Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.
Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.
Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARGA MATI SEBUAH PERLINDUNGAN
Arsen mematung sesaat mendengar nama itu. Bima Mahendra. Tentu saja ia kenal. Bima adalah salah satu klien kakap di firma hukumnya yang memiliki pengaruh cukup kuat di dunia bisnis. Namun, yang membuat rahang Arsen mengeras bukanlah soal bisnis, melainkan fakta bahwa Bima—suami Shinta—ternyata mengetahui sesuatu tentang Laras.
"Bima Mahendra?" ulang Arsen dengan suara rendah yang berwibawa. "Iya, saya kenal baik dengan Pak Bima. Dia klien yang sangat loyal."
Shinta mengangguk antusias. "Sebentar lagi dia juga ke sini, Pak. Dia senang sekali ternyata Romeo berteman dengan Arlo. Tapi... ada satu hal yang buat saya bingung." Shinta merendahkan suaranya, melirik ke arah anak-anak yang asyik bermain. "Dia pesan ke saya supaya benar-benar berhati-hati sama Laras. Dia bilang jangan terlalu dekat lagi. Saya nggak tahu kenapa, apa Bapak bisa jelaskan?"
Tepat saat itu, suara deru mobil mewah terdengar berhenti di depan gerbang rumah. Arsen bisa melihat dari jendela besar; itu adalah mobil Bima.
Rosa, yang baru saja kembali dari dapur membawa camilan tambahan, menatap suaminya dengan bingung. Ia bisa merasakan ketegangan di wajah Arsen. "Mas, ada apa? Kok suasananya jadi serius begini?" tanya Rosa lembut sambil meletakkan piring kue.
Arsen menarik napas panjang. Ia menatap Shinta, lalu beralih ke Rosa. Ia tahu, saat Bima melangkah masuk ke rumah ini, rahasia yang ia simpan rapat-rapat tentang kehadiran Laras di sekitar mereka mungkin akan terbongkar.
"Mbak Shinta," ucap Arsen tenang namun tegas. "Mungkin lebih baik kita tunggu Pak Bima masuk dulu. Kalau dia yang meminta Mbak berhati-hati, berarti dia punya alasan kuat sebagai orang yang pernah melihat bagaimana 'badai' itu terjadi di masa lalu."
Pintu depan terbuka, dan sosok Bima Mahendra melangkah masuk dengan setelan jas rapi. Begitu matanya bertemu dengan mata Arsen, ada sebuah tatapan penuh pengertian di antara kedua pria itu.
"Arsen," sapa Bima sambil menjabat tangan Arsen dengan erat. "Maaf saya menyusul ke sini. Tapi begitu Shinta bilang dia bertemu 'teman lama' bernama Laras di sekolah Arlo, saya nggak bisa tenang."
Rosa menegang. Nama 'Laras' yang keluar dari mulut Bima seolah memicu alarm di kepalanya. "Laras? Maksud Pak Bima... Mbak Laras yang dulu?" suara Rosa bergetar.
Suasana ruang tamu yang tadinya hangat kini mendadak dingin. Arlo dan Romeo masih tertawa di ruang bermain, sama sekali tidak menyadari bahwa orang tua mereka sedang menghadapi bayang-bayang masa lalu yang kembali nyata.
Suasana di ruang tamu seketika membeku. Kata-kata Bima bagaikan petir di siang bolong yang menyambar ketenangan yang baru saja dirajut oleh keluarga kecil itu. Rosa yang tadi berdiri di samping Arsen, kini harus berpegangan pada sandaran sofa. Wajahnya memucat, matanya menatap Bima dengan tidak percaya.
Shinta, sang istri, menutup mulutnya dengan tangan. "Anak kandung? Maksud Papa... Arlo?"
Bima menghela napas berat, menatap istrinya dengan tatapan yang sangat serius. "Sayang, Arlo itu anak kandung Laras. Dia yang melahirkannya dulu, sebelum akhirnya Arlo dibesarkan oleh Arsen dan Rosa," ucap Bima dengan nada yang tak terbantahkan.
Arsen merangkul pundak Rosa, mencoba memberikan kekuatan meskipun ia sendiri sedang menahan amarah yang meluap. Ia menatap Bima, menunggu penjelasan lebih lanjut.
"Laras itu nggak selembut yang dikira, Shinta. Saya lihat dia lagi berusaha cari cara untuk membawa anaknya kembali," lanjut Bima. Ia beralih menatap Arsen dengan penuh penyesalan. "Aku punya informan yang sempat melihat Laras di area kumuh, Sen. Dia nggak punya apa-apa lagi. Suaminya yang kasar itu sudah di penjara, anaknya yang lain meninggal. Sekarang, obsesi satu-satunya adalah mendapatkan Arlo kembali karena dia merasa Arlo adalah 'hak' miliknya."
Bima mengusap wajahnya dengan kasar. "Bahkan saya kaget saat dia tiba-tiba nemuin istri saya dan tahu sekolah Romeo. Padahal Romeo saya masukkan ke sekolah baik yang keamanannya tinggi. Bagaimana dia bisa tahu kalau Romeo berteman dengan Arlo? Itu artinya dia sudah mengintai cukup lama."
