NovelToon NovelToon
SETELAH HUJAN BERHENTI

SETELAH HUJAN BERHENTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.

Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.

Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.

Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENYUSUPAN HALUS SANG BAYANGAN

Suara Dana di seberang telepon terdengar berat, seolah ia sendiri ragu untuk menyampaikan kabar ini kepada Arsen. Arsen yang sedang menepi di bahu jalan menuju kantor, mencengkeram kemudi mobilnya hingga buku-jarinya memutih.

"Sen, itu Laras. Fix, itu dia," ucap Dana tegas. "Tapi dari hasil rekaman CCTV kafe yang audionya lumayan jernih, terdengar obrolan mereka. Sepertinya Mbak Shinta benar-benar nggak tahu siapa Arlo sebenarnya."

Arsen terdiam, rahangnya mengeras. "Maksud kamu?"

"Laras cuma bilang ke Shinta kalau dia senang lihat Romeo punya teman baru. Dia tanya-tanya sedikit soal siapa teman sebangku Romeo, dan pas Shinta sebut nama Arlo, Laras langsung kasih dua robot itu. Dia bilang 'Ini buat Romeo dan temannya, biar mereka makin akrab'. Shinta cuma anggap itu kebaikan teman lama, Sen. Dia nggak tahu kalau Arlo itu... anak yang pernah Laras tinggalkan," jelas Dana panjang lebar.

Arsen mengembuskan napas kasar, matanya menatap tajam ke depan. "Dia main cantik, Mas. Dia tahu kalau dia muncul di depan Arlo atau aku, urusannya bakal panjang. Jadi dia pakai orang lain buat menyusup."

"Apa mau aku jemput Laras sekarang? Aku bisa lacak posisinya dari arah dia pergi dari kafe kemarin," tawar Dana.

Arsen terdiam cukup lama. Bayangan wajah Rosa yang memohon agar ia tidak memelihara kebencian kembali melintas. 'Aku lebih sedih kalau di hatimu ada kebencian ke Mbak Laras, suatu saat kamu bisa benci Arlo juga,' kata-kata Rosa malam itu di rumah sakit seolah terngiang jelas.

"Jangan dulu, Mas," jawab Arsen akhirnya, suaranya terdengar sangat lelah. "Jangan sentuh dia dulu. Aku nggak mau Rosa tahu soal ini sekarang. Dia baru saja tenang. Kalau dia tahu Laras ada di sekitar sekolah Arlo, dia bakal trauma lagi."

"Terus robot itu? Apa perlu aku suruh guru di sekolah buat tarik mainannya dari Arlo?"

"Jangan. Itu bakal bikin Arlo sedih dan bingung. Biarkan saja dia mainkan, tapi pastikan nggak ada alat penyadap atau apa pun di dalam robot itu. Periksa secara halus pas Arlo tidur nanti malam," perintah Arsen. "Pantau Laras dari jauh saja. Pastikan dia nggak melangkah lebih dekat dari kafe itu. Kalau dia berani masuk ke area sekolah... baru kita bertindak."

Arsen menutup telepon. Ia menyandarkan kepalanya di kursi, menatap langit-langit mobil. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas benang tipis. Di satu sisi, ia ingin menghancurkan Laras karena telah merusak kedamaian mereka, namun di sisi lain, ia harus menjaga kewarasan Rosa dan kebahagiaan Arlo.

Arsen memutar arah mobilnya. Ia tidak jadi ke kantor. Ia ingin kembali ke sekolah Arlo, bukan untuk masuk, tapi hanya untuk memastikan dari kejauhan bahwa tidak ada sosok wanita bersyal yang sedang mengintai putranya lagi.

Saat jam pulang sekolah tiba, suasana gerbang TK sangat ramai. Arsen baru saja membukakan pintu mobil untuk Rosa ketika tiba-tiba Romeo berlari kecil menghampiri mereka, diikuti oleh Arlo yang tampak sangat bersemangat.

Romeo berhenti di depan Arsen, mendongak menatap pria jangkung itu dengan keberanian khas anak kecil.

"Papa Arlo! Kata Arlo mainan Arlo di rumah banyak ya? Aku boleh main ke sana kalau diizinin mamaku?" tanyanya dengan mata berbinar polos.

