloud Peak).

Ini adalah wilayah suci Sekte Awan Hijau. Udaranya tiga kali lebih padat oleh energi spiritual alami (Spiritual Qi) dibandingkan asrama bawah. Setiap tarikan napas terasa membasuh paru-paru dan melancarkan aliran darah.

"Luar biasa..." Zhao Yun bergumam takjub, menatap bangau-bangau putih bersayap cahaya yang terbang mengitari air terjun mengambang di atas mereka. "Saudara Mu, energi di sini sangat pekat! Pantas saja murid dalam selalu memandang rendah kita."

Lin Xuan berjalan dengan langkah tenang. Topi caping bambunya telah dilepas sesuai aturan wilayah dalam, memperlihatkan wajahnya yang pucat dan mata sedingin kolam es.

Di dalam Dantian nya, sembilan pilar hitam legam berputar pelan, memancarkan kekuatan Foundation Establishment yang menakutkan. Namun, menggunakan teknik penyembunyi aura dari Cincin Jiwa Kuno, Lin Xuan membungkus pilar-pilar itu dalam kabut ilusi. Ke luar, ia hanya memancarkan aura Qi Condensation.

Mereka tiba di depan Balai Pendaftaran Murid Dalam, sebuah paviliun megah bertiang kayu gaharu merah. Di beranda, seorang Tetua berwajah tirus dengan jubah biru bersulam benang perak sudah menanti mereka. Itu adalah Tetua Feng dari Balai Pewarisan.

"Selamat datang di Puncak Awan Dalam," ucap Tetua Feng. Matanya yang setajam elang menyapu kesepuluh pemuda di depannya.

"Mulai hari ini, kalian bukan lagi semut. Kalian adalah fondasi masa depan sekte. Namun, Puncak Dalam tidak memelihara orang malas. Di sini, kalian akan memperebutkan Gua Kultivasi, Mata Air Roh, dan Gulungan Teknik tingkat menengah."

Tetua Feng kemudian meminta mereka menunjukkan token pemenang dan mengukur ulang kultivasi mereka.

Saat giliran Zhao Yun tiba, Tetua Feng menempelkan tangannya ke bahu pemuda itu. Alis Tetua Feng terangkat, matanya berbinar cerah.

"Akar Roh Dua Elemen Variasi Angin. Kultivasi menembus Lapisan 5 murni di tengah pertarungan kemarin. Fondasimu sangat bersih, Nak!" puji Tetua Feng tanpa ditutupi. "Aku kebetulan sedang mencari murid penerus. Apakah kau bersedia menjadi Murid Langsungku (Direct Disciple) dan pindah ke Puncak Angin Puyuh?"

Zhao Yun terbelalak. Menjadi Murid Langsung seorang Tetua adalah impian tertinggi setiap kultivator muda. Itu berarti mendapat perlindungan mutlak dan sumber daya tanpa batas.

Zhao Yun menoleh ke arah Lin Xuan, seolah meminta persetujuan.

Lin Xuan tidak menatapnya. Wajahnya datar. "Jalan kultivasi adalah milikmu sendiri. Ambil."

Zhao Yun tersenyum lebar, lalu langsung berlutut di depan Tetua Feng. "Murid bersedia!"

"Bagus, bagus!" Tetua Feng tertawa puas. Ia kemudian menatap Lin Xuan, pemuda yang mengalahkan Wang Long dengan satu tebasan mengerikan. Tetua Feng menaruh harapan besar padanya.

"Giliranmu, Mu Chen. Kemarikan tanganmu."

Lin Xuan mengulurkan tangan kirinya. Tetua Feng menempelkan jarinya ke pergelangan tangan Lin Xuan, mengirimkan seutas Qi Spritual untuk memeriksa meridiannya.

Detik berikutnya, senyum di wajah Tetua Feng lenyap, digantikan oleh kerutan jijik dan kekecewaan yang mendalam.

"Ini... meridian lengan kananmu rusak parah. Terlalu banyak luka dalam," gumam Tetua Feng, menggelengkan kepala. "Dan kultivasimu... hanya Qi Condensation Lapisan 6? Tunggu, apakah kau menelan Pil Pembentuk Dasar yang di berikan kemarin?!"

