NovelToon NovelToon
Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Mengejar bayangan di puncak.

Rumah sakit selalu memiliki aroma yang sama: disinfektan, udara dingin yang steril, dan kesunyian yang mencekam. Tris terbaring di ranjang bangsal VVIP dengan selang infus yang menusuk punggung tangannya. Wajahnya masih pucat, namun rasa sakit di lambungnya sudah mulai mereda berkat suntikan obat penahan nyeri dosis tinggi.

Di sampingnya, Tusi duduk dengan raut wajah kelelahan. Ia telah mencoba menghubungi Nana berkali-kali sejak pagi tadi, berharap hati gadis itu melunak setelah mendengar bahwa Tris harus dirawat inap. Namun, setiap panggilannya berakhir di kotak suara atau dijawab dengan pesan singkat yang sopan namun sangat berjarak.

"Dia tetap tidak mau datang, Bu?" tanya Tris dengan suara lemah.

Tusi mendesah, meletakkan ponselnya di atas nakas. "Nana bilang dia sedang mengejar deadline. Katanya, kalau dia mangkir sekarang, dia bisa kehilangan pekerjaannya. Dia hanya menitipkan salam dan pesan agar kau cepat sembuh."

Tris membuang muka ke arah jendela. "Sombong sekali dia sekarang. Hanya karena menggambar beberapa lembar kertas, dia merasa sudah menjadi orang penting."

"Jangan begitu, Tris. Dia hanya melakukan apa yang seharusnya kau lakukan dulu: menghargai tanggung jawab," suara berat Aska muncul dari arah pintu.

Aska melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu yang masih terlihat sangat rapi meski ia baru saja menyelesaikan sidang maraton di pengadilan negeri. Ia meletakkan sekeranjang buah di meja dengan gerakan efisien, lalu menatap adiknya dengan tatapan menilai yang tajam.

"Istirahatlah. Jangan pikirkan hal-hal yang tidak bisa kau kendalikan," lanjut Aska dingin. "Ibu, aku harus pergi lagi. Ada pertemuan dengan klien di kafe dekat pusat perkantoran."

"Aska, setidaknya temani adikmu makan sebentar," bujuk Tusi.

"Aku sudah memberikan dokter terbaik dan fasilitas terbaik. Itu adalah batas tanggung jawabku. Aku bukan perawatnya," jawab Aska tanpa emosi sebelum berbalik dan keluar dari ruangan.

***

Kafe ini adalah tempat yang tenang dengan arsitektur klasik, terletak di antara gedung-gedung pencakar langit. Aska datang lebih awal dari jadwal pertemuannya. Saat ia melangkah masuk, matanya yang terbiasa memindai detail secara cepat menangkap sosok yang familiar di sudut ruangan yang paling pojok.

Nana.

Gadis itu sedang duduk sendirian dengan sebuah buku sketsa besar di atas meja. Sebuah tablet grafis portabel menyala di samping cangkir kopi yang isinya tinggal separuh. Penampilan Nana sangat berbeda dari "Nana yang penurut" yang dulu ia kenal. Ia mengenakan kemeja putih oversized dengan lengan yang digulung, kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, dan rambutnya diikat asal namun terlihat sangat artistik.

Aska berjalan mendekat tanpa suara. Ia berdiri di belakang Nana, memperhatikan apa yang sedang dilakukan gadis itu. Nana sedang menggambar interior kafe tersebut, namun ia mengubahnya menjadi latar sebuah adegan kriminal yang sangat mencekam dalam komiknya. Goresannya tegas, berani, dan penuh dengan emosi yang gelap.

"Peletakan perspektifmu sedikit meleset di bagian pilar kiri," suara Aska tiba-tiba memecah fokus Nana.

Nana tersentak hingga pena digitalnya hampir terlempar. Ia menoleh dan mendapati Aska berdiri sangat dekat di belakangnya. "Bang Aska? Sedang apa di sini?"

Aska tidak menjawab. Ia justru menarik kursi di depan Nana dan duduk tanpa diundang. Matanya menatap tajam ke arah sketsa Nana, lalu beralih menatap wajah gadis itu.

Untuk pertama kalinya, Nana tidak langsung menundukkan kepala atau merasa terintimidasi. Ia membalas tatapan Aska dengan mata yang berbinar, bukan binar cinta yang picik seperti dulu pada Tris, melainkan mata penuh kekaguman.

"Aku sedang riset visual. Aku butuh suasana yang formal tapi terasa menekan," jelas Nana.

Aska memperhatikannya sejenak. "Kenapa tidak menjenguk Tris? Ibu bilang kau menolak."