Arsen sempat tertegun sejenak. Mendengar anak ini memanggilnya "Papa Arlo"—sebutan yang biasanya hanya digunakan Rosa—membuat hatinya sedikit mencelos. Namun, ia segera memberikan senyum tipis yang ramah. Ia melirik Rosa yang berdiri di sampingnya, yang tampak ikut tersenyum gemas melihat keberanian teman baru anaknya itu.

"Tentu saja boleh, Romeo. Arlo pasti senang kalau ada teman main di rumah," jawab Arsen sambil mengelus pundak Arlo.

"Boleh ya, Ma? Boleh ya, Mas?" Rosa menimpali dengan antusias, menatap Arsen seolah meminta persetujuan penuh. "Nanti biar Mama Arlo bicara sama Mama Romeo ya, supaya diatur waktunya."

"Yey! Asyik!" Arlo melompat kecil, tampak sangat bahagia karena sahabat pertamanya akan berkunjung.

Namun, di balik senyum ramahnya, pikiran Arsen sedang berputar cepat. Ia teringat laporan Dana tadi pagi. Laras ada di balik mainan yang dibawa Romeo. Jika Romeo datang ke rumah mereka, apakah itu berarti Laras juga akan semakin dekat dengan area privasi mereka? Ataukah ini justru kesempatan untuk memastikan sejauh mana Laras memengaruhi keluarga Shinta?

Shinta yang baru saja menyusul Romeo segera menghampiri mereka. "Aduh, maaf ya Pak Arsen, Bu Rosa... Romeo ini memang anaknya langsung akrab kalau sudah merasa cocok."

"Nggak apa-apa, Mbak Shinta. Justru kami senang Arlo punya teman dekat," balas Rosa ramah.

Arsen menjabat tangan Shinta sekilas sebagai bentuk sopan santun, namun matanya tetap waspada memantau sekeliling parkiran sekolah. "Mbak Shinta, mungkin nanti sore kita bisa janjian lewat telepon? Biar anak-anak bisa main bareng."

"Boleh, Pak Arsen! Nanti saya kabari ya," sahut Shinta.

Saat masuk ke dalam mobil, Arlo tidak berhenti bercerita tentang rencana permainan yang akan dia lakukan bersama Romeo. Sementara itu, Rosa menggenggam tangan Arsen yang sedang memegang kemudi.

"Mas, kamu hebat ya. Tadi aku sempat takut kamu bakal kaku sama teman Arlo, tapi ternyata kamu bisa sehangat itu," bisik Rosa lembut.

Arsen mencium punggung tangan istrinya. "Apa pun buat Arlo, Sayang. Asalkan dia bahagia."

Di dalam hati, Arsen berjanji: ia akan membiarkan Romeo datang, namun ia juga akan memperketat keamanan rumahnya berlipat ganda. Jika Romeo adalah pintu masuk bagi "hantu" yang ditakuti Arlo, maka Arsen akan menjadi gerbang besi yang tak tertembus.

Sore itu, kediaman Arsen dan Rosa terasa lebih hidup. Arlo dan Romeo berlarian di area bermain indoor yang baru saja direnovasi Arsen, suara tawa mereka melengking bahagia. Shinta duduk di sofa ruang tengah bersama Rosa, menikmati teh hangat dan camilan yang disiapkan asisten rumah tangga.

Arsen memperhatikan dari kejauhan, bersandar di pilar dekat ruang kerja. Matanya tajam, mengawasi setiap gerak-gerik Shinta, mencari tahu apakah wanita ini benar-benar tidak tahu apa-apa atau sedang memainkan peran.

Saat Rosa beranjak ke dapur untuk mengambilkan tambahan kue, Arsen melihat kesempatan. Ia melangkah tenang namun berwibawa, menghampiri Shinta yang sedang melihat-lihat album foto di meja.

"Mbak Shinta," sapa Arsen rendah.

Shinta mendongak, sedikit terkejut namun tetap ramah. "Eh, Pak Arsen. Rumahnya nyaman sekali, ya. Arlo beruntung punya ruang bermain seluas ini."

Arsen duduk di kursi seberangnya, menatap Shinta dengan intensitas yang membuat suasana santai itu mendadak terasa serius. Tanpa basa-basi, ia melontarkan pertanyaan yang sudah ada di ujung lidahnya sejak pagi.

"Mbak Shinta... soal teman lama Mbak yang kasih robot itu. Apa Mbak tahu soal masa lalu Laras?" tanya Arsen dingin.