Semua murid yang hadir menahan napas. Pil Pembentuk Dasar adalah harta karun yang biasanya disimpan mati-matian sampai seorang kultivator mencapai Puncak Lapisan 9 untuk memastikan persentase keberhasilan 100% menembus Foundation Establishment.

Lin Xuan menundukkan kepala, memasang ekspresi pahit yang dibuat-buat. "Benar, Tetua. Meridian saya terluka akibat teknik kemarin. Saya panik dan menelan pil itu semalam dengan harapan bisa menembus batas dan menyembuhkan luka saya. Namun... bakat Akar Roh Tiga Elemen saya terlalu buruk. Saya gagal membentuk fondasi, dan energinya hanya mendorong kultivasi saya naik satu lapis."

Tetua Feng menarik tangannya dengan kasar, seolah baru saja menyentuh kotoran.

"Bodoh! Pemborosan harta surga!" bentak Tetua Feng marah. "Pil yang bisa menciptakan ahli Foundation Establishment kau sia-siakan hanya untuk naik satu lapis murahan?! Dengan meridian yang cacat akibat teknik sesat dan fondasi yang rusak karena kegagalan pil, masa depan kultivasimu telah hancur!"

Zhao Yun terkejut. "Tetua, itu tidak mungkin! Saudara Mu adalah—"

"Diam!" potong Tetua Feng. Ia tidak lagi menatap Lin Xuan dengan kekaguman, melainkan dengan pandangan meremehkan. "Kekuatan fisik sesaat tidak ada artinya jika Dao-mu terputus. Wang Long mungkin cacat di lengannya, tapi fondasinya masih ada. Sedangkan kau... kau menggali kuburanmu sendiri."

Tetua Feng melempar sebuah token kayu buram ke arah Lin Xuan, yang ditangkapnya dengan tenang.

"Itu token Murid Dalam Biasa. Ambil Gua Nomor 99 di ujung tebing utara. Area itu memiliki energi roh paling tipis, cocok untuk orang yang menyia-nyiakan sumber daya sekte. Pergi dari pandanganku!"

Lin Xuan membungkuk hormat, sama sekali tidak terpancing oleh hinaan itu. Itulah yang ia inginkan. Tidak ada Tetua yang menaruh perhatian padanya, tidak ada faksi yang ingin merekrutnya. Ia kembali menjadi 'sampah' yang dilupakan.

Sempurna.

Zhao Yun ingin mengejar Lin Xuan, namun Tetua Feng menahannya. "Jangan buang waktumu dengan barang rusak, Zhao Yun. Naga tidak bergaul dengan ular lumpur. Mulai sekarang, duniamu berbeda dengannya."

Lin Xuan berbalik dan berjalan menuju tebing utara sendirian.

Di dalam kepalanya, tawa Gu Tianxie meledak.

"Sandiwara yang luar biasa! Tetua bodoh itu bahkan tidak bisa membedakan antara meridian yang cacat dengan meridian yang kelelahan karena memadatkan sembilan pilar!" Gu terkekeh. "Biarkan mereka memandangmu seperti anjing mati. Saat gilirannya tiba, kita akan meminum darah mereka dari tengkorak mereka sendiri."

Gua Nomor 99 terletak di ujung tebing yang curam, menghadap langsung ke lautan awan yang berhembus kencang. Tempat ini suram, lembap, dan sepi.

Lin Xuan mendorong pintu batu yang berdebu. Di dalamnya hanya ada ranjang batu dingin dan sebuah formasi pengumpul Qi tua yang sudah setengah rusak.

Ia menutup pintu batu itu, menguncinya rapat-rapat, lalu duduk bersila di atas ranjang.

"Keluarkan kekuatan aslimu sekarang," perintah Gu. "Kau harus menstabilkan pilar-pilarmu. Petir semalam terlalu ganas."

Lin Xuan memejamkan mata dan melepaskan segel ilusinya. Seketika, aura Foundation Establishment meledak di dalam gua kecil itu, membuat debu-debu berterbangan dan formasi tua di sudut ruangan berderit menahan tekanan.