Nana terdiam, jemarinya memutar pena digitalnya pelan. "Aku sudah memaafkan Tris, Bang. Tapi memaafkan tidak berarti aku harus kembali menjadi pelayan medisnya. Aku punya hidup sendiri sekarang. Aku punya janji pada diri sendiri untuk tidak lagi menoleh ke belakang."

Nana menatap Aska dengan intensitas yang berbeda. Di matanya, Aska bukan sekadar kakak dari mantannya, melainkan sebuah mercusuar.

"Bang Aska telah membantuku sadar. Hari itu, saat Abang bilang aku bodoh, aku merasa sakit hati. Tapi sekarang aku berterima kasih. Aku sadar bahwa selama ini aku hanya merangkak di bawah, sementara orang-orang seperti Abang sudah berdiri di puncak."

Nana menarik napas panjang, suaranya terdengar sangat bertekad. "Aku tidak mau lagi mendongak melihat Abang dari kejauhan. Aku ingin mengejar langkah Abang. Suatu hari nanti, aku ingin berdiri di posisi di mana Abang tidak lagi melihatku sebagai 'adik yang bodoh', tapi sebagai seseorang yang layak diajak bicara sebagai rekan."

Aska tertegun sejenak. Ia terbiasa dengan orang-orang yang merasa terintimidasi olehnya, atau orang-orang yang menjilat demi mendapatkan koneksinya. Namun, ia jarang melihat seseorang yang dengan jujur mengatakan ingin mengejar posisinya dengan cara bekerja keras.

"Dunia pengacara dan dunia seni itu berbeda, Nana. Puncaknya tidak sama," sahut Aska, meski suaranya sedikit melunak.

"Tapi usahanya sama, Bang. Kedisiplinannya sama," balas Nana cepat.

Aska menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang sangat langka. "Kalau begitu, berhentilah bicara dan selesaikan sketsamu. Kalau perspektif pilar itu tidak kau perbaiki, orang akan tahu kau pemalas dalam riset."

Aska pergi ke meja lain, mulai bekerja tanpa memedulikan keberadaan Nana lagi. Namun, bagi Nana, sapaan singkat itu sebuah kehormatan. Ia mulai menggoreskan penanya kembali dengan semangat baru.

Ia menatap punggung tegap Aska yang fokus pada layar laptop. Tunggu aku, Bang, batin Nana. Aku akan berlari secepat mungkin agar aku tidak hanya melihat punggungmu dari belakang.

Pukul 19.00 Malam

Pertemuan Aska dengan kliennya selesai. Saat ia menoleh ke arah meja Nana, gadis itu sudah pergi, meninggalkan sebuah catatan kecil di bawah asbak kafe.

[Terima kasih untuk kritikan pilarnya, Bang. Sudah kuperbaiki. Dan terima kasih sudah membiarkanku bekerja di depanmu selama dua jam. Itu adalah motivasi terbaikku minggu ini.] -Nn

Aska meremas kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku. Ia berjalan keluar kafe, menatap langit malam yang bertabur lampu kota. Entah kenapa, pikirannya tentang kasus merger yang rumit sedikit terganggu oleh bayangan mata Nana yang penuh ambisi tadi.

Di sisi lain, di rumah sakit, Tris baru saja mendapatkan kunjungan dari Elli. Namun, bukannya merasa senang, Tris merasa semakin hampa. Elli hanya sibuk membicarakan tentang feed Instagram-nya yang harus terlihat bagus meski sedang di rumah sakit.

"Tris, ayo foto sebentar. Pegang tanganku, tapi selang infusnya jangan kelihatan ya, tidak estetik," ujar Elli manja.

Tris menutup matanya. Ia teringat ucapan Aska "Dia hanya kembali menjadi dirinya sendiri sebelum kau hancurkan." Untuk pertama kalinya, Tris mulai merasa bahwa ia telah membuang berlian hanya untuk mengejar plastik yang berkilau.

Bersambung...

1
jekey
lama" emosi sm aska 😡
Desi Santiani
lanjut thor seruu bgttt
jekey
akhirnyaa 😌😌
jekey
sinting tusi
jekey
thank you thor
Ayu
/Coffee/
Ayu
hahaa sukurin semoga kapok 🤭
Ayu
aku ga bisa kasih banyak ulasan tapi yang pasti bagus bangetttt
Ayu
kayak ginilah nyeseknya kalo baca novel yg baru up ,, mana bagus lagi ceritanya 😍
Ayu
/Coffee/ yuk
Ayu
kalo aku jadi kamu Na ... pasti aku bakalan cepet move on dari Tris🤭
Nilasartika Yusuf
😍
Ayu
hai Thor aku mampir ya
Rinnaya: Silahkan
total 1 replies
jekey
nunggu up thor
Rinnaya: Aman, up tiap hari.
total 1 replies
jekey
mampus eli
Nilasartika Yusuf
suka ceritanya😍
jekey
smngt update thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!