Shinta tampak tertegun sejenak, ia meletakkan cangkir tehnya. Ekspresinya berubah menjadi sedikit iba.

"Saya cuma tahu anaknya meninggal dan suaminya dipenjara, Pak. Dia juga sering kena KDRT dulu," ucap Shinta pelan, seolah takut suaranya terdengar sampai ke telinga anak-anak. "Kasihan sekali dia. Waktu ketemu kemarin, tatapannya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Dia bilang dia nggak punya siapa-siapa lagi, makanya dia senang sekali lihat Romeo punya teman baru."

Arsen mendengarkan setiap kata itu dengan seksama. Informasi dari Shinta sinkron dengan apa yang ia dengar dari rekaman audio CCTV kafe yang diberikan Dana. Shinta benar-benar orang luar yang hanya dimanfaatkan Laras sebagai jembatan emosional.

"Apa dia pernah tanya spesifik soal rumah kami? Atau soal siapa saya dan Rosa?" selidik Arsen lagi.

Shinta menggeleng kuat. "Nggak sama sekali, Pak. Dia cuma tanya nama teman Romeo saja. Pas saya sebut Arlo, dia sempat diam lama sekali, lalu langsung beli mainan itu. Kenapa ya, Pak? Apa Pak Arsen kenal dia?"

Arsen terdiam. Ia melihat Rosa mulai berjalan kembali dari arah dapur. Ia segera mengubah raut wajahnya menjadi lebih rileks.

"Hanya memastikan saja, Mbak. Di zaman sekarang, kita harus waspada siapa pun yang memberikan barang pada anak kita, kan?" ucap Arsen sambil tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak mencapai matanya.

"Oh, benar juga. Maaf ya Pak kalau saya lancang terima barang dari dia," Shinta merasa sedikit tidak enak.

"Nggak apa-apa, Mbak. Silakan dilanjut tehnya," pungkas Arsen.

Arsen berdiri dan berpapasan dengan Rosa. Ia mengusap pundak istrinya sebentar, mencoba menyembunyikan badai pikiran di kepalanya. Di satu sisi, ada rasa puas karena Shinta terbukti jujur. Namun di sisi lain, kenyataan bahwa Laras hidup dalam penderitaan (kehilangan anak, KDRT, suami dipenjara) membuat Arsen teringat pada pesan Rosa: jangan ada dendam lagi.

Apakah penderitaan Laras sekarang adalah bentuk "balas dendam" dari semesta? Ataukah Laras mencoba mendekati Arlo karena dia telah kehilangan anaknya sendiri?

1
Ratih Tupperware Denpasar
secangkir kopi unt cerita yg semakin menarik
Uthie
coba mampir 👍
Ratih Tupperware Denpasar
arlo juga anak biologisnya hardi jadi juga mewarisi gen buruk bapaknya
Ratih Tupperware Denpasar
asyaga nak ini bener2 berjiwa pskipat
Ratih Tupperware Denpasar
jangan sampe arsen terprovokasi omongan airas. dasar anaknya hadi gen jahat menurun bener2 dari papanya
Ratih Tupperware Denpasar
akhirnya rosa muncul juga mks kak thor sdh up ....lope lope sekobon unt kak thor
Ratih Tupperware Denpasar
kaka thor kok lama ga up?ditunggu ya lanjutannya
nanuna26: heh siap maaf ya kak aku lg sibuk mrnjrlang libur lebaran
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
aku baru nemu cerita ini 3 hari yg lalu langsung tertarik dan baca maraton, akhirnya sampe juga di bab ini
Ratih Tupperware Denpasar: aku mulai baca cerita ayah apa salahku
total 7 replies
Susilawati Arum
Ganti panggilannya dong thor,, masa sama suami sendiri msh panggil nama..kan nggak sopan
nanuna26: baik ka
total 1 replies
falea sezi
keluarga nya kompak bgt meski! tau itu anak mantan arsen mereka ttep sayang sama. arlo/Sob/
falea sezi
q ksih hadiah karena dedek Arlo
falea sezi
apa ini anak mantan arsen
falea sezi
moga Rosa jdoh nya arsen ya
falea sezi
kok bs tinggal di rmh berdebu
nanuna26: kan arsen depresi dittinggal nikah mantannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!