Sembilan pilar hitam di Dantian nya berputar, memancarkan Qi murni yang tebal bagaikan cairan. Kekuatannya sekarang setidaknya sepuluh kali lipat lebih mematikan dari hari kemarin.

Namun, saat Lin Xuan menelusuri pilar-pilarnya dengan Mata Spritual (Divine Sense), keningnya sedikit berkerut.

"Gu," panggil Lin Xuan dalam hati, nada suaranya sangat dingin. "Kenapa ada garis-garis aneh di dasar pilarku? Rasanya... tidak stabil."

Di dalam Cincin Jiwa Kuno, roh Gu Tianxie menegang sesaat, namun iblis tua itu adalah penipu ulung yang telah hidup ribuan tahun.

"Itu adalah tanda dari Petir Ungu Pemecah Langit," jawab Gu dengan nada tenang dan meyakinkan. "Langit mencoba menghancurkan fondasimu. Retakan kecil itu adalah harga dari sembilan pilar Asura. Jangan khawatir, selama kau terus menyerap darah kultivator yang kuat, retakan itu perlahan akan tertutup oleh energi pembunuhanmu."

Lin Xuan meneliti garis-garis halus itu sejenak. Meski curiga, pengetahuan kultivasinya masih terlalu rendah untuk mengenali jejak segel parasit milik Gu Tianxie.

"Baiklah," gumam Lin Xuan, menarik kembali Mata Batinya. "Darah kultivator yang kuat..."

Lin Xuan membuka matanya, menatap dinding gua yang dingin.

"Di Puncak Dalam ini, setiap murid memiliki Gua Kultivasi dan jatah Batu Roh tingkat menengah," kata Lin Xuan. Matanya menyipit, memancarkan kilau pembunuh. "Para Tetua menutup mata terhadap pertarungan rahasia selama mayatnya tidak ditemukan, bukan?"

"Benar," seringai Gu. "Di sini bukan lagi tentang memalak Sepuluh Batu Roh seperti di asrama luar. Di Puncak Dalam, murid saling membunuh demi merampas pusaka, resep pil, dan wilayah."

Lin Xuan bangkit berdiri. Ia mengambil pedang besinya, membelai sarungnya yang dingin. Mulai malam ini, Puncak Awan Dalam bukan lagi tempat suci kultivasi baginya.

1
saniscara patriawuha.
hancurrrkannnnn mangh suannnn
saniscara patriawuha.
gassssddd...
saniscara patriawuha.
sikattttt manggg suannnn
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Jooossss 👍
REY ASMODEUS
selamat datang tingkatan baru... selamat datang sang azura dan selamat menikmati kehancuran wahai benua tengah. 🤣🤣🤣
Budi Wahyono
5 mawar untuk lin xuan
REY ASMODEUS
ini namanya konspirasi pertandingan tingkat dewa🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
gasdddd deuiiiii anuuuu kenceungggh..
Bisri Ilhamsyah
mantap ceritanya
REY ASMODEUS
Thor aku serakah. up lqgi 12 bab boleh ? 🙏🙏🙏🙏🤭🤭🤭
Sang_Imajinasi: kita gas besok
total 1 replies
REY ASMODEUS
aku suka gayamu azura🤣🤣🤣🤣,
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnnnnn.....
Sang_Imajinasi: siap💪
total 1 replies
REY ASMODEUS
merinding bosku. ini baru azura sang pembantai. biarkan pion maju kedepan sedangkan sang bayangan menari dengan rima berdarahnya di balik bayangan
saniscara patriawuha.
krakkkkkk bunyi yanggg gurih gurih renyahhhh....
saniscara patriawuha.
gassssss polllll deuiiii...
saniscara patriawuha.
sukatttttt mangggg suannnn...
REY ASMODEUS
sekte kabut ilusi. kalian slaah kasih nama harusnya sekte ilusi suka ngibul🤣🤣🤣
Arinto Ario Triharyanto
silent.... mematikan....itu benar mantap Thor... lanjutkan 💪
saniscara patriawuha.
sikatttt sampeee lumattt
saniscara patriawuha.
gasssssd pollllll
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!