"Dia menggunakan Romeo untuk mendekat..." bisik Rosa lirih. Air matanya mulai mengalir. "Dia menggunakan kebaikan Mbak Shinta untuk memberikan robot itu pada Arlo. Mas... dia sudah masuk ke dunia Arlo."
Arsen mengeratkan pelukannya pada Rosa. Rahangnya mengeras. "Jadi 'hantu' yang Arlo rasakan itu memang benar dia. Dia bukan cuma mengawasi, dia sedang memetakan celah."
Shinta gemetar, ia merasa sangat bersalah. "Ya Tuhan... jadi mainan itu... saya benar-benar nggak tahu, Pak Arsen, Bu Rosa. Saya pikir dia cuma teman lama yang berbaik hati."
"Ini bukan salahmu, Shinta," potong Bima cepat. "Dia memang manipulatif. Dia tahu aku tidak akan membiarkannya mendekati keluargaku jika dia muncul di depanku, makanya dia menemuimu saat aku tidak ada."
Di ruang bermain, suara tawa Arlo dan Romeo masih terdengar renyah. Kontras yang mengerikan dengan pembicaraan di ruang tamu. Arsen menatap ke arah pintu ruang bermain dengan tatapan yang sangat protektif. Ia menyadari bahwa tembok keamanan yang ia bangun setinggi apa pun akan sia-sia jika Laras bermain dengan cara yang halus dan tak terduga seperti ini.
"Terima kasih sudah jujur, Bima," ucap Arsen dengan suara rendah namun penuh ancaman bagi siapa pun yang berani mengusik keluarganya. "Sekarang aku tahu, pertempuran ini belum benar-benar selesai."
Bima menatap Arsen dengan tatapan penuh solidaritas, tatapan sesama pria yang sudah membangun keluarga dan tahu betapa berharganya ketenangan di dalam rumah. Ia menghela napas panjang, suaranya memberat karena empati yang tulus.
"Saya tahu masalah kamu waktu itu, Sen. Kejadian di mal, kehilangan calon anak kedua kalian... saya mengikuti beritanya dan saya tahu betapa hancurnya perasaan Rosa saat itu," ucap Bima dengan nada rendah. "Dan saya berpikir gimana kalau saya di posisi kamu? Makanya saya nggak terima."
Bima melirik ke arah istrinya, Shinta, yang masih tampak syok, lalu kembali menatap Arsen. "Begitu Shinta cerita dia ketemu Laras dan Laras memberikan mainan untuk Arlo lewat Romeo, saya langsung sadar ini bukan kebetulan. Ini terencana. Laras tahu saya klien kamu, dia tahu Shinta sering jemput Romeo, dan dia tahu Arlo satu kelas dengan anak saya. Dia memanfaatkan celah pertemanan anak-anak kita untuk menyusup."
Rosa yang mendengar itu hanya bisa terisak pelan di pelukan Arsen. Kata-kata Bima seolah mengonfirmasi bahwa ketakutannya selama ini bukan sekadar trauma, melainkan ancaman nyata yang sedang mengintai dari kegelapan.
"Terima kasih, Bim. Terima kasih sudah peduli," ucap Arsen dengan suara serak. Ia sangat menghargai kejujuran Bima. "Banyak orang mungkin akan diam saja karena tidak mau ikut campur urusan pribadi orang lain, tapi kamu malah datang ke sini untuk memperingatkan kami."
Bima menepuk bahu Arsen dengan kencang. "Kita sama-sama ayah, Sen. Urusan bisnis itu nomor dua, tapi kalau sudah menyangkut keselamatan anak dan istri, itu harga mati. Saya nggak akan biarkan keluarga saya jadi jembatan buat orang yang punya niat jahat ke keluarga kamu."
Bima kemudian berdiri, memberi isyarat kepada Shinta untuk bersiap pulang. "Mulai besok, pengawal saya akan ikut memantau area sekolah lebih ketat. Saya juga akan pastikan Shinta dan Romeo tidak lagi berhubungan dengan wanita itu dalam bentuk apa pun."
Shinta mengangguk cepat, matanya berkaca-kaca menatap Rosa. "Maafkan saya ya, Bu Rosa... saya benar-benar tidak menyangka. Saya akan lebih hati-hati."
Setelah keluarga Bima pamit dan suasana rumah kembali sepi—hanya menyisakan suara televisi yang ditonton Arlo di ruang dalam—Arsen membawa Rosa duduk di sofa. Ia memegang kedua tangan istrinya yang dingin.
"Sayang, dengar aku," ucap Arsen lembut namun sangat tegas. "Kita sudah tahu siapa 'hantu' itu. Dia bukan lagi bayangan, dia punya nama. Dan sekarang, aku nggak akan membiarkan dia melangkah satu senti pun lebih dekat lagi ke rumah ini atau ke sekolah Arlo. Kamu percaya sama aku?"
Rosa menatap mata Arsen, mencari kekuatan di sana. "Aku percaya, Mas. Tapi aku takut... aku takut dia nekat melakukan sesuatu ke Arlo di sekolah."
Arsen mengecup kening Rosa lama. "Besok, aku sendiri yang akan antar jemput Arlo. Dan aku akan bicara dengan kepala sekolah. Kita akan lalui ini bersama, oke?"